Pelauw, Pulau Haruku, Maluku Tengah

negeri di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku

Pelauw adalah sebuah negeri yang berada di pesisir utara Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.[1]

Pelauw
Matasiri Amalatu
Negara Indonesia
ProvinsiMaluku
KabupatenMaluku Tengah
KecamatanPulau Haruku
Luas-
Jumlah penduduk-
Kepadatan-

Sejarah

sunting

Negeri Pelauw adalah satu di antara lima negeri Uli Hatuhaha (Amarima Hatuhaha) di Haruku yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tiga negeri lain yang juga memeluk agama Islam yaitu Kailolo, Rohomoni, dan Kabauw. Persekutuan Uli Hatuhaha mengambil nama dari sebuah kerajaan Islam setempat yaitu Kerajaan Hatuhaha yang pada masa awal penjajahan sangat menentang kolonialisme yang dilakukan oleh Portugis dan Belanda. Selain itu, terdapat satu negeri Uli Hatuhaha yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, yaitu Hulaliu.

Hubungan Sosial

sunting

Pelauw berbatasan langsung dengan hampir seluruh negeri di Pulau Haruku. Negeri-negeri tetangga meliputi Kailolo, Kabauw, Rohomoni, Hulaliu, Oma, Wassu, Aboru, dan Kariu. Empat negeri yang disebutkan pertama bersama dengan Pelauw pada masa lalu membentuk sebuah federasi adat (uli) yang bernama Uli Hatuhaha atau Hatuhaha Amarima yang berkedudukan di sebelah utara Pulau Haruku. Kariu yang posisinya diapit oleh Negeri Pelauw di barat dan Dusun Ori yang merupakan bagian pertuanan Pelauw di sisi timur adalah pengecualian. Kariu tidak terikat hubungan apa pun dengan Uli Hatuhaha dan masyarakat Hatuhaha menganggap mereka sebagai pihak yang secara ilegal menyerobot dan menduduki tanah adat mereka. Dengan Kariu pula Pelauw dan dusun-dusun di pertuanannya terlibat konflik dengan dimensi SARA karena kedua negeri berbeda agama. Walaupun demikian, kedua belah pihak umumnya menyebut bahwa konflik mereka adalah konflik agraria yang fokus utamanya adalah perebutan tanah dan ulayat. Konflik berskala besar teranyar antara Pelauw dengan Kariu terjadi pada 25–27 Januari 2022, yang menewaskan 3 warga Pelauw dan menghancurkan ratusan rumah di Kariu. Masyarakat Kariu yang kalah jumlah tidak dapat mempertahankan negeri, sehingga harus mengungsi melalui hutan-hutan di pedalaman Haruku untuk mencapai Negeri Wassu, Aboru, atau Hulaliu.

Pelauw terikat pela dengan Negeri Oma. Kedua negeri ini adalah pemimpin uli masing-masing. Pelauw memimpin Uli Hatuhaha, sementara Oma dahulu memimpin Uli Buangbesi. Keterlibatan kapitan-kapitan Oma dalam Perang Alaka menjadi dasar hubungan pela tumpah darah atau pela perang antara kedua negeri. Sebenarnya, Oma mengangkat pela dengan Uli Hatuhaha, sehingga Kailolo, Hulaliu, Kabauw, dan Rohomoni juga berpela dengan Oma. Namun, di antara kelimanya, hanya Pelauw yang memegang teguh ikatan pela tersebut.

Gandong

sunting

Hubungan gandong diikat dengan Negeri Titawaai (Lesinusa Amalatu) di Pulau Nusalaut. Dalam hubungan ini, Pelauw atau Matasiri berkedudukan sebagai kakak gandong dan Titawaai atau Lesinusa sebagai adik gandong. Nenek moyang fam/matarumah Tuasikal di Pelauw dan Hehanussa di Titawaai dikisahkan berasal dari Sungai Tala di Pulau Seram dan hanyut menggunakan rakit atau gosepa hingga ke Pulau Haruku yang dikenal sebagai Nusa Barakate (Pulau yang diberkati). Tepat pada pesisir utara yang nanti menjadi wilayah Pelauw, moyang Tuasikal memberikah perintah (tita) agar Hehanussa berjalan di atas air (waai) ke Pulau Nusalaut. Perintah tersebut kemudian menjadi inspirasi nama Negeri Titawaai.

Pada masa lalu, hingga tahun 1980an, saat musim panen cengkih tiba dan hasil panen di Pelauw kurang memuaskan, mereka akan mengunjungi Titawaai untuk maano cengkih. Sebaliknya, saat cengkih Titawaai kurang menghasilkan, mereka akan pergi maano ke Pelauw.[2]

Referensi

sunting
  1. ^ Richard Chauvel (2008). Nationalists, Soldiers and Separatists: The Ambonese Islands from Colonialism to Revolt, 1880-1950 (edisi ke-cetak ulang, direvisi). BRILL. hlm. 89, 165-168. ISBN 90-04-25395-5, 9789004253957. 
  2. ^ Izak Lattu (20 Februari 2020). "Tradisi sebagai Perekat Relasi Muslim-Kristen di Maluku". Nusantara Institute. Yayasan Nusantara Kita. Diakses tanggal 17 Juni 2024.