Buka menu utama

Sultan Sulaiman Rahmatillah atau Sultan Sulaiman Saidullah (ke-2) bin Sunan Sulaiman Saidullah ke-1/Sunan Nata Alam/Sultan Tahmidullah II adalah Sultan Banjar yang memerintah antara tahun 1801-1825.[12] Kesultanan Banjar terletak di Kalimantan Selatan, Indonesia. Adiknya Pangeran Mangku Dilaga dilantik sebagai mangkubumi dengan gelar Ratu Anum Mangku Dilaga. Belakangan Ratu Anum Mangku Dilaga ditahan kemudian dibunuh oleh Sultan Sulaiman karena diduga akan melakukan kudeta. Jabatan mangkubumi kemudian dipegang oleh Pangeran Husin dengan gelar Pangeran Mangkubumi Nata putera Sultan Sulaiman sendiri.[2]

Tuan Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Sulaiman Saidullah Raja Atas Tahta Kerajaan Negeri Banjar[1]
Sultan Soleman Almo'tamid Aliallah/Soliman Almoh Tammit Alalah
Sultan Sleeman Almoh Tamid Alalah
Sultan Soleman Sa'idallah
Sultan Salehman
Sultan Sulaiman al-Mu'tamidullah
Sultan Sulaiman Rahmatullah
Pangeran Ratu Sultan Sulaiman
Pangeran Sultan Muda Sulaiman
Panembahan Sulaiman[2]
Panembahan Sepuh[2]
Masa kekuasaan1767 (Sultan Muda)
1801-1825 (Sultan)[3]
Pemakamandesa Lihung
PendahuluSultan Tahmidullah II
PenggantiSultan Adam al-Watsiq Billah
Pasangan1. Nyai Ratna[2] atau Nyai Ratu Intan Sari (Permaisuri)

2. Nyai Cina [2]
3. Nyai Argi [2]
4. Nyai Unangan[2]

5. Nyai Kamala Sari
Anak1. ♂ Sultan Adam, anak Nyai Ratu Sepuh (Nyai Ratna) binti Kiai Adipati Singasari)[4]

2. ♂ Pangeran Mangkoe Boemi Nata, anak Nyai Ratu Sepuh
3. ♀ Ratoe Hadji Moesa (Salamah), anak Nyai Ratu Sepuh
4. ♂ Pangeran Perbatasari/Prabusari, anak Nyai Ratu Sepuh
5. ♂ Pangeran Kassir, anak Nyai Ratu Sepuh[5]
6. ♀ Ratoe Soengging Anoem, anak Nyai Ratu Sepuh
7. ♂ Pangeran Dipati di Mahang (HST)
8. ♂ Pangeran Ahmad
9. ♂ Pangeran Wahid
10. ♂ Pangeran Muhammad
11. ♂ Pangeran Kusairi
12. ♂ Pangeran Hasan
13. ♂ Pangeran Achmid[6][7]
14. ♂ Pangeran Kasoema Widjaja (Berahim)[6][8]
15. ♂ Pangeran Tasin/Thasin[6]
16. ♂ Pangeran Singa-Sarie[6]
17. ♂ Pangeran Hamim[6]
18. ♀ Ratu Kartasari
19. ♀ Ratu Marta
20. ♀ Ratu Salamah
21. ♀ Gusti Umi/Gusti Kacil
22. ♀ Ratu Mashud/Gusti Hadijah, ibu Pangeran Antasari

[9]
WangsaDinasti Banjarmasin
AyahSunan Sulaiman Saidullah
IbuPutri Lawiyah binti Sultan Tahmidubillah[10][11]

Sultan Sulaiman meninggal 3 Juni 1825.[13] Pada masa Sultan Sulaiman, pusat pemerintahan berada di Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Sultan Sulaiman dikenal pula dengan nama Sultan Sulaiman Saidullah II atau Sultan Sulaiman Rahmatullah. Baginda mendapat gelar Sultan Muda sejak tahun 1767 ketika berusia 6 tahun dari ayahnya Susuhunan Nata Alam agar penggantinya tetap pada garis keturunannya. Panembahan Sulaiman/Sultan Sulaiman melantik puteranya Pangeran Adam sebagai raja muda dengan gelar Sultan Adam, kemudian dia sendiri mengambil gelar Panembahan Sepuh.[2]

Mangkubumi yang menjabat pada masa Sultan Sulaiman adalah:

  1. Ratu Anom Ismail (Pangeran Ismail bin Sunan Nata Alam); dihukum bunuh oleh Sultan Sulaiman karena diduga (difitnah) akan merencanakan kudeta.
  2. Pangeran Mangku Bumi Nata (Pangeran Husin bin Sultan Sulaiman), mangkubumi sejak 1823.

SilsilahSunting

Anak-anak Sultan Sulaiman Saidullah terdiri 18 orang yaitu anak laki-laki 12 orang dan anak perempuan 6 orang.

Sultan Sulaiman memiliki permaisuri yang merupakan puteri Adipati Banua Lima (golongan Anang/Nanang-nanangan Raja) yaitu Nyai Ratna bergelar Nyai Ratu Sepuh binti Kiai Adipati Singasari[2][4] yang dikaruniai 6 anak yaitu:

  1. Sultan Adam - memiliki 11 anak. Dia leluhur mantan Gubernur Kalimantan Pangeran Muhammad Noor.
  2. Pangeran Husin bergelar Pangeran Mangkoe Boemi Nata - menjadi mangkubumi sejak 1823[2][14] - memiliki 17 anak.
  3. Pangeran Perbatasari - memiliki 5 anak.
  4. Ratu Haji Musa/Salamah (diperisteri Pangeran Hadji Moesa ( Raja Kusan II ) - memiliki 3 anak.
  5. Pangeran Kasir[15] - memiliki 5 anak.
  6. Ratu Salamah/Ratu Sungging Anum (menikahi Pangeran Sungging Anom bin Ratu Anom Ismail Mangku Bumi Sukma Dilaga) - tidak memiliki keturunan.

Putera-puteri dari selir-selir lainnya:

  1. Goesti Hadidjah / Ratu Mastruda bergelar Ratoe Masoöd, karena menikahi Pangeran Masoöd (orang tua Pangeran Antasari).
  2. Pangeran Achmid (anak Nyai Argi) [2][16] leluhur mantan Gubernur Kalsel Gusti Hasan Aman.
  3. Pangeran Singosari, leluhur Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah.
  4. Pangeran Musa (anak Nyai Ratna) [2]
  5. Pangeran Sungging Anum (anak Nyai Ratna) [2]
  6. Pangeran Ahmad (anak Nyai Cina) [2]
  7. Pangeran Kacil/Pangeran Hasan?(anak Nyai Cina) [2]
  8. Pangeran Tasin (anak Nyai Cina) [2][17][18]
  9. Pangeran Jamain/Pangeran Wahid? (anak Nyai Cina) [2]
  10. Ratu Karta Sari (anak Nyai Unangan) [2] diperisteri Pangeran Kartasari bin Pangeran Sungging Anom bin Ratu Anom Ismail Mangku Bumi Sukma Dilaga.
  11. Ratu Marta [2]
  12. Gusti Kacil
  13. Ratu Umi[2] diperisteri Habib Husin bin Uwwad Bahasyim.
  14. Pangeran
  15. Pangeran Tachmid
  16. Pangeran Khusairi
  17. Pangeran
  18. Pangeran


Kontrak Perjanjian dengan Hindia BelandaSunting

Setelah Sultan Sulaiman Saidullah/Al Mu'tamidallah dilantik, Belanda mengadakan perjanjian dengan Sultan pada 19 April 1802. Perjanjian hanya mengingatkan kembali bahwa Kesultanan Banjar telah diserahkan kepada pemerintah Belanda seperti Perjanjian 1787. Dalam perjanjian itu ditambahkan bahwa Sultan berusaha menangkap dan menghukum potong kepala orang-orang Dayak yang telah melakukan pemotongan kepala. Hukuman potong kepala terhadap orang Dayak itu harus dilakukan dimuka loji Belanda. Selebihnya dalam perjanjian itu pemerintahan Belanda mengharapkan agar Sultan dapat memelihara kebun-kebun lada agar hasil lada menjadi lebih baik. Pada tahun 1806, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan Sulaiman yang menitikberatkan pada usaha pemeliharaan kebun lada, agar lada dapat berproduksi sebagaimana diharapkan oleh Belanda. Dalam perjanjian itu Belanda tetap mengakui kedaulatan Sultan Banjar dan tidak menyinggung tentang masalah pemerintahan termasuk hubungan dagang ke luar negeri.[19]

ACTE VAN RENOVATIE 19 APRIL 1802Sunting

 
Johannes Siberg, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke 34. Ia memerintah antara tahun 18011805.

Akte ini disahkan oleh Johannes Siberg, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke 34. Ia memerintah antara tahun 18011805. Pada bagian yang tertulis dengan huruf Latin dalam bahasa Belanda bertajuk:[1]
Acte van Renovatie en Vernieuwing der Contracten tergeleegenheid van de Installatie van den SULTAN SOLIMAN AMOH TAMIT ALALAH op den 19de April Anno 1802.

Pada bagian yang tertulis dengan huruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu berbunyi:[1]


Perkara jang pertama.

Perkara jang kedua.

Perkara jang ketiga.

Perkara jang ke-empat.

Perkara jang kelima.

(Dibawah teks bahasa Melaju terdapat tiga buah tjap lak merah):

Tjap V.O.C. Dibawahnja tertulis: de Compagnie als souveraine Heer van 't Koningrijk Banjermassing.

Tjap Dibawahnja tertulis F. van Boeckholtz Commissaris. Als getuijgen bij de teekening en verseegelingen deeses

Tjap Disampingnja ttd. Wm. Bloeniz resd.


ACTE VAN HOMAGE 19 APRIL 1802 tertulis huruf Arab-Melayu dalam bahasa Melayu dan huruf Latin dalam bahasa Belanda. Akte yang tertulis dengan huruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu berbunyi:[1]

Tjap lak merah (rusak tak terbatja) dibawahnja tertulis:

Ter ordonnantie van hunne Hoog Edelhederi Gouverneur Generaal en de Raden van Indie, ttd. F. v. Braam Sec.


Dibawah teks bahasa Melaju terdapat empat buah tjap lak merah dan dibawah masing2 tjap terbatja:

’t zegul van den Sultan Soliman
’t zegul van den Pangerang Prabu Anum
’t zegul van den Pangerang Ishak
’t zegul van den Pangerang Moesja.

ACTE VAN RENOVATIE 11 AGUSTUS 1806Sunting

 
Albertus Henricus Wiese, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke 35. Ia memerintah antara tahun 18051808.

Perjanjian ini disahkan oleh Albertus Henricus Wiese, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke 35. Ia memerintah antara tahun 18051808. Pada bagian yang tertulis dengan huruf Latin dalam bahasa Belanda bertajuk:[1]

ACTE van RENOVATIE en PROLONGATIE der gesloten tusschen de DOORLUCHTIGE CONTRACTEN en VERBONDEN BATAAFSCHE OOST INDISCHE COMPAGNIE EN ZIJN HOOGHEID SOLEIMAN ALMOH TAMMIT ALALAH SULTAN van het KONINGRIJK BANDJERMASSING. GED. 11 AUGUSTUS 1806.


Perjanjian yang tertulis dengan huruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu berbunyi:[1]

Pasal jang pertama.

Perkara jang kedua.

Perkara jang ketiga.

Pasal jang keempat.

Pasal jang kelima.

Pasal jang keenam.

Pasal jang ketudjuh.

Pasal jang kedelapan.

Pasal jang kesembilan. {{cquote| Bahwa kompeni Wolanduwi mengaku begitu teguh segala punja berdjandji dalam segala kontrak2 nistjaja tiada punja hidr 34/ segala perkara2 jang telah kuntjikan dan ditetapkan. Istimewahnja Paduka Sri Sultan jang mesti tetap punja setia waad perdjandjian pegang dengan teguh segala punja perkara2 berdjandji tetap kebadjikan antara sjahabat bersjahabat nistjaja bersuatu hati bersuatu kuat kuasa dan kompeni Wolanduwi mengaku serta sanggup menjertai atas sebarang mana patut susah Paduka Sri Sultan tambahan lagi kompeni Wolanduwi nistjaja melengkapkan dengan mana punja kuat kuasa atas melintangi dan mesiterui dari pada segala musuh Paduka Sri Sultan sama djuga dari pihak luar atau dari dalam negeri dan sebarang musuh2 Paduka Sri Sultan sama djuga seperti musuh2 kompeni sendiri adanja.


(dibawah ini terdapat 7 buah tjap lak merah dan dibawah tiap2 tjap tertulis:)

Tjap. De Compagnie als Souveraine Heer van het Koningrijk Banjermassing.

Tjap. ttd. Wm. Bloemzn.

Tjap. het cachet van den rijksbestierder den Pangerang Peraboe Anum.

Tjap. het cachet van den Pangerang Ibrahim.

Tjap. het cachet van den Pangerang Ishak.

Tjap. het cachet van den Pangerang Masohot.

Tjap. het cachet van den Pangerang Mahmout.


Tjap lak merah. Ter ordonantie van Hunne Hoog Edelheedens den Gouverneur Generaal en de Raden van Indien. ttd. H. Veeckens. Sec

ACTE VAN HOMAGE Augustus 1806Sunting

Pada bagian yang tertulis dengan huruf Latin dalam bahasa Belanda bertajuk:[1]

ACTE VAN HOMAGE AAN ZIJN HOOG EDELHEID DEN HOOG EDLEN GESTRENGEN HEERE ALBERTUS HENRICUS WIESE Gouverneur Generaal van BATAAFSCH INDIA afgelegd door SOLIMAN ALMOH TAMMIT ALALAH SULTHAN van het koningrijk BANJERMASSING.


Akte ini tertulis dalam huruf Arab-Melayu dalam bahasa Melayu dan huruf Latin dalam bahasa Belanda. Akte yang tertulis dengan huruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu berbunyi:[1]

(dibawah ini terdapat 6 buah tjap lak merah dan diatas tjap terbatja:)

Sultan Soleman Almo’tamid Aliallah (het cachet van Sultan Soliman)

Pangeran Prabu Anum (het cachet van den Rijksbestierder den Pangerang Prabu Anum)

Pangeran Ibrahim (het cachet van den Pangerang Ibrahim)

Pangerang Isjhaq ............ Allah (het cachet van den Pangerang Ishaq)

Pangeran Mas’ud (het cachet van den Pangerang Masohot)

Pangeran Mahmud (het cachet van den Pangerang Mahmouth).

Tahun 1809 Belanda menarik diri dari BanjarmasinSunting

 
Herman Willem Daendels, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-36. Ia memerintah antara tahun 18081811. Masa itu Belanda sedang dikuasai oleh Prancis.


Tahun 1809, Daendels menarik diri dari Banjarmasin.[20]

Sultan Sulaiman menjalin hubungan dengan negara lain, seperti dengan Kesultanan Buton, melalui suratnya tahun 1811, Sultan Buton memohon dukungan moral untuk mendapatkan rekomendasi dalam perdagangan.[21]

InggrisSunting

Pada perkembangan selanjutnya, Belanda kalah menghadapi Inggris dan pada tahun 1811 Belanda menyerahkan Batavia kepada East India Company (EIC), perusahaan perdagangan Inggris.

East India Company (EIC) mengadakan perjanjian persahabatan dengan kesultanan Banjar. Dalam perjanjian itu EIC-Inggris tidak menyinggung masalah kedaulatan pemerintahan Sultan Sulaiman tetapi lebih banyak masalah perdagangan. EIC Inggris menduduki beberapa daerah yang sebelumnya diduduki Belanda seperti pulau Tatas (Banjarmasin), Kuin, Paser, Pulau Laut, Pagatan, dan Bakumpai. Selanjutnya EIC-Inggris mempertahankan dan melindungi hak-hak Sultan dan kekuasaan Sultan begitu pula hak milik Sultan terhadap serangan orang Eropa lainnya dan terhadap musuh bangsa Asia. Perjanjian ditanda tangani oleh Sultan dan para bangsawan kerajaan lainnya yaitu: Pangeran Panambahan Adam, Pangeran Aria Mangku Negara, Pangeran Kasuma Wijaya (anak Sultan Sulaiman) dan Pangeran Ahmad (anak Sultan Sulaiman), sedangkan dari pihak EIC-Inggris diwakili oleh Commissioner D. Wahl.[19]

Perjanjian antara Belanda dan Inggris memutuskan bahwa Belanda diperbolehkan kembali menduduki bekas wilayah kekuasaannya kemudian EIC-Inggeris melepaskan kembali Batavia pada tahun 1816. Setelah ditinggalkan EIC-Inggris pada tahun 1816 dan Belanda kembali datang ke Kesultanan Banjar kemudian membuat perjanjian dengan Sultan Sulaiman pada tahun 1817 dan tahun 1823.[19]

Kontrak Perjanjian Karang IntanSunting

Sultan Sulaiman Al Mu'tamidullah membuat perjanjian pada 1 Januari 1817 yang merupakan Kontrak Persetujuan Karang Intan I antara Sultan Sulaiman dengan Hindia Belanda diwakili Residen Aernout van Boekholzt. Kemudian pada 13 September 1823 penandatanganan Kontrak Persetujuan Karang Intan II antara Sultan Sulaiman dengan Hindia Belanda diwakili Residen Mr. Tobias.[19]

Isi Perjanjian-perjanjian itu menyatakan:[19]

  1. Kesultanan Banjar yang mempunyai wilayah pengaruh yang cukup luas meliputi Kesultanan Berau, Kutai, Pasir, Dayak Besar, Sampit, Kotawaringin dan Lawai (hulu sungai Kapuas). Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa daerah-daerah itu berada dalam wilayah pendudukan Hindia Belanda.
  2. Orang bukan bangsa Banjar adalah orang asing, seperti: Bugis, Makassar, Bali, Mandar, Jawa, begitu pula Cina, Eropa dan Arab. Semua orang asing diperlakukan hukum Eropa oleh Belanda kalau mereka membuat tindak pidana.
  3. Belanda meminta Sultan agar berusaha menggalakkan tanaman kopi dan lada.


Kontrak Perjanjian Karang Intan I tanggal 1 Januari 1817 Besluit 29 April 1818, No. 4Sunting

CONTRACT MET DE SULTAN BANDJERMASIN,
d.d. 1 Januari 1817
Bt. 29 April 1818, No. 4

Kekerabatan Sultan Sulaiman Saidullah II dengan Sultan SumbawaSunting

Kekerabatan Sultan Sulaiman Saidullah II dengan Sultan Sumbawa

Sultan Sulaiman Saidullah II telah menerima sebuah tombak pusaka bernama Kaliblah dari Sultan Sumbawa XIII Sultan Muhammad Kaharudddin II.

KESULTANAN BANJAR
Sultan Tahmidillah 1
↓ (berputra)
Sultan Tamjidillah 1
↓ (berputra)
SULTAN SUMBAWA
  • Ratu Laiya[24] + ♂ Sultan Sumbawa X: Pangeran Mahmud (Dewa Pangeran)
↓ (berputra)
  • ♂ Sultan Sumbawa XIII: Muhammad Kaharudddin II
↓ (berputra)
  • ♂ Sultan Sumbawa XIV: M. Amarullah[25]
↓ (berputra)
  • ♂ Raja Muda: Daeng Mas Kuncir[26]
↓ (berputra)
↓ (berputra)
  • ♂ Sultan Sumbawa XVI: Muhammad Kaharudddin III
↓ (berputra)
  • ♂ Sultan Sumbawa XVII: Muhammad Kaharudddin IV[27]
SULTAN BANJAR
  • Sultan Tahmidillah II/Sulaiman Saidullah I bin Sultan Tamjidillah 1
↓ (berputra)
  • Sultan Sulaiman Saidullah II
↓ (berputra)
  • Sultan Adam
↓ (berputra)
  • Pangeran Sultan Muda Abdurrahman
↓ (berputra)
  • Sultan Hidayatullah II
↓ (berputra)
  1. Putri Bintang (anak Ratu Mas Bandara)
  2. Putri Bulan (anak Siti Aer Mas)
  3. Ratu Kusuma Indra (anak Siti Aer Mas)
  4. Pangeran Abdul Rahman (anak Ratu Mas Ratna Kediri)
  5. Ratu Saleha (anak Nyai Rahamah)
  6. Gusti Sari Banun (anak Nyai Rahamah)
  7. Pangeran Sasra Kasuma (anak Nyai Noerain)
  8. Gusti Muhammad Saleh (anak Nyai Arpiah)
  9. Pr. Amarullah (anak Nyai Etjech, Cianjur)
  10. Pr. Alibasah (anak Nyai Etjech, Cianjur)
  11. dan lain-lain

Catatan kakiSunting

  1. ^ a b c d e f g h i Hindia-Belanda (1965). Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia-Belanda 1635-1860 (PDF). Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat. hlm. 158. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t (Indonesia)Saleh, Mohamad Idwar (1986). Tutur Candi, sebuah karya sastra sejarah Banjarmasin. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. 
  3. ^ Daftar Sultan Banjar dalam Indonesian Traditional States II
  4. ^ a b http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  5. ^ (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863. 2. D. A. Thieme. hlm. 278. 
  6. ^ a b c d e (Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap. 9. Lange. hlm. 124. 
  7. ^ (Belanda) (1855)Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. 3. hlm. 569. 
  8. ^ Ratu Serip (Ratu Syarif) gelar putri Sultan Banjar yang menikah dengan bangsawan Arab (Syarif/Habib)
  9. ^ Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar (13)
  10. ^ http://kanakanbanjar.blogspot.com/2016/03/silsilah-raja-sultan-banjar.html
  11. ^ http://kasultananbanjar.blogspot.com/2012/09/silsilah-sultan-hidayatullah-al.html
  12. ^ Regnal Chronologies Southeast Asia: the Islands
  13. ^ (Belanda) P. J. Veth, Borneo's Wester-Afdeeling, geographisch, statistisch, historisch, voorafgegaan door eene algemeene schets des ganschen eilands, Jilid 1, Joh. Noman, 1854
  14. ^ Padoeka Pangeran Mangkoe Boemi, yang memegang parintah dalam negrie BANDJARMASING (Belanda) Philippus Pieter Roorda van Eysinga, Handboek der land- en volkenkunde, geschiedtaal-, aardrijks- en staatkunde von Nederlandsch Indie. 3 boeken [in 5 pt.], 1841
  15. ^ (Belanda) Willem Adriaan Rees, De bandjermasinsche krijg van 1859-1863, Volume 2, D. A. Thieme, 1865
  16. ^ (Belanda) Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Volume 3, 1855
  17. ^ http://kalsel.prokal.co/read/news/3285-wah-ada-keturunan-sultan-banjar-di-papua.html
  18. ^ http://kesultananbanjar.com/id/keturunan-sultan-tamjidilillah-i-sampai-ke-papua/
  19. ^ a b c d e Gazali Usman, Ahmad (1994). Kerajaan Banjar:Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam. Banjarmasin: Lambung Mangkurat Press. 
  20. ^ Haro Frederik van Panhuys, ed. (20 Oktober 1978). "T.M.C. Asser Instituut". International law in the Netherlands (dalam bahasa Inggris). 1. BRILL. hlm. 155. ISBN 9028601082.  ISBN 978-90-286-0108-6
  21. ^ (Indonesia) Abdul Mulku Zahari, Achadiati Ikram, Katalog naskah Buton koleksi Abdul Mulku Zahari, Yayasan Obor Indonesia, 2001 ISBN 979-461-391-6, 9789794613917
  22. ^ Surat Beriluminasi Raja Nusantara; Mu'jizah, Iluminasi dalam Surat Melayu Abad ke-18 dan ke-19, forthcoming
  23. ^ http://kasultananbanjar.blogspot.com/2012/09/silsilah-sultan-hidayatullah-al.html
  24. ^ (Belanda) "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde". 14. Perpustakaan Negeri Bavarian. 1864: 503. 
  25. ^ (Belanda) Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 44. Lands Drukkery. 1871. hlm. 222. 
  26. ^ https://docs.google.com/viewerng/viewer?url=http://kesultananbanjar.com/id/wp-content/uploads/2014/11/SILSILAH-SULTAN-SUMBAWA.pdf&hl=en
  27. ^ http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html#Sumbawa

PustakaSunting

  • Rees, Van W.A, 1865. De Bandjermasinsche Krijg 1859-1863. Arnhem: D.A. Thieme.
  • Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan Dengan Rakjat, 1965. Surat-surat perdjandjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia- Belanda 16351860.

Pranala luarSunting

Lihat pulaSunting