Muhammad bin al-Hanafiyah

Abul Qasim Muhammad bin al-Hanafiyah (bahasa Arab: محمد بن الحنفية‎), atau nama aslinya Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, adalah salah seorang anak dari Ali bin Abi Thalib.[1] Ibunya adalah Khaulah binti Ja'far dari Bani Hanifah, yang dinikahi Ali setelah wafatnya Fatimah az-Zahra putri Nabi Muhammad.[1] Ia lahir sekitar tahun 636 di Madinah, yaitu pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.

al-Imam as-Sayyid
Muhammad
bin al-Hanafiyah
محمد بن الحنفية.png
Kaligrafi nama Muhammad bin al-Hanafiyah dalam Kaligrafi Arab.
Nama asalمحمد بن الحنفية
LahirMuhammad
15 H, 637 M (Tahun Ke-2 Kekhalifahan Umar bin Khattab)
Madinah
MeninggalRabu, 1 Muharram 81 H, 25 Februari 700 M
Madinah
KebangsaanArab
Warga negaraKhulafaur Rasyidin, Umayyah
Dikenal atasPutra Ali bin Abi Thalib, Thabi'in
AnakAbu Hasyim
Hasan
Ali
Husayn
Ibrahim
Awn
Qasim
Ja'far
Orang tuaAli (ayah)
Khaulah al-Hanafiyah (ibu)
Kerabatsaudara dari:

Hasan,
Husain
sepupu dari:

Abdullah bin Ja'far,
Muslim bin Aqil,
Ali bin Abdullah al-Abbasi

BiografiSunting

Kepemimpinannya dalam Bani HasyimSunting

Setelah terbunuhnya Husain bin Ali dalam Peristiwa Karbala, Muhammad bin al-Hanafiyah muncul sebagai tokoh utama kelompok keluarga Ali dalam memperjuangkan Klaim Kepemimpinan atas Umat Islam. Ibnu al-Hanafiyah didukung oleh Al-Mukhtar ats-Tsaqafi dan para pengikutnya, yang terutama berada di Kufah, Irak, dalam menghadapi kelompok-kelompok Khawarij (di Yaman), Bani Umayyah (di Syam dan Mesir), serta Abdullah bin Zubair (di Hijaz dan Irak).

Ketika Bani Umayyah akhirnya dapat mengatasi perlawanan kelompok-kelompok lainnya, termasuk Al-Mukhtar ats-Tsaqafi yang terbunuh pada tahun 687 kelompok Kaisaniyah secara teknis melemah. Akhirnya Ibnu al-Hanafiyah mengakui kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah pada tahun 692, dan selanjutnya ia menjauhi politik hingga wafatnya di Madinah sekitar tahun 700.

Muhammad bin al-Hanafiyah setelah wafat juga dianggap sebagai Imam Mahdi oleh kelompok Kaisaniyyah,[2][3] salah suatu aliran Syiah awal yang kemudian menghilang pada akhir abad ke-8 M seiring bangkitnya kekuasaan Bani Abbasiyah.[3] Muhammad bin Ali al-Abbasi telah mengklaim mengambil alih hak kepemimpinan kelompok ini melalui pemberian hak itu dari putra sulung Ibnu al-Hanafiyah padanya di Hamimah dan mengembangkannya menjadi gerakan revolusi yang menjatuhkan Marwan al-Himar.

KeluargaSunting

Muhammad bin al-Hanafiyah mempunyai dua anak, yaitu Abu Hasyim dan al-Hasan.[4] Abu Hasyim diangkat sebagai penerus kepemimpinan ayahnya oleh kelompok Syi'ah Kaisaniyah, sedangkan Al-Hasan bersikap sebagaimana aliran Murji'ah yang tidak berpihak pada kelompok manapun.[5]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b Nadwi, Sayyid Sulaiman (2015). Ali bin Abi Thalib. Puspa Swara. hlm. 163. ISBN 9791479879, 9789791479875. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-08. Diakses tanggal 2017-03-08. 
  2. ^ Madelung, Wilferd; Walker, Paul Ernest (1998). The "Bāb Al-shayṭān" from Abū Tammām's Kitāb Al-shajara. 23 of Islamic history and civilization. BRILL. hlm. 94-97. ISBN 9004110720, 9789004110724. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-08. Diakses tanggal 2017-03-08. 
  3. ^ a b Yücesoy, Hayrettin (2009). Messianic Beliefs and Imperial Politics in Medieval Islam: The ʻAbbāsid Caliphate in the Early Ninth Century. Univ of South Carolina Press. hlm. 23-24. ISBN 1570038198, 9781570038198. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-08. Diakses tanggal 2017-03-08. 
  4. ^ Subani, Hamad (2013). The Secret History of Iran. Cabal Times. hlm. 58-59. ISBN 130408289X, 9781304082893. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-08. Diakses tanggal 2017-03-08. 
  5. ^ Rahman, Fazlur (2008). Kebangkitan Semula dan Pembaharuan dalam Islam: Satu Kajian tentang Fundamentalisme Islam. ITBM. hlm. 52-54. ISBN 9830682668, 9789830682662. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-09. Diakses tanggal 2017-03-08.