Rumah gadang di Nagari Sumpur

Rumah gadang adalah rumah adat Minangkabau yang dibangun di atas tiang-tiang tinggi dan bersendikan batu. Secara bahasa, rumah gadang berarti rumah besar. Jumlah kamar bisa berjumlah sembilan bahkan hingga sebelas, biasanya disesuaikan dengan jumlah anak perempuan dalam sebuah keluarga, karena adat matrilineal yang artinya wanita sebagai pemegang dan pembawa adat, juga disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi perekonomian pemilik rumah.

Rumah gadang dengan lumbung (rangkiang) di depannya
Rumah gadang dengan 8 gonjong

Rumah gadang memiliki atap lancip seperti tanduk kerbau, bentuk lancip ini disebut juga dengan gonjong, banyaknya gonjong disesuaikan pula dengan besar atau kecilnya sebuah rumah, biasanya dua, empat hingga 6 gonjong, karena beratap gonjong maka disebut juga rumah Bagonjong.

Bagian rumah terdiri dari kamar, lanjar, anjuang, dan kolong. Lanjar digunakan sebagai tempat khusus bagi penghuni kamar (suami) untuk menerima tamu dan melayani makan minum. Anjuang kanan merupakan kamar para gadis, dan anjuang kiri tempat kehormatan penghulu pada saat pelaksanaan upacara adat. Kolong berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan pertanian atau tempat perempuan bertenun.

Arsitektur rumah gadang di Nagari Sumpur memiliki karakter lokalitas (arsitektur vernakular)[1] yang ditunjukkan dengan interaksi antara masyarakat Sumpur dengan lingkungan alam mereka. Rumah gadang Sumpur sarat dengan simbol-simbol yang diartikulasikan melalui bentuk atap, jumlah tiang dan ruang atau biliak, anjungan, peninggian lantai, serta ukiran-ukiran yang ada di rumah gadang.

Selain ruangan utama yang dibuat berdasar kebutuhan utama, ada juga bangunan yang dibangun di luar bangunan utama yaitu, sebagai tempat menyimpan cadangan makanan, seperti padi dan hasil-hasil perkebunan, bangunan ini disebut lumbung atau dalam bahasa minang disebut lumbuang padi, atau rangkiang.

Saat Perang Paderi tahun 1821-1837 banyak rumah gadang yang berkurang oleh karena kondisi sosial politik masa perang, banyak rumah gadang dibakar dan hancur di Nagari Sumpur Kecamatan Batipuh Selatan Kabupaten Tanah Datar terdapat sekitar 200 lebih rumah gadang, sebagian besar berada di Jorong Nagari[2], yaitu salah satu jorong di Nagari Sumpur, sejalan waktu Jumlah tersebut berkurang secara drastis, terutama disebabkan oleh terjadinya gejolak sosial-politik pemerintahan di masa perang Paderi.

Pada bulan Oktober 2013 jumlah rumah gadang yang ada di Nagari Sumpur tinggal 45 rumah. Kondisinya, ada 30 rumah yang masih layak huni, sedangkan 15 rumah yang tidak layak huni atau butuh renovasi. Berdasarkan jumlah ruangnya, rumah gadang di Nagari Sumpur dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi, yaitu rumah gadang baanjuang kecil, rumah gadang bagonjong, rumah gadang baanjuang besar.[3]

ReferensiSunting