Buka menu utama

Dewi Rara Wilis adalah putri tunggal dari Ki Panutan yang kelak dikenal sebagai Kyai Sima Rodra dari Gunung Tidar. Rara Wilis juga adalah cucu dari Ki Ageng Pandan Alas dari gunung Kidul dari pihak ibu. Tokoh Sakti yang sering muncul secara misterius.

Meskipun berasal dari keluarga yang berada, kehidupan Rara Wilis sejak kecil tidak pernah benar-benar mengalami masa-masa bahagia. Pada umurnya yang baru sepuluh tahun dia sudah harus kehilangan sosok ayah yang terpikat oleh wanita lain. Dia sendirian bersama ibunya sebelum kemudian terpaksa harus berjuang sendiri setelah kematian ibunya yang menderita sakit-sakitan karena tekanan batin ditinggalkan suami.

Kehidupan getir yang dialami oleh Rara Wilis membuatnya tumbuh sebagai wanita yang rapuh. Trauma akan kehilangan ayah sejak kecil yang menghantui kehidupannya membuatnya ingin mendapatkan cinta dari seorang laki-laki secara penuh. Ketika Mahesa Jenar, dalam keadaan bingung, meninggalkannya, dia kembali menjadi sosok yang rapuh dan tidak berdaya. Meskipun pada saat itu dia sudah tumbuh menjadi seorang pendekar yang pilih tanding.

Pertama kali Wilis bertemu dengan Mahesa Jenar, dirinya baru berusia duapuluh tahun. Saat Itu Wilis hanyalah sorang gadis desa yang lugu dan tidak tahu apa-apa. Mahesa Jenar malah menganggap saat itu Wilis tidak lebih dari sekadar gadis manja yang kelewat berani berjalan menembus hutan tanpa pertimbangan. Tapi meskipun lugu, Wilis ternyata juga memiliki keberanian luar biasa, karena pada saat itu dia lebih memilih menghabisi nyawanya sendiri daripada harus menyerahkan kehormatannya pada penjahat bernama Jaka Soka. Dia pula yang dengan gagah berani membela nyawa rekan seperjalannya yang hendak dibantai oleh penjahat itu dengan taruhan nyawanya sendiri.

Ketika mereka meneruskan perjalanan, di tengah jalan Rara Wilis diambil oleh kakeknya, Ki Ageng Pandan Alas. Bersama dengan kakeknya itulah, Wilis mendapat kesempatan untuk menempa diri dengan berlatih ilmu kanuragan. Setelah menempa diri selama hampir enam tahun, Wilis kemudian menjelma menjadi pendekar yang sangat tangguh. Kemampuannya kemudian bisa disejajarkan dengan tokoh golongan hitam yang dulu pernah membuatnya ketakutan macam Lawa Ijo dan Jaka Soka. Saat menjadi pendekar, Wilis menamakan dirinya sebagai Pudak Wangi dengan mengenakan pakaian pria. Wilis memperoleh ilmu pedang dari kakeknya dia mempersenjatai diri dengan pedang tipis dan lentur yang mampu dimainkannya dengan gerakan sangat cepat. Meskipun secara fisik Wilis kalah dari pendekar yang lain, tetapi Wilis memiliki kelebihan pada gerakannya yang lentur dan lincah serta kemampuan bermain pedang yang nyaris mendekati sempurna. Kekurangannya dalam hal fisik bisa ditutupinya dengan keistimewaan tersebut.

Selain keahlian bermain pedang, Wilis juga menguasai ilmu kakeknya, jurus Cundamanik, meskipun tidak terlalu sempurna. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya waktu bagi Wilis untuk mempelajari ilmu tersebut, karena Wilis baru mulai belajar ilmu kanuragan pada umur 20 tahun. Kelemahan Wilis dalam bertempur adalah konsentrasinya yang mudah terbelah, hal itu pernah nyaris merenggut nyawanya saat bertarung melawan Jaka Soka yang dengan kelicikannya berusaha memengaruhi Wilis dengan ucapan-ucapannya.

Wilis memiliki dendam kesumat yang amat sangat pada dua orang, yaitu Nyai Sima Rodra, yang menyebabkan ayahnya berpaling dan mengikuti jejak yang salah, dan Jaka Soka yang senantiasa membuatnya dihantui mimpi buruk. Dendamnya dituntaskan saat dia berhasil menewaskan kedua orang itu dalam pertempuran di Banyubiru.

TriviaSunting