Mahathir Mohamad

Perdana Menteri Malaysia keempat dan ketujuh
(Dialihkan dari Mahathir Mohammad)

Tun Dr. Mahathir bin Mohamad (bahasa Melayu: محضير بن محمد, IPA: [maˈhaðɪr bɪn moˈhamad]; lahir 10 Juli 1925) atau lebih dikenal dengan sebutan Tun M adalah dokter dan politikus senior berkebangsaan Malaysia yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia dari tahun 1981 sampai 2003 dan kembali terpilih untuk kedua kalinya dari tahun 2018 hingga 2020, menggantikan Najib Razak sekaligus mengakhiri kekuasaan Barisan Nasional selama 60 tahun terakhir di Malaysia.[2] Dalam buku "A Doctor in the House" (bahasa Indonesia: Seorang Dokter di Rumah), Mahathir menuliskan sebuah pengakuan bahwa tanggal kelahiran sebenarnya adalah 10 Juli 1925, tetapi ayahnya mengubah tanggal kelahirannya pada akta kelahiran sebagai 20 Desember 1925 untuk memudahkan urusan pendaftaran sekolah. Menggunakan kata "Che Det" sebagai nama pena, ia menulis artikel pertama yang diterbitkan oleh surat kabar The Straits Times di Singapura pada 20 Juli 1947 yang berjudul "Malay Women Make Their Own Freedom" (bahasa Indonesia: Perempuan Melayu Membuat Kebebasan Mereka Sendiri).


Mahathir Mohamad

محضير محمد
Mahathir mohamad-2019.jpg
Perdana Menteri Malaysia ke-4 dan ke-7
Masa jabatan
10 Mei 2018 (2018-05-10) – 1 Maret 2020 (2020-03-1)
Penguasa monarki
WakilWan Azizah Wan Ismail
PendahuluNajib Razak
PenggantiMuhyiddin Yassin
Masa jabatan
16 Juli 1981 (1981-07-16) – 31 Oktober 2003 (2003-10-31)
Penguasa monarki
Wakil
Jabatan lainSekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok[a]
PendahuluHussein Onn
PenggantiAbdullah Ahmad Badawi
Wakil Perdana Menteri Malaysia ke-4
Masa jabatan
5 Maret 1976 (1976-03-05) – 16 Juli 1981 (1981-07-16)
Penguasa monarki
Perdana MenteriHussein Onn
PendahuluHussein Onn
PenggantiMusa Hitam
Menteri Pendidikan Malaysia
Masa jabatan
2 Januari 2020 (2020-01-02) – 24 Februari 2020 (2020-02-24)
(ad-interim)
PendahuluMaszlee Malik
PenggantiMohd Radzi Md Jidin
Masa jabatan
5 September 1974 (1974-09-05) – 31 Desember 1977 (1977-12-31)
Perdana Menteri
PendahuluMohamed Yaacob
PenggantiMusa Hitam
Menteri Keuangan Malaysia
Masa jabatan
5 Juni 2001 (2001-06-05) – 31 Oktober 2003 (2003-10-31)
PendahuluDaim Zainuddin
PenggantiAbdullah Ahmad Badawi
Masa jabatan
7 September 1998 (1998-09-07) – 7 Januari 1999 (1999-01-7)
PendahuluAnwar Ibrahim
PenggantiDaim Zainuddin
Menteri Dalam Negeri Malaysia
Masa jabatan
8 Mei 1986 (1986-05-08) – 8 Januari 1999 (1999-01-8)
PendahuluMusa Hitam
PenggantiAbdullah Ahmad Badawi
Menteri Pertahanan Malaysia
Masa jabatan
18 Juli 1981 (1981-07-18) – 6 Mei 1986 (1986-05-6)
PendahuluAbdul Taib Mahmud
PenggantiAbdullah Ahmad Badawi
Menteri Perdagangan dan Industri Malaysia
Masa jabatan
1 Januari 1978 (1978-01-01) – 16 Juli 1981 (1981-07-16)
Perdana MenteriHussein Onn
PendahuluHamzah Abu Samah
PenggantiAhmad Rithaudden Tengku Ismail
Anggota Dewan Rakyat
Mulai menjabat
9 Mei 2018 (2018-05-09)
PendahuluNawawi Ahmad
Daerah pemilihanLangkawi
Masa jabatan
24 Agustus 1974 (1974-08-24) – 21 Maret 2004 (2004-03-21)
Pendahuludaerah pemilihan baru
PenggantiMohd Johari Baharum
Daerah pemilihanKubang Pasu
Masa jabatan
25 April 1964 (1964-04-25) – 10 Mei 1969 (1969-05-10)
PendahuluWan Sulaiman Wan Tam
PenggantiYusuf Rawa
Daerah pemilihanKota Setar Selatan
Senator untuk Kedah
Masa jabatan
30 Desember 1972 (1972-12-30) – 23 Agustus 1974 (1974-08-23)
PendahuluMd Hanipah Sheikh Alauddin
PenggantiAli Ismail
Informasi pribadi
Lahir
Mahathir bin Mohamad

10 Juli 1925 (umur 96)
Alor Setar, Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu (sekarang Malaysia)
KebangsaanMalaysia
Partai politik
Afiliasi politik
lainnya
Tinggi badan1,70 m (5 ft 7 in)[1]
Suami/istri
(m. 1956)
Anak
IbuWan Tempawan Wan Hanapi
BapakMohammad Iskandar
KerabatIsmail Mohamad Ali (adik ipar)
PendidikanPerguruan Tinggi Sultan Abdul Hamid
AlmamaterUniversitas Nasional Singapura
Pekerjaan
ProfesiDokter
Nama penaChe Det
Tanda tangan
Situs webSitus web resmi
Mahathir Mohamad di Parlemen Malaysia

Sebagai perdana menteri, Mahathir telah menjabat selama 22 tahun sejak penobatannya untuk menggantikan Hussein Onn hingga menyatakan pensiun dari politik pada tahun 2003. Meski telah berjanji tidak akan terlibat kembali dalam politik, ia sebenarnya tidak pernah benar-benar meninggalkan panggung politik dan terus mengungkapkan pendapat yang kuat melalui blognya, termasuk mengkritik Abdullah Ahmad Badawi dan Najib Razak selama mereka memimpin pemerintahan.[3] Pada 2016, ia mendirikan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) bersama Mukhriz Mahathir dan Muhyiddin Yassin, serta menjabat sebagai ketua umumnya, sampai pada akhirnya ia kembali memimpin Malaysia sebagai perdana menteri pada tahun 2018. Mahathir pada tanggal 24 Februari 2020 harus merelakan jabatannya setelah kehilangan dukungan dari partai yang telah dibentuknya hingga berujung pada pemberhentian sebagai anggota partai. Ia tetap bersikukuh membangun kembali partai politik berlandaskan etnis Melayu dengan nama Partai Pejuang Tanah Air (PEJUANG).[4]

Masa mudaSunting

Mahathir Mohamad lahir di No. 18, Lorong Kilang Ais, Seberang Perak, Alor Setar, Kedah yang merupakan ibukota kesultanan Melayu Kedah ketika protektorat Inggris pada tanggal 10 Juli 1925 dengan status anak bungsu dari 10 bersaudara dalam keluarga. Ia terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana dari pasangan Mohammad bin Iskandar dan Wan Tempawan binti Wan Hanapi. Dalam akta kelahiran, ayahnya mengubah tanggal kelahiran seluruh saudara kandungnya, termasuk Mahathir menjadi bulan Desember untuk memudahkan urusan pendaftaran sekolah. Secara aspek terkait kelahiran Mahathir yang membuat dirinya berbeda dari enam mantan perdana menteri Malaysia lainnya: ia tidak dilahirkan dalam aristokrasi, keluarga agama, dan juga tokoh politik terkemuka.[5][note 1] Saat ini, rumah kelahirannya diubah menjadi kompleks rumah kelahiran Mahathir Mohamad dan dibuka untuk umum.[8]

Ayah Mahathir, Mohammad Iskandar memiliki etnis Melayu Penang berketurunan Melayu dan India. Kakek dari pihak ayah Mahathir berasal dari Rangunia, Kepresidenan Benggala, Kemaharajaan Britania (sekarang Divisi Chittagong, Bangladesh) dan menikah dengan seorang perempuan etnis Melayu.[9] Sedangkan ibunya, Wan Tempawan Wan Hanapi merupakan seorang perempuan berketurunan Melayu dari Kedah. Mohamad adalah seorang kepala sekolah dasar berstatus sosio-ekonomi yang berarti putrinya tidak dapat mendaftar di sekolah menengah; sedangkan Wan Tempawan hanya memiliki hubungan jauh dengan anggota keluarga kerajaan Kedah. Keduanya telah menikah sebelumnya; Mahathir lahir dengan enam saudara tiri dan dua saudara kandung.[6]

Ketika sekolah, Mahathir adalah siswa yang memiliki sifat pekerja keras. Disiplin yang dituntut oleh ayahnya memotivasi dia untuk belajar, sehingga ia menunjukkan sedikit minat dalam olahraga. Ia mengenyam pendidikan awal di Sekolah Melayu Seberang Perak, Alor Setar, Kedah. Setelah lulus, ia kemudian melanjutkan studinya di Government English School (bahasa Indonesia: Sekolah Bahasa Inggris Pemerintah) (GES) (sekarang Perguruan Tinggi Sultan Abdul Hamid), Alor Setar pada tahun 1932. Ketika sekolah-sekolah ditutup pada masa Pendudukan Jepang di Malaya, ia memulai usaha kecil dengan menjual kopi, pisang goreng, dan makanan ringan lainnya.[10] Setelah peperangan berakhir, ia lulus dari sekolah menengah dengan nilai tinggi dan mendaftar untuk menempuh pendidikan tinggi pada jurusan kedokteran di Sekolah Tinggi Ilmu Kedokteran Raja Edward VII di Singapura.[11] Mahathir mulai mengenal Siti Hasmah Mohamad Ali yang juga sesama mahasiswa di fakultas kedokteran. Setelah lulus dan meraih gelar Ijazah Sarjana Muda Kedokteran dan Pembedahan (MBBS), Mahathir bekerja sebagai dokter magang di dinas pemerintahan sebelum menikah dengan Siti Hasmah pada tahun 1956, setelah itu kembali ke Alor Setar pada tahun berikutnya untuk membuka praktik sendiri. Ia merupakan dokter Melayu pertama di kota itu yang berhasil meraih kesuksesan. Usai pernikahannya dengan Siti Hasmah, mereka dikaruniai anak pertama, Marina Mahathir pada tahun 1957, sebelum hamil tiga anaknya yang lain, lalu mereka juga mengadopsi tiga anak lagi setelah 28 tahun berikutnya.[12][13]

Perdana Menteri MalaysiaSunting

Dalam negeriSunting

Mahathir dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia pada tanggal 16 Juli 1981 pada usia 56 tahun.[14] Salah satu keputusan pertamanya adalah membebaskan 21 orang yang dijerat Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri, termasuk wartawan Samad Ismail dan mantan wakil menteri kabinet Hussein, Abdullah Ahmad, yang diduga anggota gerakan komunis bawah tanah.[15] Ia mengangkat sekutu dekatnya, Musa Hitam, sebagai Wakil Perdana Menteri.[16]

Tahun-tahun pertama (1981–1987)Sunting

 
Mahathir mengunjungi Amerika Serikat pada tahun 1984

Mahathir berhati-hati selama dua tahun pertama memerintah. Ia mengonsolidasikan kekuasaannya sebagai ketua UMNO, lalu perdana menteri setelah memenangi pemilu 1982.[17][18] Pada tahun 1983, Mahathir memulai perseteruan pertama dalam serangkaian perselisihan yang kelak terjadi antara pemerintah dan kerajaan Malaysia. Posisi Yang di-Pertuan Agong, kepala negara Malaysia, akan diserahkan ke Idris Shah II dari Perak atau Iskandar dari Johor yang cukup kontroversial. Mahathir sangat keberatan dengan kedua sultan tersebut. Keduanya adalah pemimpin aktivis, dan Iskandar sendiri beberapa tahun sebelumnya dijerat pasal pembunuhan.[19][20] Mahathir mencoba lebih dulu membatasi kekuasaan pewaris takhta baru atas pemerintahannya. Ia mengusulkan amendemen Konstitusi Malaysia ke parlemen supaya Raja dianggap menyetujui RUU apapun yang belum disetujui oleh Parlemen dalam kurun 15 hari. Amendemen tersebut juga menyerahkan kekuasaan menyatakan keadaan darurat dari Raja ke Perdana Menteri. Raja saat itu, Ahmad Shah dari Pahang, menyetujui usulan tersebut, tetapi menolak setelah ia tahu bahwa usulan tersebut akan menganggap para sultan menyetujui RUU yang disahkan parlemen negara bagian. Atas dukungan para sultan, Raja menolak menyetujui amendemen konstitusi yang sudah disahkan parlemen.[21][22] Ketika publik menyadari kebuntuan ini dan para sultan menolak bersepakat dengan pemerintah, Mahathir memimpin demonstrasi di jalanan. Pers berpihak dengan pemerintah, meski sebagian masyarakat Melayu, termasuk politikus UMNO konservatif, dan bahkan sebagian besar masyarakat Tionghoa mendukung sultan. Krisis mereda setelah lima bulan karena Mahathir dan para sultan saling bersepakat. Hak Raja untuk menyatakan keadaan darurat akan dipertahankan, tetapi apabila ia menolak menyetujui RUU, RUU tersebut akan dikembalikan ke Parlemen sehingga veto Raja tidak berlaku.[23]

Di bidang ekonomi, Mahathir mewarisi Dasar Ekonomi Baru dari pendahulunya yang dirancang untuk memperbaiki posisi ekonomi bumiputera (suku Melayu dan pribumi Malaysia) melalui tindakan afirmatif di berbagai sektor seperti kepemilikan perusahaan dan penerimaaan mahasiswa baru.[24] Mahathir juga secara aktif mendorong privatisasi BUMN sejak awal 1980-an. Alasannya, pemimpin negara lainnya seperti Margaret Thatcher menerapkan ekonomi liberal dan ia merasa perpaduan ekonomi liberal dan tindakan afirmatif bagi bumiputera dapat menciptakan kesempatan ekonomi bagi usaha-usaha bumiputera.[25] Pemerintahannya memprivatisasi maskapai penerbangan, sarana umum, dan telekomunikasi. Sekitar 50 BUMN diprivatisasi setiap tahun pada pertengahan 1990-an.[26] Meski privatisasi secara umum memperbaiki kondisi kerja karyawan Malaysia di berbagai sektor industri dan menaikkan pemasukan pemerintah, banyak privatisasi yang terjadi tanpa proses tender terbuka dan menguntungkan orang-orang Melayu pendukung UMNO. Salah satu proyek infrastruktur terkenal waktu itu adalah pembangunan Lebuhraya Utara–Selatan, jalan tol yang membentang dari perbatasan Thailand ke SIngapura; kontrak pembangunan jalan tol ini diberikan kepada sayap bisnis UMNO.[27] Mahathir memimpin pendirian produsen mobil Proton, hasil usaha patungan antara pemerintah Malaysia dan Mitsubishi. Pada akhir 1980-an, dengan bantuan tarif protektif, Proton menjelma dari perusahaan merugi menjadi produsen mobil terbesar di Asia Tenggara.[28]

Mahathir mengalahkan PAS pada pemilu 1986 dengan memenangi 83 dari 84 kursi; PAS hanya diwakili oleh satu anggota parlemen.[29]

Pelaksanaan kekuasaan (1987–1990)Sunting

Bayangan dominasi politik Mahathir usai pemilu 1986 tidak berlangsung lama. Pada tahun 1987, Tengku Razaleigh Hamzah menantang Mahathir dalam perebutan kursi presiden UMNO dan perdana menteri. Karier Razaleigh semakin memburuk pada era Mahathir. Ia diturunkan dari Menteri Keuangan menjadi Menteri Perdagangan dan Industri. Razaleigh didukung oleh Musa yang setahun sebelumnya mundur dari jabatan wakil perdana menteri. Meski Musa dan Mahathir awalnya sekutu dekat, keduanya berselisih pada masa pemerintahan Mahathir. Musa mengklaim bahwa Mahathir tidak lagi memercayainya. Razaleigh dan Musa bertarung merebut jabatan presiden dan wakil presiden UMNO melawan Mahathir dan wakilnya yang baru, Ghafar Baba. Kedua pasangan ini masing-masing dikenal dengan sebutan Tim B dan Tim A. Tim A Mahathir didukung pers, sebagian besar pejabat tinggi partai, dan bahkan Iskandar, kini Raja Malaysia. Dalam pemilu tanggal 24 April 1987, Tim A menang. Mahathir terpilih lagi dengan selisih kecil. Ia mendapat 761 suara delegasi partai, sedangkan Razaleigh mendapat 718. Ghafar Baba mengalahkan Musa dengan selisih yang agak besar. Mahathir kemudian memecat tujuh pendukung Tim B dari kementeriannya, sedangkan Tim B menolak mengakui kekalahan dan mengajukan gugatan hukum. Pada Februari 1988, Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa UMNO adalah organisasi ilegal karena sebagian cabangnya tidak terdaftar secara resmi.[30][31] Setiap faksi berlomba mendaftarkan partai baru dengan nama UMNO. Kubu Mahathir berhasil mendaftarkan nama "UMNO Baru", sedangkan permohonan pendaftaran "UMNO Malaysia" oleh Tim B ditolak. UMNO Malaysia, di bawah kepemimpinan Tengku Razaleigh Hamzah dan didukung mantan PM Abdul Rahman dan Hussein, memutuskan mendirikan partai Semangat 46.[32]

Setelah selamat dari krisis politik, setidaknya sementara, Mahathir mulai menantang cabang yudisial. Ia khawatir putusan pendaftaran UMNO Baru akan dibatalkan oleh banding Tim B. Ia merumuskan amendemen konstitusi lewat parlemen yang menghapus kekuasaan Pengadilan Tinggi untuk melakukan peninjauan hukum. Kini, Pengadilan Tinggi hanya bisa memproses peninjauan hukum sesuai undang-undang khusus yang mengatur kekuasaan tersebut.Presiden Mahkamah Agung, Salleh Abas, menanggapinya dengan mengirim nota protes ke Raja. Mahathir kemudian membebastugaskan Salleh atas "penyalahgunaan kekuasaan parah" karena surat tersebut merupakan pelanggaran protokol. Pengadilan yang dibentuk Mahathir menyatakan Salleh bersalah dan menyarankan kepada Raja agar Salleh dipecat. Lima hakim lain mendukung Salleh dan juga dibebastugaskan oleh Mahathir. Pengadilan baru menolak banding Tim B sehingga faksi Mahathir bisa mempertahankan nama UMNO.[33]

Mahathir mengalami serangan jantung pada awal 1989,[34] tetapi segera pulih dan memimpin Barisan Nasional menuju kemenangan pada pemilu 1990. Semangat 46 gagal merebut kursi di luar negara bagian Kelantan, kampung Razaleigh. Sejak itu, Musa bergabung lagi dengan UMNO.[35]

Pembangunan ekonomi dan krisis keuangan (1990–1998)Sunting

Berakhirnya Dasar Ekonomi Baru (DEB) tahun 1990 membuka kesempatan bagi Mahathir untuk menetapkan visi ekonomi Malaysia. Pada tahun 1991, ia meresmikan Wawasan 2020 yang menggariskan rencana Malaysia menjadi negara maju dalam kurun 30 tahun.[36] Pencapaian sasaran ini memerlukan pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar tujuh persen produk domestik bruto per tahun.[37] Salah satu rencana Wawasan 2020 adalah melenyapkan batas kesukuan secara bertahap. Wawasan 2020 dilengkapi oleh pengganti DEB, Dasar Pembangunan Nasional (DPN). Menurut DPN, program-program pemerintah yang sebelumnya dirancang untuk mengutamakan bumiputera akan dibuka bagi suku-suku lain.[38] DPN berhasil mencapai salah satu sasaran utamanya, yaitu pengentasan kemiskinan. Tahun 1995, kurang dari sembilan persen penduduk Malaysia hidup miskin dan kesenjangan upah semakin menyusut.[39] Pemerintahan Mahathir memangkas pajak perusahaan dan membebaskan aturan keuangan demi menarik investasi asing. Ekonomi tumbuh lebih dari sembilan persen per tahun sampai 1997. Negara berkembang lainnya pun mencoba meniru kebijakan Mahathir.[40] Sebagian besar pertumbuhan ekonomi Malaysia tahun 1990-an adalah hasil kebijakan Anwar Ibrahim; ia diangkat sebagai menteri keuangan tahun 1991.[41] Pemerintah menikmati pertumbuhan ekonomi ini dan memenangi pemilu 1995 dengan penambahan suara mayoritas.[42]

Mahathir merintis sejumlah proyek infrastruktur besar pada tahun 1990-an. Salah satunya adalah Multimedia Super Corridor, sebuah kawasan di selatan Kuala Lumpur yang dirancang untuk industri teknologi informasi. Namun, proyek ini gagal menggaet investasi yang diharapkan.[43] Proyek lainnya adalah pembangunan Putrajaya sebagai pusat pelayanan publik Malaysia dan memboyong Formula One Grand Prix ke Sepang.[44] Salah satu pembangunan paling kontroversial era Mahathir adalah Bendungan Bakun di Sarawak. Proyek hidroelektrik ini bertujuan mengalirkan listrik melintasi Laut Cina Selatan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Semenanjung Malaysia. Pembangunan dihentikan akibat krisis keuangan Asia.[45]

 
Pemandangan Menara Kembar Petronas dan pusat bisnis Kuala Lumpur, bukti perubahan ekonomi Malaysia yang fenomenal di bawah pemerintahan Mahathir.

Krisis keuangan mengancam Malaysia. Nilai ringgit terjun bebas akibat spekulasi mata uang, investasi asing keluar, dan indeks bursa efek utama jatuh lebih dari 75 persen. Atas desakan Dana Moneter Internasional (IMF), pemerintah memangkas belanja pemerintah dan menaikkan suku bunga, tetapi malah memperparah situasi ekonomi. Pada tahun 1998, Mahathir membatalkan kebijakan tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap IMF dan wakilnya sendiri, Anwar. Ia menaikkan belanja pemerintah dan memperbaiki nilai ringgit terhadap dolar AS. Hasilnya mengejutkan para kritikusnya dan IMF. Malaysia pulih dari krisis keuangan lebih cepat daripada negara-negara tetangganya di Asia Tenggara. Di dalam negeri, ini merupakan kemenangan politik. Di tengah krisis ekonomi 1998, Mahathir memecat Anwar dari jabatan menteri keuangan dan wakil perdana menteri. Mahathir kini dapat mengklaim bahwa ia menyelamatkan ekonomi negara dari kebijakan-kebijakan Anwar.[46]

Dalam dasawarsa kedua masa pemerintahannya, Mahathir kembali berselisih dengan kerajaan Malaysia. Pada tahun 1992, putra Sultan Iskandar, pemain hoki, dilarang mengikuti kejuaraan selama lima tahun karena menyerang lawan. Iskandar kemudian menarik semua tim hoki Johor dari kejuaraan nasional. Ketika keputusannya dikritik oleh seorang pelatih setempat, Iskandar memintanya datang ke istana dan memukulnya. Parlemen federal dengan suara bulat memprotes kelakuan Iskandar. Mahathir memanfaatkan kesempatan ini untuk menghapus kekebalan konstitusional sultan dari gugatan pidana dan perdata. Pers pun mendukung Mahathir dan mulai menerbitkan berbagai keburukan anggota keluarga kerajaan Malaysia. Setelah pers mengungkapkan kekayaan kerajaan yang sangat mewah, Mahathir memutuskan memotong pasokan keuangan kerajaan. Karena pers dan pemerintah bersatu melawan kerajaan, para sultan tunduk pada tuntutan pemerintah. Hak kerajaan untuk menolak menyetujui undang-undang dibatasi oleh amendemen konstitusi tahun 1994. Dengan lenyapnya status dan kekuasaan kerajaan Malaysia, Wain menulis bahwa pada pertengahan 1990-an Mahathir telah menjelma menjadi "raja Malaysia tanpa mahkota".[47]

Mengundurkan diri sebagai perdana menteri dan pensiunSunting

 
Mahathir dalam penyambutan Presiden Rusia Vladimir Putin, 2003.
 
Mahathir bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, 2003.

Pada musyawarah nasional UMNO tahun 2002, Mahathir mengumumkan bahwa ia akan mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri, tetapi para pendukungnya segera naik panggung dan memintanya tetap menjabat. Ia memastikan akan pensiun pada Oktober 2003 agar bisa mempersiapkan peralihan kekuasaan ke penggantinya, Abdullah Ahmad Badawi.[48] Dengan masa jabatan 22 tahun, Mahathir merupakan pemimpin terpilih dengan masa jabatan terlama di dunia.[49] Ia masih menjadi perdana menteri dengan masa jabatan terlama di Malaysia.

Hubungan luar negeriSunting

Sepanjang masa pemerintahan Mahathir, hubungan Malaysia dengan Barat baik-baik saja walaupun Mahathir dikenal sebagai kritikus paling vokal.[50] Pada awal pemerintahannya, perselisihan sepele dengan Britania Raya terkait biaya kuliah memancing Mahathir untuk menyerukan boikot barang-barang Britania, sebuah kampanye yang dikenal dengan nama "Buy British Last". Persoalan ini mendorong pencarian model pembangunan di Asia, khususnya Jepang. Ini merupakan awal dari Kebijakan Melihat ke Timur yang digagas Mahathir.[51] Meski persoalan ini diselesaikan oleh Perdana Menteri Margaret Thatcher, Mahathir terus mengutamakan model pembangunan Asia daripada Barat. Ia mengkritik standar ganda negara-negara Barat.[52]

Amerika SerikatSunting

 
Mahathir menyambut Menteri Pertahanan AS William Cohen di Kuala Lumpur tahun 1998 pada Konferensi Dialog Pasifik.

Mahathir selalu mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat secara terbuka.[53] Namun demikian, hubungan antara kedua negara tetap positif dan Amerika Serikat merupakan sumber investasi asing terbesar sekaligus pelanggan terbesar Malaysia pada masa pemerintahan Mahathir. Selain itu, perwira militer Malaysia rutin latihan bersama militer Amerika Serikat lewat program International Military Education And Training (IMET).

Dalam pidato KTT ASEAN tahun 1997, ia mengutuk Deklarasi Hak Asasi Manusia Universal dan mencapnya sebagai instrumen opresif Amerika Serikat dan negara-negara lain untuk memaksakan nilai-nilai mereka kepada bangsa Asia. Ia menambahkan bahwa bangsa Asia lebih memerlukan kestabilan dan pertumbuhan ekonomi daripada kebebasan sipil.

 
Mahathir Mohamad saat memberikan pidato dalam Sidang Umum PBB, 2003.

Invasi Irak 2003 memancing keributan antara kedua negara. Mahathir mengkritik habis-habisan Presiden George W. Bush karena bertindak tanpa mandat PBB. Meski demikian, hubungan antara kedua negara tetap kuat. Sidang dengar pendapat subkomite DPR Amerika Serikat tahun 2003 (Serial No. 108–21) tentang kebijakan Amerika Serikat terhadap Asia Tenggara menyatakan bahwa, "Meski Perdana Menteri Mahathir kadang melontarkan pernyataan publik yang serampangan, kerja sama A.S.-Malaysia tetap kuat di berbagai bidang seperti pendidikan, perdagangan, hubungan militer, dan kontraterorisme."

Dalam wawancara, ia memprediksi kemenangan George W. Bush dalam pilpres Amerika Serikat 2004.

SingapuraSunting

Mahathir adalah alumnus fakultas kedokteran Universiti Malaya yang terletak di Singapura pada masa pemerintahan Britania Raya (kampus Universiti Malaya di Singapura kini berubah nama menjadi National University of Singapore, sedangkan kampus di Kuala Lumpur tetap Universiti Malaya). Ia lulus dari King Edward VII Medical College pada tahun 1953.

Hubungan luar negeri dengan Singapura pada masa pemerintahan Mahathir cenderung tegang. Banyak sengketa yang sampai saat ini belum terselesaikan. Sebagian besar isu internasional ini diangkat ketika Mahathir berkuasa, tetapi belum ada upaya penyelesaian secara bilateral. Isu-isu tersebut adalah:

Di sisi lain, Singapura-Malaysia menandatangani kesepakatan pada tahun 1988 dan Mahathir membangun Bendungan Linggui di Sungai Johor dan memasok air baku ke Singapura.[57] Lee dan Mahathir mengumumkan rencana pembangunan pipa gas alam dari Terengganu ke Singapura. Pipa ini rampung 10 tahun kemudian pada Januari 1992.[58]

Mahathir menulis sebuah artikel di blognya, chedet.cc, berjudul "Kuan Yew and I". Ia mengungkapkan rasa sedihnya atas wafatnya Lee. Ia mengaku sering berseteru dengan pemimpin ulung Singapura tersebut, tetapi tidak ada permusuhan kecuali perbedaan pandangan mengenai jalan yang patut ditempuh bagi Singapura untuk maju ke depan. Ia kemudian menulis bahwa ASEAN kehilangan pemimpin kuat setelah Lee Kuan Yew dan Suharto.[59] Sejumlah analis politik yakin bahwa Mahathir merupakan "penjaga tua" Asia Tenggara yang terakhir.[60]

Pada April 2016, peringatan satu tahun kematian Lee Kuan Yew, Mahathir mengatakan kepada media bahwa rakyat Singapura harus mengakui sumbangsih dan pengorbanan Lee Kuan Yew karena Lee adalah pemicu kesuksesan Singapura saat ini. Mahathir mengatakan bahwa Lee mengubah Singapura menjadi pusat keuangan dengan pelabuhan kelas dunia dan penghubung jalur penerbangan dunia. Ia juga mengatakan bahwa Lee punya pemikiran sendiri dan tidak bisa dibandingkan dengan Malaysia.[61]

Bosnia-HerzegovinaSunting

 
Bulan purnama di pusat kota Kuala Lumpur.

Di Bosnia-Herzegovina, Mahathir dikenal sebagai sekutu yang berpengaruh. Ia mengunjungi Sarajevo pada bulan Juni 2005 untuk membuka jembatan dekat Bosmal City Center yang menandakan persahabatan antara bangsa Malaysia dan Bosnia.

Ia melakukan kunjungan tiga hari ke Visoko untuk melihat Piramida Matahari Bosnia pada bulan Juli 2006. Ia berkunjung lagi beberapa bulan kemudian.

Pada Februari 2007, empat lembaga non-pemerintah, Sekolah Sains dan Teknologi Sarajevo, Kongres Intelektual Bosniak, Dewan Sipil Serbia, dan Dewan Nasional Kroasia, mencalonkan Mahathir sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2007 atas keterlibatannya dalam penyelesaian konflik Bosnia.[62]

Pada tanggal 22 Juni 2007, ia kembali mengunjungi Sarajevo bersama sejumlah pebisnis Malaysia untuk mempelajari peluang investasi di sana. Tanggal 11 November 2009, ia memimpin rapat tertutup Malaysia Global Business Forum–Bosnia yang dihadiri investor-investor besar dan presiden Haris Silajdžić.

Negara-negara berkembangSunting

Mahathir dihormati di negara-negara berkembang dan negara Islam,[50] khususnya atas pertumbuhan ekonomi Malaysia yang pesar serta dukungannya terhadap nilai-nilai Muslim liberal.[63] Sejumlah pemimpin negara seperti Presiden Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev, memuji Mahathir dan mencoba meniru resep pembangunan Mahathir. Ia adalah salah satu pemimpin yang aktif menyuarakan isu-isu negara berkembang dan sangat mendukung perbaikan kesenjangan Utara-Selatan serta mendorong pembangunan negara-negara Islam. Ia memegang komitmen berbagai blok non-NATO seperti ASEAN, G77, Gerakan Non-Blok, Organisasi Negara-Negara Islam, dan G22.

Kembali ke politikSunting

Usai skandal 1Malaysia Development Berhad tahun 2015, Mahathir lantang mengkritik pemerintahan Najib Razak, bahkan lebih keras daripada Abdullah.[64] Ia berulang-ulang meminta Najib mundur.[65] Pada 30 Agustus 2015, ia dan istrinya, Siti Hasmah, menghadiri demonstrasi Bersih 4 bersama puluhan ribu orang lainnya yang menuntut Najib mundur.[66]

Pada tahun 2016, Mahathir memulai serangkaian unjuk rasa yang menghasilkan Deklarasi Rakyat Malaysia atas bantuan Pakatan Harapan dan berbagai LSM untuk menggulingkan Najib Razak.[67][68] Najib menanggapi tuduhan korupsi dengan memperkuat kekuasaannya dengan mengganti wakil perdana menterinya, menutup dua surat kabar, dan mengusulkan RUU Dewan Keamanan Nasional yang memberi kekuasaan tambahan bagi perdana menteri.[69][70] Pada Juni 2016, Mahathir juga aktif mendukung calon Partai Amanah Negara dari Pakatan Harapan pada pemilihan umum daerah Sungai Besar 2016 dan pemilihan umum daerah Kuala Kangsar 2016.

Pada tahun 2017, Mahathir mendirikan partai politik baru dan bergabung dengan Pakatan Harapan. Ia diusung sebagai calon ketua partai dan perdana menteri mewakili Pakatan Harapan.[71]

Pencalonan 2018Sunting

Pada 8 Januari 2018, Mahathir dinyatakan sebagai calon perdana menteri aliansi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu 9 Mei 2018, melawan mantan sekutunya, Najib Razak. Wan Azizah Wan Ismail, istri mantan musuh politiknya, Anwar Ibrahim, akan menjadi wakil perdana menteri.[72] Apabila menang, Mahathir akan menjadi kepala negara atau pemerintahan tertua di dunia. Menurut hasil pemilu tanggal 10 Mei 2018, Pakatan Harapan mengklaim menang sehingga Mahathir diangkat lagi menjadi perdana menteri, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di Malaysia. Pelantikannya dijadwalkan pada pukul 21:00 pada hari yang sama.[73] Ia akan mengampuni Anwar supaya Anwar bisa menjadi penggantinya.[74][75]

Pada 8 Februari 2018, Kerajaan Kelantan mencabut penghargaan Darjah Kerabat Al-Yunusi (DK Kelantan) dari Mahathir.[76]

Masa pemerintahan keduaSunting

Usai kemenangan bersejarah koalisi oposisi Pakatan Harapan yang dipimpin oleh Mahathir pada 9 Mei 2018, Najib Razak, calon perdana menteri dari koalisi petahana Barisan Nasional, dinyatakan kalah dan mengakhiri masa pemerintahan sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-6. Ia berharap untuk segera dilantik sebagai perdana menteri pada pukul 5 sore.[77] Mahathir dilantik sebagai Perdana Menteri pada pukul 17:00 keesokan harinya.[78] Kekhawatiran mengenai peralihan kekuasaan bermunculan setelah Najib Razak menyatakan bahwa tidak ada partai yang mendapat suara mayoritas mutlak (karena koalisi oposisi bertarung sebagai partai terpisah yang bersekutu dan tidak diterima sebagai koalisi tunggal oleh Suruhanjaya Pilihan Raya; SPR diyakini berada di bawah pengaruh Najib) sehingga penunjukan perdana menteri berada di tangan Yang di-Pertuan Agong.[79] Namun demikian, Istana Negara Malaysia langsung mengeluarkan pernyataan resmi yang membenarkan bahwa Mahathir Mohamad akan dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-7 pada pukul 21:30 tanggal 10 Mei 2018 dan membantah dugaan penundaan pelantikan.[80]

 
Mahathir dan kabinetnya menyambut kedatangan Presiden RI Joko Widodo, 2019.

Sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-7, Mahathir adalah pemimpin negara petahana tertua di dunia (92 tahun, 304 hari), disusul oleh Ratu Elizabeth II (92 tahun, 19 hari). Ia juga merupakan pemimpin negara tertua ke-10 sepanjang sejarah. Sesuai rencana asli Pakatan Harapan, Wan Azizah Wan Ismail, istri Anwar Ibrahim, akan menjadi wakilnya sekaligus Wakil Perdana Menteri perempuan pertama.[81] Setelah diangkat sebagai Perdana Menteri, Mahathir berjanji akan "menegakkan aturan hukum" dan memulai penyelidikan menyeluruh dan transparan terhadap skandal 1Malaysia Development Berhad yang diduga dilakukan oleh Perdana Menteri sebelumnya. Menurut Mahathir, apabila Najib terbukti bersalah, ia akan menghadapi konsekuensinya.[82]

WarisanSunting

Atas upayanya mendorong pembangunan ekonomi negara, Mahathir dijuluki Bapa Pemodenan (Bapak Modernisasi).[83]

Kediaman resmi Mahathir, Seri Perdana, yang dihuni sejak 23 Agustus 1983 sampai 18 Oktober 1999, diubah menjadi museum (Galeria Sri Perdana). Sesuai prinsip pelestarian sejarah, rancangan dan tata Sri Perdana dipertahankan.

Mantan Menteri Hukum de facto Zaid Ibrahim menulis dalam memoarnya, "Dalam hati saya, saya tidak bisa menerima tuduhan bahwa Dr Mahathir adalah orang yang korup. Orang korup tidak pernah berani bicara selantang Dr Mahathir. Kekayaan bukan motivasinya. Ia hanya ingin berkuasa."[84]

Dua putra Mahathir terjun ke politik. Mokhzani adalah pejabat senior UMNO Youth, lalu keluar dan mengurus karier bisnisnya. Mukhriz terpilih sebagai anggota parlemen pada tahun 2008. Tahun 2013, Mukhriz menjadi Menteri Besar Kedah.[85][86]

Dalam biografi Mahathir tahun 2010, Wain menulis:

Naiknya standar hidup serta upaya Dr. Mahathir membangun gedung-gedung ikonik dan mempertahankan kepentingan Malaysia telah membangkitkan identitas, kebanggaan, dan kepercayaan diri bangsa yang belum pernah ada sebelumnya. Ia menjadikan Malaysia negara yang diperhitungkan di peta dunia dan sebagian besar penduduknya puas.[87]

Kondisi kesehatanSunting

Mahathir pernah menjalani operasi pemintas koroner dan menjalani pembedahan di Rumah Sakit Umum Kuala Lumpur pada tanggal 24 Januari 1989. Selain itu, ia juga memiliki riwayat serangan jantung setelah pembuluh darah arteri mengalami penyumbatan dan dilarikan ke Institut Jantung Negara pada tanggal 9 November 2006. Kesulitan bernapas juga pernah dialaminya hingga dilakukan perawatan medis di ruang instalasi rawat intensif (ICU) Rumah Sakit Langkawi. Pada operasi pembuluh darah arteri kedua dilakukan pada tanggal 4 September 2007 di Institut Jantung Negara selama lima jam dan dipimpin oleh para ahli jantung terkemuka. Beberapa hari kemudian tepatnya 15 September 2007, ia dilarikan ke instalasi rawat intensif untuk perawatan lebih lanjut.[88]

Pada 2 Oktober 2010 malam, dikonfirmasi oleh staf khususnya, Sufi Yusof bahwa Mahathir dirawat di Rumah Sakit Epworth, Melbourne, Australia dikarenakan mengalami batuk dan flu. Saat itu, Mahathir mendatangi Melbourne untuk berbicara dalam sebuah seminar tentang pembangunan manusia yang diselenggarakan oleh Klub UMNO Australia Melbourne di Universitas Melbourne. Kemudian pada 9 Februari 2018, ia dirawat di Institut Jantung Negara di Kuala Lumpur setelah mengalami infeksi dada dan batuk.[89]

Hasil pemilihanSunting

Dewan Rakyat
Tahun Daerah pemilihan Suara Persen Opponent(s) Suara Persen Surat suara Mayoritas Pemilih hadir
1964 Kota Star Selatan Mahathir Mohamad (UMNO) 12,406 60.22% Mohd. Sha'ari Abd. Shukor (PAS) 8,196 39.78% 21,440 4,210 82.8%
1969 Mahathir Mohamad (UMNO) 12,032 48.03% Yusof Rawa (PAS) 13,021 51.97% 25,679 989 78.6%
1974 Kubang Pasu Mahathir Mohamad (UMNO) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tanpa lawan Tidak ada Tidak ada
1978 Mahathir Mohamad (UMNO) 18,198 64.64% Halim Arshat (PAS) 9,953 35.36% Tidak diketahui 8,245 78.36%
1982 Mahathir Mohamad (UMNO) 24,524 73.67% Yusof Rawa (PAS) 8,763 26.33% 34,340 15,761 78.79%
1986 Mahathir Mohamad (UMNO) 25,452 71.48% Azizan Ismail (PAS) 10,154 28.52% 36,409 15,298 74.21%
1990 Mahathir Mohamad (UMNO) 30,681 78.07% Sudin Wahab (S46) 8,619 21.93% 40,570 22,062 77.51%
1995 Mahathir Mohamad (UMNO) 24,495 77.12% Ahmad Mohd Alim (PAS) 7,269 22.88% 33,010 17,226 73.61%
1999 Mahathir Mohamad (UMNO) 22,399 63.22% Ahmad Subki Abd. Latif (PAS) 12,261 34.61% 36,106 10,138 78.62%
2018 Langkawi Mahathir Mohamad (PPBM) 18,954 54.90% Nawawi Ahmad (UMNO) 10,061 29.14% 34,527 8,893 80.87%
Zubir Ahmad (PAS) 5,512 15.96%

Galeri fotoSunting

BukuSunting

ReferensiSunting

CatatanSunting

  1. ^ Mahathir Mohamad menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok terhitung sejak 20 Februari 2003 hingga 31 Oktober 2003.

KeteranganSunting

  1. ^ Abdul Rahman, Hussein Onn, dan Abdul Razak adalah bangsawan atau memiliki keturunan kerajaan,[6] termasuk putra Abdul Razak, Najib. Ayah dan kakek Abdullah Ahmad Badawi dan Muhyiddin Yassin merupakan tokoh agama terkemuka.[7]

SitiranSunting

  1. ^ "Mahathir Mohamad Bio Height Wife Wiki & Family". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-01-14. Diakses tanggal 2019-12-09. 
  2. ^ "It's official, Dr M is Malaysia's seventh PM... and the world's oldest". The Star (dalam bahasa Inggris). 2018-05-10. Diakses tanggal 2021-09-27. 
  3. ^ "The never-ending political game of Malaysia's Mahathir Mohamad". Brookings (dalam bahasa Inggris). 2020-10-30. Diakses tanggal 2021-09-28. 
  4. ^ "Mahathir launches new political party Pejuang". The Straits Times (dalam bahasa Inggris). 2020-08-14. Diakses tanggal 2021-09-28. 
  5. ^ Wain 2010, hlm. 5–6
  6. ^ a b Wain 2010, hlm. 4–5
  7. ^ Perlez, Jane (2003-11-02). "New Malaysian Leader's Style Stirs Optimism". New York Times. Diakses tanggal 2021-09-28. 
  8. ^ "Mahathir's Birthplace or 'Rumah Kelahiran Mahathir' | Tourism Malaysia". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-07-28. Diakses tanggal 2020-02-15. 
  9. ^ "Tun M, Father of Modern Malaysia | New Straits Times | Malaysia General Business Sports and Lifestyle News". 2018-06-17. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-08-17. Diakses tanggal 2021-09-28. 
  10. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Wain8
  11. ^ Wain 2010, hlm. 10–12
  12. ^ Wain 2010, hlm. 14
  13. ^ Kaur, Kirat (2019-07-12). "5 Amazing Things about Dr Siti Hasmah you should know". The Rakyat Post. Diakses tanggal 2021-09-28. 
  14. ^ Wain 2010, hlm. 40
  15. ^ Wain 2010, hlm. 38
  16. ^ "The exotic doctor calls it a day". The Economist. 3 November 2003. Diakses tanggal 4 February 2011. 
  17. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 28
  18. ^ Sankaran & Hamdan 1988, hlm. 18–20
  19. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 30–31
  20. ^ Branigin, William (29 December 1992). "Malaysia's Monarchs of Mayhem; Accused of Murder and More, Sultans Rule Disloyal Subjects". The Washington Post. 
  21. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 32
  22. ^ Wain 2010, hlm. 203–205
  23. ^ Wain 2010, hlm. 206–207
  24. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 51–54
  25. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 56
  26. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 57
  27. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 57–59
  28. ^ Wain 2010, hlm. 97–98
  29. ^ Sankaran & Hamdan 1988, hlm. 50
  30. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 40–43
  31. ^ Crossette, Barbara (7 February 1988). "Malay Party Ruled Illegal, Spurring Conflicts". New York Times. Diakses tanggal 5 February 2011. 
  32. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 43–44
  33. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 46–49
  34. ^ Cheah, Boon Keng (2002). Malaysia: the making of a nation. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 219. ISBN 981-230-154-2. 
  35. ^ Kim Hoong Khong (1991). Malaysia's general election 1990: continuity, change, and ethnic politics. Institute of South East Asian Studies. hlm. 15–17. ISBN 981-3035-77-3. 
  36. ^ Wain 2010, hlm. 1–3
  37. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 165
  38. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 166
  39. ^ Milne & Mauzy 1999, hlm. 74
  40. ^ Wain 2010, hlm. 104–105
  41. ^ Wain 2010, hlm. 280
  42. ^ Hilley, John (2001). Malaysia: Mahathirism, hegemony and the new opposition. Zed Books. hlm. 256. ISBN 1-85649-918-9. 
  43. ^ Wain 2010, hlm. 189
  44. ^ Wain 2010, hlm. 185–188
  45. ^ Wain 2010, hlm. 186–187
  46. ^ Wain 2010, hlm. 105–109
  47. ^ Wain 2010, hlm. 208–214
  48. ^ Wain 2010, hlm. 80
  49. ^ Spillius, Alex (31 October 2003). "Mahathir bows out with parting shot at the Jews". The Daily Telegraph. UK. Diakses tanggal 5 February 2011. 
  50. ^ a b "Mahathir to launch war crimes tribunal". The Star (Associated Press). 31 January 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 June 2008. Diakses tanggal 14 January 2008. 
  51. ^ "Creativity – the key to NEM's success". The Star Online. 14 August 2010. Diakses tanggal 4 September 2010. 
  52. ^ see Mahathir Mohamad’s preface to Asia’s New Crisis, edited by Frank-Jürgen Richter, Pamela Mar (eds): John Wiley & Sons, Singapore, 2004, (see Amazon)
  53. ^ "Commanding Heights: Dr. Mahathir bin Mohamad". PBS.org. Diakses tanggal 1 February 2008. 
  54. ^ "INVESTMENT IN MALAYSIA". Asia Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-09-29. Diakses tanggal 10 December 2012. 
  55. ^ "INTERNATIONAL BUSINESS; Malaysia Extends Deadline in Singapore Exchange Dispute". New York Times. 1 January 2000. Diakses tanggal 10 December 2012. 
  56. ^ "Malaysia's stockmarket; Daylight Robbery". The Economist. 10 July 1999. Diakses tanggal 10 December 2012. 
  57. ^ http://infopedia.nl.sg/articles/SIP_1533_2009-06-23.html%7C"Singapore-Malaysia[pranala nonaktif permanen] water agreements"
  58. ^ http://www.straitstimes.com/sites/straitstimes.com/files/20150323/ST-Special-Edition-150323.pdf%7CPlans for a natural gas pipeline from Terengganu to Singapore.
  59. ^ http://chedet.cc/?p=1620
  60. ^ http://www.scmp.com/news/asia/article/1756234/lee-kuan-yews-death-mahathir-mohamad-last-southeast-asias-old-guard
  61. ^ http://www.straitstimes.com/asia/se-asia/lee-kuan-yew-was-pivotal-to-singapores-success-mahathir
  62. ^ "Dr M nominated for Nobel Prize" Diarsipkan 3 April 2007 di Wayback Machine., [[The Star (Malaysia)|]], 4 February 2007.
  63. ^ Bowring, Philip (23 September 1998). "Twin Shocks Will Leave Their Mark on Malaysia". International Herald Tribune. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 June 2008. Diakses tanggal 14 January 2008. 
  64. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama star-najib
  65. ^ "Dr M, BN men have every right to meet up, Nur Jazlan says". 14 October 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-07-01. Diakses tanggal 14 October 2015. 
  66. ^ http://www.themalaymailonline.com/malaysia/article/dr-m-shows-up-at-bersih-4-rally
  67. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-07-12. Diakses tanggal 2018-05-11. 
  68. ^ http://www.straitstimes.com/asia/se-asia/mahathir-and-opposition-sign-declaration-to-oust-najib
  69. ^ "Malaysia's Najib looks to ride out political crisis". 11 August 2015. Diakses tanggal 8 December 2015. 
  70. ^ "New bill gives Najib extensive powers". 5 December 2015. Diakses tanggal 8 December 2015. 
  71. ^ "Mahathir Mohamad's return shows the sorry state of Malaysian politics". The Economist. 1 July 2017. Diakses tanggal 2 July 2017. 
  72. ^ "Mahathir Mohamad: Ex-Malaysia PM, 92, to run for office". BBC. 8 January 2018. Diakses tanggal 11 January 2018. 
  73. ^ Taylor, Adam (9 January 2018). "How old is too old to be a world leader?". The Washington Post. Diakses tanggal 12 January 2018. 
  74. ^ Hodge, Amanda (9 Januari 2018). "Mahathir Mohammad runs for PM in partnership with former rival Anwar Ibrahim". The Australian. Diakses tanggal 11 Januari 2018. 
  75. ^ Malhi, Amrita (12 January 2018). "Mahathir Mohamad crops up again in bid to lead Malaysia – with Anwar on the same side". The Conversation. Diakses tanggal 11 January 2018. 
  76. ^ "Tun M's title revoked by Kelantan palace". New Strait Times. Diakses tanggal 9 April 2018. 
  77. ^ Tay, Chester (2018-05-10). "Tun M hopes to be sworn in as PM by 5pm today". The Edge Markets. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-05-11. Diakses tanggal 2018-05-10. 
  78. ^ Tay, Chester (10 May 2018). "Tun M hopes to be sworn in as PM by 5pm today". The Edge Markets. Diakses tanggal 10 May 2018. 
  79. ^ "Najib: No party has simple majority". Malaysiakini. Diakses tanggal 10 May 2018. 
  80. ^ "Istana Negara confirms Dr M to be sworn in tonight, refutes claims of delaying PM appointment". The Edge Markets. Diakses tanggal 10 Mei 2018. 
  81. ^ "Mahathir says he's poised to lead Malaysia again". Reuters Annual Financial Review. Diakses tanggal 10 Mei 2018. 
  82. ^ "1MDB poses fresh threat to Najib". Free Malaysia Today. Diakses tanggal 10 May 2018. 
  83. ^ Chaudhuri, Pramitpal (17–18 November 2006). "Visionary, who nurtured an Asian 'tiger'". Hindustan Times. Leadership Summit (speech). India. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 March 2008. Diakses tanggal 15 January 2008. 
  84. ^ Ibrahim, Zaid (2009). Saya Pun Melayu. Petaling Jaya, Malaysia: ZI Publications. hlm. 227. ISBN 978-967-5-26603-4. 
  85. ^ Wain 2010, hlm. 331
  86. ^ "Unexpected Results". Sin Chew Daily. 27 March 2009. Diakses tanggal 12 February 2011. 
  87. ^ Wain 2010, hlm. 349
  88. ^ "Dr. Mahathir masuk semula ke ICU". Utusan Online (dalam bahasa Melayu). 2007-09-15. Diakses tanggal 2021-09-28. 
  89. ^ "Former Malaysian PM Mahathir hospitalised for chest infection". Channel NewsAsia (dalam bahasa Melayu). 2018-02-10. Diakses tanggal 2021-09-28. 

TeksSunting

Pranala luarSunting

Jabatan politik
Didahului oleh:
Hussein Onn
Wakil Perdana Menteri Malaysia
1978–1981
Diteruskan oleh:
Musa Hitam
Perdana Menteri Malaysia
1981–2003, 2018–2020
Diteruskan oleh:
Abdullah Ahmad Badawi
Didahului oleh:
Najib Razak
Diteruskan oleh:
Muhyiddin Yassin
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Jean Chrétien
Ketua Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik
1998
Diteruskan oleh:
Jenny Shipley
Didahului oleh:
Thabo Mbeki
Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok
2003
Diteruskan oleh:
Abdullah Ahmad Badawi