Buka menu utama

Ngabungbang Batulawang {atau biasanya disebut Ngabungbang saja) adalah sebuah upacara adat yang telah menjadi tradisi di masyarakat Etnis Sunda, khususnya yang berada di wilayah Kota Banjar, Jawa Barat. Menurut data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, nama "Batulawang" sendiri berasal dari tempat pertama kali upacara atau tradisi ini muncul, yakni di Desa Batulawang, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat.[1]

Kini Ngabungbang tidak hanya ditemukan di Kota Banjar saja, tetapi juga kota-kota lain di Jawa Barat, beberapa diantaranya adalah Kota Bogor, Cianjur dan Pelabuhanratu di Kota Sukabumi. Memang tradisi Ngabungbang di wilayah Jawa Barat yang lain agak berbeda dengan yang ada di Kota Banjar.[2][3][4][5][6]

Asal-UsulSunting

Maestro daripada tradisi Ngabungbang ini adalah Ki Demang Wangsyafyudin dari Desa Batulawang, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat. Secara terminologi, Ngabungbang terdiri atas dua kata, yakni nga yang (dalam Bahasa Indonesia) berarti menyatukan, sementara kata yang kedua adalah bungbang yang (dalam Bahasa Indonesia) berarti membuang, membersihkan atau menyucikan.[1]

Sementara secara etimologi, upacara Ngabungbang menurut pendapat salah satu sesepuh adat Banjar - yang dikutip dalam buku Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia - Ngabungbang adalah adat atau tradisi bagi orang Sunda, dimana masyarakat beraktivitas di luar rumah dan tidak tidur semalam suntuk, atau istilahnya dalam Bahasa Sunda adalah nyaring sapeupeuting.[1]

Ngabungbang juga dapat diartikan sebagai mandi suci dengan mempersatukan cipta, rasa dan karsa untuk membuang atau membersihkan seluruh sifat-sifat yang buruk dalam diri manusia, baik itu sifat lahir maupun sifat batin.[1]

Awalnya tradisi ini dilakukan atau dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur atau ruh nenek moyang, bahkan ada beberapa orang yang bertujuan untuk mendapatkan ilmu gaib, memperoleh kekayaan harta dan lain sebagainya.[1]

Prosesi UpacaraSunting

Prosesi upacara Ngabungbang telah diatur dan terlembaga dan dipimpin oleh tokoh adat. Karena sudah terlembaga, dalam prosesi Ngabungbang juga biasanya menampilkan beberapa pertunjukkan budaya, berupa lantunan lagu dan tari-tarian tradisional seperti; Rudat Solawat, Reog Bedug, Silengser, Gondang Buhun, dan Ronggeng Gunung.[1]

Upacara Ngabungbang Batulawang biasanya dilaksanakan pada malam hari, tepat pada tanggal 14 Maulud dan pada saat bulan purnama. Upacara biasanya diawali dengan sambutan-sambutan dari inohong. Inohong adalah istilah dalam bahasa Sunda untuk menyebut pada sesepuh adat, tokoh masyarakat, tokoh budaya dan unsur-unsur Muspida lainnya.[1]

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dalam melaksanakan upacara Ngabungbang, masyarakat Desa Batulawang diharuskan tidak tidur semalam suntuk atau prosesi ini disebut sebagai nyaring sapeupeuting. Setelah tidak tidur semalam suntuk, masyarakat yang ikut dalam upacara melanjutkan prosesi dengan mandi di tujuh sumur yang telah dikeramatkan. Prosesi mandi di tujuh sumur ini bertujuan sebagai media pembersihan dan penyucian diri dari sifat-sifat buruk yang tidak diinginkan.[1]

PerubahanSunting

Seiring perkembangan zaman, tradisi Ngabungbang juga mengalami beberapa perubahan atau modifikasi. Bila sebelumnya banyak yang menggunakan tradisi Ngabungbang untuk tujuan-tujuan pribadi seperti ilmu gaib dan menjadi kaya raya, kini tradisi ini lebih bertujuan untuk memperoleh kesucian spiritual. Upacara Ngabungbang kini juga memiliki tujuan yang jauh lebih baik, yakni sebagai media untuk membersihkan diri dari setiap masing-masing warga desa dengan cara bersih bumi dengan harapan akan mampu mencapai jatidiri yang suci dan bersih.[1]

TujuanSunting

Tradisi Ngabungbang memiliki beberapa tujuan, fungsi dan manfaat yang baik bagi masyarakat, khususnya masyarakat di Desa Batulawang. Tradisi Ngabungbang memiliki nilai-nilai keteladanan yang sangat baik untuk dijadikan pedoman hidup agar senantiasa bersyukur pada anugerah Tuhan dan juga menjaga hubungan silaturahmi diantara setiap warga, hal ini menjadi modal sosial dan modal spiritual yang sangat baik.[1]

Selain itu, dengan adanya pertunjukkan budaya dalam prosesi upacara Ngabungbang juga bermanfaat bagi media promosi budaya, penghromatan terhadap tamu dan orang tua, sekaligus memperkenalkan budaya Sunda bagi generasi muda. Dengan demikian, kebudayaan Sunda akan menjadi lestari.[1]

Wilayah LainSunting

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tradisi Ngabungbang juga terdapat di wilayah Jawa Barat yang lain, di luar Kota Banjar. Akhirnya perbedaan-perbedaan ini membuat tradisi Ngabungbang menjadi warisan budaya Suku Sunda dimanapun dan menambah keberagaman.

Misalkan tradisi Ngabungbang di Kabupaten Cianjur diadakan pada tanggal 12 Maulid atau tepat pada hari lahir Nabi Muhammad SAW. Selain itu tradisi Ngabungbang di Cianjur tidak melkukan ritual mandi seperti yang dilakukan di Kota Banjar, tetapi ritual dilakukan lebih kepada bentuk menyucikan benda-benda pusaka oleh salah satu perguruan pencak silat di sana, yakni Padepokan Maung Bodas yang tepatnya berada di Kampung Cilejang, Desa Sukamulya, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur.[4]

Kemudian tradisi Ngabungbang di Bogor juga memiliki perbedaan dengan yang ada di Kota Banjar. Ritual Ngabungbang di Bogor dapat ditemukan di kawasan Cimande, Caringin, Bogor, salah satu kawasan yang terkenal juga dengan kesenian bela diri pencak silat. Tradisi Ngabungbang di Bogor diawali dengan ziarah makam ke makam-makam leluhur antara lain Makam Eyang Somad, Makam Abah Khair, Makam Eyang Rangga, dan Makam Abah Buyut. Setelah melaksanakan ziarah makam, warga kemudian melanjutkan upacara dengan melakukan pembersihan pusaka-pusaka, salah satu pusaka yang paling penting adalah Gobang Karancang. Namun tradisi Ngabungbang di Kota Bogor dilaksanakan pada tanggal 14 Maulid, sama seperti yang dilaksanakan di Kota Banjar.[2]

Sementara itu di Palabuhanratu, Sukabumi juga memiliki tradisi Ngabungbang, tepatnya di Muara Cisukawayana yang masuk dalam kawasan Pantai Sukawayana. Pemilihan lokasi tersebut dikarenakan adanya keterikatan dengan kepercayaan warga dengan sosok Ratu Laut Selatan, Nyi Roro Kidul sehingga lokasi tersebut dianggap keramat. Prosesi ritual Nabungbang di Pelabuhanratu kurang lebih sama dengan yang ada di Kota Banjar, seperti adanya pembersihan diri dengan mandi pada tengah malam. Namun yang membedakan tradisi Ngabungbang di Pelabuhanratu adalah dilaksanakan setiap bulan pada tanggal 14 termasuk tanggal 14 Maulid, jadi total dalam setahun warga melaksanakan Ngabungbang sebanyak 12 kali. Tradisi Ngabungbang di Palabuhanratu juga dipercaya warga sebagai media untuk menguji dan meningkatkan kebatinan.[3][6]

Selain di Palabuhanratu, tradisi Ngabungbang juga terdapat di Kampung Warung Tilu Sukasirna, Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran, yang juga masuk dalam Kabupaten Sukabumi. Di tempat tersebut tradisi Ngabungbang dilaksanakan oleh salah satu perguruan pencak silat, yakni Padepokan Uka Saputra. Prosesi Ngabungbang dilaksanakan dengan memanjatkan doa-doa, kebanyakan doa-doa yang dilafadzkan seperti selawat dan tahlil.[5]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h i j k Direktorat Jendral Kebudayaan, Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2018, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2018) hal. 142
  2. ^ a b "'Ngabungbang', Tradisi Ruwat Pusaka Adat Cimande Bogor di Bulan Maulid". rri.co.id (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2019-04-07. 
  3. ^ a b Media, Kompas Cyber. "Ngabungbang di Palabuhanratu Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-04-07. 
  4. ^ a b "Ritual Ngabungbang, Tradisi Memandikan Benda Pusaka Peninggalan Leluhur di Cianjur". Tribun Jabar. Diakses tanggal 2019-04-07. 
  5. ^ a b Danang Hamid, Ngabungbang Tradisi Sakral Pencak Silat di Kabupaten Sukabumi dalam https://sukabumiupdate.com/detail/vakansi/wisata/17671-ngabungbang-tradisi-sakral-pencak-silat-di-kabupaten-sukabumi diakses pada 7 April 2019.
  6. ^ a b "Bagi yang Percaya, Katanya Ritual Ngabungbang di Palabuhanratu Bertujuan Untuk ini……". radarsukabumi.com. 2017-11-23. Diakses tanggal 2019-04-07. 

Pranala LuarSunting