Buka menu utama

Menjadi Indonesia ialah sebuah gerakan moral yang mengajak mahasiswa berbuat nyata untuk Indonesia. Menjadi Indonesia digagas Tempo Institute sejak tahun 2009[1]. Tempo Institute mengadakan kompetisi esai mahasiswa atau disingkat KEM Menjadi Indonesia setiap setahun sekali [2].

Peserta KEM Menjadi Indonesia 2012 belajar pertanian di area konservasi Villa Hutan Jati Bogor

Daftar isi

Esai Menjadi IndonesiaSunting

Direktur Eksekutif Tempo Institute Mardiyah Chamim berpendapat bahwa budaya menulis adalah modal dan syarat utama untuk menciptakan masyarakat dan kehidupan yang demokratis. Untuk itulah mahasiswa diajak mengidentifikasi masalah, menemukan solusi dan menyampaikan kepada masyarakat melalui KEM Menjadi Indonesia [3].

Mahasiswa dianjurkan memulai esainya dengan mengamati dan mengangkat permasalahan paling menarik atau paling penting di sekelilingnya. Penulisan esai dalam KEM Menjadi Indonesia bukan seperti membuat makalah dengan basis teori yang rumit, melainkan menuliskan pendapat subyektif penulis. Tulisan bisa berupa refleksi, observasi mendalam, atau gagasan konkret mengenai sebuah persoalan.

Kemah Menjadi IndonesiaSunting

Tempo Institute mengundang 30 penulis esai terbaik untuk mengikuti Kemah Menjadi Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta dan Bogor selama dua minggu. Mahasiswa berkesempatan mengikuti pelatihan jurnalistik, pelatihan kepemimpinan, sekaligus bisa bertemu dengan tokoh dan lembaga yang mewarnai dinamika Indonesia[4].

Semangat Menjadi IndonesiaSunting

Dalam menyosialisasikan KEM Menjadi Indonesia, Tempo Institute mengajak mahasiswa agar selalu optimis [5]. Tempo Institute bahkan menemui tokoh-tokoh Indonesia dan meminta mereka menuliskan surat untuk anak muda agar semangat Menjadi Indonesia antargenerasi tidak terputus. Kumpulan surat tersebut kemudian menjadi buku Surat dari dan untuk Pemimpin[6].

Buku Surat dari dan untuk Pemimpin berisi sekitar 90 surat. Tokoh yang berkontribusi menulis surat antara lain Wakil Presiden RI Boediono, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Managing Director Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati, sastrawan Goenawan Mohamad, petinju Chris John, pengacara senior Adnan Buyung Nasution, budayawan Franz Magnis-Suseno dan pianis/komponis Ananda Sukarlan hingga band Slank.

ReferensiSunting

Pranala luarSunting