Buka menu utama

Pendosawalan, Kalinyamatan, Jepara

desa di Kabupaten Jepara

GeografisSunting

Desa Pendosawalan berbatasan:

  • Utara: Damarjati
  • Selatan: Margoyoso, Bakalan
  • Timur: Rajekwesi
  • Barat: Gemulung, Banyuputih

AdministratifSunting

DukuhSunting

Desa Pendosawalan terdapat beberapa dukuh, yaitu:

  • Pendo
  • Sawalan

RT/RWSunting

Desa Pendosawalan terdapat 23 RT dan 07 RW:

SejarahSunting

Secara sosial, Masyarakat desa ini berasal dari satu keturunan. Yakni dari RA. Suwati yang menikah dengan Abdul Jabar. RA.suwati adalah putri dari keturunan bangsawan Jepara, sementara Abdul Jabar adalah salah seorang cucu dari Ki Ageng Pandanaran, bupati pertama semarang yang merupakan keturunan terakhir kerajaan Majapahit. Kedua tokoh tersebut beserta sahabat - sahabat dekatnya di makamkan di sebuah tempat yang dikenal dengan nama makam Dombang, yakni sebuah tempat yang rindang karena di teduhi pohon beringin berusia ratusan tahun di desa Pendosawalan Dimasa perang kemerdekaan, Desa Pendosawalan menjadi daerah persinggahan prajurit TNI yang akan menyerbu markas tentara NICA yang ada di perbatasan desa Pendosawalan dan BAnyuputih. Penduduk desa ini banyak membantu dalam hal logistik dan tempat persembunyian. Menurut cerita turun temurun, di awal kemerdekaan muncul isu bahwa desa ini akan di bumi hanguskan oleh Sekutu dengan bom atom (saat itu mereka telah mendengar kisah tentang bom atom yang memaksa Jepang menyerah dari penduduk Pendosawalan yang berdangang di semarang) Untuk menyiasatinya, gerilyawan republik yang merupakan bekas peta mengajari penduduk untuk mematikan penerangan waktu malam saat mendengar alarm tanda bahaya dari kentongan yang di bunyikan dari pos pos keamanan. saat itu Sekutu memang akan membumihanguskan Pendosawalan dari udara sekalipun tidak memakai bom atom, alsannya adalah desa ini berubah menjadi markas milita sipil yang dianggap membahayakan keselamatan Pihak sekutu. Karena strategi yang diajarkan, desa ini selamat dari pengeboman tanpa perlu mengungsikan penduduknya. Dan bom yang di kirim ternyata nyasar ke desa Banyuputih yang bersebelahan dengan Pendosawalan, hal itu disebabkan karena di desa ini tak ada gerilyawan yang bisa mengajari tekhnik kamuflase. Cerita lucu pun muncul, sebuah keluarga yang ketakuta malah mengungsi ke desa Banyuputih, keluarga itu tidak percaya bahwa mereka akan selamat. namunsayangnya lokasi yang mereka gunakan untuk sembunyi malah terkena imbas dai bom yang di jatuhkan. Dalam keluarga itu, satu orang tewas, dan satu luka- luka ringan pada wajah, tak hayal mereka malah jadi bahan tertawaan ketika kembali ke Pendosawalan. Tak cukup cerita lucu, konon kabarnya di salah satu dusun di desa ini di bagian utara yang bernama dusun Sawalan, di dusun ini pernah juga di jatuhi bom oleh sekutu, namun dengan tenaga dalam orang - orang sakti di dusun itu mengkisnya dan mengubur dalam - dalam bom yang dikirim dari pesawat bomber sekutu. Di era Reformasi ini, desa Pendosawalan mulai membenahi diri dalam berbagai sektor sosial, politik serta tekhnologi

PotensiSunting

Di desa ini kebanyakan warganya berprofesi dalam bidang konveksi kerudung muslimah, oleh karena itu Desa Pendosawalan menjadi "Sentra Kerudung", produk kerudung tersebut sudah menembus pasar Jepara, bahkan sampai menebus pasar semarang. dan makanan khas Pendosawalan Turuk Bintol.

OlahragaSunting

Desa Pendosawalan tidak punya klub sepak bola untuk berkiprah di ajang Yazztea Jepara League. Tapi sekarang Petinggi Desa Pendosawalan ingin merintis ssb (sekolah sepak bola) sekaligus klub untuk bermain di Yazztea Jepara League, rencananya akan menggunakan nama klub sepak bola dengan menyiapkan nama Pendo Sawalan FC (PSFC) untuk membawa nama baik Desa Pendosawalan sebagai juara Yazztea Jepara League.

RencanaSunting

Penduduk Desa Pendosawalan sangat bertoleran terhadap perbedaan agama. Di Desa Pendosawalan terdapat Masjid yang berseberangan dengan Gereja. Itu menunjukkan betapa baiknya hubungan antar umat beragama.