Orang Tojo[1] (ejaan Van Ophuijsen: De Todjoërs) adalah sebuah kelompok etnis yang berasal dari Taliboi, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Sebuah foto di mapane setelah berhasil mengusir takule, suku bare'e berfoto memakai baju adat piyama dan sarung
Pembawaan seorang Suku Bare'e : "Seperi air sungai yang mengalir hingga ke laut" (like a river flow in to the sea; foto sungai tojo; 1902)

Suku Bare'e yang berasal dari Desa Tojo bisa disebut juga dengan nama Orang Tojo, Orang Tojo adalah Penduduk Asli dari Taliboi, Taliboi yaitu Pusat pemerintahan Kerajaan Tojo yang sekarang Taliboi tersebut adalah Desa Tojo.

Orang Tojo ada juga yang disebut dalam Bahasa Bare'e sebagai Paranaka (Paranaka;Bahasa Bare'e)[2] adalah Suku Bare'e yang berasal dari Desa Tojo yang kemudian menikah dengan orang dari luar Suku Bare'e seperti suku Bugis, Gorontalo, Minahasa, dan lain-lain. Orang Belanda menyebut mereka De Todjoërs yang berarti Orang Tojo atau Paranaka.

Dan yang Bukan Paranaka (orang yang tinggal di Desa Tojo), disebut Suku Bare'e Tojo, atau Suku Bare'e Tojo adalah Suku Bare'e yang tinggal di wilayah Tojo yaitu dari lembah Tojo sampai Marowo.[3]

Adanya penilaian terhadap pembawaan seorang Suku Bare'e, yaitu : "Seperi air sungai yang mengalir hingga ke laut", itu artinya adalah kebiasaan dari penduduk suku bare'e yang membuat rumah tempat tinggal mereka dimulai dari sungai-sungai sampai ke pinggir pantai di tepi laut (Teluk Tomini), rumah-rumah tersebut bisa didapati dimulai dari ujung sungai yang terjauh dari mulut pantai sampai yang terdekat dari laut Teluk Tomini, bahkan hingga ke pinggir pantai. Hal tersebut dilakukan oleh penduduk suku bare'e untuk menghindar dari serangan musuh yang sering melalui Teluk Tomini, jadi rumah penduduk suku bare'e dibikin agak jauh dari laut.[4]

Suku Bare'e mengatakan : " Ohaio !, Orang Tojo kemana-mana selalu membawa Lobonya "[5].

Suku Bare'e, Kerajaan Tojo.

Sejarah sunting

Rumah ibadah pagi penganut kepercayaan Lamoa disebut Lobo, dan Lobo juga biasa digunakan sebagai rumah adat oleh Suku Bare'e[6]. Tahun 1914 di wilayah Tojo, Lobo masih bisa didapati di beberapa desa, terutama di Taliboi dan Makoepa (makupa)[7]. Lobo menggunakan konstruksi berciri khas rumah adat dan rumah ibadah di Provinsi Sulawesi Tengah yang tidak ada di provinsi lain di Indonesia. Lobo terbuat dari kayu hitam eboni.

Permukiman muncul dari orang yang lahir dari pernikahan Suku Bare'e yang lahir dan besar di Tojo dengan Suku Bugis, dan mereka menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan Paranaka atau Orang Tojo.[8] Tahun 1902 Orang Tojo dalam buku laporan Hindia Belanda disebutkan bahwa jumlah Orang Tojo (Paranaka) saat itu sebanyak 3500 Orang, dan Mata pencaharian Orang Tojo adalah dari berdagang, dan bertani.

Di beberapa titik di pantai timur Propinsi Sulawesi Tengah adalah Tojo dan yang dikenal lagi disuatu tempat di Tojo adalah distrik Taliboi yaitu Pusat Kerajaan Tojo, sewaktu ibukota Kerajaan Tojo masih berada di Tojo yang pada tahun 1929 ibukota Kerajaan Tojo dipindahkan ke Ampana oleh Raja Tojo Tandjumbulu.[9]

Lihat Pula sunting

Referensi sunting

  1. ^ BARE'E-STAMMEN, De Bare'e-Sprekende de Toradja in midden celebes jilid 1 halaman 119, [1].
  2. ^ Suku Bare'e dan Kerajaan Tojo (2017), [2], Diakses 7 Januari 2020.
  3. ^ Suku Bare'e di poso dan tojo.[3].
  4. ^ Sumber : DE BARE'E-SPREKENDE DE TORADJA VAN MIDDEN CELEBES jilid 1.[4].
  5. ^ OHAIO-LIEDEREN (LAGU OHIO !), RUMAH ADAT LOBO SEBAGAI SIMBOL ADAT ISTIADAT DAN BUDAYA SUKU BARE'E, suku bare'e di tojo kemana-mana selalu membawa Lobo-nya, De Bare'e-Sprekende de Toradja van midden celebes jilid 3, halaman 593.[5].
  6. ^ Suku Bare'e.[6].
  7. ^ RUMAH ADAT LOBO, di wilayah Tojo, De Bare'e-Sprekende de Toradja van midden celebes jilid 3, halaman 601-602. [7].
  8. ^ Sejarah Kerajaan Tojo (2017), [8] Diarsipkan 2020-01-11 di Wayback Machine., Diakses 7 Januari 2020.
  9. ^ KERAJAAN TOJO, Sulawesi Tengah,Indonesia.[9].