Buka menu utama

Raden Cajetanus Hardjasoebrata adalah salah seorang komposer karawitan Jawa pada era 1950 sampai 1970.

Daftar isi

BiografiSunting

Cajetanus Hardjasoebrata – CHS – yang lahir pada 1 Maret 1905, di Sentolo, Kulonprogo, Yogyakarta, dikenal sebagai guru, ahli seni tembang dan seni karawitan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebelum menuntaskan pendidikan di Sekolah Guru Katolik (Kweekschool) Muntilan, pada 1926, CHS telah menciptakan berbagai lagu dolanan serta lagu rohani, dan merintis masuknya seni karawitan ke dalam gereja.

Cajetanus Hardjasoebrata – CHS – yang lahir pada 1 Maret 1905, di Sentolo, Kulonprogo, Yogyakarta, dikenal sebagai guru, ahli seni tembang dan seni karawitan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebelum menuntaskan pendidikan di Sekolah Guru Katolik (Kweekschool) Muntilan, pada 1926, CHS telah menciptakan berbagai lagu dolanan serta lagu rohani, dan merintis masuknya seni karawitan ke dalam gereja.

Setelah menjadi guru di sekolah-sekolah milik Yayasan Kanisius di Surakarta dalam masa penjajahan Belanda dan Jepang, CHS mulai aktif menciptakan sandiwara gereja dan melanjutkan menggarap lagu dolanan baru untuk anak-anak.

Selepas Indonesia merdeka, pada 1947 CHS diangkat menjadi pegawai negeri pada bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Selama sekitar 14 tahun menjalankan tugasnya, dengan berbagai pengalaman dan bahan-bahan serta pengetahuan tentang seni karawitan, CHS banyak mengadakan analisa dan merumuskan beberapa teori tentang notasi Kepatihan, yang kemudian ditingkatkan menjadi kreteg diatonik, di samping menulis dalam brosur ilmu musik dan koreografi yang diterbitkan oleh Lembaga Musikologi dan Koreografi Ditjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan era Orde Baru. Dari sana dia menunjukkan menyusun notasi keseragaman karawitan yang mantap, utuh, praktis dan mudah dipelajari.

CHS berpandangan, bahwa pada dasarnya seni adalah sesuatu yang memiliki nilai estetik tinggi, tidak tergantung pada patokan yang sudah ada, dengan demikian harus berkembang sesuai zamannya, apabila dilandasi dengan keterbukaan untuk menerima setiap bentuk perubahan dan inovasi.

Setelah pensiun dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, CHS mengemban beberapa tugas, di antaranya sebagai pemimpin Konservatori Tari Indonesia Yogyakarta (KONRI), pengajar pada Konservatori Karawitan (KOKAR) di Solo, dosen Akademi Seni Tari (ASTI) dan Akademi Seni Karawitan (ASKI) Surakarta. CHS pun menjadi pembicara di berbagai seminar maupun lokakarya mengenai seni karawitan.

Pada 1969, CHS menerima penghargaan Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia. Dia pun diangkat menjadi seorang Tokoh Nasional di bidang karawitan dan tembang pada tahun 1982/83

Sepanjang hidupnya CHS menciptakan berbagai karya berupa lagu dolanan anak, lagu gereja, repertoire Langen Sekar, dsb. Lagu-lagunya dihimpun dalam buku musik Aku Bisa Nembang 1 dan 2, Marilah Bernyanyi 1 dan 2, Ajo Pada Nembang 1 dan 2, sementara lagu-lagu gereja ciptaannya dikumpulkan dalam buku Kula Sowan Gusti yang diterbitkan oleh Pusat Musik Liturgi Yogyakarta. Sayang sekali buku terakhir yang disusun dengan judul Notasi Keseragaman Akustika, dan berbagai teori karawitan Jawa.tidak sempat diterbitkan. Pada kunjungan ke kediaman putri sulungnya, pada 19 Maret 1986, Bapak C. Hardjasoebrata menghembuskan nafas terakhir dalam rangkulan keluarga.

Langen SekarSunting

Pada awal tahun 1950-an,  CHS telah membuat percobaan olah tari dan tembang dengan iringan gamelan yang diberi nama Langen Sekar. Hal itu tidak dimaksudkan untuk menggantikan seni tradisional Jawa seperti wayang dan gamelan – yang memiliki pakem atau standar tertentu – tetapi justru untuk memperkaya khasanah kesenian tradisional Jawa, bahwa keindahan bisa juga dicari di luar lingkungan wayang Purwa dan bentuk ekspresi kebudayaan kuno lainnya.

Untuk mengiringi tembang dan tariannya, Langen Sekar menggunakan irama tiga hitungan (irama 3/4) – suatu bentuk inovatif untuk irama gamelan Jawa – dan mencari  keindahannya dalam lingkungan dunia anak-anak: bunga dan kupu-kupu. Tidak ada usaha ke arah mistik, atau piwulang maupun efek-efek dramatis.

Selain menampilkan keindahan, drama tari Langen Sekar memberikan pendidikan lingkungan dan budi pekerti, di antaranya sikap rendah hati, saling tolong-menolong di samping pesan-pesan kasih sayang.

Pergelaran perdana Langen Sekar diselenggarakan di Kepatihan pada tahun 1951. Pada 1952,  dalam acara ulang tahun PGRI di Semarang, pergelaran Langen Sekar mendapat kehormatan besar karena dihadiri oleh Presiden Soekarno; dua tahun sesudahnya digelar di Surabaya. Selama tahun 1950-60an, tarian ini diajarkan di Ndalem Banaran Yogyakarta, di samping tarian-tarian klasik lainnya.        

Langen Sekar membuktikan, bahwa dalam masyarakat Indonesia terdapat kekuatan-kekuatan yang sanggup menciptakan sesuatu yang baru, bukan melulu berdasarkan ciptaan-ciptaan kuno, atau sebaliknya tiruan-tiruan dangkal dari luar. Dengan kata lain, sebuah cabang baru dari pohon kebudayaan Indonesia, yang tidak terlepas dari kebudayaan kuno, meskipun mendapat pengaruh kebudayaan dari luar. Nantinya, dari pohon ini masih bisa tumbuh cabang-cabang baru.

Cerita RingkasSunting

(Dikutip sesuai naskah asli)

“Langensekar”

RARA - TAMAN bertamasja disertai oleh Njai Kreta dan Njai Kreti. Njai Kreta dan Njai Kreti menundjukkan kepada Rara Taman : bunga menur, mawar, tjeplok piring, mandakaki, gandasuli, bakung.

Bunga Melati iri hari, karena tidak ditegurnja, marah-marah, bertengkar dengan Njai Kreta dan Njai Kreti. Sesudah memaki-maki kedua dajang-dajang itu, bunga melati lalu berpaling kepada Rara-taman ; memudji keindahan warna dan keharuman bau sendiri.

Bunga jang lain merasa djemu hatinja, marah kepada bunga melati.

Rara-taman memisah mereka jang bertengkar, lalu minta diri.

Kupu-kupu datang lalu menari bersama-sama dengan bunga-bunga. Ada seekor kupu jang tidak mendapat pasangan, patah hatinja lalu pergi berkelana, sampai di kebun, bertemulah ia dengan bunga bangah, lalu diganggunja.

Kupu-kupu lainnja jang datang mentjari, djuga diganggu, Kupu ketjil itu dapat pergi, lalu minta tolong kepada Rara-taman disuruh membunuh Kalabangah beserta seluruh pengikutnja.

Njai Kreta dan Njai Kreti bersama-sama akan segera membunuh Kalabangah beserta seluruh pengikutnja.

Kedua-duanja kalah berperang.

Rara Taman datang, berperisai kembang wangi, bau Kalabangah tak berdaja. Kalabangah mati beserta seluruh pengikutnja, lalu dibuang di sungai.

Bunga-bunga dan kupu-kupu bergembira, meneruskan menari-nari di taman sari.

Daftar lagu ciptaanSunting

Kultur populerSunting

  1. Sagimun M. D., Suwadji Sjafei, dan Jenen menulis sebuah buku biografi berjudul R.C. Hardjosubroto : hasil karya dan pengabdiannya yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi & Dokumentasi Sejarah Nasional, 1982.[1][2]

ReferensiSunting

Bacaan lanjutanSunting