Taman Nasional Kerinci Seblat

taman nasional

Taman Nasional Kerinci Seblat adalah taman nasional terbesar di Sumatra yang memiliki luas wilayah sebesar 13,750 km². Taman nasional ini terletak pada koordinat antara 100°31'18"E - 102°44'01"E dan 1°07'13"S - 1°26'14"S. Secara administratif wilayah taman nasional ini berada di 14 kabupaten dan 2 kota yang termasuk dalam 4 provinsi yaitu Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatra Selatan.[1]

Taman Nasional Kerinci Seblat
Bukit Impian Taman Nasional Kerinci Seblat.jpg
Bukit Impian Taman Nasional Kerinci Seblat
Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Kerinci Seblat
Peta memperlihatkan letak Taman Nasional Kerinci Seblat
TN Kerinci Seblat
LetakSungai Penuh, Jambi, Indonesia
Koordinat2°3′29.7″S 101°23′23″E / 2.058250°S 101.38972°E / -2.058250; 101.38972Koordinat: 2°3′29.7″S 101°23′23″E / 2.058250°S 101.38972°E / -2.058250; 101.38972
Luas1.374.349,87 Ha
Didirikan1999
Pihak pengelolaBalai Besar TN Kerinci Seblat

Taman nasional ini terdiri dari Pegunungan Bukit Barisan yang memiliki wilayah dataran tertinggi di Sumatra, Gunung Kerinci (3.805 m).[2] Taman nasional ini juga terdiri dari mata air-mata air panas, sungai-sungai beraliran deras, gua-gua, air terjun-air terjun dan danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara, Danau Gunung Tujuh.[3]

Taman nasional ini juga memiliki beragam flora dan fauna. Sekitar 4.000 spesies tumbuhan tumbuh di wilayah taman nasional termasuk bunga terbesar di dunia Rafflesia arnoldi, dan bunga tertinggi di dunia, Amorphophallus titanum.[4] Fauna di wilayah taman nasional terdiri antara lain harimau sumatra, badak sumatra, gajah sumatra, macan dahan, tapir melayu, beruang madu, dan sekitar 370 spesies burung.[4][5]

Diterimanya Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra ke daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, membuat Taman Nasional Kerinci Seblat juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.[6] Bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.[7] Selain itu taman nasional ini masuk sebagai Taman Warisan ASEAN sejak 18 Desember 2003.[8]

SejarahSunting

  • Tahun 1982, pada Kongres Taman Nasional se-dunia III di Bali, Menteri Pertanian mendeklarasikan kawasan, yang sekarang menjadi kawasan TNKS, seluas ± 1.424.650 ha sebagai calon Taman Nasional. Kawasan tersebut adalah penggabungan dari beberapa kawasan hutan seperti cagar alam, suaka margasatwa, hutan lindung, hutan wisata, dan hutan produksi.[9]
  • Tahun 1996, setelah melalui proses pengkajian dan penataan yang cukup panjang, Menteri Kehutanan mengukuhkan kawasan seluas ± 1.368.000 ha sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat sesuai surat keputusan Menhut No. 192/KptsII/1996.[9]
  • Tahun 1999, Menteri Kehutanan dan Perkebunan menetapkan kawasan TNKS seluas ± 1.375.349,867 ha melalui surat keputusan No. 901/Kpts-II/1999.[9]
  • Tahun 2004, Menteri Kehutanan menetapkan perubahan fungsi kawasan hutan produksi di Sipurak Hook seluas ± 14.160 Ha menjadi bagian dari kawasan TNKS dengan surat keputusan No. 420/Menhut-II/2004, sehingga luas TNKS menjadi ± 1.389.509,867 ha.[9]

KawasanSunting

Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan gabungan dari 17 kelompok hutan yang semuanya merupakan bagian hutan lindung register tahun 1921 – 1926 serta cagar alam dan suaka margasatwa yang ditetapkan dalam kurun waktu 1978 -1981. Cakupan dari taman nasional ini yaitu dari Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, hingga Sumatera Selatan. Tidak heran, keragaman topografi dan ekosistem menjadikan taman nasional ini memiliki bentang alam yang unik dan indah.[10]

1. Provinsi Jambi

  • Suaka Marga Satwa: Batang Merangin Barat – Manjunto Hulu[13]

2. Provinsi Sumatera Barat

  • Hutan Lindung: Bayang, Batanghari, Kambang, Sangir dan Jujuhan[1]
  • Cagar Alam: Indrapura (sebagian)[1]

3. Provinsi Bengkulu

4. Provinsi Sumatera Selatan

Selain itu, kawasan taman nasional ini juga berasal dari hutan produksi yang dialih fungsikan menjadi hutan konservasi dan menjadi satu kesatuan kawasan yang kompak. Bagian terakhir hutan produksi yang masuk dalam kawasan taman nasional ini adalah Hutan Produksi Sipurak Hook.[15]

KeunikanSunting

Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan kawasan konservasi daratan terluas di Indonesia yang dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO semenjak tahun 2004. Merupakan habitat dari berbagai flora fauna langka dan endemik seperti Harimau sumatera, Gajah Sumatera, Beruang madu, Tapir asia, Rafflesia, Taxus sumatrana, Pinus merkusii strain Kerinci dan lain-lain. Selain itu, Taman Nasional Kerinci Seblat juga memiliki keunikan yakninya dimana kawasan Taman Nasional ini memiliki area yang sangat luas yaitunya lebih kurang 1.368.000 Ha. Luasnya kawasan Taman Nasional tersebut menjadikannya Taman Nasional yang meliputi empat provinsi, Provinsi Jambi, Sumatra Barat, Bengkulu, serta Provinsi Sumaera Selatan.[16] Keunikan lainnya dari Taman Nasional Kerinci Seblat dapat dilihat dengan terdapatnya beberapa tipe ekosistem hutan.  Dimulai dari tipe ekosistem hutan dataran rendah hingga ekosistem sub alpin serta beberapa ekosistem khas seperti rawa gambut, rawa air tawar, dan juga danau.[16]

Tipe IklimSunting

Kondisi iklim di Taman Nasional Kerinci Seblat bervariasi menurut topografi, tetapi secara umum kawasan TNKS tergolong ke dalam Tipe A (basah) dalam klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Rata-rata curah hujan tahunan adalah 2.991 mm, dengan bulan kering kurang dari dua bulan per tahunnya. Rata-rata temperatur antara 16°-28° Celcius. Kelembaban relatif udara adalah 77%-92%.[9]

TopografiSunting

Wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki topografi berupa lembah curam yang membelah Pegunungan Bukit Barisan menjadi dua bagian yang sejajar. Sebagai rangkaian bukit dan gunung, taman nasional ini dicirikan oleh kelerangan lahan sangat curam (≥ 60%) pada sebagian besar kawasannya (70% dari luas kawasan) dengan ketinggian antara 200 hingga 3.805 m dpl. Di kawasan ini banyak dijumpai pegunungan tinggi (lebih kurang terdapat 30 gunung atau bukit).

Pegunungan Bukit Barisan membentuk busur gunung berapi besar yang terbentang sepanjang Sumatera, Jawa, dan Kepulauan Nusa Tenggara. Bukit Barisan tengah yang gunung berapinya masih aktif dan menjadi bagian kawasan ini ditandai oleh celah lembah datar yang tertutup dengan luasnya sekitar 140.000 ha dan semua sisinya dikelilingi oleh beberapa bagian dari puncak Gunung Kerinci.

Pemandangan alam di utara celah lembah bagian tengah didominasi oleh kerucut gunung berapi Kerinci yang masih aktif, sedangkan di bagian utara dan barat daya terdapat danau kawah, yaitu Danau Tujuh dan Danau Kerinci.

Topografi daerah ini umumnya curam dan teriris dengan taji yang nyata menurun ke arah timur dan barat dari punggung utara-selatan Bukit Barisan. Topografi menaik ini pada akhirnya mengarah ke dataran Sumatera tengah di sebelah timur dan ke dataran pantai sebelah barat.

Tanah dan GeologiSunting

Jenis tanahnya anatara lain andosol, latosol, podsolik, alluvial, komplek (podsolik, latosol dan litosol), komplek (latosol dan litosol). Pada umumnya kedalaman efektif tanahnya antara 30-60 Cm. Kedalam efektif tanah yang dangkal terutama didapati di daerah terjal dengan jenis tanah litosol. Sebagian besar lahan di kawasan taman nasional ini memiliki tanah yang relatif kurang subur dan rawan erosi.

Jenis batuan induk di kawasan ini antara lain andesit basalt diorit, tufa berbutir halus/kasar, granit, granodiorit, riolit, alluvium gunung berapi muda, alluvium longgokan kipas, alluvial sungai muda, dan gambut.

FloraSunting

Terdapat tidak kurang dari 4.000 jenis tumbuhan di Taman Nasional Kerinci Seblat di mana 60% dari jenis tersebut terdapat di hutan dataran rendah. Tumbuhan yang mendominasi adalah suku Dipterocarpaceae, Fabaceae, Lauraceae, Myrtaceae, dan Bombacaceae. Tercatat juga sebesar 300 jenis anggrek, berbagai spesies bambu, kayu manis, rotan, dan edelweis yang langka (Anaphalis sp.). Selain itu, terdapat bunga terbesar, Rafflesia arnoldii, Rafflesia hasseltii, dan bunga tertinggi di dunia Amorphophallus titanum, serta flora langka kantong semar (Nepenthes sp.).

Tipe vegetasi yang paling penting adalah hutan hujan tropis Dipterocarpaceae yang terdapat di dataran rendah dan bukit-bukit hingga ketinggian lebih dari 1.000 m dpl. Jenis pohon tersebut antara lain adalah Shorea parvifolia, Dipterocarpus sp., Parashorea sp., Koompassia malaccensis, dan Dialium sp. Lapisan bawahnya ditumbuhi oleh palem Arenga sp., padma raksasa Rafflesia arnoldii, dan bunga bangkai Amorphophallus titanum.

Pada ketinggian antara 1.000 – 1.500 m dpl terdapat hutan hujan tropis pegunungan rendah yang didominasi oleh jenis-jenis Dipterocarpaceae (hingga ketinggian 1.200 mdpl), seperti Hopea sp., dan Shorea platyclados, Litsea sp., Rhodamnia cinere, serta suku Euphorbiaceae dan Leguminosae. Lapisan bawahnya ditumbuhi oleh palem (Livingstonia altissima dan Areca catechu), epifit (Asplenium sp., Bulbophyllum sp., Dendrobium sp., dan Eria sp.), dan kantong semar (Nepenthes sp.).

Di atas ketinggian 1.500 mdpl terdapat vegetasi hutan pegunungan yang didominasi oleh suku Lauraceae dan Ericaceae, seperti Podocarpus amarus, Castanopsis sp., Ficus variegate, dan Cinnamomum parthenoxylon.

Di Kabupaten Kerinci dikenal dua ekosistem rawa, yaitu Rawa Ladeh dan Rawa Bento yang terletak di ketinggian 1 950 mdpl dengan luasan 150 ha. Kedua rawa tersebut merupakan rawa gambut tertinggi di Pulau Sumatera. Rawa Bento (Sangir Hulu) merupakan rawa air tawar dengan karakteristik jenis rumput Leersia hexandra, Glo-chidion sp., dan Eugnia spicata.

Jenis tumbuhan khas dengan sebaran terbatas dapat dijumpai di kawasan ini, yaitu pinus strain kerinci (Pinus merkusii strain kerinci), kayu pacet (Harpullia arborea), pakis sunsang (Dyera costulata), dan bunga rafflesia (Rafflesia arnoldii).

FaunaSunting

 
Elephas maximus sumatranus

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan rangkaian tidak terputus hutan hujan dataran rendah sampai pegunungan, termasuk hutan pinus tropis alami, hutan rawa gambut, dan danau air tawar. Kawasan ini merupakan habitat sebagian besar burung-burung Sumatera. Terdapat lebih dari 371 jenis burung (17 jenis di antaranya endemik sumatera), lebih dari 85 jenis mamalia, tujuh jenis primata, enam jenis amfibi, dan sepuluh jenis reptilia. Dua spesies kunci yang menjadi fokus pengelolaan adalah harimau sumatera dan gajah sumatera.[17]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c "Kerinci Seblat". ksdae.menlhk.go.id. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  2. ^ "Taman Nasional Kerinci Seblat: Riwayatmu Ini - TFCA Sumatera". tfcasumatera.org. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  3. ^ "Menyusuri Danau Tertinggi di Asia Tenggara, Gunung Tujuh". 21 Juni 2019. Diakses tanggal 05-06-2021. 
  4. ^ a b "Flora". Taman Nasional Kerinci Seblat (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-05. 
  5. ^ "PROVINSI JAMBI". web.jambiprov.go.id. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  6. ^ "Taman Nasional Indonesia | 7 Taman Nasional di Indonesia yang Masuk Situs Warisan UNESCO". Diakses tanggal 2021-06-05. 
  7. ^ "Taman Nasional". sumutprov.go.id. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  8. ^ antaranews.com. "Infografik TN Kerinci Seblat, warisan dunia di tanah Suwarnadwipa". Antara News. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  9. ^ a b c d e Karyadi, Hadinata, Dian Indah Pratiwi, Emi Hayati Danis, Diah Pamulasari Suyanto, Hendrayadi (2018). Kerinci Seblat, Warisan Dunia di Tanah Sumatra (PDF). Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi. hlm. 7. 
  10. ^ ".:: Direktorat Jenderal Tata Ruang - Kementerian ATR/BPN ::". tataruang.atrbpn.go.id. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  11. ^ KSDAE, Datin. "Bukit Tapan, Rumah Bagi Satwa Liar - Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem". ksdae.menlhk.go.id. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  12. ^ Unja, Mapala Siginjai. "Gunung Masurai, Keindahan yang tersembunyi – MAPALA SIGINJAI UNJA". Diakses tanggal 2021-06-05. 
  13. ^ "BKSDA Jambi | Cagar Alam". www.bksdajambi.com. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  14. ^ "Yuk, Kenalan dengan Wisata Renah Kayu Embun". detikTravel. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  15. ^ a b c adminweb. "SEJARAH KAWASAN". Taman Nasional Kerinci Seblat (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-05. 
  16. ^ a b "Bernas.id | Keunikan Beragam Ekosistem di Taman Nasional Kerinci Seblat". www.bernas.id. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  17. ^ Wibisono HT, Linkie M, Guillera-Arroita G, Smith JA, Sunarto, et al. (2011)"Population Status of a Cryptic Top Predator: An Island-Wide Assessment of Tigers in Sumatran Rainforests"

Pranala luarSunting