Buka menu utama

Masjid Kiai Muara Ogan atau Masjid Ki Marogan adalah salah satu masjid tertua di Palembang, Sumatra Selatan. Masjid ini didirikan oleh Mgs. H. Abdul Hamid (Ki Marogan) seorang ulama Palembang yang sangat terkenal dan usahawan yang sukses pada tahun 1310 H atau 1890.[2] Masjid Ki Marogan ini, merupakan masjid kedua yang dibangun di Palembang setelah Masjid Agung Palembang. Di masa Kesultanan Palembang masjid ini punya peran yang strategis dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat Palembang.

Masjid Kiai Muara Ogan
Informasi umum
LetakJl. Kimarogan, Kec. Kertapati, Palembang, Sumatra Selatan
Koordinat geografi3°00′54″S 104°45′00″E / 3.014980°S 104.750067°E / -3.014980; 104.750067Koordinat: 3°00′54″S 104°45′00″E / 3.014980°S 104.750067°E / -3.014980; 104.750067
Afiliasi agamaIslam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitekturMasjid
Spesifikasi
Kapasitas1000[1]
Luas bangunan2.500 m2
Luas tanah2.374 m2

Saat dibangun masjid ini berlokasi di kampung Karang Berahi dan bisa menampung jamaah umat muslim dari kampung 1, 2, 3, 4, 5 ulu serta kampung Karang Berahi. Saat itu masjid ini telah dilengkapi dengan alat-alat seperti lampu-lampu stolop, lampu kandil, lampu satron dan peralatan lainnya yang berkenaan dengan masjid.[3]

ArsitekturSunting

Arsitektur bangunan Masjid dibuat dari perpaduan Cina, Arab dan India. Kenapa ada perpaduan ini, karena ibu dari Ki Marogan adalah keturunan dari Cina. Masjid Kiai Muara Ogan awalnya dibangun menggunakan bahan dari kayu semua berukuran panjang 20 meter dan lebar 20 meter. Kemudian masjid ini direnovasi secara besar-besaran pada tahun 1989 yaitu dengan meninggikan plafonnya dan diperluas sehingga berukuran lebih kurang panjang 50 meter dan lebar 40 meter.[4]

Hampir Tergusur[5]Sunting

Sejak berdirinya hingga sekarang, Masjid Kiai Muara Ogan telah mengalami beberapa kali percobaan penggusuran. Misalnya, pada tahun 1911 perusahaan kereta api ZSS (Zuit Spoor Sumatra) milik Pemerintah Hindia Belanda melakukan perluasan stasiun kereta api. Akibatnya, tanah yang berada di sekitar Masjid Muara Ogan diambil (dikeruk), sehingga bengkel penggergajian kayu yang terletak ditanah itu dipindahkan ke Kampung Karang Anyar Palembang.

Sedangkan, bengkel yang di Ulak Gedong dipindahkan ke Kampung Ulu Tuan Kentang. Karena pengerukan itu, tanah yang berada di samping Masjid Muara Ogan hanya tinggal beberapa meter. Selebihnya dikuasai PJKA sebagai pelanjut ZSS.

Pada masa pendudukan Jepang, dilakukan pendalaman Sungai Musi di depan Masjid Muara Ogan untuk keperluan pengambilan bahan batu bara (stengkol) dari pusat pembagiannya di kompleks TABA Kertapati dengan menggunakan kapal-kapal besar.

Akibatnya, tanah yang berada di pinggiran sungai yang berbatasar. dengan masjid, sejak tahun 1943 sampai 1980 terus-menerus mengalami longsor, baik oleh hempasan Sungai Musi maupun akibat curah hujan, sehingga tanah di depan masjid tersebut hanya tinggal 2 meter dari mihrab (pengimaman).

Pengurus masjid kemudian mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk membantu mengatasi longsor yang sudah sangat mendesak untuk ditanggulangi. Pada tahun 1980 Presiden Soeharto memberikan bantuan sebesar Rp 10 juta yang diberikan secara bertahap. Secara perlahan tapi pasti bahaya longsor dapat ditanggulangi.

ReferensiSunting

  1. ^ "Masjid Ki Merogan". SIMAS - SISTEM INFORMASI MASJID. 
  2. ^ "Masjid Ki Merogan Perpaduan Budaya Islam". kabarsumatera.com. 20 Februari 2015. 
  3. ^ Gadjahnata, Dr. K.H.O. (1984). Masjid Lawang Kidul. Palembang: Majelis Ulama Tingkat I Sumsel. 
  4. ^ "Masjid Ki Marogan, Sejarah Berdiri dan Keindahan Arsitektur Perpaduan China, Arab dan India". assajidin.com. 15 Mei 2019. 
  5. ^ "Masjid Muara Ogan Kertapati Nyaris Tergusur Stasiun Kereta Api". duniamasjid.islamic-center.or.id.