Buka menu utama

Museum Kereta Api Bondowoso

museum di Indonesia
(Dialihkan dari Stasiun Bondowoso)

Museum Kereta Api Bondowoso (bahasa Inggris: Bondowoso Rail and Train Museum) adalah stasiun kereta api nonaktif kelas I yang sekarang dialihfungsikan sebagai museum sejarah perkeretaapian. Museum ini secara administratif terletak di Kademangan, Bondowoso, Bondowoso. Museum yang terletak pada ketinggian +253 m ini termasuk dalam Wilayah Aset IX Jember dan saat ini dikelola secara bersama oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bondowoso.[3]

Stasiun Bondowoso
  • Singkatan: BO
  • Nomor: 5607
Stasiun Bondowoso 2019.jpg
Museum kereta api Bondowoso dari depan
Lokasi
ProvinsiJawa Timur
KabupatenBondowoso
KecamatanBondowoso
KelurahanKademangan
AlamatJalan Imam Bonjol
Sejarah
Dibuka1 Oktober 1897
Ditutup2004
Dibuka kembali17 Agustus 2016 (sebagai museum kereta api)
Informasi lain
OperatorDaerah Operasi IX Jember
Kelas stasiun[1]I
Ketinggian+253 m
Letak[2]km 241+826 lintas Surabaya Kota-Probolinggo-Kalisat-Panarukan
LayananHanya sebagai museum KA dan untuk pemesanan tiket kereta api
Pemesanan tiketSistem tiket online, melayani pemesanan langsung di loket
Konstruksi dan fasilitas
Jumlah jalur2 (jalur 2: sepur lurus)
Jumlah peron2 (satu peron sisi dan satu peron pulau yang sama-sama agak tinggi)
Gaya arsitekturIndische Empire, Neoklasik
Fasilitas yang tersedia di stasiun ini:
LiveryPapanStasiun 2017.svg
Fasilitas parkir: Ya
Toilet: Ya
Tempat ibadah: Ya


Museum ini merupakan museum perkeretaapian ketiga di Indonesia setelah Ambarawa dan Sawahlunto. Jika Lawang Sewu disertakan sebagai museum perkeretaapian, maka museum ini adalah museum perkeretaapian keempat di Indonesia.

SejarahSunting

Pembangunan jalur kereta api Kalisat–PanarukanSunting

 
Stasiun Bondowoso tempo doeloe.

Asal usul pembangunan jalur kereta api Kalisat–Panarukan dapat dilacak dari megaproyek Staatsspoorwegen (SS) mengembangkan jalur kereta api yang mempersatukan Pulau Jawa. Salah satunya adalah lintas Probolinggo–Kalisat–Panarukan. SS, yang berdiri pada tanggal 6 April 1875,[4] memanfaatkan konsesi izin pembangunan jalur kereta apinya dari Pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api Bogor–Yogyakarta, Surabaya–Solo dan Surabaya–Malang, serta Surabaya–Probolinggo.

Begitu SS puas mengembangkan jalur tersebut, jalur kereta apinya kemudian dipanjangkan lagi untuk menjangkau kota pelabuhan Panarukan yang kala itu sudah dipersatukan dengan kota-kota penting lainnya di Jawa dengan Jalan Raya Pos Daendels. Jalur Probolinggo–Panarukan itu sendiri tertuang dalam konsesi tertanggal 23 Juni 1893, sepaket dengan rencana pembangunan jalur cabang ke Pasirian untuk keperluan pengangkutan pasir besi. Pada mulanya pihak SS memutuskan membangun jalur cabang ini dari Randuagung, tetapi per 1894, SS mengalihkan jalur cabangnya itu ke Stasiun Klakah, karena jaraknya relatif dekat bila dibandingkan dengan dari Randuagung.[5]

Meneruskan jalur kereta api Pasuruan–Probolinggo pada tahun 1884, SS membangun jalur ini dengan penuh tantangan. Jalur kereta apinya sendiri membelah hutan dan kebun, melewati tempat-tempat terpencil, hingga akhirnya sampailah di Jember pada tanggal 1 Juli 1897. Segmen terakhirnya, Jember–Kalisat–Panarukan, beroperasi pada tanggal 1 Oktober 1897. Stasiun Bondowoso beroperasi setelah jalur segmen terakhir ini selesai.[6]

Gerbong maut BondowosoSunting

Stasiun ini menjadi saksi bisu tragedi gerbong maut Bondowoso. Sebanyak seratus pejuang ditawan serdadu Belanda dalam rangkaian Agresi Militer Belanda I. Pada tanggal 23 November 1947 subuh itu, tawanan yang semula ditahan di Penjara Bondowoso digiring ke Stasiun Bondowoso untuk dinaikkan di kereta api menuju Surabaya. Tercatat ada tiga gerbong untuk mengangkut tawanan, yaitu GR 5769 dan GR 4416 yang masih memiliki lubang angin kecil, serta GR 10152 yang sama sekali tidak memiliki lubang angin.[7]

Karena ukuran gerbong-gerbong itu kecil, udara pengap menjadi awal dari tragedi ini. Mulai dari kesulitan bernapas hingga tidak diberi makan dan minum jelas membuat mereka tidak mampu bertahan hidup lama. Mereka bahkan meminum air kencing. Mashoed (2004) menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada saat matahari benar-benar terik. Enam belas jam perjalanan, kereta tiba di Stasiun Wonokromo dalam keadaan tak ada satu pun orang yang mampu bertahan hidup di dalam pengapnya gerbong maut tersebut,[8][9] yaitu yang berada di dalam gerbong GR 10152.[10] Empat puluh enam tewas dalam peristiwa tersebut, sedangkan 12 sakit parah, 30 lemas tak berdaya, dan 12 orang selamat.[8]

Penutupan jalur Kalisat–PanarukanSunting

Pada saat-saat terakhir jalur Kalisat–Panarukan beroperasi, hanya kereta api lokal Jember–Panarukan yang rutin beroperasi di jalur ini. Sering ditarik lokomotif diesel hidraulik produksi Henschel (BB303 dan BB306), serta membawa tiga unit kereta penumpang ekonomi non-AC. Kereta penumpang ini dahulu difungsikan untuk mengumpan penumpang dari pelosok Situbondo menuju Stasiun Jember. Stasiun ini dinonaktifkan penuh pada tahun 2004 oleh PT KA beserta jalur dan seluruh layanannya karena prasarana yang tua dan kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum.[11]

Pengoperasian sebagai museumSunting

Setelah stasiun ini nonaktif untuk pelayanan perkeretaapian umum, kondisi stasiun ini dalam keadaan sangat terpuruk dan terlupakan. Meskipun stasiun ini masih dapat dikatakan "terawat" dengan baik, pada kenyataannya stasiun ini tak pernah digunakan. Tak ada renovasi, hanya sesekali ada pengecatan ulang. Tak ada seorang pun yang bisa dipercaya merawat bangunan heritage peninggalan SS ini.

Wacana reaktivasi jalur kereta api ini terus mengemuka sejak 2009[11] tetapi tidak ada satu pun langkah konkret yang bisa diambil. Pasalnya, PT KAI kini hanya bertindak sebagai operator sekaligus pemilik aset tanah dan bangunan untuk mendukung operasi kereta api, bukan menjadi pemilik prasarana serta tidak ikut mengkaji apakah jalur ini pantas direaktivasi atau tidak. (Jalur KA kini menjadi kewenangan Direktorat Jenderal Perkeretaapian sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007.)[12][13]

Bangunan stasiun ini kini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI. Untuk mengawali langkah reaktivasi, Pemerintah Kabupaten Bondowoso memutuskan untuk membuat perjanjian kerja sama preservasi Stasiun Bondowoso. Pemilihan Stasiun Bondowoso sama sekali bukan tanpa alasan. Dipilihnya stasiun ini adalah untuk mengenang tragedi gerbong maut Bondowoso yang telah menewaskan pejuang kemerdekaan Indonesia yang menjadi tawanan Belanda. Stasiun ini kini diresmikan sebagai museum pada tanggal 17 Agustus 2016 oleh Bupati Bondowoso, Amin Said Husni untuk memperingati 71 tahun Kemerdekaan Indonesia.[14][15]

Di samping museum, stasiun ini juga melayani penjualan tiket. Tidak ada progres reaktivasi untuk jalur ini.

Bangunan, tata letak, dan koleksiSunting

Museum Kereta Api Bondowoso
Bondowoso Rail and Train Museum
Didirikan17 Agustus 2016
LokasiJalan Imam Bonjol, Kademangan, Bondowoso, Bondowoso, Indonesia
JenisMuseum kereta api
Situs webheritage.kai.id

Pada saat aktif sebagai stasiun, Stasiun Bondowoso memiliki enam jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Karena halaman emplasemennya sendiri sudah banyak yang beralih fungsi menjadi lautan rumah penduduk, jalurnya dipangkas menjadi dua saja. Jalur 1 stasiun ini sengaja diparkirkan gerbong pupuk untuk memberi kesan seolah-olah stasiun itu "aktif melayani penumpang".

Arsitektur stasiun ini tidak jauh berbeda dengan stasiun-stasiun SS lainnya, yaitu Indische Empire. Bangunan stasiun telah disesuaikan dengan iklim setempat sehingga terkesan luwes dengan lingkungan sekitarnya. Ornamen sulur-suluran serta pilar-pilar ala Yunani banyak dijumpai di dekat pintu dan jendela, memberi kesan anggun pada bangunan utama stasiun. Pada saat belum dipreservasi bangunan stasiun ini dicat putih dengan kombinasi hijau pada teritisan, kayu-kayu, dan ornamennya, tetapi setelah dipreservasi, warna-warna tersebut digantikan dengan warna korporat bangunan PT KAI.[16]

Museum ini memiliki koleksi yang lebih terbatas bila dibandingkan museum kereta api lainnya di Indonesia. Koleksi museum ini adalah handel persinyalan mekanik Alkmaar, tiket Edmondson, miniatur-miniatur lokomotif dan kereta penumpang zaman uap, salinan foto-foto sejarah, serta mebel/furnitur pendukung administrasi stasiun.[3]

Peralatan lainnya yang juga dikoleksi di stasiun ini adalah atribut perusahaan, handsign, tongkat Semboyan 40, mesin tik, telepon otomatis (toka), stempel, dan reglemen perusahaan. Sesekali juga diputarkan film-film yang mendokumentasikan kereta api pada zaman dahulu di sudut-sudut ruangan serta terdapat informasi mengenai peristiwa tragedi gerbong maut Bondowoso. Untuk meningkatkan pelayanan, fasilitas lain seperti musala dan toilet dibuat seperti layaknya stasiun, dengan dipasangnya papan penunjuk fasilitas yang wujudnya terlihat seperti layaknya bandara.

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. 
  2. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  3. ^ a b Husdinariyanto, N. ""PKS" Museum Kereta Api Bondowoso Belum Terealisasi - ANTARA News Jawa Timur". Antara News. Diakses tanggal 2019-07-20. 
  4. ^ Reitsma, S.A. (1925). Boekoe Peringetan dari Staatsspoor-en-Tramwegen di Hindia-Belanda. Weltevreden: Topografische Inrichting. 
  5. ^ "Wijziging van de Aansluiting van den Zijtak naar Pasirian aan de Hoofdlijn Probolinggo-Panaroekan". de Indische gids. 16: 1173. 1894. 
  6. ^ Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 1921–1932. 
  7. ^ Liputan6.com (2015-08-08). "Di Balik Kisah Pilu 'Gerbong Maut' Bondowoso". liputan6.com. Diakses tanggal 2019-07-20. 
  8. ^ a b Kartomihardjo, P.; Saptono, P.; Soekarsono (1986). Monumen Perjuangan Jawa Timur. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 
  9. ^ Mashoed, H., 1942- (2004). Sejarah dan budaya Bondowoso (edisi ke-Cet. 1). Surabaya: Papyrus. ISBN 9798910214. OCLC 58597469. 
  10. ^ Media, Kompas Cyber. "Kisah Mencekam di Balik Gerbong Maut". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-20. 
  11. ^ a b "Jalur Kereta Api Kalisat-Panarukan Segera Dibuka". Tempo (dalam bahasa Inggris). 2009-01-12. Diakses tanggal 2019-07-20. 
  12. ^ "Jalur KA Jember-Panarukan Belum Bisa Diaktifkan". Republika Online. 2014-05-23. Diakses tanggal 2019-07-20. 
  13. ^ "Bupati Situbondo Akui Telah Ajukan Aktivasi Jalur KA Kalisat-Panarukan". rri.co.id (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2019-07-20. 
  14. ^ "Destinasi Baru Bondowoso - 17 Agustus Nanti Jawa Timur Resmi Punya Museum Kereta Api Pertama". Tribun Travel. Diakses tanggal 2019-07-20. 
  15. ^ Media, Kompas Cyber. "Ini Museum KA Pertama di Jatim, Diresmikan 17 Agustus". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-20. 
  16. ^ Surojo, A.; Antariksa; Suryasari, N. (2011). "Pelestarian Bangunan Stasiun Bondowoso". Arsitektur E-Journal. 4 (2): 106–122. 
Stasiun sebelumnya     Lintas Kereta Api Indonesia     Stasiun berikutnya
Nangkaan
menuju Kalisat
Kalisat–Panarukan
menuju Panarukan

Koordinat: 7°55′01″S 113°49′46″E / 7.9169154°S 113.8294028°E / -7.9169154; 113.8294028