Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij

Perusahaan Gas Hindia Belanda ( Nederlandsch Indische Gasmaatschappij ( NIGM ) adalah perusahaan gas milik pemerintah Hindia Belanda. Didirikan pada tahun 1862 di Batavia kemudian diperluas ke Suriname pada tahun 1908 hingga Curaçao tahun 1927.[1][2]

Kantor NIGM di Medan (sekitar tahun 1925), sekarang menjadi Perusahaan Listrik Negara Indonesia .
Sepotong bangunan yang tersisa dari Pabrik Gas yang menjadi Kantor Gas Negara di Batavia.

Pada zaman Perang Dunia Kedua (II), perusahaan ini berhasil mendirikan dan mengoperasikan sebanyak 11 pabrik gas serta 33 pembangkit listrik. Perusahaan tersebut kemudian berubah nama menjadi Perusahaan Gas dan Listrik Luar Negeri, Belanda: Gas Overzeese-Electriciteitsmaatschappij ( OGEM ) pada tahun 1950 setelah listrik mulai populer sebagai sumber energi.[1]

Perusahaan ini terus berkembang di Batavia dan menyebar hingga Mesteer Cornelis, Soerabaja, Semarang, Bekasie, Buitenzorg, Tanah Deli (Medan), hingga Paramaribo. Kota Batavia yang sebelumnya gelap gulita menjadi terang dengan hadirnya lampu gas pada ruas-ruas jalan dan tempat umum. Namun, wilayah pertama yang mendapatkan penerangan dari lampu gas ini adalah komplek Istana Riswijk atau kantor Gubernur Batavia yang kini menjadi Istana Negara.[3]

Pasca-kemerdekaan, Indonesia melakukan nasionalisasi sebagian perusahaan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1954 dan merubah nama perusahaan NIGM menjadi Perusahaan Gas Negara (PN Gas) dan mengambil alih semua aset yang dimiliki oleh NIGM. Saat ini perusahaan tersebut berubah menjadi PT. PGN Tbk yang sebelumnya juga pernah dinamakan Perusahaan Umum ( Perum) Gas Negara pada tahun 1965.[4][5]

Terlepas dari perusahaan NIGM yang telah di nasionalisasi. Pada bulan September 1973, Fibbe Berend Jan Udink menjadi birokrat dan membantu memperluas jaringan OGEM ke dunia internasional. Pada tahun 1977 hingga 1979 proyek konstruksi gas dan kelistrikan di Dammam, Arab Saudi dibangun. Pada Juli 1977 OGEM membeli saham 44% di Beton und Monierbau (B & M) di Düsseldorf.[6]

Pada awal 1980-an OGEM bangkrut setelah kehilangan 120 juta guilder dan menutup seluruh operasinya akibat hutang yang menumpuk.[6]


Galeri

Referensi

  1. ^ a b News, Tagar (2017-12-23). "Cikal Bakal PLN di Indonesia". TAGAR. Diakses tanggal 2020-05-31. 
  2. ^ Gedenboek Nederlandsch-Indische gas maatschappij geschiedenis der N.I. gas mij, hare gasfabrieken te Batavia enz. Rotterdam: M. Myt & Zonen. 1913. 
  3. ^ Berkata, Morishige (2009-10-03). "L.I EINDHOVEN & CO DAN LAMPU GAS PERTAMA DI BATAVIA". KOTA JAKARTA [dot] INFO, Sejarah, Jalan-jalan dan Cerita tentang Jakarta. Diakses tanggal 2020-05-30. 
  4. ^ Alkatiri, Zeffry (2019-04-12). "Sejarah Pabrik Gas di Jakarta". Sejarah Jakarta. Diakses tanggal 2020-05-30. 
  5. ^ G. A. MAENGKOM. (10 Januari 1958). "PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1959". Sekretariat Kabinet RI. Diakses tanggal 31 Mei 2020. 
  6. ^ a b Nederlandsch-Indische Gas-Maatschappij (1913). Gas-My. hare gasfabrieken te Batavia, Soerabaja, Semarang, Buitenzorg & Paramaribo en hare electrische centrale te Batavia, aangeboden aan het college van commissarissen door den directeur / O.S. Knottnerus. Rotterdam, Dutch: M. Wyt.  line feed character di |title= pada posisi 191 (bantuan)

Pranala luar