Perempuan yang Dihapus Namanya

Perempuan yang Dihapus Namanya adalah judul buku kumpulan puisi karya Avianti Armand yang diterbitkan oleh .a publication, tahun 2010. Buku setebal 84 halaman dan ISBN 978-979-19522-1-7, ini mengantarkan Avianti memenangi Penghargaan Kusala Sastra Katulistiwa untuk kategori puisi, tahun 2011.[1][2][3][4]

Perempuan yang Dihapus Namanya
Perempuan yang Dihapus Namanya.jpg
PengarangAvianti Armand
BahasaBendera Indonesia Indonesia
GenrePuisi
Tanggal terbit
2010
Halaman84 halaman
ISBNISBN 978-979-19-5221-7


Latar belakangSunting

Lewat Perempuan yang Dihapus Namanya, Avianti Armand merekonstruksi kisah-kisah perempuan dalam kitab Perjanjian Lama. Dalam pengantarnya, Avianti sendiri melihat karyanya sebagai hasil dari proses “membaca lagi, menafsirkan lagi, merekonstruksi dunia dan kata-kata yang tersimpan dalam kitab.” Avianti punya anggapan, perempuan-perempuan dalam Perjanjian Lama sangat menarik. Sebagian dari mereka terseret dalam kehancuran dan pertumpahan darah, bahkan mendirikan singgasana di atas genangannya. Sebelum mereka, ada perempuan penggoda yang menurut legenda diciptakan lebih dulu dari Hawa dan berkhianat. Ia disebut dengan “nama-nama terlarang”, Lilith salah satunya. Ia ditemukan dalam gulungan dokumen Laut Mati, tapi tak ada jejak kehadirannya dalam kitab. Nama Lilith muncul satu kali dalam Kitab Yesaya, tapi tak jelas apakah dia perempuan atau binatang malam.

Upaya menghilangkan Lilith tak pernah berhasil, sebab menghapus adalah juga menyisakan sesuatu. Inilah yang disebut Avianti sebagai lubang, yang terjadi ketika mereka menggosok lembar-lembar papyrus tua untuk menghapus nama perempuan itu dari Kitab. Lilith berada di ruang-ruang yang bocor, dan kita selalu menemukan jejak namanya dalam narasi tentang Hawa, Tamar, Batsyeba, Jezebel, atau perempuan lainnya. Melalui pembacaan ulangnya, Avianti membagi ruang-ruang tersembunyi itu. Jejak Lilith begitu tegas pada cerita Jezebel. Maka dibutuhkan upaya penghapusan yang lebih keras, tanpa ampun. Tak terpisahkan dari kerumitan hubungan agama dan politik, tubuh Jezebel si perempuan asing pemuja Baal adalah sumber kebencian. Puisi Jezebel diawali dengan lonceng kematian yang memanggil-manggil nama Jezebel, pepat oleh hasrat meniadakan jejak tubuh perempuan khianat. Avianti menggambarkan akhir hayat Jezebel. Perempuan yang Dihapus Namanya merupakan upaya para feminis Barat menelaah arketipe perempuan dalam kitab suci demi memahami bagaimana politik gender beroperasi dalam sejarah. Namun praktik pembacaan tak dapat diseragamkan, sebab ia ditentukan oleh kepentingan, ruang, dan waktu yang spesifik.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Kusala Sastra Khatulistiwa". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-23. Diakses tanggal 2015-07-06. 
  2. ^ "Intan Paramaditha". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-08-14. Diakses tanggal 2015-07-06. 
  3. ^ Behane: Perempuan yang Dihapus Namanya
  4. ^ "Areamagz: Perempuan yang Dihapus Namanya". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-07-08. Diakses tanggal 2015-07-06.