Suku Māori

Suku Māori (/ˈmri/; Pengucapan Māori: [ˈmaːɔɾi] ( simak)[1]) adalah penduduk asli asal Polinesia yang tinggal di Selandia Baru. Suku ini berasal dari Polinesia timur yang tiba di Selandia Baru dalam beberapa gelombang migrasi menggunakan waka (kano) di antara tahun 1320 dan 1350.[2] Setelah terisolasi beberapa abad, para pendatang ini mengembangkan budaya mereka sendiri dengan bahasa, mitologi, teknik kriya, serta seni pertunjukan yang berbeda dengan budaya Polinesia timur lainnya. Beberapa penduduk awal suku Māori ada yang pindah ke Kepulauan Chatham; keturunan penduduk awal ini kemudian menjadi kelompok etnis Selandia Baru yang lain, yaitu Suku Moriori.[3]

Māori
Te Puni, seorang Kepala Suku Māori
Daerah dengan populasi signifikan
Selandia Baru
  586.000 (2001)
  635.100 (2005)

Australia
   72.956 (2001)
Britania Raya
  ~8,000 (awal 2000-an)
Amerika Serikat
  ~3.500 (2000)
Kanada
   1,305 (2001)

Tempat lain
  ~8.000 (awal 2000-an)
Bahasa
Inggris, Maori
Suku bangsa terkait
bangsa Polinesia lain

Gaya hidup orang Māori banyak mengalami perubahan setelah orang Eropa datang ke Selandia Baru pada abad ke-17. Orang Māori kemudian perlahan-lahan mengadopsi berbagai aspek budaya dan kehidupan masyarakat Barat. Pada awalnya, hubungan antara orang Māori dan Eropa relatif baik. Sejak Perjanjian Waitangi di tahun 1840, kedua budaya tersebut hidup bersama. Pada tahun 1860, mulai terjadi perpecahan akibat konflik penjualan lahan, yang berujung pada penyitaan lahan dalam skala besar. Perpecahan sosial dan epidemi penyakit yang dibawa dari luar menyebabkan populasi suku Māori turun secara tajam. Jumlah penduduk suku Māori baru kembali meningkat pada awal abad ke-20. Sejak saat itu, mulai banyak upaya untuk mengembalikan keadilan sosial dan kedudukan suku Māori di masyarakat Selandia Baru secara umum.

Dengan demikian, budaya tradisional Māori mengalami kebangkitan kembali yang besar, yang juga diperkuat dengan adanya gerakan protes Māori di tahun 1960-an. Sayangnya, suku Māori masih mengalami kesulitan ekonomi dan sosial yang besar. Secara umum, perkiraan umur dan pendapatan mereka pun lebih rendah daripada kelompok etnis lain yang hidup di Selandia Baru. Suku ini juga mengalami angka tingkat kejahatan, masalah kesehatan, serta ketertinggalan pendidikan yang lebih parah daripada kelompok etnis lain di Selandia Baru. Beberapa inisiatif sosio-ekonomis telah dilakukan dengan tujuan untuk "menutup jarak" antara orang Māori dan penduduk Selandia Baru lainnya. Ganti rugi politis dan ekonomis untuk berbagai kerugian historis juga masih terus berlanjut.

Dalam Sensus Selandia Baru 2018, terungkap bahwa terdapat 775.836 penduduk di Selandia Baru yang menyatakan dirinya orang Māori, yaitu berarti sekitar 16,5% dari populasi nasional. Kelompok ini merupakan kelompok etnis terbesar kedua di Selandia Baru, tepat di bawah penduduk Selandia Baru asal Eropa ("Pākehā"). Terdapat pula 140.000 orang Māori yang tinggal di Australia. Bahasa Māori digunakan oleh sekitar seperlima penduduk Māori atau 3% dari total penduduk. Orang Māori aktif dalam seluruh aspek kehidupan dan kebudayaan Selandia Baru, dengan representasi yang jelas di media, politik, dan olahraga.

EtimologiSunting

Dalam bahasa Māori, kata māori berarti "normal", "alami", atau "biasa". Dalam legenda dan tradisi lisan, kata ini membedakan antara manusia biasa (tāngata māori) dengan dewa-dewi dan roh.[4][i] Lebih lanjut, wai māori berarti "air bersih", yang diperlawankan dengan air asin. Ada banyak kata yang berkerabat dengan istilah-istilah ini dalam bahasa Polinesia lain,[5] yang semuanya berasal dari kata Proto-Polinesia *ma(a)qoli, yang kira-kira berarti "benar, nyata, asli".[6][7]

Penamaan dan penamaan diriSunting

Pada mulanya, para pendatang dari Eropa ke Selandia Baru menamakan penduduk asli pulau ini sebagai "orang Selandia Baru" ("New Zealanders") atau "pribumi".[8] Orang Māori sendiri menggunakan istilah māori untuk menyebut penduduk mereka sendiri dari dalam maupun luar suku.[ii] Orang Māori cenderung menggunakan istilah tangata whenua (yang secara harafiah berarti "penduduk suatu daerah") untuk menyebutkan hubungan mereka dengan daerah tertentu. Orang Māori dari daerah A akan menyebut diri mereka tangata whenua daerah itu, tetapi tidak dari daerah lain.[9] Istilah ini juga dapat dipahami dalam konteks suku Māori secara keseluruhan dalam hubungannya dengan Selandia Baru (Aotearoa) secara umum.

Dari sudut pandang pemerintah, tidak selalu jelas siapa yang dianggap orang Māori. Pada tahun 1974, demi kepentingan pemilihan umum, pemerintah mewajibkan dokumen yang membuktikan keturunan bagi yang mengaku "orang Māori". Hanya orang-orang yang memiliki 50% keturunan Māori dapat ikut pemilu. Amandemen Undang-undang Urusan Maori tahun 1974 mengubah hukum ini dan memperbolehkan siapa pun untuk mengidentifikasi dirinya sesuai dengan yang orang itu inginkan, khusus untuk masalah identitas budaya. Hingga tahun 1986, badan sensus Selandia Baru mewajibkan setidaknya 50% 'turunan' Māori agar dapat mengklaim hubungan dengan suku Māori. Saat ini, di dalam semua konteks, pemerintah secara umum akan meminta dokumen pembuktian nenek moyang atau bukti keterlibatan kultural (seperti misalnya penerimaan dari orang lain bahwa orang tersebut memang ada di dalam suku), tetapi tanpa batas persentase turunan.[10][iii]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Maori". Oxford English Dictionary. Oxford University Press. 2nd ed. 1989.
  2. ^ Walters, Richard; Buckley, Hallie; Jacomb, Chris; Matisoo-Smith, Elizabeth (7 October 2017). "Mass Migration and the Polynesian Settlement of New Zealand". Journal of World Prehistory. 30 (4): 351–376. doi:10.1007/s10963-017-9110-y . 
  3. ^ Taonga, New Zealand Ministry for Culture and Heritage Te Manatu. "1. – Moriori – Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand". teara.govt.nz (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 December 2018. 
  4. ^ Atkinson, A. S. (1892)."What is a Tangata Maori?" Journal of the Polynesian Society, 1 (3), 133–136. Retrieved 18 December 2007.
  5. ^ misalnya kanaka maoli, yang berarti penduduk asli Hawaii. (Dalam bahasa Hawaii, huruf "t" dalam bahasa Polinesia cenderung berubah menjadi "k" dan huruf "r" cenderung berubah menjadi "l".)
  6. ^ "Entries for MAQOLI [PN] True, real, genuine: *ma(a)qoli". pollex.org.nz. 
  7. ^ Bahasa-bahasa Polinesia Timur
  8. ^ "Native Land Act | New Zealand [1862]". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 8 July 2017. 
  9. ^ "tangata whenua" (dalam bahasa Inggris). Māori Dictionary. Diakses tanggal 8 July 2017. 
  10. ^ McIntosh (2005), p. 45

Daftar pustakaSunting

  • Australian Bureau of Statistics (2004). Australians' Ancestries: 2001. Canberra: Australian Bureau of Statistics, Catalogue Number 2054.0. [1]
  • Biggs, Bruce (1994). Does Maori have a closest relative? In Sutton (Ed.)(1994), pp. 96–-105.
  • Hiroa, Te Rangi (Sir Peter Buck)(1974). The Coming of the Maori. Second Edition. First Published 1949. Wellington: Whitcombe and Tombs.
  • Irwin, Geoffrey (1992). The Prehistoric Exploration and Colonisation of the Pacific. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Simmons, D.R. (1997). Ta Moko, The Art of Maori Tattoo. Revised Edition. First published 1986. Auckland: Reed.
  • Statistics Canada (2003). Ethnic Origin (232), Sex (3) and Single and Multiple Responses (3) for Population, for Canada, Provinces, Territories, Census Metropolitan Areas and Census Agglomerations, 2001 Census - 20% Sample Data.. Ottawa: Statistics Canada, Cat. No. 97F0010XCB2001001. [2]
  • Statistics New Zealand (2005). Estimated resident population of Māori ethnic group, at 30 June 1991-2005, selected age groups by sex. Wellington: Statistics New Zealand. [3]
  • Sutton, Douglas G. (Ed.) (1994). The Origins of the First New Zealanders. Auckland: Auckland University Press.
  • United States Census Bureau (2003). Census 2000 Foreign-Born Profiles (STP-159): Country of Birth: New Zealand. Washington, D.C.: U.S. Census Bureau. [4]
  • Walrond, Carl (2005). Māori overseas, Te Ara - the Encyclopedia of New Zealand. [5]

Pranala luarSunting