Penindasan

penggunaan fisik atau verbal untuk menganiaya atau mengintimidasi orang lain

Penindasan, perundungan, perisakan, atau pengintimidasian (bahasa Inggris: bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan siber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.[2][3]

Penindasan merugikan kesehatan dan perkembangan siswa.[1]

Bentuk-bentuk penindasanSunting

Penindasan fisikSunting

Tindakan penindasan dengan kontak secara fisik yang menimbulkan perasaan sakit fisik, luka, cedera, atau penderitaan fisik lainnya. Contohnya memukul, menampar, atau menendang orang lain.

Penindasan psikologisSunting

Tindakan penindasan yang menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres. selain itu juga menimbulkan kegalauan/gusar.

Faktor psikologisSunting

Pada remaja, salah satu faktor psikologis dari tingkah laku penindasan adalah pola asuh dari orang tua atau pengganti orang tua[4]. Pola asuh orang tua yang otoriter dan yang permisif-memanjakan sama-sama membentuk kecenderungan anak menjadi aktor penindasan. Sebaliknya, pola asuh orangtua yang otoritatif meghindarkan remaja dari keterlibatan sebagai pelaku maupun korban penindasan.

Faktor psikologis lain yang dapat meningkatkan peluang seseorang menjadi pelaku maupun korban penindasan adalah sejarah pribadi masa lalu seseorang sebagai korban/pelaku kekerasan, asertivitas penonton penindasan yang rendah untuk menghentikan penindasan, jebakan permainan politik identitas, kepribadian yang maladaptif, kurangnya empati, kurangnya keterampilan untuk menyelesaikan masalah secara beradab, rendahnya perasaan bertanggung jawab dalam penggunaan media sosial, budaya melontarkan humor yang ofensif, hingga kebijakan publik yang tidak membuka ruang bagi audit kekuasaan[5].

Dalam kebudayaan populerSunting

Penindasan atau perisakan sering kali dijadikan tema cerita dalam berbagai karya, baik karya cetak maupun elektronik seperti film, FTV, atau sinetron. Biasanya yang diangkat adalah penindasan antar remaja dan berlatar di lingkungan sekolah Beberapa judul karya seni yang mengangkat tema ini antara lain:

  • Beck - serial manga dan anime tentang musik karangan Harold Sakuishi, pada bagian awalnya karakter utama adalah korban perundungan.
  • Gajah - salah satu lagu milik Tulus yang menceritakan tentang masa lalu seseorang yang menjadi korban perundungan.
  • Ekskul - film Indonesia tahun 2006
  • Juara - film Indonesia tahun 2016

ReferensiSunting

  1. ^ Student Reports of Bullying, Results From the 2001 School Crime Supplement to the National Crime Victimization Survey, US National Center for Education Statistics
  2. ^ "Cambridgeshire.gov.uk". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-10-12. Diakses tanggal 2013-05-21. 
  3. ^ (U.S. Dept. of Justice, Fact Sheet #FS-200127)
  4. ^ Pertiwi, Mutiara; Juneman, Juneman (2012). "PERAN POLA ASUH ORANGTUA DALAM MENGEMBANGKAN REMAJA MENJADI PELAKU DAN/ATAU KORBAN PEMBULIAN DI SEKOLAH". Sosio Konsepsia : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (dalam bahasa Inggris). 17 (2): 173–191. doi:10.33007/ska.v17i2.822. ISSN 2502-7921. 
  5. ^ "Bernas.id | Persekusi Atau Perundungan Dari Sudut Pandang Psikologi Sosial". bernas.id. Diakses tanggal 2021-09-13. 

Pranala luarSunting