Buka menu utama

Sugeng Satya Dharma dikenal sebagai seorang penyair, penulis, wartawan dan seniman asal Medan, Sumatra Utara.

Sugeng Satya Dharma
SsDharma.jpg
Lahir10 Oktober 1962 (umur 57)
Bendera Indonesia Medan
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
Pekerjaanpenyair, penulis, wartawan, seniman
Tahun aktif
1980 - sekarang
Organisasi
DKSUlogo.png
Dewan Kesenian Sumatra Utara
Jabatan
Koordinator Komite Seni Sastra
Masa jabatan
2017 - 2022

Sejak tahun 2017, Sugeng menduduki jabatan sebagai Koordinator Komite Seni Sastra pada Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU);[1] yang merupakan organisasi non struktural perpanjangan tangan Gubernur Sumatra Utara yang bergerak di bidang kesenian, sastra, budaya dan pariwisata.

Latar BelakangSunting

Sugeng Satya Dharma merupakan anak ke 5 dari 12 bersaudara. Ia diketahui gemar menulis sejak masih berada di bangku SMP.

Setelah tamat SMA, Sugeng memilih untuk bekerja dan menjajaki dunia seni bersama "Onderdil", yakni kelompok teater anak-anak bentukannya sendiri. Selain itu, ia mulai aktif mengikuti sejumlah kegiatan kesenian "Teater Profesi Medan" serta tampil dalam sejumlah pementasan teater; seperti “Melawan Raksasa”, “Mpok Orong-Orong” dan “Lisystrata”.

Sugeng diketahui mulai menekuni bidang sastra sekitar tahun 1984. Adapun pada masa tersebut, ia menghasilkan karya-karya berupa puisi, novel, cerita bersambung (cerbung), dan lain-lain. Terlebih lagi, Sugeng merupakan seorang pengarang buku dan penulis skenario film televisi.

Di sela-sela kesibukannya sebagai seniman, Sugeng juga menjalani profesi sebagai wartawan di “Majalah Dunia Wanita”. Pada tahap selanjutnya, ia berhasil menduduki jabatan sebagai desk editor bidang seni budaya di “Harian Waspada”, Medan.

PengalamanSunting

Pada tahun 1987, Sugeng tercatat sebagai salah satu peserta undangan "Forum Puisi Indonesia", yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Adapun luaran dari kegiatan tersebut menghasilkan sebuah buku antologi puisi karya bersama.

Sugeng diketahui sempat menetap di Jakarta selama beberapa waktu. Di kota tersebut, ia sempat meniti karir sebagai wartawan di “Majalah Film” dan “Majalah Vista”.

Pada masa pasca reformasi tahun 1998, Sugeng berhasil mendirikan "Asosiasi Wartawan Muslim Indonesia" (AWAM) sekaligus bertindak sebagai ketuanya.

Sekembalinya ke Medan, Sugeng menjalani amanah sebagai pengurus lembaga pers Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor dan mengelola “Tabloid Gerak”. Lebih lanjut, ia juga mengelola “Tabloid Komunikator” (DPP KNPI), “Majalah Pancasila Abadi” (Pemuda Pancasila) dan “Majalah Forum Pemuda” (Kantor Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia).

Selain aktif di Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU), saat ini Sugeng menjabat sebagai Sekretaris Forum Sastrawan Deli Serdang (Fosad).

PublikasiSunting

Publikasi Sugeng meliputi karya sastra antara lain, prosa, novel dan buku.

PuisiSunting

  1. Antologi Puisi Forum Puisi Indonesia (DKJ - TIM, 1987);
  2. Aceh Mendesah Dalam Nafasku (Kasuha, 1999);
  3. Monolog Pembebasan (Kumpulan Sajak, 2001);
  4. Airmata Rohingya (Apwas, 2017);
  5. Politik Indonesia dalam Puisi (Fosad, 2019);
  6. Rumah Tak Biasa (Fosad, 2019);
  7. Parbaba (Fosad, 2019);
  8. "Sajak-Sajak Orang Laut" (Fosad & Lingkar Nalar Indonesia, 2019);
  9. Kumpulan Puisi Uyghur: Beribu Kilometer Selangkah Kaki (Fosad, 2019); dan
  10. Seratus Sajak Untuk Pertiwi (Fosad, 2019).

ProsaSunting

  1. Kumpulan Cerpen Fuit (Fosad & DKSU, 2019);[2]
  2. Novel Lie, Jangan Bilang Aku Cina (Titik Terang, Jakarta, 2000);
  3. Cerita Berseri Lanskap (Harian Waspada, Medan, 1985);
  4. Cerita Berseri Nyanyian Merah Hitam (Harian Waspada, Medan, 1986); dan
  5. Cerita Berseri Tini Dharsa Merebut Cinta Kasih (Majalah Dunia Wanita, Medan, 1987).

BukuSunting

  1. Aceh Menggugat: Sepuluh Tahun Rakyat Aceh di bawah Tekanan Militer (Pustaka Sinar Harapan, 1999);
  2. Jihad Melawan Narkoba (Yayasan Bina Buana & AWAM Indonesia, 2001);
  3. M. Iqbal Assgaf: Sang Aktivis (AWAM Indonesia, 2000);
  4. Haji Kita: Problema yang Tak Kunjung Selesai (AWAM Indonesia, 2004);
  5. Surat-Surat Kepada Presiden Gus Dur: Sebagai Rakyat Saya Menolak Demokrasi (AWAM Indonesia, 2001);
  6. Sepuluh Dosa Besar Perlemen Indonesia (AWAM Indonesia, 2001);
  7. Malpraktek Pers Indonesia” (AWAM Indonesia, 2003);
  8. Hamzah Haz Menjawab Pers (AWAM & SAKTI, 2004);
  9. Etnis Tionghoa dalam Politik Indonesia Sebelum dan Sesudah Reformasi 1998 (AWAM & SAKTI, 2005);
  10. Suku Tionghoa dalam Masyarakat Majemuk Indonesia (AWAM & SAKTI, 2006);
  11. Aceh Lon: Damai Aceh Merdeka Abadi (Satker BRR Aceh - Nias, Penguatan Kelembagaan Kominfo, 2006);
  12. Menatap Demokrasi: Dinamika Aceh Pasca Pilkada (Satker BRR Aceh - Nias, 2007);
  13. FORBES dan Jejak Lahirnya Undang Undang Pemerintahan Aceh (Forbes, 2008);
  14. Imlek Nasional 2007: Indonesia Bersatu (Editor) (SAKTI & AWAM Indonesia, 2007);
  15. Tragedi Walubi: Sebuah Testimoni (Editor) (DPP, 2010); dan
  16. Pertanggungjawaban Publik Ali Masykur Musa (AWAM, 2005).[3]

PenghargaanSunting

Sugeng tercatat sebagai penerima penghargaan di bidang sastra dan film. Adapun penghargaan yang dimaksud, antara lain:

  1. Penulis Cerita Pendek Terbaik di Sumatra Utara (oleh Dewan Kesenian Medan, 1984);
  2. Kritikus Film Terbaik FFI tahun 1990 (oleh Festival Film Indonesia, 1990); dan
  3. Kritikus Sinetron Terbaik FSI tahun 1992 (oleh Festival Sinetron Indonesia, 1992).

ReferensiSunting

  1. ^ "Artikel "Gubsu Lantik Pengurus DKSU" - Periode 2017 - 2023=pewarta.co". Diakses tanggal 2018-01-03. 
  2. ^ "Artikel "Fosad Luncurkan Buku Kumpulan Cerpen Bertema Danau Toba". m.kumparan.com. Diakses tanggal 2018-08-15. 
  3. ^ "Buku "Pertanggungjawaban Publik Ali Masykur Musa". books.google. co.id. Diakses tanggal 2019-11-01.