Buka menu utama

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam IX (bahasa Jawa: Hanacaraka, ꦦꦏꦸ​ꦄꦭꦩ꧀​꧇꧙꧇ ) (dengan nama lahir Bendoro Raden Mas Haryo (BRMH) Ambarkusumo lahir di Pakualaman, 7 Mei 1938 – meninggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 21 November 2015 pada umur 77 tahun) adalah adipati pertama dari Pakualaman yang ditahtakan setelah Indonesia merdeka. Ibundanya bernama KBRAy Purnamaningrum. Pada 26 Mei 1999 KPH Ambarkusumo dinobatkan sebagai KGPAA Paku Alam IX menggantikan mendiang ayahnya Paku Alam VIII.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya
Paku Alam
ꦦꦏꦸ​ꦄꦭꦩ꧀꧇꧙꧇
PakuAlamIX.jpg
Wakil Gubernur Yogyakarta ke-2
Masa jabatan
9 Oktober 2003 – 21 November 2015
PresidenMegawati Soekarnoputri
Susilo Bambang Yudhoyono
Joko Widodo
GubernurHamengkubuwana X
PendahuluPaku Alam VIII
PenggantiPaku Alam X
Penguasa Paku Alam di Yogyakarta ke-9
Masa jabatan
26 Mei 1999 – 21 November 2015
PendahuluPaku Alam VIII
PenggantiPaku Alam X
Informasi pribadi
LahirBRMH Ambarkusumo
(1938-05-07)7 Mei 1938
Bendera Belanda Pakualaman, masa Hindia Belanda
Meninggal dunia21 November 2015(2015-11-21) (umur 77)
Bendera Indonesia Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia[1]
Kebangsaan Indonesia
PasanganBRAy Koesoemarini
AnakRM Wijoseno Hario Bimo
BPH Hario Seno
BPH Hario Danardono Wijoyo
Orang tuaPaku Alam VIII

Dari pernikahannya pada tahun 1966, ia dikaruniai 3 orang putra. Pada tahun 2003 ia diangkat menjadi wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2003-2008, mendampingi Hamengkubuwana X sebagai gubernur.

Daftar isi

Riwayat hidupSunting

Banyak yang mengatakan bahwa KPH/Pangeran Ambarkusumo yang dinobatkan menjadi Paku Alam IX, bukanlah sosok yang tepat untuk mewarisi tahta Pakualam dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya masih banyak yang belum mengenal sosoknya. Selain Sultan Hamengkubuwono, Pakualam juga memiliki peranan yang penting di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sri Paku Alam IX atau yang sebelumnya dikenal dengan nama B. R. M. H. Ambarkusumo ini merupakan putra tertua dari K.G.P.A.A. Paku Alam VIII dan ibundanya K.R.Ay. Purnamaningrum. Ia menikah dengan teman SMA-nya, Koesoemarini, yang merupakan alumni dari Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada pada tahun 1966.

Mereka kemudian dikaruniai 3 orang putra, yakni:

  • Wijoseno Hariyo Bimo, lahir tahun 1962, seorang ekonom.
  • Hariyo Seno, lahir tahun 1972, dan
  • Hariyo Danardono, lahir tahun 1974, seorang mahasiswa.

Putra pertama mereka, Wijoseno Hariyo Bimo menikah dengan Atika Purnomowati, seorang ekonom pula dan dikaruniai dua orang putra. Mereka sekeluarga tinggal di dalam lingkungan istana Pakualaman di Yogyakarta (Suryo S. Negoro).

Kamis (10/5/2012) di Bangsal Kencono Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. KGPAA Pakualam IX mendampingi Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat HB X, mengeluarkan Sabda Tama mengenai KEISTIMEWAAN DIY. Sabda yang dikeluarkan untuk pertamakali sepanjang sejarah Sultan HB X menjadi Raja yang menjelaskan kedudukan DIY sebagai bagian Nusantara yang istimewa dan otonom.

Perebutan kekuasaanSunting

Pada 15 April 2012, KPH Anglingkusumo mendeklarasikan (atau didaulat) [2] menjadi KGPAA Paku Alam IX. Peristiwa ini berlangsung di Pantai Glagah Kulon Progo (secara tradisional kawasan Pantai Glagah termasuk wilayah Kabupaten Adikarto milik Kadipaten Paku Alaman). Pendeklarasian yang dilaksanakan pada acara sedekah laut ini didukung oleh beberapa elemen masyarakat.

WafatSunting

Paku Alam IX akhirnya wafat pada tanggal 21 November 2015 pukul 15.10 WIB di ICU RSUP Dr. Sardjito Sleman karena sakit.[1][3]

ReferensiSunting

Pranala luarSunting

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Paku Alam VIII
Penguasa Paku Alam di Yogyakarta
1999–2015
Diteruskan oleh:
Paku Alam X
Jabatan politik
Jabatan lowong
Terakhir dijabat oleh
Paku Alam VIII
Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
2003–2015
Jabatan lowong
Selanjutnya dijabat oleh
Paku Alam X