Pandir Kelana

Slamet Danusudirjo (lahir 4 April 1925) atau lebih dikenal dengan nama penanya Pandir Kelana adalah tokoh sastra berkebangsaan Indonesia. Pandir Kelana pernah menjabat sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta. Dia merupakan salah satu sastrawan yang juga aktif dalam bidang kemiliteran. Atas jasa, prestasi, dan kerja kerasnya, Pandir menerima penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia berupa Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra Utama (1973).[1]

Pandir Kelana
LahirSlamet Danusudirdjo
04 April 1925 (umur 97)
Banjarnegara, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Pekerjaan
  • Sastrawan
  • tentara
BahasaIndonesia
KebangsaanIndonesia
GenreRoman

Latar belakangSunting

Pandir Kelana lahir di Banjarnegara, 4 April 1925. Bernama asli Slamet Danusudirjo. Ia adalah sedikit dari penulis sastra yang aktif dalam bidang kemiliteran. Dalam bidang tesebut, ia pernah mengikuti pendidikan perwira artileri di Belanda dan Belgia, serta Sekolah Staf Komando Angkatan Darat di Akademi Frunze, Moskow, Russia. Pernah menjadi instruktur di Akademi Militer Nasional Magelang dan menjadi pengajar di Sekolah Staff Komando Angkatan Darat Bandung.[2]

Selain berkarier di dunia militer dengan pangkat terakhirnya Mayor Jendral, ia pernah memegang berbagai jabatan di birokrasi antara lain Deputi Ketua BAPPENAS (1966-1968). Pada saat bersamaan ia juga di tunjuk menjadi anggota Tim Walisongo yang menangani problem kongesti pelabuhan-pelabuhan utama pada Dirjen Bea dan Cukai Departemen Keuangan RI (1972-1973). Dia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan RI (1973-1975), anggota DPA (1983) dan terakhir, ia menjadi Sekretaris Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1978-1984).

Dibalik Karier militer dan Birokratnya ia juga di kenal sebagai seorang penulis cerita dengan nama samaran Pandir Kelana. Nama Kelana ia temukan dari cerita dalam bahasa Inggris berjudul The Wondering Jew. Sedangkan nama Pandir berasal dari cerita Pak Pandir, pada saat ia di Kalimantan. Pandir Kelana lebih sering menulis novel berlatar sejarah antara lain Kereta Api Terakhir (1981), Kadarwati: Wanita dengan Lima Nama (1982), Ibu Sinder (1983), dan lain-lain. Beberapa novelnya bahkan telah diangkat ke layar perak.[3]

KarierSunting

  • Instruktur Akademi Militer Nasional Magelang (Jawa Tengah)
  • Pengajar Sekolah Staff Komando Angkatan Darat Bandung (Jawa Barat)
  • Deputi Asisten IV
  • Kepala Staf Angkatan Darat Bidang Kekaryaan
  • Ketua BAPPENAS (1966-1968)
  • Anggota Tim Walisongo, Dirjen Bea dan Cukai Departemen Keuangan RI (1972-1973)
  • Sekretaris Jenderal Depertemen Perhubungan RI (1973-1975)
  • Anggota DPA (1983)
  • Sekretaris Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri (1978-1984)
  • Rekror IKJ

KaryaSunting

  • Kereta Api Terakhir (1981)
  • Kadarwati: Wanita dengan Lima Nama (1982)
  • Ibu Sinder (1983)
  • Riintihan Burung Kedasih (1984)
  • Suro Buldog: Orang Buangan Tanah Merah Boven Digul (1986)
  • Bara Bola Api (1992)
  • Merah Putih Golek Kencana (1992)
  • Tusuk Sanggul Pudak Wangi (kelahiran Majapahit, 1989)
  • Subang Zamrud Nurhayati (Aceh Darussalam, 1992)

PenghargaanSunting

ReferensiSunting