Pulo Brayan

Pulo Brayan adalah nama wilayah/kelurahan dalam kawasan Kecamatan Medan Barat selain Kelurahan Glugur Kota, Kelurahan Karang Berombak, Kelurahan Kesawan, Kelurahan Sei Agul, dan Kelurahan Silalas. Pulo Brayan meliputi kira-kira 4 kelurahan yang berdekatan. Pulau ini memiliki luas 6,82 km2 . Pada tahun 2010 tingkat kepadatan penduduk di pulau ini mencapai 10.376,98 jiwa/km2 .

Terletak di kawasan padat penduduk, tepatnya 5 km dari pusat Kota Medan, Pulau Brayan dikenal dengan kawasan pasar yang selalu ramai baik pada hari biasa maupun hari libur. Kawasan pasar dan pertokoan tersebut juga dikenal dengan "Pajak Brayan", berlokasi di pangkal bilangan Jalan Kl. Yos Sudarso, berbatasan dengan kawasan-kawasan lain seperti Jl. Bilal dan Helvetia, Medan Barat.

Penamaan Pulau Brayan memiliki riwayat tersendiri. Pulau Brayan merupakan serapan dari bahasa Melayu yang artinya Pulau dan Berayun. Pada awalnya, K

ecamataPulaulo Brayan ini adalah sebuah pulau kecil yang dikelingngi oleh sungai, yang tak lain adah alSungai De. itKare aiukurannya yang kecil, pulau ini seng titerlihag bergoyang-goyang seperti perahu, sehingga disebut-sebut sebagai pulau yang berayun, atau dalbbaBahasa Melayu, "Pulo Berayun". Lama-kelamaan, lidah masyarakat telah terbiasa mengucapkannya Pulo Brayan saja, sehingga jadilah Pulo Brayan dikenal demikian hingga sekarang.

Sedikit yang berhubungan langsung dengan asl-usul Pulo Brayan, seperti bahwa Guru Patimpus, putera karo bermarga Sembiring Pelawi, yang mendirikan sebuah kampung bernama Kampung Medan Putri sekitar tahun 1590-an. Guru Patimpus memiliki isteri seorang putri Datuk Pulo Brayan. Lebih lanjut, disebutkan pada masa lalu, Kota Medan adalah titik pertemuan dua buah sungai yaitu Sungai Deli dan Sungai Babura. Ini rasanya cukup menjelaskan bahwa Kota Medan pada masa lalu memiliki lebih banyak kawasan perairan.

Bagaimanapun ceritanya, Pulo Brayan masih menjadi salah satu pusat perekonomian masyarakat Medan Barat dan sekitarnya. Kebetulan, beberapa orang menyebutnya "Titi Brayan", secara etimologis berarti titi yang berayun.