Rujuk adalah bersatunya kembali seorang suami kepada istri yang telah dicerai sebelum habis masa menunggu (iddah).[1] Rujuk hanya boleh dilakukan di dalam masa ketika suami boleh rujuk kembali kepada isterinya (talaq raj’i), yakni di antara talak satu atau dua.[1] Jika seorang suami rujuk dengan istrinya, tidak diperlukan adanya akad nikah yang baru karena akad yang lama belum seutuhnya terputus.[1]

PersyaratanSunting

Ada beberapa syarat yang menjadikan rujuk sah:

  1. Istri yang ditalak telah disetubuhi sebelumnya. Jika suami menceraikan (talak)) istrinya yang belum pernah disetubuhi, maka suami tersebut tidak berhak untuk merujuknya. Ini adalah persetujuan (ijma) para ulama‟.[2]
  2. Talak yang dijatuhkan bukan merupakan talak tiga (talak raj‟i).[2]
  3. Talak yang terjadi tanpa tebusan. Jika dengan tebusan, maka istri menjadi talak bain atau tidak dapat merujuk lagi istrinya.[2]
  4. Rujuk dilakukan pada masa menunggu atau masa iddah dari sebuah pernikahan yang sah. Jika masa menunggu (iddah) istri telah habis, maka suami tidak berhak untuk merujuknya. Ini adalah kesepakatan (ijma) para ulama fiqih.[2]

HukumSunting

Pada dasarnya hukum rujuk adalah boleh atau jaiz, kemudian hukum rujuk dapat berkembang menjadi berbeda tergantung dari kondisi suami istri yang sedang dalam perceraian.[3] Dan perubahan hukum rujuk dapat menjadi sebagai berikut:[3]

  1. Wajib, yaitu khusus bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu dan apabila pernyataan cerai (talak) itu dijatuhkan sebelum gilirannya disempurnakan.[1] [3] Maksudnya adalah, seorang suami harus menyelesaikan hak-hak istri-istrinya sebelum ia menceraikannya.[1] [3] Apabila belum terlaksana, maka ia wajib merujuk kembali isrinya.[1] [3]
  2. Sunnah, yaitu apabila rujuk itu lebih bermanfaat dibanding meneruskan perceraian.[1] [3]
  3. Makruh, yaitu apabila dimungkinkan dengan meneruskan perceraian lebih bermanfaat dibanding mereka rujuk kembali.[1] [3]
  4. Haram, yaitu apabila dengan adanya rujuk si istri semakin menderita.[1] [3]

Rukun RujukSunting

  1. Istri, keadaannya disyaratkan sebagai berikut: istri telah dicampuri atau disetubuhi (ba’da dukhul), dan seorang istri yang akan dirujuknya, ditalak dengan talak raj’i, yakni talak dimana seorang suami dapat meminta istrinya kembali dan syarat selanjutnya adalah istri tersebut masih dalam masa menunggu (iddah).[4]
  2. Suami, disyaratkan karena kemauannya sendiri bukan karena dipaksa, Islam dan sehat akal.[1] [4] [3]
  3. Adanya saksi.[4] [3]
  4. Adanya sighat atau lafadz atau ucapan rujuk yang dapat dimengerti dan tidak ambigu.[1] [1] yaitu ada dua cara:
  • Secara terang-terangan, misalnya: “Saya rujuk kepadamu”.[1] [2]
  • Secara sindiran, seperti kata suami: “Aku ingin tidur lagi denganmu”. Perkataan ini disyaratkan dengan kalimat tunai, dalam arti, tidak digantungkan dengan sesuatu, misalnya saya rujuk kepadamu jika bapakmu mu.[1] Rujuk dengan kalimat seperti di atas hukumnya tidak sah.[1] [2]

KetentuanSunting

  1. Rujuk hanya boleh dilakukan apabila akan membawa kemaslahatan atau kebaikan bagi istri dan anak-anak. Rujuk hanya dapat dilakukan jika perceraian baru terjadi satu atau dua kali.[1] [2]
  2. Rujuk hanya dapat dilakukan sebelum masa menunggu atau masa iddah habis.[1] [2]

Tata caraSunting

Rujuk dapat dilakukan dengan:

  • Ucapan

Rujuk dengan ucapan adalah dengan ucapan-ucapan yang menunjukkan makna rujuk.Seperti ucapan suami kepada istrinya, ” Aku merujuk‟mu” atau ”Aku kembali kepadamu” dan yang semisalnya.[2]

  • Perbuatan

Rujuk dapat dilakukan dengan perbuatan seperti; suami menyentuh atau mencium isterinya dengan nafsu atau suami mensetubuhi istrinya.[2] Dan perbuatan semacam ini memerlukan niat untuk rujuk.[2] Ini adalah pendapat Malik, Ahmad, Ishaq, dan pendapat yang dipilih adalah pendapat Ibnu Taimiyyah.[2]

BatasanSunting

Apabila seorang suami telah menjatuhkan/menceraikan istrinya sebanyak tiga kali (Talak Tiga), maka ia tedak boleh merujuk kembali istrinya kecuali setelah adanya 5 syarat, yaitu: [5] [6] [5]

  1. Telah berakhir masa menunggu (iddah) sang perempuan dari suami yang mentalaknya.[5] [6]
  2. Istri tersebut telah dinikahi oleh laki-laki lain dengan perkawinan yang sah.[5] [6]
  3. Suami yang lain (Suami kedua) telah mencampurinya.[5] [6]
  4. Pernikahannya dengan suami kedua telah rusak atau suami keduanya telah menjatuhkan talak Ba-in kepadanya.[6] [5]
  5. Telah habisnya masa iddah atau masa menunggu bagi sang istri dari suami yang kedua.[5] [6]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q (Indonesia) Noer Faqih Arsyi. "Munakahat" (PDF). 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l (Indonesia) "Ensiklopedia Fiqih Islam" (PDF). 
  3. ^ a b c d e f g h i j Rasjid, H.Sulaiman (1986). Fiqih Islam. Sinar Baru Algesindo. ISBN 979-8482-28-x Periksa nilai: invalid character |isbn= (bantuan). 
  4. ^ a b c (Indonesia) "Ketentuan Munakahat Dalam Islam" (PDF). 
  5. ^ a b c d e f g Amar, Drs.H.Imron Abu (1995). Terj. Fat-hul Qarib. Menara Kudus. 
  6. ^ a b c d e f Dib Al-Bugha, Dr. Musthafa (2012). Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi'i. Noura Books.