Buka menu utama

"Budaya Tak Benda" Dominan Budaya: Adat Istiadat Masyarakat,Ritus dan Perayaan-perayaan Lokasi Persebaran: Bali Maestro: Ayu Lestari ( Perumahan Alam Hijau Lestari, Jl.Johor dd.7 Singosari, Kab.Malang Provinsi Jawa Timur) Kondisi Budaya: Masih Bertahan

Panca Sata

Upacara Caru Panca Sata ini merupakan salah satu upacara sakral (suci) bagi Umat Hindu, karena semua tindakan yang dilakukan dalam upacara ini sangat sarat akan simbol. baik itu dari segi sarana upakara/upacaranya ataupun banten/sajen pelengkap yang dipergunakan masing -masing memiliki arti simbolis keagamaan dan maksud disamping penggunaan nya tersebut. Makna dan tujuan penting Upacara Caru Panca adalah tindakan mengharmoniskan alam semesta dengan mengarahkan umat manusia khususnya Umat Hindu untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan kearifan lokal yang sangat dibutuhkan di era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini. tindakan mengharmoniskan alam semesta dapat berupa pelestarian terhadap lingkungan,satwa,dan tumbuhan sehingga tercipta siklus ekologi alam yang dinamis dan harmonis. Upacara Caru Panca Sata merupakan upacara korban suci berupa lima ekor ayam yang ditunjukkan kepada para bhutakala untuk membersihkan alam semesta beserta isinya serta memohon berkah dan karunia dari Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) agar semua manusia terhindar dari sifat-sifat tercela atau angkara murka serta terhindar dari pengaruh bhutakala yang mampu mengganggu kehidupan manusia. Pelaksanaan Upacara ini penting sekali dan wajib dilaksanakan bagi umat Hindu karena sebagai wujud nyata melaksanakan perintah Ida Sang Hyang Widhi sebagai manusia yang diciptakan paling utama (sempurna) dibanding makhluk lainnya, menyucikan hati seta untuk meningkatkan keimanan umat Hindu dan juga untuk menghindarkan diri dari pengaruh bhutakala yang mampu menggelapkan hati nurani manusia sehingga sulit untuk melihat kesucian Tuhan.
Bhutakala atau yang biasa disebut juga sebagai buta kala ini menurut kepercayaan Umat Hindu merupakan sosok yang bersifat negatif. Agama Hindu percaya bahwa dunia tidak hanya dihuni oleh manusia saja melainkan juga makhluk-makhluk gaib yang ada didalam nya. menurut Lontar Purwa Bhumikemulan dan Lontar Siwa Gama, Bhuta Kala berasal dari kata Bhuta yang berarti sesuatu yang sudah ada dan kata Khala yang artinya kekuatan/energi. jadi, dapat disimpulkan Bhutakala berarti energi yang timbul dan mengakibatkan kegelapan. Dalam Lontar Sri Jayakasunu, diceritakan bahwa Bhatara Siwa menciptakan Bhutakala untuk menguji manusia ketika mendekati hari raya Galungan, yang mana dalam lontar tersebut dijelaskan bahwa para Bhuta Kala menguji manusia pada hari redite,paing,dunggulan (ini jatuh setiap hari raya Galungan) yang diturunkan adalah Bhuta Amangkurat. demikian disebutkan dalam referensi dari Seluk Beluk Cara dan Tawur didokumen Facebook Forum Jaringan Hindu Nusantara.
Contoh nya saja, pada suatu hari ada sesuatu yang terjadi yang membuat kita sangat kesal dan marah, pembawaan nya emosi, bahkan sampai melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama bisa dibilang itu merupakan hasutan dari para Bhutakala yang bersifat negatif (untuk menguji kita, menguji iman dan keyakinan kita, mental serta keteguhan kita didalam mentaati ajaran dan larangan agama) oleh karenanya, kita haruslah pandai didalam mengingatkan,menjaga,dan mengendalikan diri agar tidak terpengaruh/terhindar dari hasutan yang tidak baik oleh para Bhutakala tersebut. Sehingga agar para Bhutakala ini tidak mengganggu kehidupan manusia serta terjadinya kestabilan dan keseimbangan antara Bhuana Agung(alam semesta) dan Bhuana Alit(manusia) disebutkan dengan:
1.Melaksanakan upacara nyupat Bhutakala, ini dapat dilaksanakan dengan upakara Bhuta Yadnya baik itu dalam tingkatan nista(kecil), madya(sedang), maupun utama(besar).
2.Dibuatkan Tugu Sedahan di pekarangan/ halaman rumah dan di lebuh untuk Ratu Ngurah Tangkeb Langit.
3.Dan juga dihaturkan segehan yang bertujuan sebagai ungkapan terimakasih/rasa syukur atas jasa Beliau dalam menjaga kehidupan ini.