Buka menu utama

SMP Negeri 9 Yogyakarta adalah sebuah sekolah menengah pertama yang didirikan pada tanggal 1 Agustus 1960. Sekolah ini terletak di Jalan Ngeksigondo 30 Yogyakarta. Pada awalnya, SMP Negeri 9 Yogyakarta merupakan salah satu sekolah filial dari SMP Negeri 4 Yogyakarta. Saat ini, SMP Negeri 9 Yogyakarta telah berstandar nasional, yang ditetapkan pada tanggal 19 Juli 2005.

SMP Negeri 9 Yogyakarta
Informasi
Didirikan1 Agustus 1960
JenisNegeri
Akreditasi21.01/BAP-SM/TU/XII/2013
Kepala SekolahDrs. Arief Wicaksono, M.Pd.
Ketua KomiteDrs. H. Mukriyanto
Jumlah siswa± 613
StatusSekolah Standar Nasional
Alamat
LokasiJl. Ngeksigondo 30, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
Tel./Faks.0274-371168
Situs webwww.smpn9jogja.sch.id
Surelsmp_9_yk@yahoo.co.id
Moto

Daftar isi

SejarahSunting

SMP Negeri 9 Yogyakarta yang terletak di Jalan Ngeksigondo 30 Yogyakarta, didirikan pada tanggal 1 Agustus 1960. Namun prosesnya dimulai sejak tahun 1956, yaitu saat Kota Yogyakarta baru memiliki 5 SMP Negeri. SMP-SMP yag dimaksud adalah SMP Negeri 1 Yogyakarta, SMP Negeri 2 Yogyakarta, SMP Negeri 3 Yogyakarta, SMP Negeri 4 Yogyakarta, dan SMP Negeri 5 Yogyakarta. Pada masa itu, jumlah lulusan SD lebih besar dari daya tampung di SMP Negeri dan animo untuk masuk ke SMP Negeri sangat tinggi. Oleh karena itu, muncullah usulan dari masyarakat kepada para Kepala Sekolah SMP Negeri agar menambah jumlah kelas baru atau sekolah filial. Namun untuk merealisasikan usulan tersebut tidaklah mudah. Pengadaan kelas baru ataupun pendirian sekolah filial, biayanya harus diusahakan sendiri oleh sekolah dan masyarakat. Pemerintah Daerah pada saat itu, belum memprioritaskan pengembangan lembaga pendidikan meskipun respon masyarakat cukup tinggi. Melihat situasi yang demikian, maka Suripto Karto Subroto dan Kamil Pranowo yang waktu itu menjabat Kepala dan Wakil Kepala SMP Negeri 4 Yogyakarta, mencoba memprakarsai pertemuan orangtua/wali murid SMP Negeri 4 untuk memusyawarahkan kemungkinan penambahan kelas baru bagi sekolah tersebut. Sambutan orangtua/wali siswa pada saat itu cukup bagus, sehingga pertemuan yang diadakan di Balai Harsono, Kompleks Kepatihan Yogyakarta menghasilkan beberapa keputusan untuk ditindaklanjuti, yaitu :

  1. Membentuk badan khusus yang akan bertugas membangun ruang kelas baru lengkap dengan mebelairnya.
  2. Biaya pengadaan gedung baru dan mebelairnya akan dipungut dari orangtua siswa.
  3. Pembangunan gedung baru segera direncanakan dan rombongan belajar kelas baru akan dibuka dan masuk sore hari yaitu pukul 13.30 sampai 18.00

Badan yang dibentuk melalui musyawarah ini, kemudian dikukuhkan menjadi Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG) SMP Negeri 4 Yogyakarta. Pada tahun 1957, POMG tersebut menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kota Madya Yogyakarta dan Pemerintah Provinsi DIY. Tujuannya meminta bantuan tanah untuk pembangunan gedung filial SMP Negeri 4 Yogyakarta. Prioritas lokasi yang dicari adalah di daerah pinggiran kota. Langkah ini diambil dengan pertimbangan bahwa SMP-SMP Negeri yang telah ada pada masa itu, umumnya berada di dalam kota. Pemerintah Daerah pada masa itu, menyambut baik permohonan tersebut dan menawarkan beberapa alternatif yang dapat dijadikan lokasi pembangunan gedung untuk kelas baru atau sekolah filial SMP Negeri 4 Yogyakarta. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya disepakati untuk memilih tanah bekas Stasiun Kereta Api Basen di Tinalan, Kotagede, Yogyakarta . Kesepakatan ini ditindaklanjuti dengan penandatanganan surat perjanjian hak penggunaan atas tanah antara POMG SMP Negeri 4 Yogyakarta dengan Pemerintah Daerah Provinsi DIY. Kesepakatan tersebut dikuatkan dengan Surat Perjanjian Nomor : 2/S/Tahun 1958, tanggal 20 Februari 1958. Isi perjanjian tersebut antara lain menyebutkan bahwa tanah seluas 3.500 m² yang terletak di Tinalan dapat digunakan untuk membangun kelas baru atau sekolah filial dengan sewa Rp 1.400 pertahun. Selanjutnya, atas izin Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, maka pada tahun 1958 POMG SMP Negeri 4 Yogyakarta memulai pembangunan 6 ruang kelas baru yaitu 4 ruang kelas di SMP Negeri 4 Jalan Pogung dan 2 ruang kelas di Basen, Kotagede sebagai filial SMP Negeri 4 Yogyakarta. Khusus ruang kelas baru yang dibangun di atas tanah bekas Stasiun Kereta Api Basen, masih sangat sederhana dan belum permanen. Sejak tahun 1958, dimulailah Kegiatan Belajar Mengajar di "SMP Basen" dibawah bendera SMP Negeri 4 Yogyakarta. Sekalipun ruang belajar dalam keadaan yang sangat sederhana, masyarakat Kotagede dan sekitarnya sangat antusias atas pembukaan ruang kelas baru SMP Negeri 4 di Basen. Hal tersebut sekaligus mendorong POMG SMP Negeri 4 Yogyakarta untuk merencanakan pembangunan ruang kelas tambahan. Atas usaha keras POMG SMP Negeri 4 Yogyakarta dan masyarakat, maka pada tahun 1960 berhasil membangun delapan ruang kelas baru. Dari pembangunan ini, maka SMP Filial di Basen itu, akhirnya memiliki sepuluh ruang kelas. Namun bangunan tersebut seluruhnya masih sangat sederhana, yaitu dengan bahan bangunan utama dari kayu berdinding gedhek. Sekalipun demikian, siswa-siswi SMP Filial di Basen ketika itu sangat bangga dengan sekolahnya. Mereka dapat bersekolah di sekolah negeri yang dekat dengan tempat tinggal mereka dan keberadaan sekolah tersebut benar-benar hasil perjuangan dari orangtua mereka. Pada saat itu, Kamil Pranowo sebagai Wakil Kepala SMP Negeri 4 yang dipercaya untuk mengelola SMP Filial di Basen. Kamil Pranowo sendiri sangat gigih dalam berusaha mengembangkan sekolah tersebut dengan dilandaskan pada motto " Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat ." Latar belakang diangkatnya motto tersebut, karena SMP Negeri yang ada di Kota Yogyakarta ketika itu seluruhnya sudah memiliki gedung permanen dan bagus, yaitu gedung peninggalan Pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan gedung SMP Filial di Tinalan Kotagede, sepenuhnya hasil gotong royong masyarakat (orangtua murid) dan belum mendapat bantuan dana dari pemerintah. Melihat tingginya respon masyarakat terhadap sekolah filial tersebut, maka perhatian Pemerintah Daerah untuk penambahan SMP Negeri mulai tampak. Ini terutama dengan adanya keputusan pada tahun 1958 untuk mengubah beberapa sekolah khusus menjadi SMP Negeri di Yogyakarta. Sekolah-sekolah yang dimaksud antara lain, SGB Putera di Jalan Cemorojajar menjadi SMP Negeri 6 Yogyakarta. Sedangkan SGB Puteri di Jalan Jati menjadi SMP Negeri 7 dan SMP Negeri 8. SMP Filial di Basen sendiri, untuk mengoptimalkan pengembangan dan pengelolaannya, juga direncanakan untuk dinegerikan. Rencana ini telah muncul sebelum sejumlah SGB diubah menjadi SMP Negeri, bahkan sempat ada wacana menjadi SMP Negeri 6, apalagi saat itu telah memiliki kelas I, II, dan kelas III. Namun rencana ini baru dapat dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 1960 dan ditetapkan menjadi SMP Negeri 9 Yogyakarta. Penetapan tersebut kemudian dikuatkan dengan terbitnya Surat Keputusan Nomor : 352/SK/B/III tanggal 25 Oktober 1960 dan Kamil Pranowo, yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala SMP Negeri 4 Yogyakarta dan pelaksana SMP Filial di Basen, diangkat menjadi Kepala SMP Negeri 9 Yogyakarta yang pertama. Kamil Pranowo beserta seluruh masyarakat yang berjuang untuk pendirian SMP Negeri 9 Yogyakarta ketika itu, sangat berharap agar pada saatnya nanti, SMP Negeri 9 Yogyakarta yang dibangun dengan motto " Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat ", dapat berkembang menjadi sekolah kebanggaan masyarakat Yogyakarta. Pada saat ditetapkan menjadi SMP Negeri 9 Yogyakarta, sekolah ini telah memiliki 10 rombomgan belajar dengan formasi 4,3,3 , 16 orang guru tetap dan 3 orang pegawai Tata Usaha. Tenaga-tenaga tersebut semuanya berasal dari SMP Negeri 4 Yogyakarta. Pada tahun 1962, dibentuk pula POMG SMP Negeri 9 Yogyakarta dengan Ketua pertama R.S.S Dewosusanto

Letak GeografisSunting

Secara geografis, SMP Negeri 9 Yogyakarta terletak di bagian tenggara Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Ngeksigondo 30. Lokasi ini terletak di Kampung Tinalan, Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kotagede, ± 4 KM dari pusat Kota Yogyakarta. Sekolah yang menempati tanah seluas ± 4000 m² ini, memang pada lahan yang sempit dan sulit untuk pengembangan. Namun dari segi letak, berada di tengah perkampungan yang tenang dan kondusif, sehingga menguntungkan bagi proses belajar-mengajar. Memang SMP Negeri 9 terletak di pinggir jalan raya yang dilewati kendaraan besar dan bis-bis antar kota. Namun sejak terminal induk Yogyakarta dipindah ke wilayah Giwangan Jalan Imogiri Timur, maka situasi lingkungan sekolah menjadi lebih tenang. Keberadaan SMP Negeri 9 sebagai satu-satunya SMP Negeri di wilayah tenggara Kota Yogyakarta, cukup menguntungkan masyarakat wilayah Kotagede dan sekitarnya. Mereka tidak perlu jauh-jauh menyekolahkan putra-putrinya, apalagi dengan predikat sekolah yang baik dari segi kualitas akademis dan pelayanan. Oleh karenanya, sekolah ini selalu mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Secara geografis, letak sekolah ini juga diuntungkan karena mendapatkan peserta didik yang belum begitu terpengaruh oleh suasana kehidupan masyarakat kota besar. Umumnya peserta didik SMP Negeri 9 adalah mereka yang tinggal di Kecamatan Kotagede (yang terkenal kuat dalam bidang agama) dan masyarakat Bantul timur laut. Ini memberikan implikasi positif bagi pembentukan watak dan kepribadiannya. Selama ini terbukti, masalah yang ada di kalangan peserta didik relatif kecil dan input yang rendah selalu menghasilkan output yang tinggi. Dari segi sarana transportasi juga mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Sekolah ini dilewati oleh bis kota dan bis Trans Jogja. Namun pada umumnya, transportasi utama peserta didik SMP Negeri 9 Yogyakarta adalah sepeda. Ini sesuai dengan himbauan Wali kota Yogyakarta agar peserta didik (juga PNS di lingkungan Pemerintah Kota) yang jarak rumahnya kurang dari 4 KM dari sekolah atau kantor tempat bekerja, sebaiknya menggunakan sepeda.

Kepala Sekolah dari Masa ke MasaSunting

  1. Kamil Pranowo (1960-1970)
  2. R. Bambang Suharto (1970-1974)
  3. J.B. Sukarsono (1974-1978)
  4. Mukiman, B.Sc (1978-1984)
  5. Ahmad Usman (1984-1989)
  6. Drs. T. Sunarto (1989-1994)
  7. Drs. Sumaryono (1994-2003)
  8. Drs. Suparno, M.Pd. (2003-2005)
  9. Suharno, S.Pd., S.Pd.T. M.Pd (2005-2010)
  10. Dra. Wahyu Cahyaning Pangestuti, M.Pd. (2010-akhir 2014)
  11. Drs. Arief Wicaksono, M.Pd. (akhir 2014-sekarang)

ReferensiSunting

  1. ^ "Buku Panduan Akademik "Sekolah Pilihan Rakyat" SMP Negeri 9 Yogyakarta"