Buka menu utama

Suku Pesisir

suku bangsa di Indonesia

Etnis Pesisir (Bahasa Minangkabau: Ughang Pasisia) adalah sebuah kelompok masyarakat yang tersebar di pesisir barat Sumatra Utara. Etnis Pesisir merupakan penduduk Minangkabau yang bermigrasi ke Tapanuli sejak abad ke-14 dan telah bercampur dengan Suku Melayu, Mandailing, Aceh dan Batak Toba.

Pesisir
Ughang Pasisia
Akbar Tanjung.jpg Jenderal TNI Faisal Tanjung.png Hadji Zainul Arifin.jpg KIBII Chairul Tanjung.jpg
Jumlah populasi

179.154 jiwa (2010)[1]

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Sumatra Utara
Bahasa
Bahasa Minangkabau logat Pesisir
Agama
Islam
Kelompok etnik terdekat
Minangkabau, Batak Angkola, Melayu

Sejarah terbentuknya kelompok suku ini tidak jauh berbeda dengan sejarah terbentuknya masyarakat Suku Aneuk Jamee di pantai barat Aceh, masyarakat Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya, dan beberapa kelompok masyarakat lainnya, yang merupakan diaspora dari para perantau Minangkabau sejak berabad-abad yang lalu.

EtimologiSunting

Pesisir atau Pasisi bermakna wilayah yang berada di tepi lautan. Penamaan 'Etnis Pesisir' untuk kelompok masyarakat yang mendiami pesisir Pantai barat Sumatra Utara tidak pernah dikenal hingga akhir abad ke-20. Istilah ini dikemukakan untuk membedakan kelompok masyarakat di pesisir barat Sumatra Utara dengan masyarakat Batak di pedalaman. Berdasarkan ruang geografis etnisitas yang disusun oleh Collet (1925), Cunningham (1958), Reid (1979) dan Sibeth (1991), di pesisir barat Sumatra Utara terdapat kelompok masyarakat yang bukan merupakan bagian dari etnis Batak.[2] Kelompok ini merupakan para perantau dari Minangkabau yang telah bermigrasi ke pesisir barat Tapanuli sejak berabad-abad lalu.[3] Dalam perkembangannya, istilah Suku Pesisir lebih digunakan untuk mempertegas kepentingan politik masyarakat Sibolga-Tapanuli Tengah, terutama untuk menghindari dominasi orang Batak dari pedalaman.[4]

SejarahSunting

 
Peta pengguna Bahasa Minangkabau di Sumatra. Pengguna Bahasa Pesisir ditunjukkan dengan warna hijau yang berada di sebelah barat Sumatra Utara

Pada abad ke-14, banyak masyarakat Minangkabau yang melakukan migrasi ke Tapanuli Tengah. Tujuan mereka ialah untuk menjadikan Barus sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Pagaruyung, bersama Tiku dan Pariaman, yang menjadi tempat keluar masuknya perdagangan di Pulau Sumatra.[5] Kedatangan mereka ke Barus menyebabkan tersingkirnya para pedagang Tamil yang sudah berdagang di kota itu sejak ratusan tahun sebelumnya.[6]

Gelombang berikutnya ialah rombongan yang dipimpin oleh Sultan Ibrahimsyah yang berasal dari Pesisir Selatan. Rombongan ini kemudian mendirikan Kesultanan Barus yang menjadi salah satu vassal Kerajaan Pagaruyung.[7] Kedatangan orang Minang berlanjut setelah dibentuknya residentie Tapanuli yang beribu kota di Sibolga. Pemerintah Hindia Belanda banyak mempekerjakan mereka untuk mengisi jabatan guru dan di pemerintahan. Sejak pertengahan abad ke-19, masyarakat dari pedalaman Toba dan Mandailing mulai banyak bermukim di Barus, Sorkam, dan Sibolga. Mereka berasimilasi dengan masyarakat Minangkabau dan membentuk kelompok masyarakat Pesisir. Pada sensus penduduk tahun 2000, masyarakat Pesisir diklasifikasikan sebagai etnis tersendiri. Pada tahun 2008, sebagian besar kelompok masyarakat Pesisir menolak bergabung dengan etnis Batak Toba untuk mendirikan Provinsi Tapanuli.[8]

PenyebaranSunting

BahasaSunting

Bahasa yang digunakan oleh kelompok masyarakat Pesisir merupakan salah satu dialek dari Bahasa Minangkabau yang juga digunakan di Pariaman. Selain itu terdapat pula beberapa kosa kata yang diambil dari Bahasa Batak dan Bahasa Melayu. Percampuran bahasa ini dikenal dengan Bahasa Pesisir yang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari (lingua franca) di pesisir barat Tapanuli.

Adat dan BudayaSunting

Sebagai wilayah rantau Minangkabau, kebudayaan Pesisir banyak dipengaruhi oleh budaya Minangkabau atau yang dikenal dengan "Adat Sumando".[9] Adat dan budaya Suku Pesisir yang serupa dengan budaya Minangkabau ialah dalam menyambut para tamu, dimana masyarakat Pesisir juga menggunakan Tari Parsambahan. Meski tidak lagi menganut sistem matrilineal, namun etnis Pesisir juga memiliki kepala kaum yang dipanggil mamak. Untuk pemanggilan kepada saudara orang tua perempuan, etnis Pesisir juga menggunakan istilah mak tuo, mak angah, dan mak etek. Sedangkan untuk pemanggilan kepada saudara kandung laki-laki, adalah tuan adik, tak ogek, kak uti dan tak ajo, dan untuk penyebutan saudara kandung perempuan antara lain uniang, accik, cek angah, dan teti/teta.

Seni pertunjukan etnis Pesisir antara lain kesenian Sikambang, Tari Senyum Minang Manis, Bagala Duo Baleh, dan Randai. Dalam adat pernikahan, orang Pesisir biasa melakukan prosesi malam bainai dan manjapuk yang juga banyak dijumpai di rantau Minangkabau lainnya.[10] Untuk seorang bangsawan pada masyarakat Pesisir, masih diberikan gelar Sutan dan Marah di belakang namanya.[11]

Tokoh masyarakatSunting

Disamping tetap mempertahankan beberapa aspek budaya Minangkabau, seperti bahasa, seni, dan lainnya, etnis Pesisir juga mengadopsi beberapa aspek budaya Batak, di antaranya pemakaian nama marga di belakang nama utama. Umumnya Suku Pesisir memakai nama marga Tanjung di belakang nama utamanya. Beberapa tokoh ternama dari Suku Pesisir, di antaranya Akbar Tanjung, Faisal Tanjung, Chairul Tanjung, dan lainnya.

SumberSunting

  1. ^ Badan Pusat Statistik, Sensus Penduduk 2010
  2. ^ Daniel Perret, Kolonialisme dan Etnisitas, Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut, École Franc̦aise d'Extrême-Orient, 1995
  3. ^ Jane Drakard, A Malay Frontier: Unity and Duality in a Sumatran Kingdom
  4. ^ http://apakabarsidimpuan.com Ketua DPRD Persoalkan Pakaian Adat Pesisir Sibolga
  5. ^ Cortesao A., The Suma Oriental of Tome Pires, London, 1944
  6. ^ Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula
  7. ^ Jane Drakard, Sejarah Raja-raja Barus: Dua Naskah dari Barus, Penerbit Angkasa dan École Franc̦aise d'Extrême-Orient, 1988
  8. ^ http://www.jpnn.com RUU Provinsi Tapanuli Terganjal Sibolga
  9. ^ Chatib Soeleman, Adat Poesaka, Voor eensluidend konform, Sohrijver Koeriahoof Sibolga, Kassianoes, 1851
  10. ^ Refelina Puspita, Unsur Budaya Minang dalam Budaya Pesisir Sibolga Sumatra Utara, Unimed, 2014
  11. ^ Elizabeth Graves, The Minangkabau Response to Dutch Colonial Rule in the Nineteenth Century, Cornell University, 1981

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting