Yang Dipertuan Besar Sayyid Ali Syah atau Sultan Sayyid Ali Abdul Jalil Saifuddin dari Siak Sri Inderapura, merupakan kakak dari Sultan Syarif Abdurrahman ( Sultan Pelalawan 1 ) dan keponakan dari Sultan Muhammad Ali, Yang Dipertuan Besar Siak.[1]

Sayyid Ali
Sultan Siak Sri Inderapura
Pemerintahan17911811
Nama lengkapSultan Sayyid Ali Abdul Jalil Saifuddin
GelarYang Dipertuan Besar Siak
Tempat lahirId-siak1.GIF Siak
Tempat wafatId-siak1.GIF Siak
PendahuluRaja Yahya
PenerusRaja Sayyid Ibrahim
Dinastipalembang malaka/prameswara
AyahSayyid usman
Ibutengku badariyah binti sultan alammudin bin raja kecik. alammudin anak raja kecik dari putri palembang

BiografiSunting

Tengku Sayyid Ali merupakan putra dari Sayyid Osman al-Syaikh 'Ali Ba' Alawi, yang menikahi Tengku Embong Badariah binti Sultan Alammudin Syah yang berarti ia adalah keturunan Raja Kecil. Beliau adalah sosok raja yang progresif, jujur dan adil. Ia berhasil meningkatkan kemakmuran kerajaan dan ahli dalam penyusunan organisasi kemiliteran. Organisasi, disiplin serta kemampuan di bidang militer terus-menerus disempurnakannya. Beberapa panglima terkenal di masanya adalah Panglima Besar Sayid Abdurrahman (Adik beliau yang kelak menjadi Sultan Pelalawan I), Tengku Besar Sayid Achmad dan Datuk Laksmana Raja Dilaut.[2]

Kemajuan SiakSunting

Bermulanya dari dirinya, muncul dalam pemerintahan Siak dinasti Arab-Melayu yang memerintah dengan gelar Assayyidis Syarif. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Mempura ke seberang sungai yaitu Kota Tinggi yang kelak dikenal dengan kota Siak Sri Inderapura. Di ibukota baru ini dibangun benteng sebagai persiapan menghadapi segala kemungkinan dengan Belanda.[3]

Perluasan WilayahSunting

Setelah merasa kuat, beliau berencana untuk memperluas daerah kekuasaan Siak. Kemudian terjadilah penaklukan terhadap wilayah-wilayah di pantai timur Sumatra yang dikenal dengan jajahan 12 meliputi: Kota Pinang, Pagarawan, Batubara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, dan Deli. Selain itu beliau juga berhasil mengembalikan Kubu, Bangko dan Tanah Putih ke dalam kekuasaan Siak sebagaimana pada masa Raja Kecik. Kemudian persekutuan Tapung Kiri dan Tapung Kanan memilih berdamai dan mengakui kedaulatan Sultan Siak karena tidak mungkin bagi mereka untuk menandingi superioritas Siak.[4]

Di samping itu, Sultan Syarif Ali juga memimpin penyerangan ke Kesultanan Sambas di Kalimantan Barat dan berhasil menaklukkan ibukotanya tetapi tidak diduduki untuk waktu yang lama. Sebagai bukti penaklukan tersebut, di Sambas sekarang masih ditemukan sebuah perkampungan yang bernama Kampung Siak. Selain itu, di Siak terdapat barang-barang yang dibawa dari Sambas seperti piring-piring, senjata dan lain-lain. Ditemukan juga bahwa ada kesamaan antaran Tenunan Siak dengan Sambas. Semenjak itu, Sambas membayar upeti tahunan kepada Siak berupa bunga perak.[5]

Sepulang dari Sambas, dikerahkanlah armada Siak untuk menyerang Kesultanan Pelalawan. Adiknya, Panglima Besar Sayid Abdurrahman dinobatkan sebagai sultannya disamping sebagai Raja Muda di Siak. Adiknya yang lain Sayyid Achmad diangkat sebagai panglima besar berkedudukan di Tebing Tinggi untuk menguasai daerah-daerah sekitarnya, selanjutnya ia dikenal dengan Tengku Panglima Besar Tebing Tinggi. [6]

Akhir HayatSunting

Sultan Syarif Ali mengundurkan diri sebagai sultan pada tahun 1811, lalu secara sukarela menyerahkannya kepada putranya Tengku Ibrahim. Setelah mangkat beliau bergelar Marhum Kota Tinggi[7]

RujukanSunting

  1. ^ Timothy P. Barnard, Texts, Raja Ismail and Violence: Siak and the Transformation of Malay Identity in theEighteenth Century, Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 32, No. 3 (Oct., 2001), pp. 331-342.
  2. ^ Muchtar Luthfi, Sejarah Riau, Percetakan Riau - Pekanbaru (1977), pp. 251-253.
  3. ^ Muchtar Luthfi, Sejarah Riau, Percetakan Riau - Pekanbaru (1977), pp. 251-253.
  4. ^ Muchtar Luthfi, Sejarah Riau, Percetakan Riau - Pekanbaru (1977), pp. 251-253.
  5. ^ Muchtar Luthfi, Sejarah Riau, Percetakan Riau - Pekanbaru (1977), pp. 251-253.
  6. ^ Muchtar Luthfi, Sejarah Riau, Percetakan Riau - Pekanbaru (1977), pp. 251-253.
  7. ^ Muchtar Luthfi, Sejarah Riau, Percetakan Riau - Pekanbaru (1977), pp. 251-253.

Daftar kepustakaanSunting

  • Donald James Goudie, Phillip Lee Thomas, Tenas Effendy, (1989), Syair Perang Siak: a court poem presenting the state policy of a Minangkabau Malay royal family in exile, MBRAS.
  • Christine E. Dobbin, (1983), Islamic revivalism in a changing peasant economy: central Sumatra, 1784-1847, Curzon Press, ISBN 0-7007-0155-9.
  • Journal of Southeast Asian studies, Volume 17, McGraw-Hill Far Eastern Publishers, 1986.
Didahului oleh:
Raja Yahya
Sultan Siak Sri Inderapura
1791 - 1811
Diteruskan oleh:
Raja Sayyid Ibrahim