Persatuan Arab Indonesia

Persatuan Arab Indonesia (PAI) atau Persatoean Arab Indonesia (dalam ejaan lama) adalah suatu perkumpulan Arab Indonesia yang didirikan oleh Abdurrahman Baswedan pada tahun 1934 di Semarang untuk mendorong kesetiaan para imigran Arab kepada Indonesia.[1]

Persatuan Arab Indonesia
Persatoean Arab Indonesia
Rapat cabang eksponen PAI di Palembang dan Bandung, 1939
Rapat cabang eksponen PAI di Palembang dan Bandung, 1939
SingkatanPAI
Tanggal pembentukan4 Oktober 1934; 85 tahun lalu (1934-10-04)
PendiriAbdurrahman Baswedan
Tanggal pembubaran1945
Lokasi
Ketua pertama
Abdurrahman Baswedan

Di antara anggota-anggotanya yang menonjol adalah Abdurrahman Baswedan[2], Salim Maskati, Nuh Alkaf, dan Hamid Algadri.

SejarahSunting

 
Kongres PAI di Cirebon, 1940.

Pada tanggal 4 Oktober 1934 suatu kelompok yang terdiri dari empat puluh Muwallad bertemu di Semarang. Setelah tiga hari mengalami perdebatan sengit mereka mengumumkan pembentukan sebuah organisasi baru yang disebut Persatoean Arab Indonesia.[3] Awalnya organisasi tersebut dimaksudkan untuk mendorong orang Arab, kebanyakan Muwallad, untuk mengintegrasikan, mengasimilasi dan menjamin kesetiaannya kepada Indonesia yang masih dalam lingkup Hindia Belanda. Organisasi ini kemudian bergabung dengan partai politik Gabungan Politik Indonesia (GAPI) pada tahun 1939-1940. Sementara itu organisasi terpisah bernama Indo-Arabische Beweging didirikan pada tahun 1930, di sisi lain, mencoba untuk melanjutkan status terpisah dari imigran Arab sebagai oriental asing yang dibangun oleh pemerintah Belanda.[1]

Anggota perkumpulan ini berasal dari latar belakang dan organisasi yang berbeda, terutama dari Al-Rabithah al-Alawiyah dan al-Irshad. Manajemen pertama organisasi tersebut terdiri dari Abdurrahman Baswedan dari Al-Irshad sebagai ketua, Nur Al-Kaff dari Al-Rabithah al-Alawiyyah Sebagai sekretaris I, Salim Maskatee dari Al-Irshad sebagai sekretaris II, Segaf al-Segof dari Al-Rabithah al-Alawiyyah sebagai bendahara, dan Abdurrahim Argubi dari Al-Irshad sebagai komisaris.[4] Anggota asosiasi tersebut menyatakan sumpah mereka untuk menegaskan kesetiaan mereka kepada Indonesia sebagai tanah air mereka (bukan Hadhramaut) dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu mereka.[5]

Pemuda Arab-Indonesia juga menyatakan sumpahnya yang disebut sebagai "Sumpah Pemuda Keturunan Arab", yaitu:

  1. Tanah air orang Arab-Indonesia adalah Indonesia.
  2. Orang Arab-Indonesia harus meninggalkan isolasi sosial dan eksklusivitas terhadap masyarakat adat Indonesia
  3. Orang Arab-Indonesia harus memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia

PAI mendapat dukungan dari banyak nasionalis melalui surat kabar mereka seperti surat kabar Tionghoa-Melayu Matahari atau Sin Tit Po sebagai salah satu pendukung utama.[4] Namun, organisasi tersebut juga menerima reaksi negatif dari orang-orang Arab Indonesia yang menentangnya, banyak dari kelompok Wulayati. Di antara para penentangnya adalah Ali bin Yahya dari al-Rabithah al-Alawiyyah yang sering menerbitkan pertentangannya di majalah berbahasa Arab Al-Salam, dan MBA Alamoudi, seorang Arab Indonesia kelahiran Ambon[6], yang sangat menyerang organisasi tersebut pada mingguan berkala Al-Yaum dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan di Arabische Verbond.[4] Para pihak kontra menggunakan segala cara dan ancaman untuk mencegah perkembangan dan pengaruh PAI, termasuk memecat anggota PAI dari pekerjaannya.[4]

Dalam hal pendidikan, PAI mendirikan sekolah[7] dan juga memberikan pelatihan-pelatihan semi militer kepada para pemuda keturunan Arab, mempersiapkan mereka dalam rangka bertempur melawan kolonialisme.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b Kahin, Audrey (2015). Historical Dictionary of Indonesia (edisi ke-3). Rowman & Littlefield. hlm. 724. ISBN 978-0-810874565. 
  2. ^ Mobini-Kesheh 2004, hlm. 132.
  3. ^ Mobini-Kesheh 2004, hlm. 128.
  4. ^ a b c d Sutarmin (1989). Abdul Rahman Baswedan : Karya dan Pengabdiannya. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 
  5. ^ Suhadi (2013). "I Come from a Pancasila Family": A Discursive Study on Muslim-christian Identity Transformation in Indonesian Post-reformasi Era. 6. LIT Verlag Münster. hlm. 55. ISBN 978-3-643904652. 
  6. ^ Mardiati, AS (2013). "Partai Arab Indonesia" (PDF). UIN Surabaya. Diakses tanggal 20 Agustus 2016. 
  7. ^ van der Kroef, Justus M. (1953). "The Arabs in Indonesia". Middle East Journal. 7 (3): 300–323. 

Bacaan lebih lanjutSunting