Buka menu utama

Pembunuhan Ade Sara adalah salah satu kasus pembunuhan yang menarik perhatian di Indonesia. Kasus ini dimulai dari ditemukannya jasad seorang wanita pada Jalan Tol Bintara KM 49, Bekasi Timur pada 5 Maret 2014. Jasad tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Ade Sara Angelina Suroto, yang telah hilang sejak 3 Maret 2014. Belakangan diketahui bahwa Ade Sara dibunuh oleh kedua temannya bernama Ahmad Imam Al-Hafitd dan Assyifa Ramadhani yang merupakan temannya.

Pembunuhan Ade Sara
Tanggal5 Maret 2014
LokasiTol Bintara KM 49
PenyebabKehabisan oksigen
Korban
Ade Sara Angelina Suroto
Terdakwa2 orang
TuntutanPenjara Seumur Hidup

Daftar isi

Latar BelakangSunting

Ade Sara Angelina Suroto merupakan anak tunggal dari Suroto dan Elisabeth Diana. Ade Sara adalah alumni dari SMA 36 Jakarta. Setelah lulus, Ade Sara melanjutkan kuliah di Universitas Bunda Mulia dengan jurusan Psikologi serta mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe-Institut Jakarta.

Saat SMA, Ade Sara bertemu dan berpacaran dengan Hafitd. Setelah setahun lebih, Ade Sara mengakhiri hubungan tersebut. Setelah itu, Ade Sara berpacaran dengan orang lain, sementara Hafitd berpacaran dengan Assyifa yang juga merupakan alumni SMA 36.[1]

Walaupun sudah berpacaran lagi, Hafitd kerap menghubungi Ade Sara untuk mengajak balikan. Ade Sara tidak menanggapi dan sempat mengeluhkan sifat Hafitd yang kerap memaki dengan kata-kata kasar di twitter.[2] Kondisi inilah memicu kecemburuan Assyifa.

KronologiSunting

Pada Senin 3 Maret 2014, Ade Sara berpamitan dengan orangtuanya untuk menginap di rumah temannya. Pada 4 Maret pukul 21.00, Ade Sara berniat untuk pergi mengikuti kursus Bahasa Jerman di Goethe Institut. Saat sedang menunggu kereta di stasiun Godangdia, Menteng, Assyifa menghampiri Ade Sara dan mengajaknya masuk ke mobil Kia Visto milik Hafitd. Ade Sara sempat mengabari teman lesnya.[3]

Di dalam mobil, Hafitd dan Assyifa sempat berpura-pura bertengkar hingga menangis untuk meyakinkan Ade Sara. Kemudian, keduanya ini menyiksa Ade Sara mulai dari dijambak, dipukul, dicekik, ditelanjangi, dan disetrum hingga pingsan. Ade Sara sempat melawan namun kalah tenaga. Dalam keadaan pingsan, Assyifa menyumpal mulut Ade Sara dengan kertas koran. Potongan kertas koran menyumbat tenggorokannya hingga ia tewas akibat kehabisan nafas.

Selama penyiksaan hingga proses membuang jasad, mereka berputar-putar di daerah Gondangdia, Menteng, Cempaka Putih, Cawang Taman Mini, dan kembali ke Rawamangun.[4] Mobil tersebut sempat mogok beberapa kali.[5] Pukul 00.30 WIB 4 Maret 2014, mobil pertama kali mogok di dekat apartemen ITC Kemayoran. Hafitd meminta tolong kepada sopir taksi untuk mengisi ulang aki mobilnya, tetapi baru 200 meter mobil tersebut mogok lagi. Hafitd meminta tolong orang lain untuk mengisi ulang lagi mobilnya, namun mogok lagi setelah berjalan sebentar.

Hafitd kemudian menelepon temannya untuk membawakan aki mobil. Teman Hafitd itu sempat melihat dan menanyakan jasad Ade Sara. Hafitd menjawab bahwa itu adalah jasad, yang dikira candaan oleh temannya. Pada pukul 11.00 WIB, mobil tersebut hidup lagi.

Pada pukul 17.30, mereka menemukan bengkel di daerah Salemba. Jasad Ade Sara masih berada di jok belakang mobil ditutupi dengan pashmina. Kemudian, keduanya kembali berputar mencari lokasi untuk membuang jasad Ade Sara.

Pada pukul 04.00 WIB, Hafitd dan Syifa membuang jasad Ade Sara di ruas JORR Tol Bintara KM 41, Bekasi Timur. Jasad Ade Sara ditemukan oleh petugas derek jalan tol bernama Didin Hermansyah pada pukul 05.00 WIB.[6]

PenyelidikanSunting

Jasad Ade Sara berhasil diidentifikasi melalui gelang Java Jazz, sidik jari dan E-KTP yang ditemukan di dekat TKP. Berdasarkan hasil otopsi, Ade Sara tewas karena kehabisan nafas akibat potongan kertas koran di tenggorokannya. Sejumlah luka lebam ditemukan di beberapa bagian tubuhnya.[7]

Jasad Ade Sara dimakamkan pada 7 Maret 2014. Selama pemberitaan meninggalnya Ade Sara, Hafitd dan Syifa berpura-pura kaget dan menyampaikan belangsungkawa melalui media sosial, yang kini telah dihapus. Hafitd diamankan saat sedang melayat Ade Sara di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Sementara Assyifa ditahan saat sedang mengikuti kegiatan belajar di Kalbis Institute.[8]

PeradilanSunting

Motif Hafitd menghabisi Ade Sara adalah karena kesal dengan Ade Sara yang tidak mau diajak berkomunikasi setelah mereka putus. Sementara itu, motif Assyifa takut bila Hafitd kembali dengan Ade Sara. Keduanya akhirnya putus selama masa persidangan.

Hafitd dan Assyifa dikenakan pasal 340 KUHP atas pembunuhan berencana. Dalam sidang pada 9 Desember 2014, keduanya divonis kurungan penjara 20 tahun.[9]

Pada 9 Juli 2015, vonis tersebut dinaikkan menjadi penjara seumur hidup setelah Mahakamah Agung mengabulkan permohonan kasasi dari jaksa. Vonis ini membuat kedua pelaku menjadi salah satu tersangka termuda dengan vonis pidana seumur hidup.[10]

RujukanSunting

  1. ^ "Sara, Hafid, Assyifa Teman Satu Angkatan di SMA 36". Okezone.com. 7 Maret 2014. Diakses tanggal 2018-07-28. 
  2. ^ "Hafitd, Satu-satunya Mantan Pacar yang Dikeluhkan Ade Sara". Kompas.com. 7 Maret 2014. Diakses tanggal 2018-07-28. 
  3. ^ "Kronologi Pembunuhan Ade Sara oleh Sepasang Kekasih". Tribunnews.com. [7 Maret]] 2014. Diakses tanggal 2018-07-28. 
  4. ^ "Polisi beberkan kronologi detail pembunuhan Ade Sara". Merdeka.com. [14 Maret]] 2014. Diakses tanggal 2018-07-28. 
  5. ^ "Sebelum Buang Jasad Ade, Mobil Hafitd Mogok Berkali-kali". Tribunnews.com. 7 Maret 2014. Diakses tanggal 2018-07-28. 
  6. ^ "Petugas Derek Mobil Tol Awalnya Mengira Jasad Ade Sara Sebuah Boneka". Kompas.com. 30 September 2014. Diakses tanggal 2018-07-28. 
  7. ^ "Cara Polisi Mengungkap Pembunuhan Sadis Sara oleh Sejoli Hafitd-Sifa". Detik.com. 07 Maret 2014. Diakses tanggal 2018-07-28. 
  8. ^ "Angelina Dibunuh di Dalam Mobil Lalu Jenazahnya Dibuang di Tol Bintara". Tribunnews.com. 6 Desember 2014. Diakses tanggal 2018-07-28. 
  9. ^ "Vonis untuk Sejoli Pembunuh Ade Sara". Liputan 6. 10 Desember 2014. Diakses tanggal 2018-07-28. 
  10. ^ "Pembunuh Ade Sara Jadi Pasangan Termuda yang Dihukum Penjara Seumur Hidup". Detik.com. 26 Oktober 2015. Diakses tanggal 2018-07-28.