SMPK Stella Maris Surabaya

sekolah di Indonesia

SMP Katolik Stella Maris Surabaya adalah sebuah sekolah swasta Katolik di Surabaya, yang didirikan pada tanggal Tanggal 1 Agustus 1948 oleh suster-suster Kongregasi Santa Perawan Maria dari Amersfoort. Sekolah ini berada di bawah pengelolaan Perkumpulan Dharma Putri yang mengelola 40 sekolah se-Indonesia mulai jenjang TK hingga SMA. Sekolah ini memiliki Tagline "Membentuk Siswa Yang Berkarakter".

SMP Katolik Stella Maris Surabaya
Logo-stellmaris.png
Informasi
JenisSwasta
AkreditasiA
Nomor Statistik Sekolah202056004020
Nomor Pokok Sekolah Nasional20532733
Kepala SekolahSr. Melani, SPM.
Jumlah kelas18
Rentang kelasVIIa-f, VIIIa-f IXa-f
KurikulumKTSP
Jumlah siswa600
StatusAkreditasi A
Alamat
LokasiJalan Tembaan 18-22 Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Bendera Indonesia Indonesia
AfiliasiPerkumpulan Dharmaputri Jalan Kepanjen no 5 Surabaya.
Moto
MotoMembentuk Siswa Yang Berkarakter

SejarahSunting

Pertengahan tahun 1945, adalah masa pergolakan, perang perjuangan, Kebangkitan Bangsa Indonesia yang ingin lepas dari penjajahan menuju kemerdekaan. Yang kemudian di proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, secara resmi Indonesia merdeka, dan kedaulatannya diakui oleh seluruh dunia. Khususnya di Surabaya yang menjadi pusat perjuangan, dan mendapat julukan kota “Pahlawan” masih terlihat porak poranda, banyak hal yang perlu dibenahi, termasuk Suster-Suster SPM ikut bangkit dan berkiprah kembali di dunia pendidikan serta mengembangkan sayapnya ke Surabaya.

Pada tahun 1948, tiga orang Suster berangkat dari pusat (Probolinggo) ke Surabaya, meskipun belum mempunyai rumah, mereka berkonsultasi dengan Suster Ursulin di Jalan Darmo (Santa Maria), dan mengizinkan menempati bagian depan lantai II, setelah mendapatkan tempat maka mulailah Sr. Yosine mencari siswa putrid untuk tingkat SMP. Sebab waktu itu Santa Maria sudah ada TK dan SD.

Tanggal 1 Agustus 1948 telah mendapatkan dua belas orang siswi, maka mulailah dengan pelajaran, tetapi masih bersifat kursus. Sambil mengurus permohonan pendirian sekolah, yang diberi nama SMP STELLA MARIS sesuai dengan nama Bar Belanda milik Angkatan Laut Belanda. Ternyata pada tanggal 6 Januari 1949 izin resmi telah didapat. Sekarang mulai mencari tempat baru. Dengan bantuan banyak pihak, maka diperoleh rumah-rumah kosong, bekas rumah Belanda di Jalan Rochussen Straat, yang sekarang bernama Jalan Pajajaran. Dari Katedral, masuk jalan Sriwijaya lalu belok kanan. Adapun rumah yang di tempati no. 4 untuk rumah Suster (Biara), No. 6 untuk asrama, karena ternyata banyak anak luar kota, sedang diseberang jalan No. 5 untuk sekolah, sehingga pada tanggal 1 Agustus 1949 boyongan pindah ke lokasi baru. Tetapi runga-ruangnya tidak muat, kelas I yang baru berjumlah 25 anak menempati ruang makan, dengan satu meja makan, dan diberi beberapa dingklik panjang. Kelas II, menempati ruang santai. Ruang tamu untuk kantor administrasi.

Melihat keadaan seperti itu Sr. Yosine merasa perlu mencari lokasi lain, dan untunglah Suster Ursulin menawari, apakah S.P.M. mau mengambil alih biaranya yang terletak di jalan Kepanjen 5? Dengan sangat bahagia dan puas, tawaran diterima maka pada tanggal 1 Agustus 1950, yang merupakan tahun ajaran baru, sekolah pindah di jalan Kepanjen 5, lantai II, yang sekarang menjadi kantor Perkumpulan Dharmaputri.

Peminat SMP Stella Maris makin banyak dan mulai kelas I menerima 2 kelas. Hal tersebut membawa konsekuensi untuk mencari lokasi lagi. Pada waktu itu Sr. Yosine mendapat informasi bahwa di Jalan Tembaan ada gedung bekas Bar Belanda, yang oleh pemiliknya telah diserahkan pada keuskupan. Tetapi waktu itu masih di tempati keluarga Ambon bekas KNIL (Tentara Belanda). Setelah mendapat izin dari keuskupan maka mulailah pendekatan dengan para penghuni, meskipun dengan susah payah dan harus banyak mengeluarkan uang sebagai pesangon akhirnya berhasil. Setelah kosong baru mulai direnovasi, dan membuat kelas yang normal.

Akhirnya tanggal 1 Agustus 1954, SMP STELLA MARIS pindah dari jalan Kepanjen 5 ke Jalan Tembaan, yang pada saat itu menjadi enam kelas. Gedung lama kemudian digunakan untuk membuka sekolah baru, yaitu SD “SANTA ANGELA”, sedangkan kamar-kamar yang dahulu di tempati orang-orang Ambon digunakan untuk asrama. Masih ada ruang-ruang agak besar, oleh Sr, Rudolfia dibuka untuk TKK Taman Rini.

Pada tahun 1956 setelah tujuah tahun berkarya, Sr. Yosine, SPM merasa tidak mampu melanjutkan, karena tenaganya telah habis terkuras waktu berada di penahanan kamp zaman Jepang, sehingga Ia berniat pulang ke negeri Belanda. Akhirnya, keinginan itu terlaksana pada tahun ajaran baru.

Mulai tahun ajaran baru 1 Agustus 1956, sekolah diserahkan kepada Sr. Lusia, SPM (Alm). Peminat makin banyak, bahkan tahun 1957 menerima kelas I sebanyak tiga kelas. Tentu saja Sr. Lusia mulai memikirkan tindak lanjutnya, untuk perkembangan SMP. Ruang yang masih agak luas ialah bangsal, disekat menjadi tiga kelas dan sisanya untuk bermain. Pada tahun 1960 asrama dan TK dipindahkan ke jalan Kepanjen No. 5, karena gedung SDK SANTA ANGELA sudah jadi. Bekas ruang asrama dan TK dibongkar, dan sebagian dibangun untuk perumahan keluarga guru yang belum mempunyai rumah, sebagian untuk ruangkelas SD.

Selama 24 tahun Sr. Lusia, SPM memimpin sekolah SMPK Stella Maris yang muridnya terus bertambah, sayangnya bila hujan selalu banjir, karena lokasinya jauh lebih rendah dari Psar Turi – Jalan Tembaan dan halaman Tugu Pahlawan, sehingga semua sampah dan kotoran menumpuk di halaman, sedang kelasnya dipenuhi oleh air luapan got/saluran air dari jalan, WC penuh dan resapan dengan isinya megambang ke sana ke mari. Anak-anak terpaksa diliburkan karena tinggi air sekitar 40 Cm sampai 75 Cm. Setinggi lutut, semua terendam air yang lama kelamaan menjadi lapuk.

Akhirnya pada tahun 1980 Sr. Lusia pension dan diganti oleh Bapak Jan Tabal selama tiga tahun (1980 s.d. 1983). Kemudian diganti oleh Sr. Annetti, SPM selama tiga tahun (1983 s.d. 1986). Waktu itu merupakan saat yang sangat berat, karena daerah ini akan dijadikan kompleks pertokoan dan jalan akan diperlebar, maka sekolah harus pindah. Bahkan semua sudah diukur dan diberi tanda merah yang berarti kena gusur.

Orang tua murid menjadi gelisah, dari tahun ke tahun jumlah siswi mengalami kemunduran, karena kurangnya murid maka mulai tahun 1985, menerima murid putra. Namun, jumlah siswanya tiap kelas masih dibawah 40 anak, padahal sebelumnya antara 42-48 anak.

Pada tahun 1986 Pimpinan diganti oleh Sr. M. Benedicta, SPM yang statusnya masih harus merangkap dengan SMP Mater Dei Probolinggo, sampai akhir tahun 1986. Melihat situasi sekolah yang sangat memprihatinkan antara lain : 1). Siswa semakin berkurang, dan 2). Kalau hujan selalu terendam air (banjir). Pimpinan tidak tinggal diam dan menyerah, untuk mengatasi banjir yang dipandan merugikan pelajaran siswa, maka dibelinya dua pompa air besar, sehingga begitu dating hujan langsung disedot, supaya siswa tenang belajarnya. Tentu saja banyak yang menggerutu, sebab mereka tidak dapat pulang lebih padi atau libur.

Peristiwa/kejadian tersebut membuat makin gencar, usaha untuk membangun kembali. Setalah satu tahun tepatnya tahun 1987 izin KMS dikeluarkan. Dilema bangunan sangat banyak dan berat karena masih dipersulit izin dari Dewan Pengurus SPM. Namun, dengan dukungan Yayasan waktu itu dipegang Sr. Theresia dan dari Pimpinan Komunitas. Pembangunan gedung dimulai pertengahan tahun 1987 dengan mengambil risiko yang penuh tantangan diputuskan dibangun delapan belas kelas ditambah ruangan fasilitas-fasilitas antara lain :

Pada tahun itu juga (1987) penyewa Sekolah Kemaritiman Surabaya pindah ke jalan Petemon. Dimulai dari sisi jalan Tembaan yang gedungnya tinggal puing-puing karena bekas penggusuran untuk pelebaran jalan. Siswa masuk secara bergilir dengan SD di gedung SD, tetapi meja kelas 1, 2, 3 tidak cukup untuk siswa SMP. Oleh karena itu, harus dibangun kelas darurat dengan atap seng, dinding triplek, lantai semen, dan sangat panas. Padahal lokasi tersebut dipakai padi dan sore. Selain itu untuk mengatasi banjir seluruh lokasi diurug, diusahakan 50 Cm lebih tinggi dari sekitarnya.

Akhir tahun 1988, gedung baru tingkat tiga selesai, siswa SMP dapat pindah dan masuk pagi. Bangunan yang terakhir adalah depan untuk perkantoran, belakang untuk bangsal, dan ruangan perlengkapan lainnya termasuk asrama guru serta karyawan yang tinggal di sekolah. Tahun ajaran 1990 sudah selesai semua dan diresmikan oleh Bapak Wali Kota pada tanggal 25 Agustus 1990.

Sr. M. Benedicta, SPM mengharapkan baik siswa, guru maupun pembantu pelaksana ikut mengawasi dan menjaga keutuhan gedung yang menjadi lading kehidupan. “Janganlah dibiarkan sampai parah, agar perbaikannya juga tidak sulit dan mahal.”

Pada tahun pelajaran 1998-1999, terjadi serah terima jabatan dari Sr. M. Benedicta, SPM kepada Sr. M. Liduine Marie, SPM. Pada masa kepemimpinan Sr. Liduine Marie, SPM ini, sekolah mengalami kemajuan khususnya di bidang seni suara. Pada masa kepemimpinannya SMPK Stella Maris mengadakan konser music sebanyak dua kali. Pertama “Operet The Sound of Music” dengan mendatangkan bintang tamu Dwi Sandra, sedangkan yang ke dua mengadakan konser music dengan tema “The sound of Music” juga di Convention Hall Plasa Tunjungan. Pada konser yang ke dua ini dibantu sepenuhnya oleh P. Widyawan. Sr. Liduine Marie, SPM menjabat Kepala Sekolah dari tahun 1998 sampai tahun 2004. Setelah itu digantikan oleh Sr. M. Angelita, SPM, yang sebelumnya menjabat sebagai bendahara sekolah selama tiga tahun.

Pada masa kepemimpinan Sr. M. Angelita ini, banyak mengadakan pembaharuan dan penambahan fasilitas sekolah. Hal ini memang harus dilakukan karena sekolah harus senantiasa mengikuti perkembangan IPTEK. Adapun fasilitas yang pertama dilakukan adalah ruang kelas dipasang AC (Air Condiotioner). Penambahan daya listrik dari 35.000 watt menjadi 150.000 watt. Selanjutnya me ngubah fungsi kantin yang ada di lantai II menjadi laboratorium bahasa. Pengadaan fasilitas internet. Laboratoroium kimia, dan membangun dua ruang yang ada di belakang laboratorium fisika untuk ruang ganti. Sr. M. Angelita, SPM menjabat sebagai Kepala Sekolah selama tiga tahun, selanjutnya mengemban tugas baru yang diberikan kepadanya sebagai sekretaris DPP (Dewan Pimpinan Provinsi) yang berada di kota Probolinggo.

Pada tahun pelajaran 2007-2008, kepemimpinan SMPK Stella Maris dijabat oleh Sr. M. Priska, SPM. Pada masa kepemimpinan dia system pengajaran diubah dari klasikal ke “Moving Class”. Penambahan mata pelajaran khususnya muatan local, yaitu dengan pelajaran Jurnalistik dan Bahasa Mandarin. Sr. M. Priska, SPM hanya satu tahun lamanya berkarya di SMPK Stella Maris. Selanjutnya dia dipindahkan ke Philipina. Pimpinan SMPK Stella Maris tahun 2008 – 2011 dijabat oleh Sr. M. Marsiana, SPM. Diawal kepemimpinannya melengkapi sarana prasarana di antaranya membuat “Green House” dan untuk keamanan dan kenyamanan di lingkungan sekolah diadakan CCTV. Di bidang akademik pada tahun pelajaran 2008-2009 mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai Ujian Nasional, yaitu Bahasa Indonesia 8,29, Bahasa Inggris 8,46, Matematika 8,71, dan IPA 7,61.

Sekarang ini pada tahun pelajaran 2012-2013 Kepemimpinan SMPK Stella Maris dijabat oleh Sr. M. Melani, SPM, di mana Sr Melani sebelumnya menjadi Kepala Sekolah SMAK Probolingi.

FasilitasSunting

- Ruang Kepala Sekolah

- 1 Ruang Alat Pramuka

- 2 Ruang Guru

- 1 Ruang Doa

- 1 Ruang Alat Olah Raga

- 1 Ruang Tata Usaha

- 1 Ruang Data

- 1 Ruang Alat Gemelan

- 1 Ruang Perpustakaan

- 1 Ruang Tamu KepSek

- 4 Ruang Karyawan

- 2 Ruang Laboratorium

- 1 Ruang Kurikulum

- 1 Asrama Guru

- 3 Ruang Ketrampilan

- 1 Ruang Kedai OSIS

- 2 Kamar Manda/WC Guru

- 1 Ruang BP/BK

- 2 Kantin

- 10 WC Siswa

- 1 Ruang Musik

- 1 Aula – 3 WC Kantor

- 1 Ruang Komputer

- 5 Gudang

- 2 Kamar Mandi Pelaksana

- 1 Ruang Osis

- 1 Ruang UKS/UKGS

- 1 Ruang Drumb band

Satu Grup DenganSunting

Ada kurang lebih 40 Sekolah yang di kelola Perkumpulan Dharmaputri. Tersebar Mulai dari Probolinggo, Banyuwangi, Situbondo, Jember, Lumajang, Malang, Surabaya, Mojokerto, Jogjakarta, Magelang, Promasan, Pamulang-Banten, Amlapura-Bali, Pontianak, Pulau Laut, Prafi-Papua.