Luis Garavito

Luis Garavito, lahir di Génova, Quindío, Colombia, 25 Januari 1957; umur 63 tahun atau dikenal dengan julukan La Bestia (Si Buas) atau Tribilín (nama lain dari karakter Disney, Goofy) adalah seorang pemerkosa dan pembunuh berantai di Kolombia. Ia mengakui pemerkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan 138 anak laki-laki dan remaja. Korban-korbannya, berdasarkan peta yang dibuat Garavito selama di penjara, bisa mencapai 300 orang. Garavito terus-menerus membuat pengakuan atas pembunuhan lainnya. Ia digambarkan media sebagai pembunuh terburuk yang pernah ada. Oleh The Guinness Book of World Records, ia tertulis bersama Pedro Alonso Lopez (dikenal juga sebagai Monster dari Andes), sebagai pembunuh berantai terbesar yang pernah ada pada masa modern. Hanya saja, dari segi jumlah korban yang terkonfirmasi, Garavito melebihi Lopez. Atas perbuatannya, Garavito divonis hukuman 1,853 tahun, 9 hari.[3]

Luis Alfredo Garavito Cubillos
Mug shot
Latar belakang
Nama lahirLuis Alfredo Garavito Cubillos
Nama lainThe Beast
Tribilín
Monster Génova
Lahir25 Januari 1957 (umur 63)
Génova, Quindío, Colombia
HukumanPenjara seumur hidup. Awalnya 1.583 tahun di penjara, namun dikurangi menjadi 22 tahun karena bersedia bekerjasama dan adanya batasan penjara seumur hidup di Kolombia
Pembunuhan
Jumlah korbanTerkonfirmasi 138 jiwa anak-anak melayang, diklaim oleh Garavito sendiri sebanyak 300 orang[1][2]
Waktu pembunuhan1992–1999
NegaraColombia
Negara bagianValle del Cauca, Boyacá, Meta Department, Quindío, Risaralda, Cundinamarca, Nariño, Huila, Caquetá, Antioquia and Caldas
Tanggal ditangkapApril 22, 1999

Bersama Pedro López dan Daniel Camargo Barbosa, mereka bertiga memuncaki peringkat pembunuh paling sadis sedunia. Ketiganya sama-sama berasal dari Kolombia.[4]

Masa kecilSunting

Luis Garavito terlahir di keluarga tak harmonis dengan status sulung dengan enam adik. Seluruh saudara ini mengalami masa-masa yang suram akibat ayah mereka yang alkoholik dan sudah menyiksa Luis Garavito baik secara fisik maupun seksual sejak kecil, atau setidaknya demikianlah pengakuannya saat tertangkap. Sementara ibunya diperkirakan adalah seorang pelacur. Ayahnya memaksa ia melihat ibunya saat bekerja an mengizinkan pelanggan ibunya untuk juga melecehkannya secara seksual. Umur 8 tahun, ia diimingi makanan hangat dan tempat menginap yang nyaman oleh seorang asing. Orang tersebut ternyata menipunya dengan membawa ke sebuah gedung kosong dan memperkosanya. Beberapa hari kemudian, ia direkrut gang pemberontak untuk mendapatkan perlindungan. Gang ini sering merampok rakyat Kolombia. Umur 16 tahun, ia lari dari rumah untuk hidup terpisah dari ayahnya. Untuk mencari penghidupan, ia jarus berkeliling Kolombia. Ia mulai menjadi juru catat di toko sebelum akhirnya menjadi pedagang kaki lima yang menjual kartu doa dan patung relijius lainnya. Meskipun terus bertualang, ia sempat memiliki kekasih dan seorang anak. Teman-temannya memberikan kesaksian bahwa ia orang yang baik meskipun pemarah.[3][5]

Saat sudah dewasa, ia meneruskan kebiasaan alkoholik dari ayahnya, sambil terus berkelana dari kota ke kota untuk mencari kerja. Ia juga memelihara kebiasaan berkelahi sehingga selalu diusir dari lingkungan tempat tinggalnya. Menurut catatan polisi, ia juga pernah berusaha bunuh diri.


KejahatanSunting

Diperkirakan Garavito memulai kebiasaan jahatnya sejak tahun 1992. Ia selalu selektif memilih korban, biasanya yang dicari usia 6-12 tahun, dengan latar belakang spesifik, anak yatim, miskin atau gelandangan. Ia tahu anak-anak ini bermasalah dan tidak akan ada yang mencari mereka bila menghilang. Biasanya ia akan mendekati mereka di daerah pinggiran, namun kadang ia juga menemui mereka di jalanan ramai. Kebanyakan dari mereka diimingi hadiah atau uang. Kadang ia menawari pekerjaan. Untuk menumbuhkan kepercayaan dari calon korban, ia menyamar men jadi karakter tertentu seperti pendeta, lorang tua, pengedar narkoba, atau petani. Untuk menghindari kecurigaan, penyamarannya selalu berubah-ubah[3].

Antara tahun 1992 hingga 1999, Luis Garavito memangsa banyak sekali korban anak laki-laki di seluruh Kolombia tanpa sedikit pun merasa takut akan ditangkap. Saat tertangkap, barulah ia mengaku telah membunuh ratusan anak saat berkeliling 54 kota di negara tersebut. Fakta bahwa ia terus berkelana, menyamar, dan korbannya memang tidak akan dicari saat hilang, membuat ia selalu aman melakukan aksinya. Diperkirakan pembunuhan-pembunuhan tersebut ia lakukan di sekitar Pereira, daerah asalnya. Begitu calon korbannya kelelahan diajak berjalan jauh oleh Garavito, maka ia akan mulai mengikat, menyiksa dan memperkosanya. Kadang kemaluan mereka dipotong dan dimasukkan ke mulut si korban. Mayat-mayat mereka biasanya ditemukan di kuburan dangkal dengan beberapa bekas gigitan. Tempat Kejadian Perkara biasanya dipenuhi botol minuman keras dan pelumas. Setelah ditangkap, Garavito mengaku mabuk saat membunuhi mereka dan menyatakan bahwa tubuhnya dikuasai oleh "sang penguasa" [3].

Aksi Garavito menjadi mulus karena Kolombia baru saja lepas dari Konflik Kolombia pada tahun 1964. Pada masa itu banyak anak-anak tanpa keluarga berkeliaran di jalan. Dengan kondisi sangat kelaparan dan baju compang-camping, nyaris tidak ada yang mempedulikan kalau mereka tiba-tiba menghilang. [3]

PenangkapanSunting

Kejahatan Garavito mulai terkuak pada bulan November 1997, saat ditemukannya 25 tubuh anak-anak tak dikenal di Pereira di sebuah kuburan massal. Pada bulan Februari 1998, dua jenazah lainnya ditemukan bersebelahan di luar Kota Genoa di Kolombia. Satu lainnya ditemukan bersama senjata yang digunakan Garavito untuk membunuh. Polisi juga menemukan catatan di sekitar lokasi tersebut dengan petunjuk alamat yang membawa polisi kepada kekasih Garavito. Pada saat itu, ia mengaku sudah tujuh bulan tak bertemu Garavito, tapi kemudian menyerahkan barang-barang milik Garavito yang kemudian menjadi bukti, antara lain foto-foto anak lelaki, catatan pembunuhan, dan daftar panjang nama korbannya. [3]

Garavito sebenarnya sudah dicurigai dan ditahan sejak 1996. Tanggal 9 Juni 1996, seorang anak laki-laki hilang di Boyaca, dan tubuhnya ditemukan lima hari kemudian. Ibu anak tersebut memulai pencarian dan menemukan fakta bahwa anaknya terakhit terlihat berada di sebuah toko bersama seorang anak lainnya dan seorang pria dewasa. Garavito mengaku memang membelikan anak-anak tersebut permen, namun kemudian tidak mengganggu mereka. Pengakuan ini cukup untuk membuatnya dilepas kembali dan ia kembali membunuh anak lainnya empat hari kemudian.[3]

Bukti perbuatan Garavito didapatkan dari kekasihnya. Polisi kemudian berhasil melacak tempat tinggal Garavito. Namun ia tak lagi tinggal di sana. Hanya saja, ia kemudian tidak beruntung lagi setelah diserang oleh seorang gelandangan. Gelandangan tersebut menyaksikan Garavito menyerang seorang anak jalanan dan berusaha membela anak tersebut. Ia tak sadar kalau yang dilawannya adalah seorang pembunuh tersadis sepanjang sejarah.[3]

Luis Garavito akhirnya ditangkap 22 April 1999. Namun polisi yang menahannya tidak sadar akan kekejaman Garavito. Tanpa disangka, perbuatannya kemudian tersingkap saat interogasi dan ia mengaku telah membunuh belasan anak. Bersama pengakuan tersebut, dan bukti-bukti DNA Garavito yang menempel di korban, serta kacamata yang tertinggal di TKP. Kacamata tersebut khusus dibuat untuk kerusakan mata yang dia alami.[3]

Seperti dicatat oleh koran El Tiempo, Garavito mengungkap motif perbuatan kejam yang ia lakukan saat dieksaminasi oleh psikolog penjara. Jawabannya adalah "Aku merasakan kepuasan, meskipun saat akhirnya pembunuhan itu terjadi, rasa bersalah mendatangiku."[6]

PengadilanSunting

Pada akhirnya, Garavito mengakui perbuatannya membunuh 140 anak di Kolombia dan dituntut atas 172 pembunuhan. Ia terbukti bersalah untuk 138 tuntutan. Meskipun vonis yang ia dapat adalah 1.853 tahun penjara, hukum Kolombia membatasi penjara maksimal sepanjang 40 tahun (berdasarkan artikel 37.1 dari Colombian Penal Code). Karena ia bekerjasama dengan polisi menunjukkan lokasi dari tubuh korbannya, hukuannya diperingan menjadi 22 tahun. Ia harusnya bebas pada tahun 2021, namun hukum Kolombia juga menetapkan bahwa kejahatan terhadap anak-anak tidak layak diberikan keringanan. Ia diasingkan dari narapidana yang lain untuk menjaga keamanannya. Ia sangat paranoid dan takut orang lain berusaha meracuninya. Karena itu ia hanya makan makanan dari orang yang dipercaya. [3]

Pola dan motif serupaSunting

Karena ketiga pembunuhan oleh Luis Garavito, Pedro López, dan Daniel Camargo Barbosa memiliki kemiripan dan terjadi di negara yang sama, maka muncul perkiraan ada yang salah dengan kehidupan sosial di Kolombia pada masa tersebut. Setelah Perang Dunia Kedua, memang terjadi kekacauan dan instabilitas politik di Kolombia yang dinama dengan era La Violencia. Pembunuhan terhadap kandidat presiden dari kalangan liberal menular dan memancing jatuhnya 220,000 korban semenjak sekitar tahun 1958. Tindak kekerasan dan pembunuhan dianggap wajar dan jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Keadaan ini terus berlanjut hingga tahun 2000an, yang mempersulit polisi untuk bisa melakukan penyelidikan secara teliti. [4]

ReferensiSunting

  1. ^ Benecke, Mark (2005). Murderous Methods: Using Forensic Science to Solve Lethal Crimes. Columbia University Press. ISBN 0-231-13118-6.
  2. ^ Peter Vronsky (2004). Serial Killers: The Method and Madness of Monsters. Berkley Books. p. 35. ISBN 978-0-425-19640-3.
  3. ^ a b c d e f g h i j Luis Garavito: Worst Serial Killer History. dari situs historycollection.co
  4. ^ a b 3 of the World’s Deadliest Serial Killers Come From the Same Place: Why? dari situs vice.com
  5. ^ Famous Serial Killers, La Bestia Luis Garavito. dari situs medium.com
  6. ^ 10 of the World's Most Prolific Serial Killers. dari situs howstuffworks.com