Hidayatullah II dari Banjar

(Dialihkan dari Pangeran Hidayatullah)

Sultan Hidayatullah II, terlahir dengan nama Gusti Andarun, dengan gelar mangkubumi Pangeran Hidayatullah kemudian bergelar Sultan Hidayatullah Halil Illah (lahir di Martapura, 1822 – meninggal di Cianjur, Jawa Barat, 24 November 1904 pada umur 82 tahun), adalah pemimpin Kesultanan Banjar yang memerintah antara tahun 1859 sampai 1862.[2][6] Ia dikenal sebagai salah seorang tokoh pemimpin Perang Banjar melawan pemerintahan Hindia Belanda.[7][8][9]

Hidayatullah II
Sultan Hidajat-Oellah Halil-Illah (ejaan Belanda)
Lukisan Sultan Hidayatullah II di Museum Lambung Mangkurat
Sultan Banjar XV
BerkuasaSeptember 1859 – 2 Maret 1862
PenobatanSeptember 1859 di Banua Lima
PendahuluTamjidullah II
PenerusPanembahan Amiruddin
Mangkubumi Banjar
Berkuasa9 Oktober 1856 – 5 Februari 1860
Penobatan9 Oktober 1856
Informasi pribadi
KelahiranGusti Andarun
1822
Martapura, Kesultanan Banjar
Kematian24 November 1904(1904-11-24) (umur 81–82)
Cianjur, Karesidenan Parahyangan, Hindia Belanda
Pemakaman
Sawah Gede, Cianjur
WangsaWangsa Banjar
Nama takhta
Tuan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Hidayatullah Halil illah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman[1]
AyahSultan Muda Abdur Rahman
IbuRatu Siti Mariama binti Nyai Intan binti Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari)[2][3]/Nyai Intan adalah istri Goesti Koesin Pangeran Husin bergelar Pangeran Mangkoe Boemi Nata
Pasangan
1 ♀ Permaisuri Ratu Mas Bandara

2 ♀ Ratu Mas Ratna Kediri

3 ♀ Ratu Siti Aer Mas (Goestie Sitie Ayer Maas) binti Pangeran Tahhmid bin Sultan Sulaiman dari Banjar

4 ♀ Nyai Arpiah

5 ♀ Nyai Rahamah

6 ♀ Nyai Umpay

7 ♀ Nyai Putih

8 ♀ Nyai Jamedah

9 ♀ Nyai Ampit

10 ♀ Nyai Semarang

11 ♀ Nyai Noerain

12 ♀ Nyai Ratoe Etjeuh Zuriat Wira Tanu I Raden Aria Wiratanu Datar atau Eyang Dalem Cikundul, Murid Sunan Gunung Jati[4][5]

Anak
1 ♂ Pangeran Sasra Kasuma/Sasra Kasuma anak Nyai Noerain lahir di Banjar

2 ♂ Pangeran Abdul Rahman anak dari Ratu Mas Ratna Kediri melahirkan Pangeran Abdul Majid

3 ♂ Gusti Muhammad Saleh anak dari Nyai Arpiah ia Menikahi Ratu Sari melahirkan Pangeran Abdul Manaf

4 ♀ Putri Bulan anak dari Ratu Siti Aer Mas menikahi ♂ Pangeran Amin bin SULTAN BANJAR ♂ Pangeran Ratu Sultan Tamjidillah II al-Watsiq Billah

5 Putri Bintang anak dari Ratu Mas Bandara menikahi ♂ Pangeran Abdul Karim bin SULTAN BANJAR Tamjidillah II melahirkan Pangeran sulaiman

6 ♀ Ratu Salamah anak dari Ratu Siti Aer Mas lahir di banjar Menikahi ♂ Pangeran Kesoema Indra bin Pangeran Kassir bin Sultan Sulaiman dari Banjar melahirkan ♂ Pangeran Mohhamad Hanafia

7 ♀ Ratu Saleha anak dari Nyai Rahamah lahir di banjar menikahi ♂ Pangeran Mohhamad Ali Bassa (Goesti Isa bin Goesti Sopie ) melahirkan ♀ Ratu Halimah

8 ♀ Ratu Sari Banun anak dari Nyai Rahamah (Gusti Serie Banun Menikahi Pangeran Muhammad Illah Wirakusuma III dari Banjar melahirkan ♂ Pangeran Abdullah berputra Pangeran Dawud

9 ♀ Ratu Ratna Wandari/Ratu Syarifah Rattena Wandarie Menikahi Pangeran Syarif Abu bakar melahirkan Pangeran Syarif abdulah,Pangeran Syarif abdurahman


Ratu Ratna Wandari/Ratu Syarifah Rattena Wandarie Menikahi pangeran Muhammad melahirkan pangeran Hanafi,Arif.

10 Pangeran Amarullah/Amrullah anak dari Nyai Ratoe Etjeuh Zuriat Wira Tanu I Raden Aria Wiratanu Datar atau Eyang Dalem Cikundul, Murid Sunan Gunung Jati melahirkan Ratu Kusuma Sari

11 Pangeran Muhammad Alibasah anak dari Nyai Ratoe Etjeuh Zuriat Wira Tanu I Raden Aria Wiratanu Datar atau Eyang Dalem Cikundul, Murid Sunan Gunung Jati

AgamaIslam Sunni

Terlahir sebagai anak dari Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam Al-Watsiq Billah, Gusti Andarun merupakan kandidat utama pewaris takhta Kesultanan Banjar untuk menggantikan kakeknya Sultan Adam, namun posisi tersebut malah diisi oleh kakak tirinya Tamjidullah II yang mendapat dukungan dari pemerintah Hindia Belanda.[10] Peristiwa ini menimbulkan perpecahan di lingkungan keluarga bangsawan Banjar dan masyarakat, dimana terdapat kubu pendukung Tamjidullah yang dekat dengan Belanda dan kubu pendukung Gusti Andarun yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah Hindia Belanda tersebut.[2] Untuk meredam ketegangan tersebut, di tahun 1856 pemerintah Hindia Belanda lalu mengangkat Gusti Andarun sebagai mangkubumi (kepala pemerintahan) Banjar dengan gelar Pangeran Hidayatullah.[11][12]

Pengangkatan tersebut ternyata tidak bisa meredakan ketegangan antara keluarga bangsawan, masyarakat, dan pemerintah Hindia Belanda. Ketegangan ini pun menjadi pemicu dimulainya Perang Banjar, dimana pada 18 April 1859, pasukan Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara Oranje-Nassau di Pengaron.[13][14] Pemerintah kolonial lalu memakzulkan Tamjidullah dan mencoba menobatkan Hidayatullah sebagai sultan, namun Hidayatullah menolak tawaran tersebut. Ia sendiri dinobatkan oleh para panglima Banjar menjadi sultan pada September 1859, dengan gelar Sultan Hidayatullah Halil Illah.[15][16]

Ia memimpin Perang Banjar sampai di tahun 1862, ketika ia dan keluarganya berhasil ditangkap oleh pihak Hindia Belanda.[17] Sultan Hidayatullah beserta keluarga dan sebagian pengikutnya lalu diasingkan ke Cianjur, dimana ia menghabiskan sisa hidupnya disana sampai ia wafat di tahun 1904.[18] Atas sikapnya yang anti-imperialis dan kepemimpinannya dalam melawan pemerintahan Hindia Belanda dalam Perang Banjar, di tahun 1999 pemerintah Republik Indonesia menganugerahkannya Bintang Mahaputera Utama.[19]

Kehidupan awal

sunting

Silsilah

sunting

Pangeran Hidayatullah terlahir dengan nama kelahiran Andarun. Anak-anak bangsawan Banjar yang baru lahir dan masih muda dipanggil Antung (= yang beruntung). Setelah beranjak dewasa akan dipanggil Gusti (= Tuan). Gusti Andarun lahir di Martapura di tahun 1822, dari pasangan Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam Al-Watsiq Billah dan Ratu Siti [Maryamah] binti Pangeran Mangkubumi Nata, yang juga bangsawan keraton Banjar (golongan tutus/purih raja). Nama kedua Gusti Andarun adalah Pangeran Hidayatullah. Nama Pangeran hanya boleh diberikan oleh Sultan, setelah pernikahan. Pangeran Hidayatullah mewarisi darah biru keraton Banjar (berdarah kasuma alias ningrat murni) dari kedua orangtuanya, dimana Pangeran Hidayatullah merupakan calon utama penerus kepepimpinan Kesultanan Banjar, sesuai dengan surat wasiat dari kakeknya Sultan Adam.[20] Di masa yang telah lampau terdapat seorang sultan Banjar yang bernama Hidayatullah. Untuk membedakan dengan sultan Hidayatullah yang pertama, maka Pangeran Hidayatullah Andarun ini oleh penulis sejarah Banjar disebut Pangeran Hidayatullah II. Pangeran Hidayatullah juga memiliki kekerabatan dengan keluarga ningrat Sumbawa, dimana bibi buyutnya yang bernama Putri Sarah/Laiya binti Sultan Tahmidullah I menikah dengan Dewa Masmawa Sultan Mahmud, sultan Sumbawa kesepuluh dan menurunkan sultan-sultan Sumbawa di generasi selanjutnya.[21][22]

Polemik suksesi Banjar

sunting

Sultan muda Abdurrahman awalnya merupakan putra mahkota Kesultanan Banjar, namun ia wafat lebih awal dari ayahnya Sultan Adam di tahun 1852.[23] Peristiwa ini menimbulkan polemik dalam keluarga ningrat Banjar mengenai siapa yang paling berhak menggantikan Sultan Adam. Terdapat tiga kandidat penerus takhta Banjar, yaitu Gusti Andarun, cucu Sultan Adam dari menantu permaisurinya Ratu Siti, Gusti Wayuri atau Tamjidullah II, cucu dari menantu selirnya Nyai Besar Aminah yang merupakan keturunan Dayak-Pacinan. Ia berusia lebih tua 5 tahun dari Gusti Andarun, dan Prabu Anom, anak Sultan Adam juga adik dari Abdurrahman, yang diusulkan oleh Nyai Ratu Kamala Sari, permaisuri dari Sultan Adam.[12][24]

Meski Gusti Andarun merupakan keturunan tutus atau ningrat murni, Tamjidullah lebih mendapat dukungan dari pemerintah Hindia Belanda sebagai penerus takhta Banjar dikarenakan kedekatannya dengan kalangan pejabat kolonial selama membantu Pangeran Mangkubumi Nata dalam menjalankan tugas-tugasnya.[24] Campur tangan Belanda dalam pengangkatan Sultan Banjar berawal dari status Kesultanan Banjar sendiri yang menjadi tanah perlindungan (protektorat) dari VOC-Belanda sejak 13 Agustus 1787 di masa pemerintahan sultan Nata Alam. Pemerintah Hindia Belanda lalu menetapkan Tamjidullah sebagai sultan muda baru pada 8 Agustus 1852.[11] Sultan Adam memprotes penetapan tersebut karena Tamjidullah bukan keturunan ningrat murni, namun utusan yang dikirim untuk menyampaikan protesnya tersebut tidak diterima secara resmi oleh pusat pemerintahan Hindia Belanda di Batavia. Sultan Adam pun lalu menulis surat wasiat yang menyatakan bahwa Gusti Andarun merupakan pewaris takhta Banjar yang sah dan menginginkan rakyat Banjar untuk mengangkatnya sebagai Sultan.[25]

Pada 30 April 1856, setelah mendapatkan tekanan dari pihak Hindia Belanda, Sultan Adam menyetujui pemberian konsesi tambang batu bara kepada pemerintah kolonial. Gusti Andarun sebenarnya sudah memahami bahaya yang dapat ditimbulkan dari pemberian konsesi ini, namun ia terpaksa ikut menyetujuinya karena pasukan Belanda sudah ditempatkan di berbagai pusat tambang tersebut.[26]

Diangkat sebagai mangkubumi

sunting

Untuk memulihkan keadaan di Banjar yang tidak kondusif karena diangkatnya Tamjidullah sebagai sultan muda, pemerintah Hindia Belanda mengangkat Gusti Andarun sebagai mangkubumi yang mengatur pemerintahan dari Martapura dengan gelar Pangeran Hidayatullah pada tanggal 9 Oktober 1856.[27] Pengangkatan Hidayatullah sebagai mangkubumi tertuang dalam Akte Van Beeediging Van Den Rijksbestierder Van Bandjarmasin, Pangeran Hidajat Oellah op 9 October 1856. (Besluit 4 Januari 1857 No. 41) Borneo, tertulis dalam bahasa Melayu di bawah:[28]

Besluit 4 Januari 1857 No. 41

Hadjrat Annabi Salallahu alaihi wassallam seribu dua ratus tudjuh puluh tiga pada kesembilan hari bulan Sjafar kepada hari Chamis djam pukul sepuluh pagi2.

Mendjadi hadjrat Almasih kesembilan hari bulan Oktober hari Chamis tahun seribu delapan ratus lima puluh enam, maka dewasa itulah sahaja Pangiran Hidajat Allah jang dengan permintaan Sri Paduka Tuan Sultan Adam Alwasikh Billah jang mempunjai tahta keradjaan Bandjarmasin beserta mupakatan dengan Sri Paduka Tuan van de Graaff residen Bandjarmasin jang memegang kuasa atas segala tanah sebelah Selatan dan Timur pulau Kalimantan sudah terima oleh Sri Paduka Jang Dipertuan Besar Gurnadur Djenderal dari tanah Hindia Nederland jang bersemajam di Betawi.

Mendjadi mangkubumi dikeradjaan Bandjarmasin bepersembahan suatu surat persumpahan ini kechadirat geburmin Hindia Nederland pada menjatakan ha mim Allah wal Rasul.

Pertama : bahwa dengan sesungguhnja sahaja berdjandji hendak maangkat pekerdjaan mangkubumi itu dengan hati jang tulus dan ichlas serta senantiasa hendak bepertolongan didalam maksud dan kehendak geburmin Hindia Nederland.

Kedua : bahwa sahaja berdjandji akan mengikuti dan mendengar sekalian titah dan perintah Sri Paduka Tuan Residen dari tanah Selatan dan timur pulau Kalimantan jang mendjadi wakil mutlaq geburnemin dipulau ini dan perintah Sri Paduka Tuan Sultan Bandjarmasin.

Ketiga : bahwa sahaja berdjandji hendak memelihara kari tulus dan ichlas antara geburnemin Hindia Nederland dengan Sri Paduka Tuan Sultan Bandjarmasin senantiasa djuga adanja.

Keempat : bahwa sahaja berdjandji hendak mendjalankan hukum jang adil dan berbuat sekalian jang mendjadikan selamat dan sentosanja Sri Paduka Tuan Sultan Bandjarmasin.

Kelima : bahwa sahaja berdjandji hendak mendjalankan sekalian aturan dan perintahan menurut seperti jang tersebut didalam kontrak jang telah diperbuat antara geburnemin Hindia Nederland dengan Sri Paduka Tuan Sultan Bandjarmasin serta mendjaga orang melanggar itu.

Kaenam : bahwa sahaja berdjandji dengan sebolih-bolihnja djua hendak mengerdjakan atas segala hal jang mendjadikan kebaikan dan sentosa keradjaan Bandjarmasin.

Ketudjuh : bahwa sahaja berdjandji tiada hendak berbuat keberatan dan kesusahan pada orang2 negeri hanja akan membuat aturan jang baik supaja segala orang didalam daerah Sri Paduka Tuan Sultan dihukumkan dengan hukum jang adil.

Kedelapan : maka sahaja mengaku lagi jang sahaja tiada sudah memberi sesuatu apa2 pembarian dan tiada sudah akan memberi apa2 kepada orang2 baik siapa2 jang oleh karena itu sahaja akan mendapat pekerdjaan mangkubumi ini. Maka demikian tersurat tiga kali sama bunjinja pada hadjemat jang tersebut diatas ini serta dibubuh tjap dengan tapak tangan sahaja sendiri dihadapan Sri Paduka Tuan Residen jang tersebut diatas ini dan dihadapan Sri Paduka Tuan Sultan Adam Alwasikh Billah dan Paduka Tuan Sultan Muda Tamdjid Illah serta sekalian radja2 dan menteri2 ditempat Sri Paduka Tuan Residen Bandjarmasin adanja.

Tjap : Sultan muda Tamdjid Illah.
Warna hidjau dalam lingkaran huruf Latin ditengah dengan huruf Arab.

Zegel : Sultan Adam.

Zegel : Zuid an Oost kust van Borneo
Ie main tiendrai.
ttd. van de Graaff.

Zegel ditulis dengan huruf Arab. Pangeran Hidajat Allah. Zegel warna merah.

Setelah Sultan Adam wafat pada November 1857, pemerintah Hindia Belanda menobatkan Tamjidullah II sebagai sultan Banjar yang baru dan Banjarmasin dipilih sebagai pusat pemerintahannya,[25] dimana penobatan ini ditentang oleh rakyat Banjar. Sehari setelah penobatannya, ia menandatangani surat yang menyetujui pengasingan Belanda atas pamannya Prabu Anom ke Jawa.[24] Prabu Anom berhasil ditangkap di awal tahun 1858 dan akhirnya ia diasingkan ke Kota Bandung pada tanggal 23 Februari 1858.[29] Peristiwa pengasingan ini membuat geram Gusti Andarun dan bangsawan lainnya, serta mengakibatkan keadaan keraton Banjar tegang dan tidak kondusif. Muncul gerakan perlawanan terhadap kepemimpinan Tamjidullah yang dimulai oleh tokoh karismatik bernama Aling atau Panembahan Muning, dimana pengikut gerakan ini semakin bertambah banyak karena banyak rakyat yang tidak puas terhadap kepemimpinan Tamjidullah.[30]

Perang Banjar dimulai

sunting

Langkah Hidayatullah untuk menggantikan Sultan Adam sebagai sultan menjadi lebih terbuka pada pada Februari 1859, ketika Nyai Ratu Kamala Sari beserta puteri-puterinya menyerahkan surat kepada Pangeran Hidayat, bahwa kesultanan Banjar diwariskan kepadanya, sesuai dengan surat wasiat Sultan Adam. Sultan Adam juga mewariskan Keris Abu Gagang sebagai salah-satu regalia Banjar untuk mendukung keabsahan Hidayatullah sebagai penerus takhta Banjar.[25] Hidayatullah lalu mulai menghimpun kekuatan untuk bersiap melakukan serangan terhadap daerah-daerah yang dikuasai pemerintah kolonial seperti tambang batu bara. Pada 18 April 1859 terjadi penyerangan terhadap tambang batu bara Oranje-Nassau milik Hindia Belanda di Pengaron, yang dipimpin oleh Pangeran Antasari, Pembekal Ali Akbar, dan Mantri Temeng Yuda Panakawan atas persetujuan Hidayatulah.[13] Penyerangan ini menandai dimulainya Perang Banjar yang akan berlangsung sampai tahun 1906.[31] Setelah serangan yang dilancarkan terhadap tambang Oranje-Nassau, Hidayatullah lalu menggunakan taktik gerilya untuk menghadapi Belanda yang memiliki persenjataan yang lebih canggih. Di bawah kepemimpinan Antasari, pasukan Banjar mampu menguasai seluruh Martapura pada Mei 1859.[14] Sementara Hidayatullah sendiri memilih Karang Intan sebagai basis pertahanannya dalam menghadapi pasukan Belanda.[14]

Pada 25 Juni 1859, Hindia Belanda melalui komando Kolonel A. J. Andresen memakzulkan Tamjidullah sebagai Sultan Banjar karena dianggap tidak bisa mengendalikan keadaan di Banjar. Belanda menilai penyerbuan tambang batubara yang dilakukan rakyat Banjar berkaitan dengan polemik suksesi Kesultanan Banjar. Pemerintah kolonial ingin menempatkan Hidayatullah sebagai sultan Banjar karena Hidayatulllah dinilai sebagai tokoh penting dalam penyerbuan ke tambang Pengaron. Hidayatullah harus bisa dijinakkan oleh Belanda melalui cara menempatkannya sebagai sultan sesuai dengan surat wasiat Sultan Adam. Namun rencana pengangkatan oleh Belanda ini ditolak mentah-mentah oleh Hidayatullah dan seluruh bangsawan maupun rakyat Banjar, karena Belanda dianggap sudah terlalu banyak mencampuri urusan keluarga kesultanan, juga adanya kecurigaan bahwa pemerintah kolonial berencana untuk menangkap Hidayatullah jika ia memenuhi panggilan dari kolonel Andersen untuk datang ke Banjarmasin.[16][24]

Hidayatullah sebagai Sultan Banjar

sunting

Selanjutnya Pangeran Hidayat mengadakan rapat-rapat untuk menyusun kekuatan dan pada bulan September 1859, Pangeran Hidayatullah II dinobatkan oleh para panglima perang sebagai Sultan Banjar dan sebagai mangkubumi adalah Pangeran Wirakasuma, putera Pangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman dengan Nyai Alimah. Penobatan Hidayatullah ini menjadikan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin rakyat Banjar antara tahun 1859 sampai 1862[32]

Pada 5 Februari 1860 Belanda mengumumkan bahwa jabatan Mangkubumi Pangeran Hidayat dihapuskan.[33] Selanjutnya pada tanggal 11 Juni 1860, Residen F. N. Nieuwenhuijzen secara sepihak mengumumkan penghapusan Kesultanan Banjar, melalui surat berpernyataan di bawah:

Surat Bepernyatan dari Residen Surakarta, Komisaris Gubernemen untuk Afdeeling Selatan dan Timur Borneo, Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen[28]

PROCLAMATIE.

SURAT BEPERNJATAAN.

Daripada kita Sri Paduka Tuan Rasidin Surakarta Komisaris Gubernemen Hindia Nederland ditanah sebelah selatan dan timur pulau Kalimantan kepada sekalian radja2 mantri2 pambakal2 mukti2 penghulu2 hadji2 dan segala rakjat dari keradjaan Bandjermasin jang sudah dilalukan.

Maka pada penghabisan hari daripada bulan April tahun jang lalu adalah berdurhaka membuat rusuh didalam keradjaan Bandjermasin jang dahulu serta kemawannja siapa jang sudah ma-ada-akan dan jang sudah turut didalam itu karusuhan mesri dekatkan jang dia terada maatur dangan tentu tetapi sipatannja jang utama jaitu perintahan Sri Paduka Baginda Maharadja Nederlan didalam ini bahgian tanah Kalimantan dan menghendaki umur dan barang2nja dari berapa banjak hambanja jang sudah berdamai dan jang tinggal dangan diam2 sadja dan jang memberi kehasilan dan kauntungan kepada itu keradjaan dangan mendjadikan usaha2. Maka perbuatan bunuh jang kidji oleh karena dilakukan dangan tipu dan menhianat disertakan dangan dhalim sudah dilakukan kepada itu hamba2 Sri Paduka Baginda Maharadja Nederlan jaitu dilakukan oleh dan dangan perintah orang2 jang djahat dan jang durhaka jang mengerdjakan itu perbuatan dangan pura2 berkelahi dari sebab igama jaitu pura2 perang sabil. Tetapi sebetulnja malanggar aturan igama jang begitu tentu dan terang bunjinja dan dangan menjampaikan kainginan dan mentjari kehormatan dirinja sudah merusakkan kesenangan dan kesentosaan dari satu negeri.

Maka sekalian hal ichwal itu mendjadikan gupernemen Hindia Nederlan jang senantiasa sabar didalam hal orang jang sesat ingatan tetapi jang selamanja biasa menundjukkan kekerasannja jang tiada boleh ditegahkan dimana orang mendjatuhkan tangannja jang salah kepada haknja dan kepada kesentosaannja hamba rakjatnja.

Ma-angkat sendjata akan mengerdjakan dan mahukumkan orang2 mana jang sutalalu salah kepadanja.

Maka apa jang sudah djadi jaitu angkau semuanja sudah tahu. Pada segala tempat jaitu kebetulan sudah menang atas kesalahan dan dia orang mana jang sudah ma-ada-akan pikiran membuat rusuh dan jang turut djadi kepalanja berandal sekarang ini mengambara didalam hutan dan rimba seperti rusa jang diburu dan orang ketjil jang kena tjilaka tipu daja oleh karena itu orang2 djahat punja tipu daja dan perkataan dusta mulanja terikut sama itu orang2 djahat sekarang ini dangan bentjana berpaling dari dia orang. Maka sementalah itu dilakukanlah langkah jang pertama sehingga beroleh kedjadian jang sudah meninggalkan tahta keradjaan Bandjarmasin.

Maka sasudahnja itu ditimbanglah baik2 apa itu tahta keradjaan akan dikasih lagi kepada satu radja Melaju dan djikalau boleh dikasih sama siapa akan dikasihkan. Tetapi kasihan2nja timbangan itu jaitu didalam jang Gupernemen Hindia Nederlan tiada suka akan menambahi daerah tanah pigangannja jang sudah begitu luas adalah kemustian kepadanja akan memasukkan kedalam pigangannja sekalijan tanah jang masuk bilangan keradjaan Bandjarmasin. Sebab tiadalah boleh diharap jang dangan djalan jang lain itu keradjaan jang sudah beberapa tahun lamanja ada didalam kasakitan dan jang banjak tersangsara oleh karena rusuh nanti akan boleh dibetulkan kembali dangan pemeliharaan kasentosaan dan aturan sehingga ada ketentuan dan ada tanggungan jang hari kemudian akan sedjahteranja dan tiada berbahaja lagi. Maka dari sebab itulah Sri Paduka Jang Dipertuan Basar Gupernur Djenderal dari tanah Hindia Nederlan sudah menentukan sebagaimana sudah diberi tahu kepada sekalian orang pada surat bepernjataan kita dari hari ini jaitu jang keradjaan Bandjarmasin pada sekarang ini djuga dan selama2nja tiada akan dipindjamkan dan diberi pegang lagi kepada satu radja Melaju dan oleh karena itu dangan menanti penerimaan Sri Paduka Jang Dipertuan Besar Gupernur Djenderal dari tanah Hindia Nederlan kita sabdakan jang keradjaan Bandjarmasin jang diperintahkan sendirinja sekarang ini diberhentikan keadaannja itu dan sekalian tanah jang mana mendjadi itu keradjaan jang sudah dilalukan daripada sekarang ini djuga akan masuk bilangan tanah jang diperintah oleh Gubernemen Hindia Nederlan didalam bahagian sebelah selatan dan timur pulau Kalimantan dangan memberhentikan kakuasaannja dan perintahnja komisi jang sudah diberi pegang keradjaan Bandjarmasin sasudahnja Sri Paduka Tuan Sulthan Tamdjid Illah dangan kasukaannja sudah turun dari tahta keradjaan Bandjarmasin pada perkara dua dari surat bepernjataan dari Sri Paduka tuan kolonil adjudan daripada Sri Paduka Baginda Maharadja Nederlan didalam pekerdjaan jang utama serta komisaris Gubernemen dan kepala dari tentara peperangan didalam bahagian tanah sebelah selatan dan timur pulau Kalimantan daripada tanggal dua puluh hari bulan Juni tahun seribu dalapan ratus lima puluh sembilan.

Maka daripada sasa’at ini djuga berhentilah sekalian orang daripada kaharusan dan kamustian menurut parintahan taturunan radja2 jang sudah memegang keradjaan Bandjarmasin hanja akan harus mengebakti dan musti menurut perintahan punggawa2 orang kulit putih dan punggawa2 Melaju jang kita sudah tentukan memerintah angkau dan perintahan kepala2 kampung ditempat kediamanmu. Adapun itu kepala2 kampung kita tetapkan didalam kaadaannja sekarang ini. Maka perbuatan dan sipatan pemerintahan baru jang ditaruh kaatasmu jaitu akan menambahi keselamatanmu dan akan mengeraskan kebetulan dan aturan dan kesentosaan.

Maka dangan karena itulah satu padjar jang baru sudah terbit bagimu dan kita berani harap jang angkau dangan menhormati kepada siapa jang kita tentukan memerintah kepadamu didalam mendjadi kauntungan kepada dirimu sendiri akan melandjur-akan dan mendjadikan itu pengharapan kita daripada itu padjar serta jang gupernemen tiada akan dimustikan lagi akan memberi rasa tangannja jang menghadjar dan mehukum kepadamu.

Maka igamamu akan senantiasa dihormati tetapi didalam itu angkau patut mahormati djua orang lain punja igama. Maka barangsiapa jang tiada menurut seperti ini dan mengatakan jang oleh sebab mengeraskan igama ma-ada-akan kagemparan atawa ma-ada-akan kasusahan jang lain jaitu dangan tiada boleh tiada hanja dangan kekerasan jang tiada tepermanai nanti akan dihukumkan dangan hukuman jang paling tjela sekali. Maka kehendak Sri Paduka Baginda Maharadja jang tertentu sekali jang satu2 hamba rakjat Sri Paduka Baginda Maharadja akan diberikan didalam igama jang diturutnja dan sekali2 tiada boleh diganggu diketjualikan pemeliharaan dari mata sahabat dan orang2nja daripada melanggar aturan jang sedjati atas kebetulan hukum. Maka demikian itulah harus angkau membawa kelakuanmu karena kehendak radja jang tiada menghendaki dan menjipat lain daripada kasentosaannja dan kauntungannja dari sekalian orang tiada satu orang jang boleh tiada membilang apalagi melanggar. Maka sekalian charadjat seperti uang kepala dan bea dan apa djuga namanja jang tempo keradjaan Bandjarmasin sudah kebiasaan orang membajar jaitu pada setempo ini akan ditetapkan seperti dahulu djuga.

Tetapi sementalah itu kita akan ma-ichtiar-akan sehingga itu charadjat mana2 jang pada timbangan kita mahalangi atas kasentosaanmu diberhentikan dan diganti dangan lain jaitu jang lebih rata beratnja.

Maka sebelumnja kita akan sedia dangan aturan itu jaitu dari pasal pekerdjaan jang musti diangkat oleh orang2 negeri mengganti pekerdjaan jang sebagaimana kaadatan dahulunja dari pasal ini. Kita tentukan jang orang2 negeri harus bekerdja dangan tiada mendapat bajaran sekalian pekerdjaan jang tersebut dibawah ini jaitu :

Bekerdja didalam kampung2nja jang ditundjukkan oleh siapa jang memegang jaitu jang djadi kepala kampung,
Mendjaga didalam rumah2 djaga jang didirikan ditempat jang diperintahkan oleh kepala negeri mendjaga dan membawa orang tutupan atawa tawanan,
Membikin dan memelihara djalanan dan djembatan2 dan rumah djaga dan pasanggrahan pakai punggawa2 dan tentara peperangan jang berdjalan,

Maka pekerdjaan jang dapat bajaran jaitu :

Membawa orang2 jang berdjalanan dan membawa barang2 bekerdja mendjadi kuli mengerdja rumah dan lain2 pekerdjaan guperneman.

Maka radja2 jang ada mendapat kurniaan kahasilan tanah daripada jang ganti berganti mendjadi radja dari keradjaan Bandjarmasin jang sudah dilalukan jaitu ia ditetapkan boleh memungut itu hasil dangan bernanti karidha'annja Sri Paduka Jang Dipertuan Besar Gupernur Djenderal dari tanah Hindia Nederlan tetapi jang tiada boleh dapat apa2 jaitu mana2 jang sudah turut tjampur didalam rusuh dan oleh sebab itu sudah hilang haknja atas kemurahan gupernemen. Maka ditentukan lagi jang adalah harus kepada gupernemen djikalau dikehendaki olehnja akan memberhentikan itu radja2 maambil kahasilannja itu tanah2 dangan memberi kepadanja gantian karugian dangan uang satimbang dangan itu kahasilan adanja. Termaktub dinegeri Bandjarmasin kepada hari bulan Djuni 1860.

DE RESIDENT VAN SOERACARTA, GOUVERNEMENTS COMMISSARIS IN DE Z. & O. AFDEELING VAN BORNEO,

F. N. NIEU WENHUIJZEN

Pada 10 Desember 1860, Sultan Hidayatullah melantik Gamar dengan gelar Tumenggung Cakra Yuda sebagai panglima perang Sabil terhadap Belanda, sementara Tagab Wajir dilantik menjadi Kiai Singapati.[34] Ia juga menjadikan Gunung Pamaton sebagai basis pertahanannya. Rakyat di Gunung Pamaton menyambut kedatangannya dan mulai membuat benteng pertahanan sebagai usaha menghalau tentara Belanda yang akan menangkapnya. Di bulan Juni 1861, Sultan Hidayatullah berunding dengan para Mufti di daerah Martapura. Perundingan pertama diadakan di Kalampayan dan yang kedua di kampung Dalam Pagar. Dalam perundingan itu disepakati rencana untuk melakukan serangan umum terhadap kota Martapura.[35] Serangan umum ini direncanakan untuk dilakukan di tanggal 20 Juni 1861, namun rencana itu bocor ke pihak Belanda. Untuk menghadapi serangan umum pasukan Banjar terhadap Martapura, Asisten Residen Mayor Koch yang juga merangkap sebagai panglima daerah Martapura meminta bantuan kepada Residen Gustave Verspijck di Banjarmasin. Residen segera mengirimkan bantuan dengan mengirimkan kapal perang Van Os yang mengangkut meriam dan perlengkapan perang lainnya.[35]

Pertempuran Gunung Pamaton Pertama

sunting

Mayor Koch pun lalu melakukan penyerangan besar-besaran secara tiba-tiba ke benteng Gunung Pamaton tempat pertahanan Sultan Hidayatullah di tanggal 19 Juni 1861, mendahului rencana serangan umum terhadap Martapura oleh rakyat yang telah bocor ke pihak Belanda.[36] Rakyat seluruh daerah Martapura dan sekitarnya bangkit menahan serangan Belanda sehingga hampir di seluruh pelosok terjadi pertempuran. Pertempuran bahkan terjadi pula di daerah Kuala Tambangan di selatan. Di sekitar daerah Mataraman, panglima Pambakal Mail juga terlibat pertempuran menghadapi serdadu Belanda. Sementara itu di kampung Kiram, tidak jauh dari Gunung Pamaton dan daerah Banyu Irang, Pambakal Intal dan pasukan Tumenggung Gumar telah berhasil menghancurkan kekuatan Kopral Neyeelie.[19] Pasukan Belanda bukan saja menyerang benteng Gunung Pamaton yang belum berhasil dikuasainya, namun juga membakar rumah-rumah penduduk warga sipil, membinasakan kebun-kebun dan menangkapi penduduk, sehingga penjara Martapura penuh sesak.[37] Tumenggung Gamar yang lalu membawa pasukannya untuk memasuki kota Martapura ternyata tidak berhasil melakukan serangan, karena Belanda telah mempersiapkan pertahanan yang lebih kuat.[37]

Serangan Belanda di tanggal 19 Juni 1861 terhadap benteng Gunung Pamaton akhirnya berhasil digagalkan oleh rakyat Banjar yang memiliki persenjataan yang lebih sederhana. Dalam pertempuran di Gunung Pamaton, banyak sekali jatuh korban di kedua belah pihak. Letnan Ter Dwerde dan Kopral Grimm yang memimpin langsung serangan Belanda tewas terkena tombak dan tusukan keris di perutnya.[35] Sementara mayat-mayat pasukan Belanda yang terbunuh dihanyutkan di sungai Pasiraman, dimana Pambakal Intal dan pasukannya berhasil menguasai senjata para serdadu Belanda.[35] Benteng Gunung Pamaton saat itu dipertahankan oleh banyak pimpinan perang Banjar, selain Sultan Hidayatullah terdapat pula Demang Lehman, Tumenggung Gamar, Raksapati, Kiai Puspa Yuda Negara.[38] Terdapat juga panglima perempuan dalam pertempuran ini yaitu Kiai Cakrawati yang selalu menunggang kuda, dimana ia sebelumnya juga ikut mempertahankan benteng Gunung Madang.[35]

Pertempuran Gunung Pamaton Kedua

sunting

Di bulan Agustus 1861, Mayor Koch sekali lagi mengerahkan pasukannya untuk menyerbu Gunung Pamaton. Sebelum serangan dilakukan. Mayor Koch menghancurkan semua ladang, lumbung padi rakyat, hutan-hutan, dengan harapan menghancurkan persediaan bahan makanan, serta menghancurkan hutan-hutan yang berpotensi dapat dijadikan benteng pertahanan oleh rakyat Banjar.[12] Mayor Koch gagal dalam usahanya untuk menangkap Sultan Hidayatullah dan pimpinan perang lainnya, karena sebelumnya benteng ini telah ditinggalkan, karena Hidayatullah menggunakan siasat gerilya dalam usaha melawan Belanda yang memiliki persenjataan yang lebih unggul.[39] Namun ibu dari Sultan Hidayatullah, Ratu Siti, berhasil ditemukan oleh pasukan Hindia Belanda dan disandera di Martapura.[40]

Setelah ditipu dengan terlebih dahulu menyandera ibunya, Sultan Hidayatullah ditangkap oleh pihak Hindia Belanda pada 28 Januari 1862, dikarenakan adanya kabar bahwa ibunya akan dihukum gantung.[41] Hidayatullah menyerahkan diri karena ia mendengar kabar bahwa ada kemungkinan setelah ibunya dihukum gantung, jasadnya akan dimutilasi oleh pihak pemerintahan kolonial.[40] Lalu pada 2 Maret 1862 ia dibawa dari Martapura ke Banjarmasin, lalu menuju Batavia menggunakan kapal uap di tanggal 3 Maret 1862 dan akhirnya diasingkan ke Cianjur.[13][42] Tampuk kepemimpinan Kesultanan Banjar lalu diserahkan kepada Pangeran Antasari, yang dinobatkan pada 14 Maret 1862 dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.[43] Perang Banjar sendiri baru benar-benar berakhir di tahun 1906.[44]

Pengasingan

sunting

Setelah ditangkap secara licik oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Sultan Hidayatullah bersama dengan keluarga dan pengikutnya sejumlah 76 orang dibawa ke Batavia di tanggal 3 Maret 1862, lalu kemudian diasingkan ke Cianjur dimana ia menetap disana sampai akhir hayatnya.[45] Di tempat pengasingannya, ia menjadi seorang yang aktif dalam menyebarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat setempat.[40]

Catatan Jean M. C. E. Le Rutte mengenai perjalanan pengasingan Sultan Hidayatullah[46][47]

Di tanggal 3 Maret 1862 berangkat ke Jawa menaiki kapal uap perang Yang Mulia Bali, seorang penguasa yang sangat tidak bahagia dan tertipu, korban dari akal bulus dan tipu daya, yang selama 3 tahun telah menginjak-injak kekuasaan kita, dimana martabatnya dipertaruhkan melalui pertempuran-pertempuran yang sengit dan mengerikan, penguasa itu berasal dari Kesultanan Banjarmasin yang sekarang hancur lebur, yang dinobatkan sebagai Sultan oleh penduduk yang memberontak, yang telah dinyatakan oleh pemerintahan Hindia Belanda sebagai seorang penjahat dan kepalanya dihargai 1000 gulden, yang dipaksa untuk tunduk melalui keberanian, kebijakan, dan kegigihan dari angkatan darat dan laut, yang memiliki nama:

PANGERAN HIDAYATULLAH

putra kandung Sultan Muda Abdul Rachman, yang disertai oleh:

  1. Empat istri dan tiga anaknya yang masih kecil;
  2. Ratu Siti, ibunya;
  3. Pangeran Sasyra Kesuma, putra Pangeran Hidayat dengan dua istri dan tiga anak;
  4. Pangeran Wira Kesoema, saudara seayah Pangeran Hidayat;
  5. Nyai Taësah, janda kaya dari Mangkubumi Nata;
  6. Pangeran Syarif Abu Bakar bersama satu anak dan istrinya;
  7. Janda, Ratu Scheriff (Syarif) Kesuma;
  8. Pangeran Indra Kesuma bersama istrinya;
  9. Pangeran Alibasa bersama istrinya, dengan tambahan sekitar dua puluh pengikut laki-laki dan perempuan.

Untuk catatan, Letnan satu Johannes J. W. E. Verstege mengiringi perjalanan keluarga kesultanan di atas.

Pangeran Hidayat dijamin dengan pemasukan seumur hidup sejumlah 1000 gulden per bulan, kerabat lainnya juga menerima dukungan penuh kasih dari pemerintah Hindia Belanda.

Selama menetap di tempat pengasingannya di Cianjur, Sultan Hidayatullah bertempat tinggal di pemukiman yang dinamakan Kampung Banjar atau Gang Banjar, dimana pemukiman ini terletak di sekitar barak militer Hindia Belanda yang sekarang menjadi Makodim 0608, yang sekarang masuk dalam daerah Kel. Sayang, Kec. Cianjur.[40] Dari tempat ini Hidayatullah menjalankan peran sebagai pendakwah untuk masyarakat setempat, dimana masyarakat Cianjur menjulukinya "ulama berjubah kuning" dikarenakan pakaian kuning yang sering dikenakannya.[45][48] Selama pengasingannya, hanya residen Priangan, Christiaan van der Moore dan bupati Cianjur, Raden Prawiradireja II yang mengetahui identitas aslinya.[18] Di Cianjur, Hidayatullah juga menikahi Nyai Etjeuh, seorang bangsawan setempat yang menurunkan orang-orang blasteran Banjar-Sunda di Cianjur.[49]

Sultan Hidayatullah wafat di tanggal 24 November 1904 pada usia 82 tahun. Ia dimakamkan di daerah Bukit Joglo yang sekarang masuk Kel. Sawah Gede, Cianjur, yang letaknya dekat dengan Taman Prawatasari.[40][50] Kelak di area pemakaman yang sama, dimakamkan juga Sultan Ibrahim Khaliluddin, sultan terakhir dari Kesultanan Paser yang juga berperang melawan pemerintahan kolonial Belanda. Menurut versi lain Pangeran Syarif Hasyim bin Tengku Muhammad Zain Al-Qudsi yang merupakan seseorang yang gagah berani yang ditugaskan untuk memberantas brandal-brandal yang membrontak pada pemerintahan belanda, pada masa Mayor Vespijk menjadi residen di Banjarmasin, sejarah menceritkan brandal-brandal yang memberontak dipimpin oleh Pangeran Hidayatullah, pembrontakan makin menjadi-jadi sehingga regen belanda terbunuh, sehingga pangeran Syarif Hasyim Al-Qudsi melancarkan serangan terhadap benteng-benteng gerombolan yang memberontak sehingga Pangeran Hidayatullah merasa terdesak dan meminta ampun dengan menyerahkan diri, dan Pangeran Hidayatullah pun menjadi tahanan, tetapi ketika tahu akan dipindahkan ke Cianjur maka Pangeran Hidayatullah pun melarikan diri, sehingga Pengeran Syarif Hasyim Al-Qudsi dan Anaknya Syarif Ali Al-Qudsi mencari dan menahan seluruh keluarga Pangeran Hidayatullah anak beserta istrinya, sehinngga membuat Pangeran Hidayatullah resah dan akhirnya menyerahkan diri lagi kepada pemerintahan belanda. Kemudain Pangeran Hidayatullah dibawa ke Cianjur dengan aman.

Selanjutnya pangeran Syarif Hasyim Al-Qudsi diangkat mejadi Pangeran Syaruf di Kepangeranan canal manunggal batulicin, dan misi menumpas pemberontakan masih berelanjut, pemebrontakan yang dipimpin oleh Damang Wungkang yang membrontak di Banjarmasin. kemudian Pangeran Syarif Hasyim Al-Qudsi mendapat bantuan dari jepang dan akhirnya Damang Wungkang bisa dilumpuhkan, kemudian Banjarmasin aman dengan kepemimpinan Pangeran Syarif Hasyim bin Tengku Sayyid Muhammad Zain Al-Qudsi.

Selanjutnya sejarah yang kedua yaitu peperangan yang terjadi di Banjarmasin peprangan ini adalah perang menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh para berandal yang tidak patuh pada pemerintahan belanda pada naskah manuskrip yang ditemukan oleh penulis perang di sini yaitu pada saat indonesia masih dikuasai oleh Belanda dan kerajaan masih mendukung dengan pemerintahan Belanda (kerajaan boneka) dengan pusat pemerintahan oleh Mayor Vespijk yang menjadi residen di Banjarmasin, peperangan dengan para pemberontak yang paling terkenal adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Hidayatullah, yang meresahkan pemerintahan belanda hingga akhirnya bisa diredam dan Banjarmasin kembali menjadi aman.

Pangeran Syarif Hasyim Al-Qudsi dan saudaranya Pangeran Syarif Husein Al-Qudsi bekarja sama dengan kolonial belanda pada era perang banjar, mareka adalah Putera - putera Tengku Sayyid Muhammad Zain bin Habib Abdurrahman bin Habib Abdullah Al-Qudsi Al-Hasani.[51]

Keturunan

sunting

Anak-anak dari Sultan Hidayatullah diantaranya:

1# Putri Bintang (anak Ratu Mas Bandara)

2# Putri Bulan (anak Ratu Siti Aer Mas)

3# Ratu Kusuma Indra (anak Ratu Siti Aer Mas)

4# Pangeran Abdul Rahman (anak Ratu Mas Ratna Kediri)

5# Ratu Saleha (anak Nyai Rahamah)

6# Gusti Sari Banun (anak Nyai Rahamah)

7# Pangeran Sasra Kasuma (anak Nyai Noerain)

8# Gusti Muhammad Saleh (anak Nyai Arpiah)

9# Pangeran Amarullah (anak Nyai Etjeuh, Cianjur)

10# Pangeran Alibasah (anak Nyai Etjeuh, Cianjur)

11# Dan Lain-lain

Bagan Silsilah

sunting
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
16. Pangeran Wira Nata Sunan Nata Alam
 
 
 
 
 
 
 
8. Sultan Sulaiman dari Banjar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
17. Ratu Lawiyah binti Seri Sultan Aminullah Muhammad dari Banjar bin Sultan Hamidullah dari Banjar
 
 
 
 
 
 
 
4. Sultan Adam dari Banjar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
18. Kiai Adipati Singasari
 
 
 
 
 
 
 
9. Njahi Ratoe Intan Sarie
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
19. Aluh Arijah
 
 
 
 
 
 
 
2. Sultan Muda Abdur Rahman Abdur Rahman dari Banjar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
10. Kiai Adipati Singasari
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
5. Njahi Ratoe Koemala Sarie Kamala Sari
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
11. Aluh Arijah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
1. Hidayatullah Khalilullah Hidayatullah II dari Banjar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
24. Pangeran Wira Nata Sunan Nata Alam
 
 
 
 
 
 
 
12. Sulthan Sulaiman dari Banjar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
25. Ratu Lawiyah binti Seri Sultan Aminullah Muhammad dari Banjar bin Sultan Hamidullah dari Banjar
 
 
 
 
 
 
 
6. Goesti Koesin Pangeran Mangkoe Boemi Nata Husin
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
26. Kiai Adipati Singasari
 
 
 
 
 
 
 
13. Njahi Ratoe Intan Sarie
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
27. Aluh Arijah
 
 
 
 
 
 
 
3. Ratu Siti Goestie Siti Mariama
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
28. Datu Qabul[55] [56]
 
 
 
 
 
 
 
14. Abdul Karim (Kiai Ngabe Djajanegara).Kiai Ngabehi Jaya Negara (Pambakal Karim) [52][53] [54]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
29.Ratu Kusuma Negara[57][58] [59] [60][61]
 
 
 
 
 
 
 
7. Nyai Intan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
30. Kiai Adipati Singasari [64][65]
 
 
 
 
 
 
 
15. Alooh Oengka [62][63]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
31. Aluh Arijah
 
 
 
 
 
 

Pangeran Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar memiliki 4 istri yaitu:

1. ♀ Permaisuri Ratu Salmah Goestie Salmiyah binti Pangeran Mas'ud binti Pangeran Amir[66][67][68][69][70][71][72][73][74][75] bin Seri Sultan Muhammad Illah / Muhammad Aliuddin Aminullah Muhammad dari Banjar bin Seri Sulthan Chamiedoela / Chamidullah / Hamidullah dari Banjar (Sultan Kuning- Panembahan Kuning).Pangeran Mas'ud menikahi Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman Rahmatullah Sulaiman dari Banjar[76][77][78][79][80][81][82][83][84][85] bin Sunan Nata Alam bin Panembahan Sepuh dari Banjar Tamjidillah I .Pangeran Amir menikahi Ratu Amir dari Tanah Bumbu binti Ratu Mas dari Tanah Bumbu binti Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha II.Sultan Amir / Pangeran Amir tertangkap pada 14 Mei 1787, kemudian diasingkan ke Srilangka[86][87][88][89][90][91][92][93][94][95]. Permaisuri Ratu Salmah/Salmiyah Goestie Salmiyah binti Pangeran Masoöd (adik Pangeran Antasari) [2]melahirkan bayi Putra Mahkota yang diberi nama Rachmadillah/Rahmatillah kelak menjadi Sultan Banjar Putra Mahkota namun meninggal wafat nya Putra Mahkota Pengganti adalah Sultan Tamjidillah II / Sultan Tamjidullah al-Wâthiq billâh ). Perkawinan mereka diharapkan akan merukunkan (Tutus Tuha Sultan Kuning)/Sultan Hamidullah dari Banjar dengan keluarga besar (Panembahan Badarul Alam Tutus Anum) Pangeran Mangkubumi Tamjidullah I / yang pada masa sebelumnya memperebutkan tahta.[96][8]


2. ♀ Nyai Ratu Aminah Juriat Putri Dayak Tionghoa (Nyai Biyar / Nyai Dawang), seorang keturunan Cina-Dayak yang melahirkan 2 anak perempuan dan 2 anak lelaki, diantaranya Tamjidullah II (menjabat Sultan Muda yang kelak diangkat Belanda sebagai Sultan Banjar.sultan Tamjidullah II tahun 1857 usia 38 Tahun. Pada tahun 1274 Hijriyah bertepatan tanggal 3 November 1857 Tamjidullah II (umur 38 tahun) telah dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda menjadi Sultan Banjar[97]


3. ♀ Nyai Ratu Halimah Halimah Al-Banjari anak dari Siti Fatimah Al-Banjari lahir 1775 -kematian 1828 binti Syarifah Al-Banjari binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Lahir 17 Maret 1710- kematian 13 Oktober 1812.[98]
ibu dari Wali Raja (sultan) Banjar Pangeran Mangkubumi Wirakusuma II dari Banjar dinobatkan rakyat Banua Lima pada bulan September 1859 sebagai Wali Raja (sultan) Banjar Pangeran Mangkubumi Wirakusuma II dari Banjar mendampingi Adik nya yang menjadi Sultan Banjar Hidayatullah II dari Banjar.


4. ♀ Ratu Siti (Goestie Siti Mariama anak dari Nyai Intan binti Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari)[3] memperoleh tiga anak yaitu Sultan Hidayatullah II dari Banjar, Ratu Syarif Umar (isteri Pangeran Syarif Umar) dan Ratu Rampit/Ratu Jaya Kasuma (isteri Pangeran Jaya Kasuma/Raden Tuyong).[99] Nyai Intan adalah istri Goesti Koesin (Pangeran Husin) bergelar Pangeran Mangkoe Boemi Nata, Pangeran Hidayatullah II dilahirkan pada 1825, [100]Sultan Hidayatullah II dari Banjar tahun 1857 berusia 32.

CUCU Pangeran Mas'ud terkhusus dari anak Ratu Salmiyah Ratu salmah Goestie Salmiyah binti Pangeran Mas'ud binti Pangeran Amir[101][102][103][104][105][106][107][108][109][110] yaitu :

1. Pangeran Ratu Rakhmatillah Putra Mahkota Wafat Usia 3 Tahun,Anak dari Permasuri Ratu Salmiyah Ratu salmah Binti Permaisuri Ratu Salmah/ Goestie Salmiyah binti Pangeran Mas'ud binti Pangeran Amir[111][112][113][114][115][116][117][118][119][120] penggantinya Sultan Tamjidullah al-Wâthiq billâh Goesti Wayuri Bergelar Tamjidillah / Tamjidillah II- menjadi Sultan Banjar. Adipati Aria Koesoema / Pangeran Aria Kusuma menjadi Adipati Puruk Cahu Banua Lima anak dari Nyai Ratu Aminah. Pangeran Mangkubumi Wira kasoema Wirakusuma II dari Banjar - anak dari Ratoe Sulthan Abdoel Rachman (Ratoe Halimah) Halimah Al-Banjari bin Siti Fatimah Al-Banjari lahir 1775 -kematian 1828 binti Syarifah Al-Banjari binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Lahir 17 Maret 1710- kematian 13 Oktober 1812. CUCU Pangeran Mas'ud terkhusus dari anak mantunya istri Pangeran Antasari yaitu Ratoe Idjah (anak Njahi Salamah+ Sultan Adam dari Banjar) yaitu :

1. ♀ Goesti Hasiah Ratoe Wira Kasoema Wirakusuma II dari Banjar (anak dari Ratoe Idjah Goesti Idjah Ratoe Antasari Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin binti Sultan Adam bin Sultan Sulaiman dari Banjar bin Panembahan Batu Sunan Nata Alam Bin Panembahan Sepuh dari Banjar Tamjidillah I


2. ♂ Pangeran Mangkubumi Panembahan Muhammad Said Pangeran Mangkubumi Berkuasa 1862-1875 Penobatan 1862 Pendahulu Pangeran Wirakusuma II dari Banjar Penerus Pangeran Perbatasari (ia anak dari Ratoe Idjah Goesti Idjah Ratoe Antasari Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin binti Sultan Adam bin Sultan Sulaiman dari Banjar bin Panembahan Batu Sunan Nata Alam Bin Panembahan Sepuh dari Banjar Tamjidillah I + Menikahi Putri Bulan binti Pangeran Kasirr

3. ♀ Goesti Kaidah (anak dari Ratoe Idjah Goesti Idjah Ratoe Antasari Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin binti Sultan Adam bin Sultan Sulaiman dari Banjar bin Panembahan Batu Sunan Nata Alam Bin Panembahan Sepuh dari Banjar Tamjidillah I diperisteri ♂ Gusti Mat Napis (Pangeran Mangku)

Pangeran Antasari memiliki 3 putera dan 8 puteri dari istri lainnya

Menurut tradisi istana kesultanan Banjar yang berlaku pada saat itu, di antara putera-putera dari seorang Sultan yang sedang berkuasa, maka anak laki-laki tertua dari permaisuri akan dilantik sebagai Sultan Muda dan putera kedua dari permaisuri akan dilantik sebagai Raden Dipati atau Pangeran Dipati atau Pangeran Dipati Anom yaitu calon mangkubumi untuk menggantikan mangkubumi atau Pangeran Mangkubumi sebelumnya yang meninggal dunia.

14 anak Pangeran Sultan Muda Abdur-Rahman
NAMA ANAK SULTAN MUDA ABDUR RAHMAN URUTAN KELAHIRAN & JABATAN KE DUNIA
1. Pangeran Ratu Rakhmatillah anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 1
2. Sultan Tamjidullah al-Wâthiq billâh Goesti Wayuri Bergelar Tamjidillah / Tamjidillah II anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 2
3. Pangeran Adipati Banua Lima wilayah Gunung Bondang, sebelah udik sungai Lawung, Puruk Cahu/ PANGERAN ARYA KUSUMAH anak Nyai Besar Ratu Aminah /Nyai Besar Ratu Biyar / Nyai Besar Ratu Dawang, seorang Putri Dayak keturunan Cina. menikahi Syarifah Alawiyah anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 3
4. ♀ Ratoe Salma anak Nyai Ratu Aminah diperisteri Pangeran BERAHIM (Ibrahim) bin Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman MARTAPURA ( yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862) anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 4
5. Pangeran Mangkubumi Wirakusuma Wirakusuma II dari Banjar anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 5
6. Sultan Hijdajat Hidayatullah II dari Banjar anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 6
7. PANGERAN JIWA RANTAU (yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862) anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 7
8. PANGERAN ABDULLAH MARTAPURA anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 8
9. PANGERAN ACHMAT KANDANGAN anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 9
10. ♀ RATU ISHAK/Ratoe Zinoen-Aria/Ratoe Ishak BANJARMASIN anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 10
11. ♀ Ratoe Salama/Ratoe Salamah diperisteri Pangeran Krama Djaija Kasoema KARANG INTAN anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 11
12. RATU SILAMAH SERAWAK anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 12
13. ♀ Ratoe Biduri (diperisteri Pangeran Syarief Umar bin Pangeran Said Zein/ Sayyid Zen (yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862) anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 13
14. ♀ Ratoe Rampit diperisteri Pangeran Jaya Kasuma/Raden Tuyong KARANG INTAN anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 14

Pangeran Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar memiliki 14 anak :

1. ♂ Pangeran Ratu Rakhmatillah Putra Mahkota Anak dari Permasuri Ratu Ratu Salmiyah Goestie Salmiyah - binti Pangeran Mas'ud binti Pangeran Amir menikahi Ratu Amir dari Tanah Bumbu binti Ratu Mas dari Tanah Bumbu binti Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha II. Wafat Usia 3 Tahun


2. ♂ Sultan Tamjidullah al-Wâthiq billâh Goesti Wayuri Bergelar Tamjidillah / Tamjidillah II - anak Nyai Ratu Aminah tahun 1857 usia 38,Pada tahun 1274 Hijriyah bertepatan tanggal 3 November 1857 Tamjidillah II (umur 38 tahun) telah dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda menjadi Sultan Banjar[98]


3. ♂ Pangeran Adipati Banua Lima wilayah Gunung Bondang, sebelah udik sungai Lawung, Puruk Cahu/ PANGERAN ARYA KUSUMAH anak Nyai Besar Ratu Aminah /Nyai Besar Ratu Biyar / Nyai Besar Ratu Dawang, seorang Putri Dayak keturunan Cina. menikahi Syarifah Alawiyah[98]

4. ♀ 'Ratoe Salma anak Nyai Ratu Aminah diperisteri Pangeran BERAHIM (Ibrahim) bin Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman MARTAPURA ( yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862)[98]

5. ♂ Pangeran Mangkubumi Wirakusuma Wirakusuma II dari Banjar - anak Nyai Ratu Halimah Ratoe Sulthan Abdoel Rachman (Ratoe Halimah) Halimah Al-Banjari bin Siti Fatimah Al-Banjari lahir 1775 -kematian 1828 binti Syarifah Al-Banjari binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Lahir 17 Maret 1710- kematian 13 Oktober 1812.[98]

6. ♂ Sultan Hijdajat Pangeran Andarun / anak dari Ratu Siti Goestie Siti Mariama binti Nyai Intan binti Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari Bergelar Hidayatullah II dari Banjar [121] hidayattulah II tahun 1857 usia 32.[98]

7. ♂ PANGERAN JIWA RANTAU (yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862)

8. ♂ PANGERAN ABDULLAH MARTAPURA[98]

9. ♂ PANGERAN ACHMAT KANDANGAN[98]

10. ' ♀ RATU ISHAK/Ratoe Zinoen-Aria/Ratoe Ishak BANJARMASIN[98]

11. ♀ Ratoe Salama/Ratoe Salamah diperisteri Pangeran Krama Djaija Kasoema KARANG INTAN[98]

12. RATU SILAMAH SERAWAK


13. ♀ ♀ Ratoe Biduri (diperisteri Pangeran Syarief Umar bin Pangeran Said Zein/ Sayyid Zen (yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862) anak dari Ratu Siti ,menikahi Pangeran Sjerief Umar [122]

14. ♀ Ratoe Rampit diperisteri Pangeran Jaya Kasuma/Raden Tuyong KARANG INTAN anak dari Ratu Siti, menikahi pangeran Jaya Kusuma /Djaya Kesoema - [98]


Relasi dengan Regent Amoentaij

sunting

Kiai Adipati Singasari merupakan kakek Radhen Adipatie Danoe Radja.

ADIPATI BANUA LIMA
♂ Kiai Adipati Singasari
(memiliki anak 12 orang)
Kiai Temenggung Dipanata
(mempunyai anak 7 orang)
Alooh Oengka
(mempunyai anak 4 orang)
PERMAISURI SULTAN BANJAR
Nyai Ratu Sepuh
(mempunyai 6 anak dengan Sultan Sulaiman Rahmatullah)
REGENT AMOENTAIJ
Kiai Adipatie Danoe Radja
mempunyai anak:
1. Kiai Temenggung Mangkunata Kusuma
2. Kiai Temenggung Ngabei Wargakusuma
3. Hadji Temenggung Kasuma Juda Negara
Nyai Intan
diperisteri Pangeran Mangkoe Boemi Nata, mempunyai anak:
1. Ratu Siti (ibu Pg. Hidayatullah II)
Alooh Namir
(mempunyai anak 3 orang)
Mahmud
(tidak mempunyai anak)

Relasi dengan Raja Kusan dan Raja Pulau Laut

sunting

Kiai Adipati Singasari leluhur raja-raja Pulau Laut.

ADIPATI BANUA LIMA
♂ Kiai Adipati Singasari
(memiliki anak 12 orang)
♀ Nyai Ratu Sepuh
(mempunyai 6 anak dengan Sultan Sulaiman Rahmatullah - Sultan Banjar)
PERMAISURI RAJA KUSAN
♀ Ratu Haji Musa/Ratu Salamah
(memiliki 3 anak dengan Pangeran Hadji Moesa - raja Kusan II.[3])
Pangeran Muhammad Nafis
(ayahanda Ratoe Wira Kasoema - isteri utama Pangeran Wira Kasoema)
RAJA KUSAN-PULAU LAUT
Pangeran Abdoel Kadir
(beristeri ♀ Gusti Abun Sari binti Pangeran Mangkoe Boemi Nata)
PENGUASA BATULICIN
Pangeran Panji
(beristeri ♀ Aji Landasan binti Raja Aji Jawi, tidak memiliki keturunan)


Kiai Adipati Singasari merupakan mertua Sultan Sulaiman dari Banjar

sunting
ADIPATI BANUA LIMA
Kiai Adipati Singasari
(memiliki anak 12 orang)
Kiai Temenggung Dipanata
(mempunyai anak 7 orang)
PERMAISURI SULTAN BANJAR
Nyai Ratu Sepuh
(mempunyai 6 anak dengan Sultan Sulaiman Rahmatullah)
Kiai Temenggung Warganata
(mempunyai anak 5 orang)
SULTAN BANJAR
Sultan Adam
(mempunyai anak 11 orang)
MANGKUBUMI BANJAR
Pangeran Mangkoe Boemi Nata (P. Husin)
(mempunyai anak 17 orang)
Pangeran Perbatasari
(mempunyai anak 5 orang)
PERMAISURI RAJA KUSAN
Ratu Haji Moesa
(mempunyai 3 anak dengan Pangeran Hadji Moesa raja Kusan II)
Pangeran Kasir
(mempunyai anak 17 orang)
Ratu Sungging Anum
tidak mempunyai anak, diperisteri Pangeran Sungging Anum
bin Ratu Anum (ismail) Mangkubumi Sukma Dilaga


RELASI RATU BIDURI Ratu anak Goestie Siti Mariama Ratoe Abdoel Rachman Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar

sunting
Pangeran Said Zein(Sayyid Zein)
♂ Pangeran Sjerief Oemar (PANGERAN SYARIF UMAR)
♀ Ratu Maimunah(anak Putri Lawiyah)binti Pangeran Mangkubumi Nata 1761-1801 Sunan Nata Alam
♂ Pangeran Sjerief Aboe Bakar(PANGERAN SYARIF ABU BAKAR)
sultan muda Abdur Rahman dari Banjar
♀ Ratu Biduri binti
Goestie Siti Mariama Ratoe Abdoel Rachman Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar
♀ Syarifah Intan
SULTAN MUDA BANJAR

♂ Pangeran Ratu

Pangeran Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar
MANGKUBUMI BANJAR ♂ Pangeran Wira Kasoema
♀ Nyai Halimah Putri juriat Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari
♀ Ratoe Sjerief Aboe Bakar(RATU SYARIF ABU BAKAR)
SULTAN BANJAR

♂ Gusti Inu Kartapati

Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin Pangeran Antasari
♀ Ratu Hasiah
♀ Ratoe Idjah(anak Njahi Salamah) binti Sultan Sulaiman dari Banjar

Kekerabatan dengan Raja Pulau Laut

sunting

Raden Adipati Danu Raja merupakan kerabat (ipar) Nyai Ratu Kamala Sari (permaisuri Sultan Adam)[123]Kekerabatan Adipati Banua Lima dengan Raja Pulau Laut

ADIPATI BANUA LIMA
Kiai Adipati Singasari (m. 1778-1835)[3]
↓ (berputri)
PUTRI ADIPATI BANUA LIMA
  • ♀ Alooh Oengka x ♂ Kiai Ngabehi Jaya Negara (Pambakal Abdul Karim) bin Datu Kabul
↓ (berputra)
  • Kiai Adipatie Danoe Radja (m. 1835-1862)
↓ (berputra)
  1. Kiai Temenggung Mangkunata Kusuma
  2. Kiai Temenggung Ngabei Wargakusuma (Radhen Ngabehi Warga Kasoema)[124][125]
  3. Hadji Temenggung Kasuma Juda Negara
PERMAISURI SULTAN BANJAR
  • ♀ Nyai Ratu Sepuh x ♂ RAJA BANJAR: Sultan Sulaiman Saidullah 2
↓ (berputri)

PERMAISURI RAJA KUSAN

↓ (berputra)

RAJA PULAU LAUT

↓ (berputra)
  • ♂ Raja Pulau Laut: Pangeran Berangta Kasuma
↓ (berputra)
  • ♂ Raja Pulau Laut: Pangeran Amir Husin Kasuma + ♀ Ratoe Bese
↓ (berputra)
  • ♂ Raja Pulau Laut: Pangeran M. Aminullah Kasuma + ♀ Ratu Tajeng
↓ (berputri)
  • ♀ Putri Jahrah Kasoema
↓ (berputra)
  • ♂ Gusti Chaldoen + ♀ Gusti Rohana
↓ (berputri)
  1. ♀ Gusti Mahrita
  2. ♀ Gusti Risnawati
  3. ♀ Gusti Megaria
  4. ♀ Gusti Helyani
  5. ♀ Gusti Helnawati
  6. ♂ Gusti Helyadi

Hubungan Silsilah dengan keluarga kerajaan Sumbawa

sunting

Di bawah ini adalah silsilah Pangeran Hidayatullah dengan Raja Sumbawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV, yang tertulis dalam buku Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde volume 14 (1864:503):[21]

Omtrent de lans Kaliblah wordt het navolgende verhaald. Zij behoorde vroeger tot de rijkswapens van den Sultan van Sumbawa. Een dezer Sultans nu was in het huwelijk getreden met Ratoe Laija, eene zuster van Sultan Tahmid Ilah II van Bandjermasin. Uit dat huwelijk is de Sulthan Mohamad, die later over Sumbawa geregeerd heeft geboren.[21]

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
SULTAN BANJAR
Sultan Tahmidullah
(Panembahan Tengah)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
SULTAN BANJAR IX.A.
♂ Sultan Hamidullah dari Banjar
Sultan Chamidoellah
(Panembahan Kuning)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
SULTAN BANJAR IX.B.
Sultan Tamjidillah I
Sultan Sepuh dari Banjar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♂ Datu Aria
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♀ saudari Arung trawee
 
SULTAN BANJAR X.A.
Muhammad dari Banjar Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah
Sultan Tahmidu-Billah
 
Ratu Sultan Muhammad
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♂ Pangeran Rahmad
(Achmad)
 
PUTRA MAHKOTA
(SULTAN BANJAR XI.A.1.)
♂ Sri Pangeran Abdullah
(Amirul Mukminin Abdullah)
 
WAKIL PUTRA MAHKOTA
(SULTAN BANJAR XI.A.2.)
♂ Pangeran Amir
(Sultan Amir)
 
♂ Gusti Husin
 
ADIPATI BANUA LIMA
Kiai Adipati Singasari
 
Ratu Lawiyah binti Seri Sultan Muhammad Illah Aminullah Muhammad dari Banjarbin Sultan Hamidullah dari Banjar /Sultan Kuning
(Rabiah)
 
SULTAN BANJAR XI.B.
Sunan Nata Alam
Sultan Tamhidillah
Sultan Tahmid Illah II
(Panembahan Batu)
 
♀ Ratu Syarifah Aminah
binti Syarif Nuh mufti Prambanan
 
Ratu Anom Kasuma Giri
 
♂ Pangeran Ibrahim
 
♂ Pangeran Mangku Dilaga
 
♂ Pangeran Peraba
(Prabu Jaya)
 
♂ Pangeran Isa[126]
 
♀ Putri Sara
Ratoe Laija
 
Dewa Masmawa Sultan Mahmud
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kiai Ngabehi Jaya Negara
(Pambakal Karim bin Datu Kabul)
 
Alooh Oengka
 
Tumenggung Dipa Nata
 
Kiai Temenggung Warga Nata
 
Nyai Ratu Sepuh
Nyai Ratna
Njahi Ratoe Intan Sarie
 
 
 
 
 
SULTAN BANJAR
Sulaiman dari Banjar Sultan Sulaiman Rahmatullah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♀ Njahi Siti Gading[127]
 
♀ Nyai.......
 
♂ Pangeran Haji Muhammad bin Pg. Mangku bin Pg. Kasuma Nagara bin Ratu Anum Kasuma Yuda bin Pg. Dipati (Desa Bumi) bin Sultan Tahlil
 
 
 
 
 
♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
ADIPATI BANUA LIMA
♂ Kiai Adipatie Danoe Radja
 
Nyai Intan
anak Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari)
 
Nyai Rami binti Temenggung Dipanata binti Kiai Adipati Singasari
 
Pangeran Kasirr
 
♀ Njahi Ratoe Koemala Sarie Kamala Sari binti Kiai Adipati Singasari
 
SULTAN BANJAR
Sultan Adam
 
MANGKUBUMI BANJAR
Pangeran Mangkoe Boemi Nata
(Pangeran Husin)
 
Nyai Intan
anak Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari)
 
♀ Ratoe Sjerief Akil
(Goestie Oemie)[127]
 
♂ Adipati Kandangan Pangeran Ahmad
 
♀ Ratu Salamah Hadji Musa
binti Sultan Sulaiman dari Banjar
 
RAJA KUSAN
Pangeran Haji Musa
 
Nyai Abuk
 
 
 
♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Amaroe'llah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Permaisuri Nyai Ratu Aminah
(Nyai Dawang)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
SULTAN MUDA BANJAR
Sulthan Moeda Abdoel Rachman
Abdur Rahman dari Banjar
 
 
 
 
 
♀ Ratoe Abdoel Rachman
(Goestie Siti Mariama) anak Nyai Intan binti Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari[127]
 
 
 
 
 
♂ Pangeran Kasoema Ningrat
 
Gusti Abun Sari
 
RAJA KUSAN/PULAU LAUT
Pangeran Abdoel Kadir
 
RAJA PULAU LAUT
Pangeran Djaija Samitra bin Pangeran Haji Musa
 
Nyai Ambak
(adik Nyai Ratu Kamala Sari)
 
♂ Raja Muda: Daeng Mas Kuncir Datu Lolo
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
SULTAN BANJAR
Pangeran Ratu
SULTAN BANJAR Sultan Tamjidullah al-Watsiq Billah (سلطان الواثق بالله) Tamjidillah II
 
Pangeran Djaya Kesoema
(Radin Toeyong)
bin Pangeran Amir
bin Pangeran Mangkoe Boemi Nata
 
♀ Ratoe Djaya Kesoema
(Ratoe Rampit)
 
Goestie Sitie Ayer Maas
binti Pangeran Tahhmid
bin Sultan Sulaiman
 
SULTAN BANJAR
Pangeran Mangkubumi
Sultan Hidajatoellah Halilillah
(Gusti Andarun Hidayatullah II dari Banjar)
 
♀ Nyai Rahamah
 
♀ Ratoe Sjerief Oemar
 
♂ Pangeran Sjerief Oemar
 
 
 
♂ Goesti Sopie
 
 
RAJA PULAU LAUT
♂ Pangeran Sulaiman
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♂ Pangeran Amin Bin Sultan Tamjidullah al-Watsiq Billah (سلطان الواثق بالله) Tamjidillah II
 
♀ Ratoe Amien Poetri Boelan binti Sultan Hidajatoellah Halilillah (Gusti Andarun Hidayatullah II dari Banjar)
 
 
 
Pangeran Kesoema Indra
bin Pangeran Kasirr
bin Sulaiman dari Banjar
 
♀ Ratu Salamah anak dari Ratu Siti Aer Mas
 
 
Ratu Sari Banun
 
Pangeran Muhammad Illah Wirakusuma III dari Banjar bin MANGKUBUMI BANJAR
Pangeran Mangkubumi Wira kasoema Wirakusuma II dari Banjar (Gusti Mayur)
 
 
 
 
 
♀ Ratoe Saléha anak dari Nyai Rahamah
 
♂ Pangeran Mohhamad Ali Bassa
(Goesti Isa)
 
♂ Pangeran Wira Negara
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin III
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pangeran Sulaiman
 
 
 
 
 
 
 
♂ Pangeran Mohhamad Hanafia
 
♂ Pangeran Shashra Kesuma
(anak Nyai Noerain)
 
Pangeran Abdullah bin Pangeran Muhammad Illah Wirakusuma III dari Banjar bin MANGKUBUMI BANJAR Pangeran Mangkubumi Wira kasoema Wirakusuma II dari Banjar (Gusti Mayur
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♀ Ratu Halimah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
....
 
Pangeran Dawud
 
♀ R.A. Zakiyah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♀ Daeng Sarrojini Naidu
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
....
 
 
 
Pangeran Yusuf Dawud (Raden Yusuf Dawud)
 
♀ Ning Munifah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
♂ Raihan Omar Hasani Priyanto
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
....
 
 
 
 
 
♂ Ismail Hasyim
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

}} |}

Referensi

sunting
  1. ^ (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863. 2. D. A. Thieme. hlm. 162. 
  2. ^ a b c d Sjamsuddin, Helius (2001). Pegustian & Temenggung Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859–1906. Balai Pustaka & Penerbit Ombak. hlm. 120. ISBN 979666626X.  ISBN 978-979-666-626-3 Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "pegustian" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  3. ^ a b c d http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  4. ^ https://www.tribunnews.com/ramadan/2017/05/29/dalem-cikundul-murid-sunan-gunung-jati-penyebar-islam-di-cianjur
  5. ^ https://historia.id/politik/articles/pangeran-yang-terbuang-DWezl/page/2
  6. ^ Kiai Bondan, Amir Hasan (1953). Suluh Sedjarah Kalimantan. Bandjarmasin: Fadjar. hlm. 38. 
  7. ^ M. Idwar Saleh, Sri Sutjiatiningsih (1993). Pangeran Antasari. Indonesia: Proyek lnventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 18. 
  8. ^ a b Kielstra, Egbert Broer (1892). De ondergang van het Bandjermasinsche rijk (dalam bahasa Belanda). E.J. Brill. hlm. 85.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Egbert Broer Kielstra" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  9. ^ C. E. van Kesteren, R. A. van Sandick, J. E. de Meyier (1891). De Indische gids (dalam bahasa Belanda). J. H. de Bussy. hlm. 821. 
  10. ^ Ratna, Dewi (2016-06-18). Ratna, Dewi, ed. "Sejarah kekacauan di Istana Banjar karena campur tangan Belanda". Merdeka.com. Diakses tanggal 2021-06-18. 
  11. ^ a b Sejarah perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme di Kalimantan Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1983. 
  12. ^ a b c "Pangeran Hidayatullah dan Pertempuran Sengit di Gunung Pamaton". Sindonews.com. 2017-03-18. Diakses tanggal 2021-06-19. 
  13. ^ a b c Matanasi, Petrik. "Saat Pangeran Antasari Menyerang Tambang Asing". Tirto.id. Diakses tanggal 2021-06-19. 
  14. ^ a b c "Ketika Perang Banjar Berkecamuk". Republika Online. 2019-03-25. Diakses tanggal 2021-06-20. 
  15. ^ "19 Juni 1861 : Sultan Hidayatullah Pimpin Perlawanan Terhadap Belanda di Gunung Pamaton". Koran Makassar. 2021-06-18. Diakses tanggal 2021-06-20. 
  16. ^ a b "Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat dan Tipu Muslihat Belanda". jejakrekam.com. 2018-09-27. Diakses tanggal 2021-06-20. 
  17. ^ "Sejarah Perang Banjar: Penyebab, Tokoh, & Aksi Pangeran Antasari". Tirto.id. Diakses tanggal 2021-06-29. 
  18. ^ a b "Empat Raja yang Dibuang ke Cianjur". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2017-07-11. Diakses tanggal 2021-07-02. 
  19. ^ a b "Hari Ini di 1861 HIdayatullah Bertempur Melawan Belanda di Gunung Pamaton". Republika Online. 2013-06-19. Diakses tanggal 2021-06-09. 
  20. ^ Mardjoned, Ramlan (1990). K.H. Hasan Basri 70 tahun: fungsi ulama dan peranan masjid. Media Da'wah. 
  21. ^ a b c "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde" (dalam bahasa Belanda). 14. Batavia: Lange & Company, Martinus Nijhoff. 1864: 503. 
  22. ^ "Ensiklopedia Sumbawa | C. Pemerintahan Sultan (Bagian 1)". kebudayaan.sumbawakab.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-05-18. Diakses tanggal 2021-07-03. 
  23. ^ Arnold Meyer (1866). De onpartijdigheid van den schrijver van "De bandjermasinsche krijg" (dalam bahasa Belanda). De Veij Mestdagh. hlm. 10. 
  24. ^ a b c d Subiyakto, Bambang (2020-03-02). Pangeran Hidayatullah: Perjuangan Mangkubumi Kesultanan Banjarmasin. FKIP Universitas Lambung Mangkurat. 
  25. ^ a b c "Surat Wasiat Sultan Adam dan Regalia Kesultanan Banjar". jejakrekam.com. 2017-11-12. Diakses tanggal 2021-07-30. 
  26. ^ M. Gazali Usman, Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam, Banjarmasin: Lambung Mangkurat Press, 1994.
  27. ^ "Landsdrukkerij". Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië, voor 1858 (dalam bahasa Belanda). 31. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1858. hlm. 119. 
  28. ^ a b Hindia-Belanda (1965). Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia-Belanda 1635-1860 (PDF). Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat. hlm. 158. 
  29. ^ Devara, Panuganti (2020-05-21). "Menjelajah Kalimantan". doi:10.5194/amt-2019-437-ac3. 
  30. ^ Ratna, Dewi (2016-06-20). Ratna, Dewi, ed. "Semangat perjuangan Pangeran Antasari & kisah penyerangannya". Merdeka.com. Diakses tanggal 2021-08-17. 
  31. ^ "Perang Banjar Barito (1859-1906) : besar - dahsyat - lama : (deskripsi dan analisis sejarah) / Ahmad Barjie B. ; editor, Aliansyah Jumbawuya | OPAC Perpustakaan Nasional RI". opac.perpusnas.go.id. Diakses tanggal 2021-08-06. 
  32. ^ M.Hum, Dr Nyayu Soraya (2021-03-22). Islam dan Peradaban Melayu. Desanta Publisher. ISBN 978-623-6010-20-4. 
  33. ^ (Indonesia) Tamar Djaja, Pustaka Indonesia: riwajat hidup orang-orang besar tanah air, Volume 2, Bulan Bintang, 1966
  34. ^ Sejarah perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme di Kalimantan Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1983. 
  35. ^ a b c d e Murjani, Ahmad. Datu Sang Pahlawan Legendaris. GUEPEDIA. ISBN 978-623-309-544-0. 
  36. ^ Basuni, Ahmad (1986). Pangeran Antasari: pahlawan kemerdekaan nasional dari Kalimantan. Bina Ilmu. 
  37. ^ a b Mayur, Gusti (1979). Perang Banjar. Rapi. 
  38. ^ Okezone, Tim (2022-06-19). "Peristiwa 19 Juni : Pertempuran Pribumi Lawan Belanda Pecah di Kalsel". Okezone.com. Diakses tanggal 2022-06-25. 
  39. ^ Senin; Maret 2022, 14 Maret 2022 20:54 WIB 14; Wib, 20:54 (2022-03-14). "Perang Banjar: Perlawanan Penjajahan Kolonial Belanda yang Berlangsung pada 1895-1905". indozone.id. Diakses tanggal 2022-06-25. 
  40. ^ a b c d e Maskuriah, Ulul. "Bupati Ingin Pengeran Hidayatullah Sebagai Pahlawan Nasional". ANTARA News. Diakses tanggal 2022-06-12. 
  41. ^ Moeliono, Irmayanti (2013). Prosiding International Conference on Indonesian Studies: ethnicity and globalization. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. 
  42. ^ "Sejarah Singkat Diasingkan ke Cianjur, Ini Kata Cucu Pangeran Hidayatulloh". Info Sembilan. 2021-03-31. Diakses tanggal 2022-06-15. 
  43. ^ Fajri, Dwi Latifatul (2022-03-18). "Biografi Pangeran Antasari, Pemimpin Kesultanan Banjar". Katadata. Diakses tanggal 2022-06-15. 
  44. ^ Wajidi (2007). Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan, 1901-1942. Pustaka Banua. 
  45. ^ a b prokal.co. "Pangeran Hidayatullah, Sultan Banjar yang Diasingkan Belanda | Radar Banjarmasin". kalsel.prokal.co (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 2022-06-17. 
  46. ^ Le Rutte, Jean Marine Charles Edoeard (1863). Expeditie tegen de versterking van Pangeran Antasarie gelegen aan de Montallatrivier: beschrijving der versterking te Goenong Tongka, na de inname : aantekeningen omtrent Pangeran Hijdaijat, benevens eene naamlijst der officieren van de land- en zeemagt met opgave van de oorlogsbodems die aan den strijd hebben deelgenomen tot onderwerping van Pangeran Hijdaijat (edisi ke-2). A.W. Sythoff (Sijthoff). hlm. 10. 
  47. ^ (Belanda) Rutte, J. M. C. E. Le (1863). Episode uit den Banjermasingschen oorlog. A.W. Sythoff. hlm. 20. 
  48. ^ "Pimpin Perang Banjar, Ulama Berjubah Kuning Tinggal Selangkah Lagi Menuju Pahlawan Nasional – Teras7.com". 2021-11-06. Diakses tanggal 2022-06-16. 
  49. ^ "Pangeran yang Terbuang". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2018-07-16. Diakses tanggal 2022-06-15. 
  50. ^ ""Cafe Yuli Inul", Cafe Terpopuler di Taman Prawatasari Cianjur". Indonesia Media Center (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-06-16. 
  51. ^ admin (2017-05-10). "Museum Sadurangas Simpan Sejarah yang Membanggakan". Diakses tanggal 2022-06-25. 
  52. ^ http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  53. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  54. ^ https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2017/07/24/sejarah-datu-kabul/
  55. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  56. ^ https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2017/07/24/sejarah-datu-kabul/
  57. ^ http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  58. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  59. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  60. ^ https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2017/07/24/sejarah-datu-kabul/
  61. ^ https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2017/07/24/sejarah-datu-kabul/
  62. ^ http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  63. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  64. ^ http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  65. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  66. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  67. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  68. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  69. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  70. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  71. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  72. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  73. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  74. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  75. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  76. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  77. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  78. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  79. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  80. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  81. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  82. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  83. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  84. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  85. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  86. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  87. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  88. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  89. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  90. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  91. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  92. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  93. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  94. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  95. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  96. ^ C. E. van Kesteren, R. A. van Sandick, J. E. de Meyier (1890). De Indische gids (dalam bahasa Belanda). 12. J. H. de Bussy. hlm. 2397. 
  97. ^ Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, Volume 23;Volume 52-53
  98. ^ a b c d e f g h i j k Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap. 9. Lange. hlm. 122. 
  99. ^ Willem Adriaan Rees, De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: met portretten, platen en een terreinkaart, Bagian 1, D. A. Thieme, 1865
  100. ^
    Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, Volume 23;Volume 52-53
  101. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  102. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  103. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  104. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  105. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  106. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  107. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  108. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  109. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  110. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  111. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  112. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  113. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  114. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  115. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  116. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  117. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  118. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  119. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  120. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  121. ^ Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, Volume 23;Volume 52-53
  122. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama tutur candi
  123. ^ name="De Indische gids"name="Tijdschrift 9"
  124. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1868). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 41. Lands Drukkery. hlm. 138. 
  125. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1871). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 44. Lands Drukkery. hlm. 197. 
  126. ^ https://web.archive.org/web/20140303172019/http://sinarbulannews.wordpress.com/2011/01/02/silsilah-keturunan-sultan-adam-al-wasikubillah-martapura-kerajaan-banjar/
  127. ^ a b c Willem Adriaan Rees (1867). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: nader toegelicht (dalam bahasa Belanda). Dutch East Indies: D.A. Thieme. hlm. 22. 

Rujukan

sunting

Bacaan lanjut

sunting
  • Van Rees WA. 1865. De Bandjarmasinsche Krijg van 1859-1863, Arnhem: Thieme.
  • Pangeran Shuria Rum. 1989. Riwayat Perjuangan Pangeran Hidayatullah.

Pranala luar

sunting
Didahului oleh:
Pangeran Tamjidullah
Mangkubumi Banjar
9 Oktober 1856-5 Februari 1860
Diteruskan oleh:
Pangeran Wirakasuma
Didahului oleh:
Sultan Tamjidullah Al-Watsiq Billah
Sultan Banjar
1859-1862
Diteruskan oleh:
Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin

{{Portal bar|Islam|Indonesia|Sejarah|Biografi}}