Standar penyiaran digital terestrial di Indonesia

Standar penyiaran digital terestrial di Indonesia mengacu pada Standar Penyiaran Digital Terestrial untuk Televisi Tidak Bergerak yang merupakan sebuah peraturan pemerintah tahun 2007.[1]. Ketetapan ini dikeluarkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Sofyan Djalil, Nomor: 07 tahun 2007 pada 21 Maret 2007[1]. Peraturan ini menetapkan bahwa standar penyiaran digital terestrial untuk televisi tidak bergerak di Indonesia adalah menggunakan teknologi Digital Video Broadcasting - Terestial atau DVB-T[1]. Namun, pada tahun 2012 standar penyiaran digital ini berubah dari DVB-T menjadi DVB-T2 (Digital Video Broadcasting Terrestrial - Second Generation)[2]. Hal ini sesuai dengan ketetapan KEMKOMINFO tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Pemancar Televisi Siaran Digital nomor 36 tahun 2012[2].

Pada awalnya standar penyiaran digital terestrial di Indonesia adalah DVB-T yang diberlakukan dari tahun 2007 hingga 2012

Isi KetetapanSunting

Dalam Peraturan menteri komunikasi dan informatika ini diatur bahwa teknologi untuk televisi tidak bergerak di Indonesia yaitu menggunakan standar Digital Video Broadcasting - Terestrial (DVB-T) terhitung sejak tahun 2007.[1] Dalam ketetapan ini pula diatur tentang rencana induk frekuensi penyiaran digital terestrial, standardisasi perangkat penyiaran digital terestrial, dan jadwal proses pelaksanaan peralihan (migrasi) dari sistem penyiaran analog ke sistem penyiaran digital termasuk masa transisi penyelenggaraan penyiaran analog dan digital secara bersamaan (simulcast periode)[1]. Peraturan tentang lembaga penyiaran jasa televisi terestrial serta industri perdagangan yang berhubungan dengan pengalihan (migrasi) dari sistem penyiaran analog ke sistem penyiaran digital juga disebutkan dalam undang-undang ini[1].

Migrasi DVB-T ke DVB-T2Sunting

Pemerintah Indonesia mengumumkan perubahan standar televisi digital dari DVB-T menjadi DVB-T2 pada tahun 2012.[3] Perubahan ini terjadi dengan harapan mempercepat penyelesaian proses transisi siaran televisi analog ke digital.[3] Dalam pengadaan set top box ini, pemerintah menganggarkan 300 miliar Rupiah.[3] Set top box tersebut nantinya akan diberikan secara gratis kepada masyarakat.[3] Dana tersebut diambil dari APBN 2013 yang diperkirakan akan cukup untuk pengadaan satu juta set top box televisi digital.[3]

Keunggulan DVB-T2Sunting

DVB-T2 adalah pengembangan lebih lanjut dan lebih canggih daripada DVB-T.[4] DVB-T2 merupakan teknologi terbaru yang resmi digunakan sebagai standar teknologi penyiaran siaran TV digital di Indonesia.[5] Dengan DVB-T2, masyarakat dapat menikmati siaran tv digital secara gratis dengan gambar tajam, bening dan kualitas suara yang lebih jernih serta mempunyai kemampuan untuk memutar film dengan kualitas HD 1080p.[5] Selain itu, DVB-T2 dapat juga berfungsi sebagai digital media playback yang memberikan terobosan baru dengan berbagai macam dukungan format file seperti mendengarkan musik, dan menonton film.

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f (Indonesia) Menteri Komunikasi dan Informatika. "Standar Penyiaran Digital Terestrial Untuk Televisi Tidak Bergerak Nomor: 07/P/M. KOMINFO/3/2007" (PDF). Diakses tanggal 18-Februari-2015. 
  2. ^ a b (Indonesia) KEMKOMINFO. "Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Pemancar Televisi Siaran Digital Berbasis Standar Digital Video Broadcasting Terrestrial - Second Generation Nomor: 36 Tahun 2012". Diakses tanggal 15-Februari-2015. 
  3. ^ a b c d e (Indonesia) Majalah Chip Online. "Pemerintah Ubah Standar Siaran Televisi Digital". Diakses tanggal 10-Juni-2015. 
  4. ^ (Indonesia) TV Digital Djogja. "Digital Video Broadcast DVB-T dan DVB-T2". Diakses tanggal 10-Juni-2015. 
  5. ^ a b (Indonesia) Jakarta Notebook. "Revolusi Siaran Digital". Diakses tanggal 10-Juni-2015.