Buka menu utama

Lokomotif B 25 adalah lokomotif uap bergigi yang pernah dimiliki oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij. Lokomotif ini diproduksi oleh pabrik Maschinenfabrik Esslingen, Jerman. Kini, lokomotif B 25 yang masih dapat dioperasikan adalah lokomotif B 25 02 dan B 25 03. Lokomotif ini memiliki susunan gandar B'1.

Lokomotif B25
Data teknis
Sumber tenagaUap
ProdusenMaschinenfabrik Esslingen, Jerman
Nomor seriNIS 231-235
ModelB25
Tanggal dibuat1902
Jumlah dibuat5 unit
Spesifikasi roda
Notasi Whyte0-4-2RT
Susunan roda AARB-1
Klasifikasi UICB'1
Dimensi
Lebar sepur1.067 mm (3 ft 6 in)
Diameter roda853 mm
Panjang8.180 mm
Lebar2.670 mm
Berat
Berat kosong31 ton
Bahan bakar
Jenis bahan bakarKayu jati
Sistem mesin
Ukuran silinder340/390 × 450 mm
Kinerja
Kecepatan maksimum30 km/jam
Daya mesin450 hp
Jari-jari lengkung terkecil170 m
Lain-lain
Karier
Perusahaan pemilikNederlands-Indische Spoorweg Maatschappij
Pemilik sekarangPT. Kereta Api Indonesia

SejarahSunting

Lokomotif ini dioperasikan oleh NIS mulai tahun 1902 dalam rangka mengoperasikan jalur kereta api Secang-Kedungjati (hanya sampai Stasiun Ambarawa yang didukung jalur bergigi. Jalur gigi sejauh 6,5 km ini beroperasi mulai tahun 1905. Untuk operasional khusus tersebut itulah, NIS mengimpor lima unit B 25 dari Esslingen.

Agar dapat beroperasi di atas jalur bergigi ini, B 25 menggunakan roda gigi agar kereta dapat menanjak dengan baik. Gigi-gigi itu difungsikan agar kereta dapat menanjak pada kemiringan hingga 6,5% walaupun melaju dengan kecepatan 10 km/jam. Selain itu, gigi-gigi tersebut berfungsi menahan kecepatan apabila relnya menurun.

Lokomotif ini berbahan bakar kayu jati untuk mendidihkan air dan menggerakkan piston-piston. B 25 memiliki empat silinder, dua di antaranya hanya untuk menggerakkan roda gigi. Bahan bakar kayu jati yang dipergunakan dalam lokomotif ini dapat merebus hingga 2.850 liter air. Sebelum pengoperasian, ketel uap harus dipanaskan sekitar tiga jam agar ketel mencapai titik puncak pemanasan untuk menggerakkan roda-rodanya pada suhu ±235 °C. B 25 dapat melaju hingga 30 km/jam untuk jalur datar.

Saat ini masih tersisa 3 (tiga) unit lokomotif uap seri B25 yang masih bisa dijumpai yaitu lokomotif uap B25 02 dan B25 03 yang masih operasional untuk melayani kereta wisata rute Ambarawa – Bedono sedangkan lokomotif uap B25 01 menjadi monumen statis di Monumen Palagan Ambarawa (penanda kepahlawanan dan perjuangan), perlu diketahui bahwa Lokomotif B25 01 dalam peletakkannya di Monumen Palagan, lokomotif berjalan secara normal menggunakan rel portabel dari Stasiun Ambarawa menuju Monumen Palagan, secara teknis lokomotif ini dalam kondisi baik. Lokomotif di Indonesia yang juga memiliki gigi adalah E 10 yang masih beroperasi namun juga untuk layanan kereta wisata yang diberi nama Mak Itam, serta Lokomotif BB204.[1]

GaleriSunting

ReferensiSunting