Buka menu utama

a.Fisiognomi

Pohon Shorea leprosula Miq. dapat mencapai tinggi 60 m, batang bebas cabang sampai 35 m, diameter sampai 175 cm (Sutarno dan Riswan, 1997). Tajuk S. leprosula lebar, menyebar, hemispherical, atau berbentuk seperti kembang kol, warna semi tembaga (Adriyanti, 2005). Batangnya mempunyai kulit luar yang berwarna abu-abu atau coklat, sedikit beralur tidak dalam, mengelupas agak besar-besar dan tebal. Penampangnya berwarna coklat muda sampai merah, bagian dalamnya kuning muda, kayu gubal berwarna kuning muda sampai kemerah-merahan, kayu teras berwarna coklat muda sampai merah. Pohonnya berbanir dengan tinggi sampai 3,50 m, lebar 2,50 m, tebal 20 cm (Heyne, 1987). Cabang-cabangnya besar, tumbuh secara horizontal, jumlahnya tidak banyak dan cepat gugur. Ranting-rantingnya banyak dan halus (Anonim, 1992). Daunnya tunggal berbentuk bulat telur sampai jorong (Sastrapradja dkk., 1977), panjangnya 8-14 cm dan lebar 3,5-5,5 cm (Lemmens dan Soerianegara, 1994). Tangkai daun berbulu halus lebat, panjangnya 1-2 cm (Prawira dan Tantra, 1986). Pada daun yang muda terdapat domatia mulai dari pangkal ibu tulang daun sampai hampir di ujungnya membentuk semacam garis (Rudjiman, 1997). Permukaan atas daun berwarna hijau dan licin, sedangkan permukaan bawah kelabu, coklat atau kekuning-kuningan serta tertutup oleh bulu yang sangat rapat (Anonim, 1992). Stipula 10 x 3,5 mm, jorong atau berbentuk tombak besar, tumpul, bila gugur bekas stipula pendek-horizontal. Kuncup daun 3-5 x 2-3 mm, memipih, bulat telur membesar, agak runcing, berbulu pubescent halus-padat pendek, kuning tua (Rudjiman, 1997).

b.Persebaran S. leprosula tersebar di Thailand dan wilayah Malesia lainnya seperti Malaysia, Sumatra, Borneo, Bangka dan Belitung (Appanah, 1993).

c.Silvikultur Pembungaan dan pembuahan terjadi setiap 2 – 3 tahun sekali. Pada saat musim berbunga, pohon yang telah mencapai usia dewasa akan menghasilkan bunga yang sangat banyak. Bunga mekar menjelang sore hari dan mengeluarkan bau yang sangat harum. Agen penyerbukan umumnya adalah serangga kecil yang aktif di malam hari. Buah yang muncul sesudah penyerbukan akan jatuh setelah 14 minggu sejak pembungaan dimulai (Appanah, 1993). Buah akan masak sekitar bulan Desember hingga Maret. S. leprosula di hutan alam telah mulai berbuah pada umur 4 sampai 5 tahun atau pada diameter 5 -10 cm, tetapi yang dipandang cukup baik untuk menghasilkan bibit adalah yang berdiameter 20 cm atau berumur 13 tahun (Anonim, 1992). Dari pengamatan yang dilakukan di beberapa lokasi pertanaman di Kalimantan Tengah (PT. Sari Bumi Kusuma dan PT. Sarpatim), Kalimantan Selatan (PT. Inhutani II Mekarpura) dan Kalimantan Timur (PT. Inhutani I Unit Tarakan dan PT. IDEC AWI), jenis ini mulai stabil berbunga pada usia 13 – 15 tahun. Bunga berbentuk malai, berbulu dan berwarna coklat muda, terdapat pada ujung ranting atau ketiak daun. Buah S. leprosula berbentuk bulat telur (Sastrapradja, 1977), berukuran 12-14 x 7-9 mm, berbulu, bersayap lima, tiga sayapnya besar berukuran 5-6,7 x 1-1,4 cm dan dua sayap lainnya kecil berukuran 1,9-2,5 cm x 0,15-0,25 cm (Rudjiman dan Adriyanti, 2002). Buah masak S. leprosula mulai berkecambah 2 – 3 hari setelah jatuh ke lantai hutan (Appanah, 1993). Persen jadi kecambah buah S. leprosula lebih dari 90% (bila buah masak sempurna). Habitat. Jenis ini dapat tumbuh baik pada lokasi yang memiliki drainase baik, umumnya lereng-lereng bukit, dengan ketinggian di bawah 700 m dpl. Kebanyakan keluarga ini menduduki lapisan tajuk teratas, ada pula yang hanya sampai lapisan kedua. Iklim. S. leprosula umumnya dijumpai pada daerah dengan tipe iklim A dan B, pada tanah-tanah latosol, podsolik merah-kuning dan podsolik kuning (Anonim, 1976), biasanya tumbuh di tanah liat atau tanah berpasir, bahkan di tanah rawa dan tanah gambut. Jenis ini tumbuh baik di tempat terbuka dan mempunyai kecepatan tumbuh yang tinggi (Anonim, 1980). S. leprosula telah memperlihatkan daya tahan yang tinggi terhadap kekurangan kelembaban pada daerah dengan curah hujan yang rendah dan dengan musim kering yang cukup lama, disamping itu tahan terhadap suhu tinggi selama pelaksanaan penanaman (Anonim, 1987).

e.Kegunaan

Kayu S. leprosula mempunyai kerapatan 300-865 kg/m3 pada kadar kelembaban 15% (Lemmens dan Soerianegara, 1994). Termasuk kelas awet III-V dan kelas kuat II-IV, mudah dikerjakan, tidak mudah pecah atau mengkerut (Anonim, 1992). Kayunya terutama dipakai untuk vinir dan kayu lapis, disamping itu dapat juga dipakai untuk bangunan perumahan dan dapat juga dipakai sebagai kayu perkapalan, peti pengepak, peti mati dan alat musik (Martawijaya dkk., 1981). Resinnya yang sering disebut damar daging dihasilkan di antara akar-akarnya digunakan sebagai bahan obat. Kulitnya dipakai untuk bahan pewarna (Sutarno dan Riswan, 1997).

Daftar Pustaka

Adriyanti, D.W, A. Subiakto, Kumala. 2005. Shorea leprosula Miq. Informasi Jenis No. 001/ITTO-PD41/05. Proyek ITTO PD 41/00 Rev. 3 (F,M). Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Anonim. 2007. Report from Malaysia and Indonesia in Tropical Timber Market Report Vol. 12 Number 11, 1–15 June 2007. Market Information Service. ITTO. http://www.itto.or.jp.

Anonim. 1992. Vademikum Hasil-Hasil Penelitian HTI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan. Jakarta.

Anonim. 1976. Vademikum Kehutanan Indonesia. Departemen Pertanian. Direktorat Jendral Kehutanan. Jakarta.

Appanah, S., and Turnbull, J.M. 1998. A Review of Dipterocarps: Taxonomy, ecology and silviculture. Centre for International Forestry Research. Bogor.

Appanah, S dan G. Weinland. 1993. Planting Quality Timber Trees In Peninsular Malaysia. Forest Research Institute Malaysia. Kepong. Malayan Forest Record No. 38.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan. Jakarta.

Lemmens R. H. M. J., dan Soerianegara, I. 1994. Timber Trees: Major Commercial Timbers. Plant Resources of South-East Asia no 5 (1). Prosea Foundation. Bogor.

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K dan Prawira, S.A. 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Bogor.

Naiem, Moh. dan Pamuji Raharjo. 2006. Petunjuk Teknis Pemapanan Konservasi Ex-situ Shorea leprosula. ITTO PD 106/01 Rev. 1 (F). Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Nair, K.S.S. and Sumardi. 2000. Insect Pests and Diseases of Major Plantation Species. In: Insect Pests and Diseases in Indonesian Forest. Centre for International Forestry Research. Bogor.

Prawira, S. dan Tantra, I.G.M. 1986. Pengenalan 89 Jenis Pohon Penting. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Rudjiman. 1997. Identifikasi 15 Jenis Anggota Genus Shorea Roxb. di Kalimantan Tengah. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.

Rudjiman and Adriyanti, D.T. 2002. Identification Manual of Shorea spp. ITTO PD 16/96 Rev. 4 (F). Faculty of Forestry Gadjah Mada University. Yogyakarta.

Sastrapradja, S., Kartawinata, K., Roesmantyo, U., Soetisna, Wiriadinata, H. Dan Riswan, S. 1997. Jenis-jenis Kayu di Indonesia. Proyek Sumberdaya Ekonomi LBN-LIPI. Bogor.

Soekotjo, dan Subiakto, A. 2005. Petunjuk Teknis Dipterocarpa. ITTO PD 41/00 Rev. 3 (F,M). Yogyakarta.

Subiakto, A., dan Sakai, C. 2005a. Pedoman Pembuatan Stek Pucuk Meranti ”KOFFCO System”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.

Subiakto, A., Sakai, C., Purnomo, S., and Taufiqurrahman. 2005b. Cutting Propagation as an Altenative Technique for Mass Production of Dipteocarps Planting Stocks in Indonesia on The 8th Round Table Conference on Dipterocarps, Vietnam. ITTO PD 41/00 Rev. 3 (F,M). Yogyakarta.

Sutarno, H. Dan Riswan, S. 1997. Seri Pengembangan Prosea 5 (2).3 Latihan Mengenal Pohon Hutan: Kunci Identifikasi dan Fakta Jenis. Yayasan Prosea Indonesia. Bogor.