Buka menu utama

Jenderal (Purnawirawan) Soemitro (lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 13 Januari 1927 – meninggal di Jakarta, 10 Mei 1998 pada umur 71 tahun[1]) adalah seorang jenderal yang berpengaruh di masanya. Jabatan penting yang pernah dipegangnya adalah sebagai Wakil Panglima ABRI dan Pangkopkamtib. Ia sangat dikenal karena dalam masa kepemimpinannya meletus peristiwa Malari, yang mengakibatkan pengunduran dirinya dari militer.

Soemitro
Soemitro (jend).jpg
Jenderal Soemitro
Informasi pribadi
Lahir(1927-01-13)13 Januari 1927
Bendera Belanda Probolinggo, Jawa Timur
Meninggal dunia10 Mei 1998(1998-05-10) (umur 71)
Bendera Indonesia Jakarta
Dinas militer
Pihak
Dinas/cabangInsignia of the Indonesian Army.svg TNI Angkatan Darat
Masa dinas1943—1974
PangkatPdu jendtni komando.png Jenderal TNI
Pertempuran/perangRevolusi Nasional Indonesia

BiografiSunting

Ayahnya kasir di PG Gending, yang juga aktivis PNI. Ibunya hanya wanita rumah tangga biasa. Ia besar di pondok pesantren. Tapi, saat usia 16 tahun, dan bermain jailangkung, ia mendapat jawaban, kelak akan menjadi mayor. Celakanya, ia justru percaya.[2]

Saat ada permintaan menjadi prajurit pembantu, ia segera melamar ke PETA. Bersama beberapa rekannya, ia diterima, dan diberangkatkan ke Bogor. Selama pendidikan, ia terkenal sebagai perwira yang paling nakal dan pelanggar peraturan. Saat agresi Belanda II, ia menjabat wakil Komandan Sub-Wehkreise di Malang, dan mendapat perintah dari Panglima Komando Jawa, Kolonel Nasution untuk melakukan perang wingate, sebuah strategi yang dilakukan Jenderal Wingate asal Burma, mirip dengan strategi gerilya. Ia sukses.[2]

Soemitro kemudian diangkat menjadi Komandan Batalyon I di Malang. dan ia ditantang Mayjen Bambang Sugeng untuk membersihkan segitiga Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan. Enam bulan kemudian dia berhasil membersihkan para laskar liar, dan diperhadapkan dengan Bung Karno, yang saat itu berada di Sidoarjo.[2]

Pendidikan dan karierSunting

PendidikanSunting

  • HIS
  • MULO) Peta (1944)
  • Seskoad, Bandung (1952)
  • Sekolah Lanjutan Perwira II (1958)
  • Advanced Course, Fort Benning, AS (1958)
  • Sesko ABRI (1963)
  • Fuhrungs Akademi der Bundeswehr, Hamburg, Jerman Barat (1965)[3]

KarierSunting

KepangkatanSunting

  • Giyu-Shoi (1944-1945).
  • Letnan Dua Inf (1945-1946).
  • Letnan Satu Inf (1946-1948).
  • Kapten Inf (1948-1954).
  • Mayor Inf (1954-1959).
  • Letnan Kolonel Inf (1959-1962).
  • Kolonel Inf (1962-1964).
  • Brigadir Jenderal TNI (1964-1965).
  • Mayor Jenderal TNI (1965-1969).
  • Letnan Jenderal TNI (1969-1971).
  • Jenderal (1971-1974).

Karya tulisSunting

  1. Soemitro, M. Abriyanto. Tantangan dan Peluang, 1993: Butir Pemikiran Jenderal Soemitro. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1991. ISBN 979-416-140-3
  2. Soemitro. Mengungkap Masalah, Menatap Masa Depan: Sebuah Refleksi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1991. ISBN 979-416-110-1
  3. Soemitro, Heru Cahyono. Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari '74: Sebagaimana Dituturkan Kepada Heru Cahyono. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998. ISBN 979-416-549-2
  4. Soemitro, Ramadhan K. H.; Soemitro, Mantan Pangkopkamtib: Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994. ISBN 979-416-258-2

ReferensiSunting