Kapal perang Post Dreadnought adalah kapal perang generasi sesudah HMS Dreadnought diluncurkan oleh Inggris sekitar tahun 1906. Dijadikannya HMS Dreadnought sebagai patokan karena pada masa itu kapal tersebut mencerminkan perubahan pada rancang bangun, konfigurasi senjata dan lain lain yang berbeda pada masa kapal sebelumnya. Perancangan kapal ini berdasarkan para Pertempuran Tsushima pada tahun 1905 antara Kekaisaran Rusia dengan Kekaisaran Jepang yang mengakibatkan kekalahan Rusia dan merosotnya kedudukan Kekaisaran Rusia, khususnya dalam penguasaan kekuatan laut. Pada saat pertempuran itu pula, pertempuran jarak jauh dilakukan antar kapal perang.

Setelah Pertempuran Tsushima antara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dengan Rusia yang dimenangkan oleh Jepang pada tahun 1905, disadari bahwa meriam meriam tingkat kedua dan ketiga sering dianggap sebagai beban daripada menunjang tugas-tugas kapal pembawanya karena ternyata penambahan meriam ukuran kecil merupakan suatu penyimpangan dari tradisi peranan kapal perang untuk membawa sebanyak mungkin meriam ukuran besar dengan daya tembak besar pula.

HMS DreadnoughtSunting

Kapal perang ini memiliki bobot 18.110 ton dibangun di galangan kapal Portsmouth, Inggris selama empat bulan yakni Oktober 1905 hingga Februari 1906. Kapal perang ini ditenagai mesin uap memiliki kecepatan maksimum 21 knot, lebih cepat daripada kapal perang umumnya di masa itu yang berkecepatan maksimun 18 knot. Memiliki sepuluh meriam berkaliber 12 inchi atau 300 mm. Sebelumnya, battleship hanya dipersenjatai satu baterai dengan empat pucuk meriam berkaliber lebih kecil.

HMS Dreadnought dijadikan sebagai kapal bendera armada Inggris antara 1907 hingga 1912. Kapal ini dioperasikan Skadron Tempur ke-4 di Laut Utara pada Perang Dunia I. Pada 18 Maret 1915, kapal ini berhasil menghancurkan kapal selam Jerman U-29. Terhitung Mei 1916, Kapal ini digunakan Skadron Tempur ke-3 sekaligus menjadi kapal bendera. Pada tahun 1919 kapal ini kemudian dimasukkan dalam dinas cadangan dan pada 1922, kapal ini dijual dan dijadikan besi tua (di-scrap).

Persaingan Inggris-JermanSunting

Kehadiran kapal jenis ini, selain menghadirkan era baru dalam rancangan kapal perang oleh negara-negara maritim kuat seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jepang, sekaligus juga membuka persaingan antara Inggris dengan Kekaisaran Jerman yang membangun armada angkatan lautnya pada masa Kaiser Wilhelm dan Admiral Tirpitz yang dimulai pada 1898, delapan tahun sesudah Inggris meluncurkan konsep kapal perang barunya dimasa itu. Namun upaya Jerman tersendat, dan ketika Ingris meluncurkan HMS Dreadnought pada 1906, Jerman hanya berada di urutan kelima yang memiliki armada laut terbesar dunia. Berdasarkan catatan Jane's Fighting Ships, negara-negara yang memiliki angkatan laut terbesar berturut-turut saat itu adalah Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Jepang, Jerman, Rusia, Italia, Austria (Austro-Hongaria) yang kemudian disusul Spanyol, Turki (Kekaisaran Utsmaniyah), Swedia, dan Brasil. Pada tahun 1914, Jerman naik ke peringkat kedua dibawah Inggris dimana peringkat ketiga dan seterusnya adalah Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Austria, Rusia dan Italia. Ini disebabkan langkah Inggris untuk membangun kapal sekelas HMS Dreadnought tertunda dimana Jerman memiliki sepuluh kapal jenis ini dibandingkan Inggris yang memiliki delapan kapal. Ketertinggalan ini dijawab Inggris dengan membuat fast battleship dengan meluncurkan HMS Queen Elizabeth yang dipersenjatai dengan meriam berkaliber 15 inchi yang kemudian masih digunakan ketika Perang Dunia II berkecamuk. Persaingan Inggris dengan Jerman ini berlanjut ketika perang dunia pertama dan pada Perang Laut Jutland.

Era Perang Dunia IISunting

Seusai perang dunia pertama, perkembangan kapal perang khususnya jenis battleship sedikit terhambat, yang diakibatkan adanya Washington Naval Treaty, yang menyebabkan banyak kapal dijadikan besi tua. Hasil dari perjanjian ini adalah pembatasan tonase dimana menghasilkan perbandingan tonase berturut-turut 5:5:3:1,5:1,5 untuk negara berturut-turut Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Prancis dan Jerman. Karena perjanjian ini pula, banyak program kapal perang dihentikan dan dikaji ulang.

Baru ketika perjanjian ini berakhir, banyak negara yang kemudian memperbaharui kembali kekuatan armadanya. Khususnya untuk kelas kapal "super dreadnought" atau "super battleship". Yang diwarnai dengan kapal-kapal perang besar yang kemudian terlibat dalam Perang Dunia II.

Yang menjadi ikon kapal-kapal perang besar itu adalah HMS Price of Wales dan HMS Repulse dari Inggris, Bismarck dan Tirpitz dari Jerman di era NAZI, Mushashi dan Yamato dari Jepang. Kapal-kapal tersebut memiliki tiga unit triple turret mulai kaliber 14 inchi atau 356 mm hingga 16 inchi atau 160 mm lalu dilengkapi senjata pendukung berupa meriam 4-6 inchi (100-152 mm).

Selain menghasilkan berbagai prestasi, seperti kapal perang Bismarck yang berhasil menghancurkan kapal perang HMS Glorius dan HMS Hood milik Inggris. Perkembangan teknologi pada masa perang dunia kedua yang menggunakan kapal induk dan pesawat terbang dalam pertempuran laut, membuat konsep battleship atau kapal perang berukuran besar menjadi usang bahkan rentan khsusunya terhadap serangan udara. Hal ini dapat dilihat dari kapal perang Bismarck yang dilumpuhkan dan ditenggelamkan dengan torpedo yang diluncurkan dari pesawat terbang fairey swordfish milik Inggris yang diluncurkan dari kapal induk HMS Ark Royal serta Von Tirpitz yang juga dengan bom laut dari pesawat pembom Inggris, HMS Price of Wales dan HMS Repulse yang ditenggelamkan pesawat pembom Jepang di perairan Malaysia-Singapura, dan IJNS Yamato yang juga dibom dan ditorpedo dari udara oleh pesawat tempur milik Angkatan Laut Amerika Serikat di perairan pasifik.

Sebagai gambaran teknis, sebuah battleship dapat menghantam musuh paling jauh dengan meriam yang dimilikinya sekitar 48 km, sedangkan dengan pesawat terbang yang diluncurkan dari kapal induk, dapat menghancurkan lawan dalam radius yang mencapai ratusan kilometer. Perkembangan teknologi radar, kapal selam dan peluru kendali membuat kapal battleship menjadi rentan. Contoh yang paling mudah adalah tenggelamnya kapal jelajah Argentina, ARA Admiral Belgrano dalam Perang Malvinas pada tahun 1982 oleh kapal selam nuklir Inggris, dan Hancurnya HMS Shiffield oleh terjangan Rudal Exocet buatan Aerospatiale, Prancis yang ditembakkan dari pesawat Super Etendard milik Argentina dalam perang yang sama. Peristiwa ini membuat Rudal sekelas Exocet yang sempat tidak begitu dianggap dalam strategi pertempuran laut, menjadi senjata utama setiap kapal.

Pasca Perang Dunia ke IISunting

Pada akhir perang Dunia ke II, banyak kapal kapal battleship kemudian menjadi usang, karena hadirnya pesawat terbang, kapal induk dan roket anti kapal serta torpedo dan kapal selam. Banyak kapal peninggalan perang dunia II yang kemudian dibongkar, dijadikan besi tua, dimuseumkan ataupun yang kemudian ditingkatkan kemampuannya seperti kapal Missouri, Wisconsin serta Iowa class yang kemudian masih beroperasi baik ketika Perang Dingin mapun Perang Korea dan Perang Vietnam bahkan Perang Teluk I pada 1991 yang kemudian masuk museum.

Sementara itu, di Rusia, konsep battleship yang mulanya ditentang Stalin, justru dikembangkan pada masa Admiral Ghroskov dan Nikita Kruschev. Meski demikian, Rusia lebih dominan pada kapal selam nuklir, dan kapal patroli cepat/fast patrol boat yang dipersenjatai torpedo maupun rudal untuk menjaga kawasan zona pantainya dan pesawat pembom antikapal seperti Tupolev TU-16 KS1 dan TU-22M Backfire, serta kapal induk ringan. Stalin beranggapan bahwa konsep battleship adalah konsep kapitalis dan menghabiskan banyak baja. Rusia mulai mengembangkan battleshipnya pada tahun 1970-an dengan mengoperasikan kapal perang nuklir kelas Kirov yang merupakan jenis Penjelajah Roket atau Raketny Kreyser (Rocket Cruiser), kapal-kapal ini masih beroperasi pada tahun 2005.

SumberSunting

  • The Great Sea Warfare, pertempuran laut paling menentukan di dunia, Edisi Koleksi Angkasa XXIV