Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia

universitas di Indonesia
(Dialihkan dari PMKRI)

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia disingkat (PMKRI) merupakan Organisasi Kepemudaan (OKP) Katolik yang berfungsi sebagai organisasi pengkaderan, pembinaan dan organisasi perjuangan mahasiswa Katolik (juga bukan Katolik) yang berasaskan Pancasila, dijiwai nilai-nilai kekatolikan, dan disemangati semangat kemahasiswaan.

PMKRI secara resmi berdiri pada 25 Mei 1947. Namun cikal bakal organisasi ini sudah ada jauh sebelumnya yakni saat berdirinya KSV Sanctus Bellarminus, Batavia (didirikan di Jakarta, 10 November 1928), KSV Sanctus Thomas Aquinas Bandung (didirikan di Bandung, 14 Desember 1947), dan KSV Sanctus Lucas Surabaya (didirikan di Surabaya, 12 Desember 1948).

Sejarah PMKRISunting

Federasi KSVSunting

Katholieke Studenten Vereniging (KSV) sebagai Organisasi Mahasiswa Katolik paling awal telah berdiri di beberapa daerah sebagai ebrikut:

Selanjutnya tahun 1949 dibentuk Federasi KSV yang diketuai oleh Gan Keng Soei (KS Gani) dan Ouw Jong Peng Koen (PK Ojong).

Perserikatan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI Yogyakarta)Sunting

Adapun PMKRI Yogyakarta yang pertama kali diketuai oleh Munadjat Danusaputro, didirikan pada tanggal 25 Mei 1947.

Fusi 11 Juni 1950 (Konggres I)Sunting

Keinginan Federasi KSV untuk berfusi dengan Perserikatan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Yogyakarta saat itu, karena pada pertemuan antar KSV di penghujung 1949, dihasilkan keputusan bersama bahwa “….Kita bukan hanya mahasiswa Katolik, tetapi juga mahasiswa Katolik Indonesia ..." Federasi akhirnya mengutus Gan Keng Soei (KS Gani) dan Ouw Jong Peng Koen (PK Ojong) untuk mengadakan pertemuan dengan moderator dan pimpinan PMKRI Yogyakarta.

Setelah mendapat saran dan berkat dari Vikaris Apostolik Batavia yang pro Indonesia, yaitu Mgr. Peter J Willekens SJ, utusan Federasi KSV (kecuali Ouw Jong Peng Koen yang batal hadir karena sakit) bertemu dengan moderator pada tanggal 18 Oktober 1950. Pertemuan dengan Ketua PMKRI Yogyakarta saat itu, yaitu PK Haryasudirja, bersama stafnya berlangsung sehari kemudian. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut intinya wakil federasi KSV yaitu Gan Keng Soei mengajak dan membahas keinginan ”Mengapa kita tidak berhimpun saja dalam satu wadah organisasi nasional mahasiswa Katolik Indonesia? Toh selain sebagai mahasiswa Katolik, kita semua adalah mahasiswa Katolik Indonesia. “

Maksud Federasi KSV ini mendapat tanggapan positif moderator dan pimpinan PMKRI Yogyakarta. Dan dari pertemuan itu dihasilkan dua keputusan lain yaitu:

  • Setelah pertemuan tersebut, masing-masing organisasi harus mengadakan kongres untuk membahas rencana fusi.
  • Kongres Gabungan antara Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta akan berlangsung di Yogyakarta tanggal 9 Juni 1951.

Dalam kongres gabungan tanggal 9 Juni 1951, kongres dibuka secara resmi oleh PK Haryasudirja selaku wakil PMKRI Yogyakarta bersama Gan Keng Soei yang mewakili Federasi KSV. Di luar dugaan, Kongres yang semula direncanakan berlangsung hanya sehari, ternyata berjalan alot terutama dalam pembahasan satu topik, yakni penetapan tanggal berdirinya PMKRI.

Di saat belum menemui kesepakatan, Kongres Gabungan sempat diskors untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing organisasi untuk kembali mengadakan kongres secara terpisah pada tanggal 10 Juni 1951. Akhirnya Kongres Gabungan untuk fusi-pun kembali digelar pada tanggal 11 Juni 1951 dan berhasil menghasilkan 14 keputusan.[1]

Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta berfusi menjadi satu sebagai organisasi nasional mahasiswa katolik bernama ”Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia” yang kemudian disingkat PMKRI. Sebutan perhimpunan ini disepakati sebagai pertimbangan agar organisasi baru ini sudah bersiap-siap untuk mau dan mampu menampung masuk dan menyatunya organisasi-organisasi mahasiswa Katolik lain yang telah berdiri berlandaskan asas dan landasan lain, seperti KSV-KSV di daerah-daerah pendudukan Belanda guna menuju persatuan dan kesatuan Indonesia.

Dasar pedoman (AD/Anggaran Dasar) PMKRI Yogyakarta diterima sebagai AD sementara PMKRI hingga ditetapkannya AD PMKRI yang definitif.

Keputusan-keputusan yang dihasilkan pada waktu itu:

  1. PMKRI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 25 Mei 1947.
  2. PMKRI berkedudukan di tempat kedudukan Pengurus Pusat PMKRI.
  3. Empat cabang pertama PMKRI adalah: PMKRI Cabang Yogyakarta, PMKRI Cabang Bandung, PMKRI Cabang Jakarta, dan PMKRI Cabang Surabaya.
  4. Dalam ART setiap Cabang PMKRI harus dicantumkan kalimat,”PMKRI berasal dari Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta yang berfusi tanggal 11 Juni 1951
  5. Santo pelindung PMKRI adalah Sanctus Thomas Aquinas
  6. Semboyan PMKRI adalah “Religio Omnium Scientiarum Anima” yang artinya Agama adalah jiwa segala ilmu pengetahuan.
  7. Baret PMKRI berwarna merah ungu (marun), dengan bol kuning di atasnya.
  8. Kongres fusi ini selanjutnya disebut sebagai Kongres I PMKRI.
  9. Kongres II PMKRI akan dilangsungkan di Surabaya, paling lambat sebelum akhir Desember 1952 dan PMKRI Cabang Surabaya sebagai tuan rumahnya.
  10. Masa kepengurusan PMKRI adalah satu tahun, dengan catatan: untuk periode 1951-1952 berlangsung hingga diselenggarakannya Kongres II PMKRI.
  11. PP PMKRI terpilih segera mendirikan cabang-cabang baru PMKRI diseluruh Indonesia dan mengenai hal ini perlu dikoordinasikan dengan pimpinan Waligereja Indonesia.
  12. PK Haryasudirja secara aklamasi ditetapkan sebagai Ketua Umum PP PMKRI periode 1951-1952.

Dengan keputusan itu maka kelahiran PMKRI yang ditetapkan pada tanggal 25 Mei 1947 menjadi acuan tempat PMKRI berdiri. PMKRI didirikan di Balai Pertemuan Gereja Katolik Kotabaru Yogyakarta di jalan Margokridonggo (saat ini Jln. Abubakar Ali). Balai pertemuan tersebut sekarang bernama Gedung Widya Mandala.

Penentuan tanggal 25 Mei 1947 yang bertepatan sebagai hari Pantekosta, sebagai hari lahirnya PMKRI, tidak bisa dilepaskan dari jasa Mgr. Albertus Soegijapranata. Atas saran dialah tanggal itu dipilih dan akhirnya disepakati para pendiri PMKRI, setelah sejak Desember 1946 proses penentuan tanggal kelahiran belum menemui hasil. Alasan dia menetapkan tanggal tersebut adalah sebagai simbol turunnya roh ketiga dari Tri Tunggal Maha Kudus yaitu Roh Kudus kepada para mahasiswa katolik untuk berkumpul dan berjuang dengan landasan ajaran agama Katolik, membela, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Pengurus Pusat PMKRISunting

Pengurus Pusat PMKRI (PP PMKRI) adalah badan eksekutif PMKRI di level nasional yang bertugas mengkoordinir (mengurus) Cabang PMKRI berikut Calon Cabang PMKRI dan Kota Jajakan PMKRI. Lebih dari itu, PP PMKRI menjadi representasi organisasi dalam hubungan ekternal kekatolikan maupun internal kekatolikan, baik di dalam maupun di luar negeri.Sejatinya, PP PMKRI bukan supra struktur dari DPC PMKRI (Cabang PMKRI), melainkan primus inter pares.

Berikut ini adalah nama-nama pengurus pusat PMKRI, yaitu:[butuh rujukan]

  • 1951: Yogyakarta I, PK.Hardjasudirdja
  • 1952: Surabaya II, Sudyana
  • 1953: Jakarta III, Anton Moeliono
  • 1954: Bandung IV, Wisanto Haryadi
  • 1955: Yogyakarta V, C.Koentoro
  • 1956: Surabaya VI, FX.Surjanto
  • 1957: Jakarta VII, BS. Muljana
  • 1958: Bandung, I BS. Muljana
  • 1959: Semarang VIII /II, A.Hadyana P
  • 1960: Malang III, A.Ben Mboi
  • 1961: Yogyakarta IX/IV, Harry Tjan Silalahi
  • 1962: Surabaya V, Harimurti K
  • 1963: Jakarta VI, Cosmas Batubara
  • 1964: Malang X/VII, Cosmas Batubara
  • 1967: Bandung VIII, Savrinus Suardi
  • 1969: Surabaya XI/IX, Max Johanes Wajong
  • 1971: Surakarta XII/X, Chris Siner Key Timu
  • 1975: Semarang XIII/XI, Chris Siner Key Timu
  • 1977: Malang XIV/XII, Wem Kaunang
  • 1981: Jakarta XIII, Marcus Mali
  • 1985: Jakarta XV/XIV, Paulus Januar
  • 1988: Surabaya XVI/XV, Gaudens Wodar
  • 1990: Ujung Pandang XVII/XVI, Cyrillus I Kerong
  • 1992: Bandung XVIII/XVII, Leonardo Renyut
  • 1994: Medan XIX/XVIII, Antonius Doni
  • 1996: Malang XX/XIX, I Riza Primahendra
  • 1998: Banjarmasin XXI/XX, Ign. Kikin P Tarigan S
  • 2000: Jakarta XXII/XXI, Robert JE. Nalenan
  • 2002: Kupang XXIII /XXII Maria Restu Hapsari, Sekjen Meski Laka Lena
  • 2004: Manado XXIV /XXIII Emmanuel Josafat Tular, Sekjen Ariadi Budiarjo
  • 2006 Jayapura XXV/XXIV Bartolomeus Jematu, Sekjen Mervin I.S.Komber
  • 2009 Denpasar XXVI/XXV Stefanus Asat Gusma, Sekjen Emanuel Herdiyanto
  • 2011 Pontianak XXVII/XXVI Parlindungan Simarmata
  • 2013 Surabaya XXVIII/XXVII Lydia Natalia Sartono
  • 2016 Cibubur XXIX/XXVIII Angelius Wake Kago, Sekjen Bernadus Tri Utomo
  • 2018 Palembang XXX/XXIX Juventus Prima Yoris Kago, Sekjen Tomson Sabungan Silalahi
  • 2020 Ambon XXXI/XXX Benidiktus Papa, Sekjen Tri Natalia Urada

Bintang Sanctus Thomas AquinasSunting

Kepada tokoh-tokoh PMKRI (juga bukan PMKRI) yang berjasa kepada organisasi diberikan penghargaan Bintang Sanctus Thomas Aquinas. Pengusulan dan penetapaan dilakukan dalam Sidang MPA, dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PP PMKRI.

Berikut beberapa penerima Bintang Jasa Sanctus Thomas Aquinas:

  1. St.Munadjat Danusaputro (MPA Malang, 1996)
  2. Bung Kanis Parera (MPA Malang, 1996)
  3. Mgr. Albertus Soegijapranata (MPA Banjarmasin, 1998)
  4. PK Ojong (MPA Banjarmasin, 1998)

Cabang cabang PMKRISunting

PMKRI Cabang YogyakartaSunting

PMKRI Cabang Yogyakarta didirikan pada 25 Mei 1947 dengan nama PERSERIKATAN MAHASISWA KATOLIK REPUBLIK INDONESIA dengan ketua pertama St. Munadjat Danusaputro dan santo pelindung: St. Thomas Aquinas.

Berikut daftar Ketua-Ketua Presidium PMKRI Yogyakarta yang pernah menjabat atau sedang menjabat:

  1. 1947 - 1950: St. Munadjat Danusaputro
  2. 1950 – 1951: P.K. Harjasudirdja
  3. 1951 – 1952: E. Dulkahar
  4. 1953 – 1954: F.X. Sudijana
  5. 1954 – 1955: A. Marwoto
  6. 1955 – 1956: V.B. da Costa
  7. 1956 – 1957: A. Moegijono
  8. 1957 – 1959: J.B. Moerdopo
  9. 1959 – 1961: F.X. Bambang Ismawan\
  10. 1961 – 1962: A.J. Sadewa
  11. 1962 – 1963: J. Soedradjat Djiwandono
  12. 1963 – 1964: A. Soemantri Hardjojuwono
  13. 1964 – 1966: R.J.B. Soehendrodjati
  14. 1966 – 1968: Ign. Suluh Darmadji
  15. 1968 – 1969: Rudolf Pamor
  16. 1969 – 1970: Jos Soenaryo
  17. 1970 – 1971: R. Soelistyo
  18. 1971 – 1972: Gaspar P. Ehok
  19. 1972 – 1973: M. Pri Hendratmoko
  20. 1973 – 1974: H.J. Soedanasto
  21. 1975 – 1976: A. Soesanto
  22. 1976 – 1977: Nobertus Jerabu
  23. 1977 – 1979: Lukas Suryanto Isp
  24. 1979 – 1981: Betti Endang Triworo
  25. 1981 – 1983: Benedictus Osok
  26. 1983 – 1984: Ign. Suryanjono
  27. 1984 – 1985: Kastorius Clement Sinaga
  28. 1985 – 1986: C. Eliasta Karo-karo
  29. 1986 – 1989: Hendrikus T. Sasminto
  30. 1989 - 1990: T. Satrio Nugroho
  31. 1990 - 1992: Ferdinand Leo
  32. 1992 - 1993: B. Budi Wibowo
  33. 1993 - 1995: Hamonangan O. Pandiangan
  34. 1995 - 1996: Fransiskus P. Paskalis Abi
  35. 1996 - 1998: Sylvester Lahi
  36. 1998 - 1999: Setyo Budiantoro
  37. 1999 - 2000: Natalia CAW
  38. 2000 - 2001: Alvonsius Baba Lolon
  39. 2001 - 2002: Elias Dabur
  40. 2002 - 2004: Fulton Brato
  41. 2004 - 2006: Ign. Dwiana
  42. 2006 - 2008: Reynold Lum
  43. 2008 - 2010: Tindra M. Kinasih
  44. 2010 - 2012: Lusiana Bintang Siregar
  45. 2012 - 2014: Marianus Wiran
  46. 2014 - 2015: Hendri Santoso
  47. 2015 - 2017: Romualdus Lalung
  48. 2017 - 2018: Paskalis Korain
  49. 2018 - 2020: Astramus F. Tandang
  50. 2020 - 2022: Filemon Purnama

PMKRI Cabang SamarindaSunting

PMKRI Cabang Samarinda dengan status calon cabang setelah PP PMKRI mengadakan Masa Orentasi Calon Anggota PMKRI Angkatan I pada tanggal 24-28 Februari 1994. Sembilan bulan kemudian tepatnya pada tanggal 23 November 1994 status calon cabang diresmikan menjadi cabang penuh dalam sidang MPA-XVIII melalui TAP MPA No 03/TAP/MPA-XVIII/1994 di Medan Sumatra Utara.

PMKRI Cabang Samarinda secara resmi berdiri pada 28 Februari 1994 dengan Santo Pelindung Ignasius de Loyola

Berikut daftar Ketua-Ketua Presidium dan Sekretaris Jenderal PMKRI Cabang Samarinda St.Ignasius de Loyola yang pernah menjabat atau sedang menjabat:

1. 1994-1995:

  Kapres: Paulus Kadok,
  Sekjen: Yohanes Jalung

2. 1995-1997:

  Kapres: Kamilius Tegun, 
  Sekjen: Simawati

3. 1996-1997:

  Kapres: Hendra Nata, 
  Sekjen: Yordanus Dani

4. 1997-1998:

  Kapres: Benidiktus Maniek D,
  Sekjen: Antonius Maniek P

5. 1998-1999:

  Kapres: Hendrikus Hayon, 
  Sekjen: Fransiskus Pasila

6. 1999-2001:

  Kapres: Reginus Tarang N,
  Sekjen: G Thomas Irenius

7. 2001-2002:

  Kapres: Natalis Bambang Untoro,
  Sekjen: Theresia Hilda Kayani

8. 2002-2003:

  Kapres: Brigitha Edna,
  Sekjen: Kornelis Kladu Maran

9. 2003-2004:

  Kapres: Jansensius D Hurin,
  Sekjen: Yohanes Syukur

10. 2004-2005:

  Kapres: Syadikin, 
  Sekjen: Kornelis Kladu Maran

11. 2005-2006:

  Kapres: Yohanes Syukur, 
  Sekjen: Mendan Ala

12. 2012-2015:

  Kapres: Hilarius Onesimu M Jong

13. 2016:

  Kapres: Novita Theresia, 
  Sekjen: Silvester Hengky Sanan

14. 2017-2018:

  Kapres: Silvester Hengky Sanan,
  Sekjen: Agustinus Yantul

15. 2018-2019:

  Kapres: Agustinus Yantul, 
  Sekjen: Yogi Prasetyo Putra

16. 2020-2021:

  Kapres: Yakobus Catur Bimo Sasongko, 
  Sekjen: Sebastianus Torino Welly

PMKRI Cabang JakartaSunting

Sekitar tahun 1959 - 1963, Dewan Pimpinan Cabang PMKRI Jakarta telah merasakan perlu adanya pembentukan Rayon, karena perkembangan anggotanya yang cukup pesat dan tempat fasilitas yang kurang. Akhirnya tahun 1963, PMKRI Jakarta dibagi atas 5 Rayon (Marga I Menteng, Marga II Mangga Besar, Marga III Jatinegara, Marga IV Petojo, dan Marga V Kebayoran).

PMKRI Cabang Jakarta Rayon PetojoSunting

Pada saat itu Rayon Petojo belum mempunyai sekretariat tetap, masih menumpang di rumah salah seorang anggotanya yang tinggal di Petojo Selatan. Sedangkan untuk menjalankan kegiatan yang diinstruksikan dari Cabang para anggotanya berkumpul di gedung SD Tarsisius sebulan sekali. Cakupan wilayah PMKRI Petojo saat itu meliputi daerah; Grogol dan sekitarnya, Tanah Abang, dan berpusat di Petojo.

Baru pada tahun 1965 melalui perjuangan panjang Anggota, dan Senior, serta bantuan dari Keuskupan Agung Jakarta akhirnya Rayon Petojo memiliki gedung Sekretariat tetap hingga saat ini, yakni di Jl. Tanah Abang I/25 B Jakarta Pusat. Gedung Sekretariat diberkati oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, S.J. pada tanggal 13 Agustus 1965, yang kemudian terus diperingati sebagai HUT Marga Petojo

1. BuletinSunting

Pada tahun yang sama, untuk pertamakalinya terbit Bulletin intern yang diberi nama PETOGROTA yang merupakan kependekan dari PETOJO, Grogol, Tanah Abang, ide awal ini disponsori oleh “Peter Zagita” tujuan Bulletin ini adalah sebagai sarana komunikasi antar anggota.

2.Poliklinik UmumSunting

Dalam perkembangannya kemudian PMKRI Rayon Petojo mendirikan Poliklinik Umum pada tahun 1970, yang bertujuan untuk membantu dan menambah ketrampilan anggota dalam menjadi sarjana paripurna, serta membantu masyarakat sekitar Marga Petojo. Pada 30 Agustus 1977, Poliklinik Umum mengadakan praktik yang pertamakalinya, sekaligus peresmian beroperasinya Poliklinik Umum di bawah pimpinan dr.Tedjo Handoyo. Saat ini Poliklinik Umum Margasiswa IV sudah tidak ada seiring dengan hilangnya perkampungan disekitar Margasiswa IV dan tidak dilakukannya regenerasi dokter praktik.

3. Poliklinik GigiSunting

Tiga tahun kemudian, tepatnya tanggal 21 Januari 1980 didirikan Poliklinik Gigi, yang merupakan perluasan dari Poliklinik Umum, di bawah tanggung jawab drg.Mira Wisendha, Klinik Gigi bertujuan untuk meciptakan dokter – dokter yang handal dan profesional dalam bidangnya, disamping turut memberikan pelayanan kepada masyarakat sekitar yang kurang mampu.

PerkembanganSunting

Secara umum, kepengurusan PMKRI Rayon Petojo sudah berdiri sejak 1965 dan terus eksis hingga tahun 1990–an. Proses kaderisasi, pembinaan dan suksesi kepemimpinan terus berlangsung. Hanya saja, semangat ini menurun drastis dan mencapai klimaksnya pada tahun 1996-2000. Hampir lebih kurang dalam kurun waktu 4 [empat] tahun terjadi kevakuman Badan Pengurus PMKRI Rayon Petojo.

Ini berimbas pada: tidak adanya Regenerasi sampai akhirnya semua pembinaan formal PMKRI rayon berhenti dengan sendirinya. Pada awal tahun 2000 atas inisiatif beberapa rekan senior yang masih peduli pada PMKRI Petojo di antaranya Christopher Nugroho, Ferry Chandra Kusuma, Stanley W. da Lopez yang komit untuk membangun atau menghidupkan kembali Rayon Petojo dengan Paradigma baru.

Usaha ini mendapat dukungan dari DPC PMKRI Cabang Jakarta dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Nomor:IST/ DPC / I – F / 01 tertanggal 8 November 2001 Tentang: Pengangkatan Stanley W. da Lopez sebagai Pejabat Ketua Umum Badan Pengurus PMKRI Rayon Petojo periode 2001–2002 dengan tugas utama Revitalisasi PMKRI Cabang DKI Jakarta Rayon Petojo.

Berikut nama-nama ketua Presidium dan sekteratris jendral yang pernah menjabat

  1. 1965-1966: Aloysius Irwan Machdy (alm), Sekjen Rudy K
  2. 1966-1967: Rudy Kartadinata, Sekjen Lilian S
  3. 1967-1968: Lilian Sundari, Sekjen Laurentius K.
  4. 1968-1969: Threes Iswari, Sekjen Wahyudi Firmasyah
  5. 1969-1970: Wahyudi Firmansyah, Sekjen Anton Djawardi
  6. 1970-1971: Anton Djawardi / Michael D.Chandra (Alm)
  7. 1971-1972: Michael D. Chandra W. (Alm), Sekjen Alex Julianto
  8. 1972-1973 Pepen Danuadmaja, Sekjen Andreas T.H
  9. 1973-1974 Alex Julianto, Sekjen Ferry Lumanauw
  10. 1974-1975: Dr Tedjo Handojo, Sekjen Thomas Hardi Pranoto
  11. 1975-1976: Tjahjadi Lukiman, Sekjen Frans Wijaya
  12. 1976-1977: Paulus Andi, Sekjen Petrus T.D
  13. 1977-1978: FX. Roy Gunawan, Sekjen Budi Prasetia
  14. 1978-1979: Sernawan Ternadi, Sekjen G. Sandjaja Sentosa
  15. 1980-1981: Danny Lim, Sekjen Jahja Suryawidjaja
  16. 1981-1982: Wilhelmus Wallong, Sekjen Ign. Michael Tedja
  17. 1982-1983 Rudy Sugiarto, Sekjen Samuel Abadi
  18. 1983-1984: Ferdy Joseph, Sekjen Antonius HD.
  19. 1984-1985: Hans Suryono, Sekjen A.M Kurniawan C.
  20. 1985-1986: A.Andy Haryoko, Sekjen Teguh Prawira
  21. 1986-1987: Michael Tjan, Sekjen Hendi Budi
  22. 1987-1988: Fransiskus Ferry AnwarMichael I.Chayono G
  23. 1988-1989: Adrianus Andre Purnadi, Sekjen Christian Marcel
  24. 1989-1990: Franky Limanto, Sekjen Susana Sentosa
  25. 1991-1992: Suryadi Taslim, Sekjen Tomas Nusanto
  26. 1992-1993: Thomas Nusanto, Sekjen Pang Chung Hian (Alm)
  27. 1993-1994: Yenni Salean, Sekjen Harry
  28. 1994-1995: Pang Chung Hian (Alm), Sekjen Linah B
  29. 1995-1996: Christopher Nugroho, Sekjen Surendro Djati
  30. 1996-1997: Eduardus S. Abun, Sekjen Yustin
  31. 1997-1998: FX. Wendie Sastranegara, Sekjen M. I. Febryanti
  32. 2001-2003: Stanley W, Sekjen Vincentius Ferry Chandra
  33. 2003-2004: Eric Hartanuh
  34. 2004-2005: Pieter Muliawan, Sekjen Daniel Oyong
  35. 2005-2006: Eka P. S.
  36. 2006-2007: Gerardus N. M.

PMKRI PematangsiantarSunting

PMKRI Cabang Pematangsiantar yang awalnya bernama PMKRI Cabang Pematangsiantar-Simalungun dengan pelindungnya Santo Fransiskus dari Assisi beralamat di Jalan Lingga No. 1 Pematangsiantar (Belakang SMA/SMK Bintang Timur Pematangsiantar).

Dies Natalis dilaksanakan setiap tanggal 3 Oktober tiap tahunnya. Eksis sejak tahun 1965 dan sempat mati suri hingga dihidupkan kembali pada tahun 2008. Sejak tahun itu, PMKRI Cabang Pematangsiantar sudah dinahkodai beberapa Ketua Presidium dan Sekretaris Jenderal, seperti terdaftar di bawah ini:

  • 2009-2010: Murni Pandiangan, Sekjen Junus Sitio
  • 2010-2011: Junus Sitio, Sekjen Alfian Parhusip
  • 2011-2012: Alfian Parhusip, Sekjen Rahel Siadari. Kepemimpinan Rahel Siadari dan Risnawati Sagala hanya bertahan 3 bulan karena Ketua Presidium Sakit, sehingga perlu diadakan RUAC
  • 2012-2013 Tomson Sabungan Silalahi, Sekjen Esron Hutauruk
  • 2014-2015: Herisden Ambarita, Sekjen Ita Manik
  • 2015-2016: Alfredo Pance Saragih/Yafanus Buulolo
  • 2016-2017: Rowis Jeperson Sitohang, Sekjen Ekaristi Sidauruk
  • 2017-2018: Putra Jaya Saragih, Sekjen Titin R. Manurung

ReferensiSunting

  1. ^ a b "Sejarah Berdiri PMKRI". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-12-31. Diakses tanggal 2011-06-18. 

Pranala luarSunting