Polychaeta

Polychaeta adalah kelas cacing annelida yang umumnya hidup di laut, sebagian juga ditemukan di sungai dan danau (air tawar) dan sebagin lainnya ditemukan di darat (terrestrial). Seluruh permukaan tubuh polychaeta mengandung rambut-rambut kaku atau setae yang dilapisi kutikula sehingga licin dan kaku. Tubuhnya berwarna menarik, seperti ungu kemerah-merahan. Setiap segmen tubuh polychaeta dilengkapi dengan sepasang alat gerak atau alat berenang yang disebut parapodia, pada cacing yang bergerak aktif (Errantia), tetapi pada cacing yang relatif lamban bergerak (Sedentaria) tidak memiliki parapodia. Parapodia berperan sebagai alat pernapasan. Ukuran tubuh polychaeta sebagian besar berukuran 5–10 cm, tetapi ada yang kurang dari 1 mm (misalnya Diurodrilus) dan ada juga yang mencapai 3 m (misalnya Namalycastis rhodochorde).

Polychaeta
Rentang fosil: 530–0 jtyl
Kambrium (atau sebelumnya?) - sekarang
"A variety of marine worms": plate from Das Meer by M.J. Schleiden (1804–1881).
"A variety of marine worms": plate from Das Meer by M.J. Schleiden (1804–1881).
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Annelida
Kelas: Polychaeta
Grube, 1850
Kelompok yang termasuk

Palpata
Scolecida

Kelompok yang tidak termasuk

Echiura
Chaetopteridae[1]

Cacing ini tidak mempunyai sadel (klitelum)seperti pada cacing tanah (oligochaeta).Polychaeta memiliki kelamin terpisah dan ada yang hermaprodit. Perkembangbiakannya dilakukan dengan cara seksual dan aseksual. Pembuahannya dilakukan di luar tubuh dan ada yang di dalam tubuh. Telur yang telah dibuahi tumbuh menjadi larva yang disebut trakofor.

Sebagian besar, polychaeta hidup secara bebas (free living), tetapi juga ada yang bersifat parasit pada hewan lain, misalnya Polydora dari famili Spionidae. Contoh jenis Polychaeta antara lain calm worm, cacing sorong, cacing wawo, cacing palolo, dan cacing nipah.

TaksonomiSunting

Polychaeta merupakan salah satu kelas dari jenis cacing yang tergabung dalam filum Annelida.[2] Penamaan kelas ini berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani  Poli Chaeta. Kata poli berarti banyak, dan kata chaeta berarti rambut.[3] Sehingga Polychaeta diartikan sebagai kelas dengan spesies berambut paling banyak di filum Annelida.[4] Polychaeta juga disebut sebagai infauna karena termasuk makrozoobentos yang hidup di pada substrat lunak di dalam lumpur.[5]

Sebagian besar spesies dalam kelas Polychaeta merupakan cacing yang hidup di laut.[6] Spesies-spesiesnya hampir ditemukan di seluruh perairan laut. Spesies cacing dari kelas Polychaeta ditemukan hidup di pasir, lumpur atau di bawah batu-batu karang. Ada pula spesiesnya yang mengebor karang untuk dijadikan tempat tinggalnya.[7] Spesies-spesies pengebor ini digolongkan dalam famili Eunicidae.[8] Ada pula spesies Polychaeta yang hidup di padang lamun.[9] Sebanyak 527 spesies dari Polychaeta dapat ditemukan di wilayah lautan Indonesia.[10]

Spesies dominanSunting

Eurythoe complanataSunting

Eurythoe complanata merupakan spesies Polychaeta yang dapat hidup di berbagai jenis habitat dengan penyebaran yang sangat luas. Spesies ini ditemukan di zona intertidal, perairan tenang, terumbu karang, maupun di bawah pecahan karang. Eurythoe complanata dapat ditemukan di perairan tropis dan perairan subtropis. Karakteristik yang membuat Eurythoe complanata menjadi dominan ialah kemampuan untuk hidup meskipun tubuhnya sudah terputus. Kemampuan ini disertai dengan kemampuan regenerasi yang cepat pula.[11]

Ciri fisikSunting

Bagian tubuh Polychaeta terbagi menjadi kepala, mata, dan sensor palpus. Panjang tubuh spesies Polychaeta antara 5–10 cm. Diameter tubuhnya antara 2–10 mm. Bagian tubuh Polychaeta ditutupi oleh banyak rambut dan memiliki parapodia sebagai alat gerak. Jenis kelamin jantan dan betina dapat dibedakan dengan jelas.[12]  

Polychaeta memiliki tubuh bersegmen. Segmen paling belakang berfungsi sebagai anus.[7] Seluruh bagian tubuh Polychaeta dapat terjadi regenerasi yang menggantikan bagian tubuh yang terputus. Kemampuan regenerasi ini termasuk pada bagian kepala.[7] Segmen tubuh Polychaeta memiliki parapodia yang berbentuk dayung. Parapodia ini digunakan sebagai alat pernapasan dan alat gerak untuk berenang.[13] Bulu-bulu halus tumbuh secara kaku di bagian alat gerak, namun licin karena ada lapisan kutikula.[12] Nama bulu-bulu ini adalah setae. Fungsinya untuk mempermudah gerakan dengan cara menempel pada substrat.[13]

Rantai makananSunting

Makanan Polychaeta adalah sisa-sisa bahan organik dan detritus.[7] Polychaeta memiliki posisi yang penting dalam rantai makanan. Berbagai jenis ikan demersal memakan Polychaeta. Beberapa spesies dari Polychaeta juga dimakan oleh manusia, misalnya cacing laor yang banyak terdapat di Pulau Ambon dan sekitarnya. Beberapa spesies Polychaeta juga dapat menimbulkan rasa gatal disertai bengkak jika disentuh oleh penyelam laut.[14] Polychaeta yang berukuran lebih panjang dari 1 mm juga menjadi salah satu makanan bagi burung perandai.[15] Polychaeta juga menjadi makanan bagi udang yang bersifat karnivor seperti udang kaki putih.[16]

Masa hidupSunting

Beberapa spesies cacing dari kelas Polychaeta mengadakan pemijahan massal. Pemijahan ini berlangsung mengikuti atau bersamaan dengan hewan karang lainnya.[17] Spesies cacing yang termasuk dalam kelas Polychaeta memiliki masa hidup yang singkat. Masa hidup maksimal dan rata-ratanya tidak mencapai usia 2 tahun. Sementara beberapa spesies lainnya hanya hidup sangat singkat, yaitu selama 30–45 hari saja.[18]

Komposisi tubuhSunting

Spesies Polychaeta dari genus Aphrodita mengandung unsur natrium, magnesium, kalsium, kalium, klorin dan sulfat. Kandungan natrium yang dimilikinya sebanyak 476 milimol/kg air laut. Kandungan magnesium yang dimilikinya sebanyak 54,6 milimol/kg air laut. Kandungan kalsium yang dimilikinya sebanyak 10,6 milimol/kg air laut. Kandungan kalium yang dimilikinya sebanyak 10,5 milimol/kg air laut. Kandungan klor yang dimilikinya sebanyak 557 milimol/kg air laut. Kandungan sulfat yang dimilikinya sebanyak 26,5 milimol/kg air laut. Spesies Polychaeta dari genus Aphrodita juga mengandung protein sebanyak 0,2 g liter-1.[19]

Peran bagi ekosistemSunting

Beberapa spesies Polychaeta yang dijadikan sebagai indikator pencemaran lingkungan.[14] Hal yang dapat diketahui melalui spesies Polychaeta adalah kualitas perairan tawar. Kualitas yang diketahui meliputi kondisi fisik, kimia dan biologi. Perbandingan kualitasnya ditentukan oleh tingkat pemerataan jumlah spesies di suatu tempat pada suatu perairan. Perairan yang memiliki tingkat pemerataan yang rendah menunjukkan adanya suatu pencemaran lingkungan. Perairan yang tercemar juga umum hanya dihuni oleh spesies dominan.[20]

ReferensiSunting

Catatan kakiSunting

  1. ^ Struck, T. H.; Paul, C.; Hill, N.; Hartmann, S.; Hösel, C.; Kube, M.; Lieb, B.; Meyer, A.; Tiedemann, R.; Purschke, G. N.; Bleidorn, C. (2011). "Phylogenomic analyses unravel annelid evolution". Nature. 471 (7336): 95–98. doi:10.1038/nature09864. PMID 21368831. 
  2. ^ Yulitasari, Nurma (2020). Modul Taksonomi Invertebrata Pendidikan Biologi (PDF). Bandar Lampung: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. hlm. 20. 
  3. ^ Maya, S., dan Nurhidayah (Oktober 2020). Zoologi Invertebrata (PDF). Bandung: Penerbit Widina Bhakti Persada Bandung. hlm. 79. ISBN 978-623-6608-45-6. 
  4. ^ Lumenta, Cyska (2017). Avertebrata Air (PDF). Manado: Unsrat Press. hlm. 117. ISBN 978-979-3660-79-0. 
  5. ^ Yuniar, Is (2019). Nuhman, ed. Kupang Putih (Corbula faba) dan Kupang Merah (Musculista senhousia) Bentos Habitat Asli Pantai Surabaya Timur (PDF). Surabaya: Hang Tuah Press. hlm. 56. ISBN 978-602-5595-165. 
  6. ^ Andaruisworo, Sapta (April 2015). Agribisnis Aneka Ternak (PDF). Surabaya: Jenggala Pustaka Utama. hlm. 103. ISBN 978-979-3613-67-3. 
  7. ^ a b c d Suharsono (2014). Biodiversitas Biota Laut Indonesia: Kekayaan Jenis, Sebaran, Kelimpahan, Manfaat dan Nilai Ekonomis. Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. hlm. 89. ISBN 978-979-3378-80-0. 
  8. ^ Zurba, Nabil (Maret 2019). Pengenalan Terumbu Karang Sebagai Pondasi Utama Laut Kita (PDF). Lhokseumawe: Unimal Press. hlm. 38. ISBN 978-602-464-077-4. 
  9. ^ Dewi, C. S. U., dkk. (2020). Al Ayubi, Audin, ed. "Pertumbuhan Lamun Jenis Cymodocea rotundata Hasil Transplantasi di Perairan Desa Pejarakan, Buleleng, Bali" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan Ke-VII: Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Yang Berkelanjutan Menuju Masyarakat 5.0. Undana Press: 42. 
  10. ^ Darajati, W., dkk. (2016). Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan 2015-2020 (PDF). Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. hlm. 56. ISBN 978-602-1154-49-6. 
  11. ^ Muchtar, M., dkk., ed. (Juli 2015). Sumber Daya Laut di Perairan Pesisir Gunungkidul, Yogyakarta (PDF). Jakarta: LIPI Press. hlm. 86. ISBN 978-979-799-828-8. 
  12. ^ a b Kumala, Farida Nur (2019). Ensiklopedia Hewan (PDF). Malang: Penerbit Ediide Infografika. hlm. 116. ISBN 978-602-50142-9-1. 
  13. ^ a b Siagian, Gunaria (November 2020). Taksonomi Hewan (PDF). Bandung: Penerbit Widina Bhakti Persada Bandung. hlm. 54. ISBN 978-623-6608-59-3. 
  14. ^ a b Yusron, Eddy (1989). "Distribusi Cacing Laut (Polychaeta) pada Terumbu Karang di Pulau Ambon dan Sekitarnya". Perairan Maluku dan Sekitarnya: Biologi, Budidaya, Geologi, Lingkungan dan Oseanografi (PDF). Ambon: Balai Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. hlm. 7. ISBN 979-8105-01-X. 
  15. ^ Pramudihasan, A., dan Wibowo, Y. (2020). Handziko, R. C., dkk., ed. Modul Pengayaan Keanekaragaman Burung Pantai di Muara Sungai Progo (PDF). Sleman: Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta. hlm. 13. ISBN 978-602-97298-8-7. 
  16. ^ Muzahar (September 2020). Teknologi dan Manajemen Budidaya Udang (PDF). Tanjungpinang: Umrah Press. hlm. 13. ISBN 978-602-5603-49-5. 
  17. ^ Thamrin (2012). Ekosistem Terumbu Karang: Hubungan antara Karang dab Zooxanthellae (PDF). Pekanbaru: Badan Penerbit Universitas Riau. hlm. 72. ISBN 978-979-792-314-3. 
  18. ^ Yusron, Eddy (1985). "Beberapa Catatan Mengenai Cacing Laut (Polychaeta)" (PDF). Oseana. X (4): 122. ISSN 0216-1877. 
  19. ^ Delfita, Rina (Juli 2019). Fisiologi Hewan Komparatif (PDF). Jakarta: Prenadamedia Group. hlm. 35. ISBN 978-623-218-290-5. 
  20. ^ Sianipar, Herna Febrianty (Oktober 2021). Siahaan, Theresia Monika, ed. Avertebrata Air (PDF). Tasikmalaya: Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia. hlm. 7. ISBN 978-623-6478-22-6. 

BibliografiSunting

  • Campbell, Reece, and Mitchell. Biology. 1999.
  • Rouse, Greg W.; Fauchald, Kristian (1998). "Recent views on the status, delineation, and classification of the Annelida". American Zoologist. 38 (6): 953–964. doi:10.1093/icb/38.6.953. 

Pranala luarSunting