Stasiun Jurangmangu

stasiun kereta api di Indonesia

Stasiun Jurangmangu (JMU,[2] sebelumnya JMG[1]) merupakan sebuah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Sawah Lama, Ciputat, Tangerang Selatan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +25 meter ini hanya melayani KRL Commuter Line. Meskipun bernama Jurangmangu, stasiun ini tidak terletak di kelurahan Jurangmangu, kecamatan Pondok Aren, tetapi terletak di sebelah selatan kelurahan Jurangmangu itu sendiri. Stasiun ini memiliki dua jalur kereta api.

Stasiun Jurangmangu
KAI Commuter
R05

Stasiun Jurangmangu, 2019
Lokasi
Koordinat6°17′19.003″S 106°43′44.954″E / 6.28861194°S 106.72915389°E / -6.28861194; 106.72915389
Ketinggian+25 m
Operator
Letak
Jumlah peronDua peron sisi yang tinggi
Jumlah jalur2
  • jalur 1: sepur lurus arah Tanah Abang
  • jalur 2: sepur lurus arah Serpong–Rangkasbitung
LayananKRL Commuter Line
Konstruksi
Jenis strukturAtas tanah
Informasi lain
Kode stasiun
  • JMU
  • 0214[2]
  • JURANG
KlasifikasiIII/kecil[butuh rujukan]
Sejarah
Nama sebelumnyaStopplats Djoerangmanggoe
Tanggal penting
Dibuka kembali16 September 2009
Operasi layanan
Stasiun sebelumnya Stasiun berikutnya
Pondok Ranji
ke arah Tanah Abang
Commuter Line Rangkasbitung
Tanah Abang–Rangkasbitung
Sudimara
Lokasi pada peta
Peta
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Sejarah

sunting

Agar mobilitas penumpang dari Batavia hingga kawasan Banten semakin lancar, maka pada tahun 1890-an perusahaan Staatsspoorwegen (SS) berencana membangun sebuah jalur kereta api yang menghubungkan daerah Duri hingga daerah Serang, melalui daerah Tangerang dan Cikande.[3] Proyek jalur pun sudah dikerjakan. Di tengah jalannya pembangunan, rencana trase jalur ini akhirnya dibatalkan dan diubah menjadi melalui daerah Parung Panjang hingga ke Rangkasbitung,[3] jalur ini selesai pada 1 Oktober 1899 (termasuk membuka Stasiun Kebajoran).[4] Trase jalur kereta api pertama yang sudah terlanjur dibangun pun dicukupkan pembangunannya hanya sampai di daerah Tangerang saja, dan diresmikan sebagai jalur kereta api Tangerang-Duri yang berstatus sebagai jalur cabang. Jalur ini selesai dibangun pada 2 Januari 1899.[5]

Jalur kereta api dari Stasiun Rangkasbitung diteruskan pembangunannya oleh Staatsspoorwegen (SS) hingga ke daerah Serang pada 1 Juli 1900,[6][7] yang kemudian dilanjutkan kembali hingga ke dekat Pelabuhan Anyer Kidul pada 1 Desember 1900. Pada 1 Desember 1914, dibuat sebuah jalur percabangan di Stasiun Krenceng yang mengarah ke daerah Merak untuk mengakomodasi Pelabuhan Merak yang lebih dekat untuk menyeberang ke Lampung.[8] Jalur yang menuju ke Anyer Kidul pada awalnya berstatus sebagai jalur utama, sedangkan jalur yang menuju ke Merak berstatus sebagai jalur cabang. Di kemudian waktu, status kedua jalur ini ditukar.

Halte Djoerangmanggoe Atau Stasiun Jurangmangu ini dahulu stasiun yang kurang berkembang di Lin Tanahabang-Rangkasbitung karena terbayang bayang Oleh Stasiun Pondok Betung. Saat Stasiun Pondok Betung Non Aktif sekitar tahun 1970an,Stasiun Ini Dipindahkan Dan Berganti Nama Yaitu Stasiun Pondok Ranji, Stasiun Ini Di Buat pada tahun 1990, Padahal Stasiun Pondok Betung dinonaktifkan pada tahun 1970an, karena Stasiun Pondok Ranji Di buat pada tahun 1990an, karena untuk mengenang Sebuah Peristiwa Luar Biasa Hebat Yaitu Tragedi Bintaro 1. Pada tahun 1988, kondisi Halte Djoerangmanggoe Ini semakin parah, genteng-genteng dari halte ini sebagai sudah bolong, dan sekitar halte ini tanah merah yang sangat becek sama hal-nya seperti Halte Tigaraksa. Pada tahun 1990 awal, bangunan halte ini sempat dibongkar dan dibangun ulang semirip dengan Stasiun Daru Saat ini, Halte Djoerangmanggoe Hanya Memiliki 1 Jalur Saja sampai jalur Tanahabang-Serpong dielektrifikasikan. saat elektrifikasi selesai, jalur dari stasiun ini menambah menjadi 2, bekas dari halte nya sudah hilang tak berbekas, Bentuk Dari Halte Djoerangmanggoe Memiliki 2 Ruang PPKA, serta memiliki toilet seperti Halte Cicayur, Stasiun Ini Sempat Mati pada tahun 2000an, karena okupansi penumpang yang menurun drastis dan di kemudian hari Stasiun ini dibuka kembali pada tanggal 16 September 2009 oleh Jusman Syafii Djamal sebagai Menteri Perhubungan RI pada saat itu. Pengoperasian stasiun ini dilakukan dalam rangka meningkatkan okupansi penumpang KRL Commuter Line rute Tanah AbangParungpanjang. Hal ini dikarenakan pada sebelumnya jarak antarstasiun KRL terbilang jauh sehingga perlu adanya stasiun yang dapat diakses oleh penduduk setempat.[9]

Stasiun ini merupakan stasiun terdekat dengan Bintaro Jaya Xchange Mall, pusat perbelanjaan di kawasan Bintaro. Untuk mengakses stasiun ini, penumpang melewati kolong Jalan Tol Ulujami—Serpong dari arah Bintaro Jaya Xchange Mall, atau melewati Jalan Cenderawasih. Saat berjalan menuju stasiun, terdapat taman yang terletak pada lembah di dekat stasiun ini.[10]

Tata letak

sunting

Stasiun ini awalnya memiliki 1 jalur aktif dan berstatus sebagai halte pada awal tahun 2000-an, bangunan lama stasiun Jurangmangu ini sudah di robohkan dan hilang tak berbekas. Saat ini stasiun Jurangmangu memiliki dua jalur kereta api. Jalur 1 merupakan sepur lurus arah Tanah Abang, sedangkan jalur 2 merupakan sepur lurus arah Serpong.

 

  R05  

P
Lantai peron
Peron sisi, pintu terbuka di sebelah kanan
Jalur 2 (Sudimara)      Commuter Line Rangkasbitung menuju Serpong/Tigaraksa/Rangkasbitung
Jalur 1      Commuter Line Rangkasbitung menuju Tanah Abang (Pondok Ranji)
Peron sisi, pintu terbuka di sebelah kanan
G Bangunan utama stasiun


Layanan kereta api

sunting
Nama kereta api Relasi perjalanan Keterangan
  Commuter Line Rangkasbitung Tanah Abang Rangkasbitung

Antarmoda pendukung

sunting
Jenis angkutan Nomor rute Tujuan
Transjakarta S31 (RoyalTrans) Bintaro Jaya Xchange—Stasiun MRT Fatmawati
Shuttle bus[11] Intrans Bintaro Jaya Jurangmangu—Kebayoran, Jurangmangu—Discovery/Emerald, Jurangmangu—CBD Bintaro

Referensi

sunting
  1. ^ a b Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ a b Lampiran Grafik Perjalanan Kereta Api 2019
  3. ^ a b Anne Reitsma, Steven (1916). Indische Spoorweg-Politiek. Batavia: Landsdrukkerij. 
  4. ^ Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V. 
  5. ^ Anne Reitsma, Steven (1928). Korte Geschiesdenis der Nederlands-Indische Staatsspoor- en Tramwegen. Weltevreden: G. KOLLF & Co. 
  6. ^ Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 
  7. ^ Spoor- & Tramgids van Nederlandsch-Indie. Semarang: Semarang-Drukkerij en Boekhandel. 1901. hlm. 10. 
  8. ^ "ZWP - Haltestempels Ned.Indië". studiegroep-zwp.nl. Diakses tanggal 2022-10-22. 
  9. ^ "Stasiun Jurang Mangu resmi dioperasikan". Tangerang News. 16 September 2009. Diakses tanggal 19 Oktober 2017. 
  10. ^ Wahid, Ahmad bil (10 Agustus 2017). "Stasiun Jurangmangu yang Katanya Mirip Amsterdam, Masa Sih?". Detikcom. Diakses tanggal 19 Oktober 2017. 
  11. ^ "Shuttle Bus Intrans Bintaro Mulai Beroperasi" (Siaran pers). Tangerang Selatan: PT Jaya Real Property. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-10-19. Diakses tanggal 19 Oktober 2017. 
Stasiun sebelumnya   Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Sudimara
ke arah Merak
Merak–Tanah Abang Pondok Ranji
ke arah Tanah Abang