Buka menu utama

Streptomisin (Inggris: Streptomycin) adalah antibiotik yang dihasilkan oleh jamur tanah streptomyces griseus.[2] Antibiotik tersebut diperdagangkan sebagai garam trihidroklorida, fosfat atau sekuisulfat, maupun garam rangkap dengan kalsium klorida.[2]

Streptomisin
Nama sistematis (IUPAC)
5-(2,4-diguanidino-
3,5,6-trihydroxy-cyclohexoxy)- 4-[4,5-dihydroxy-6-(hydroxymethyl)
-3-methylamino-tetrahydropyran-2-yl] oxy-3-hydroxy-2-methyl
-tetrahydrofuran-3-carbaldehyde
Data klinis
AHFS/Drugs.com monograph
Kat. kehamilan D(US)
Status hukum POM (UK) -only (US)
Rute Intramuscular, intravenous
Data farmakokinetik
Bioavailabilitas 84% to 88% (est.)[1]
Waktu paruh 5 to 6 hours
Ekskresi Renal
Pengenal
Nomor CAS 57-92-1 YaY
Kode ATC A07AA04 J01GA01
PubChem CID 19649
DrugBank DB01082
ChemSpider 18508 YaY
UNII Y45QSO73OB YaY
KEGG D08531 YaY
ChEBI CHEBI:17076 YaY
ChEMBL CHEMBL1201194 N
NIAID ChemDB AIDSNO:07346
Data kimia
Rumus C21H39N7O12 
Massa mol. 581.574 g/mol
SMILES eMolecules & PubChem
Data fisik
Titik lebur 12 °C (54 °F)

Salah satunya jenis streptomisin adalah antibiotik golongan aminoglikosida yang memiliki spektrum kerja yang menengah. Spektrum kerja streptomisin meliputi bakteri bacillus Gram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan Enterobacter sp. Streptomycin dapat digunakan untuk mengatasi sejumlah infeksi seperti tuberkulosi, radang pada endokardium jantung (endokarditis), tularemia dan infeksi saluran kemih, dan juga ramai digunakan dalam media untuk menghambat pertumbuhan mikroba. Streptomisin yang tersedia di pasaran adalah dalam bentuk streptomisin sulfat.

Mekanisme kerja aminoglikosida adalah golongan antibiotik yang bekerja dengan menekan pertumbuhan bakteri. Streptomisin akan menghambat sintesis protein dengan berikatan secara permanen pada sub unit ribosom 30s dan 16s RNA bakteri. Terjadinya ikatan tersebut dapat mengganggu pembentukan kode asam amino oleh mRNA sehingga urutan asam amino pada polipeptida bakteri tidak sesuai. Kesalahan urutan asam amino tersebut mengarah pada pembentukan rantai peptida nonfungsional atau toksik pada sel bakteri

Nama umum StreptomisinSunting

Beberapa nama dagang yang mengandung streptomisin, antara lain[2]

  • Streptomycin sulfate.
  • Agri Strep.
  • Streptobrettin.
  • Streptorex.
  • Verstrep.

Di Indonesia, obat yang mengandung streptomisin, misalnya Chlorostrep, Hostamycin, Mycillin, dan Penstrep.[2]

Bentuk fisikSunting

Strepromisin berbentuk bubuk atau bubuk butiranm tidak berbau, rasanya sedikit pahit, mudah larut dalam air, tetapi praktis tidak larut dalam alkohol, klorofom, dan eter.[2]

KegunaanSunting

Streptomisin berkhasiat sebagai anti-bakteri tuberkulostatik.[2] Streptomisin dapat digunakan untuk pengobatan tuberkulosis, tularemia, bubonic plague, glanders, dan bruselosis.[3] Selain itu dapat juga digunakan bersama penisilin untuk mengobati endokarditis yang diakibatkan oleh stafilokukus.[3]

Efek SampingSunting

Beberapa hal yang perlu diwaspadai dalam penggunaan streptomisin, bahwa antibiotik tersebut dapat mengakibatkan:

  • Ototoksisitas, berupa kehilangan pendengaran terhadap frekuensi tinggi, tinitus, dan gangguan vestibuler.[3]
  • Nefrotoksisitas, yaitu gangguan pada fungsi ginjal.[3]
  • Otoksisitas dan nefrotoksisitas lebih sering terjadi pada penggunaan streptomisin dibandingkan dengan aminoglikosida lainnya.[3]
  • Kemerahan pada kulit, dermatitis eksfoliatif, syok anafilaktik, neutropenia, agranulositosis, anemia aplastik, dan trombositopenia.[3]


RujukanSunting

  1. ^ Zhu M, Burman WJ, Jaresko GS, Berning SE, Jelliffe RW, Peloquin CA. (October 2001). "Population pharmacokinetics of intravenous and intramuscular streptomycin in patients with tuberculosis". Pharmacotherapy. 21 (9): 1037–1045. doi:10.1592/phco.21.13.1037.34625. PMID 11560193. Diakses tanggal 2010-05-25. 
  2. ^ a b c d e f (Indonesia)Hassan Shadily & Redaksi Ensiklopedi Indonesia (Red & Peny)., Ensiklopedi Indonesia Jilid 6 (SHI-VAJ). Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve, hal. 3312-3313
  3. ^ a b c d e f (Indonesia) Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI., Kumpulan Kuliah Farmakologi: Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 2004, hal. 632