Buka menu utama

Komik di eropa merupakan berbagai macam produk kreatif berupa komik (dalam format cetak maupun digital) yang diterbitkan di negara-negara Eropa. Untuk format cetak, komik diterbitkan dalam format ukuran besar dalam kertas ukuran A4 (21x30 cm) dan jumlah 40-100 halaman dengan kualitas cetakan, halaman, serta pewarnaan yang cukup baik.[1]

SejarahSunting

 
Johannes Gutenberg, temuan mesin cetaknya dianggap bepengaruh terhadap perkembangan komik di Eropa secara tidak langsung.


 
Mr. Vieuxbois karya Rodolphe Topffer yang dianggap sebagai awal mula komik di Eropa

Tanggal yang diduga sebagai awal kemunculan dari komik strip disebut berawal dari cerita yang digambar melalui engraver asal Swiss Rodolphe Töpffer (1799-1846).[2] Pada 1827, ia merilis sebuah buku tentang Mr. Vieuxbois (fr: Histoire de Mr.Vieuxbois) dan memberi definisi yang menarik terkait buku tersebut (kata pengantar oleh Mr. Jabot pada 1833) "Komik merupakan sekumpulan gambar di mana masing-masing gambar dilengkapi oleh satu atau dua baris teks pelengkap yang berada di bawah gambar". Pada saat itu, definisi balon komik belum ditentukan.[2]

Dan juga, sejak awal tahun 1845, Töpffer telah mengatakan definisi komik sebagai berikut "Cerita yang digambar melalui ilustrasi, meskipun tidak dianggap sebagai suatu hal yang serius dari kritikus dan kaum intelektual, komik telah memiliki pengaruh yang kuat dari abad ke abad bahkan melebihi literatur tulis tradisional". Bahkan, Ia lebih jauh lagi mendefinisikan bahwa tema utama dan tujuan dari cerita semacam ini adalah "anak-anak dan kaum tak berpunya" yang merupakan kelebihan dibandingkan kekurangan.[3]

Komik di eropa sendiri muncul seiring dengan revolusi percetakan yang dicetuskan oleh Johannes Guttenberg melalui mesin cetak temuannya. Kemudian, di Italia pada awal abad ke-18 muncul karikatur yang dianggap sebagai tonggak awal industri komik di Italia dan Eropa.[4] Komik di eropa sendiri mencapai puncaknya pada dekade 1930-an di beberapa negara seperti Italia, Prancis, dan Spanyol akibat pengaruh dari komik yang diimpor dari Amerika Serikat. Sementara itu, negara-negara lain mengikuti polanya sendiri. Britania Raya, sebagai contoh, bertindak sebagai produsen komik ke semua negara-negara Uni Eropa tetapi mengimpor sedikit sekali komik dari negara luar dan industri komik di Britania Raya mencapai puncaknya pada dekade 1950-an[5]. Di Jerman, industri komik belum muncul hingga dekade 1950-an dan tradisi komik di negara tersebut baru berkembang tidak lama kemudian.[6]

Pengaruh Komik AmerikaSunting

Komik Amerika merevolusi grafik narasi dari eropa sebagai wujud timbal balik dari bentuk dan isi[6]. Sebagai hasil terjemahannya, komik tersebut menghasilkan sebuah bahasa visual yang baru terutama penggunaan balon kata dan kode visual lain yang mewakili unsur-unsur tersembunyi seperti musik, derau, pikiran dan gerakan. Balon kata dan emanata lain, seperti speed lines dan onomatopoeia, muncul tidak hanya sebagai bentuk lain terjemahan karya tetapi juga digunakan dalam produksi awal karena teks naratif yang berada di bawah panel mulai ditinggalkan akibat dianggap kuno (ketinggalan jaman). Dengan tidak lupa memerhatikan isi cerita, komik dari Amerika Serikat membawa petualangan dan aliran fiksi populer lainnya satu waktu dengan demam komik di eropa yang dimulai dengan penerbitan majalah bergambar yang menjadi representasi gebrakan dari masa lampau di mana majalah tersebut menampilkan tidak hanya cerita bergambar yang lucu seperti yang telah dipublikasikan sebelumnya tetapi juga komik strip beraliran baru yang lebih luas dengan penggambaran yang lebih realis










Perkembangan Komik di Negara-negara EropaSunting

ItaliaSunting

Di Italia, komik sendiri disebut sebagai fumetti yang berarti asap kecil (merujuk pada bentuk balon komik yang mirip seperti asap)[7]. Tradisi komik di Italia sendiri merupakan tradisi yang kaya dan sudah ada sejak berabad-abad yang lampau. Penulis serta artis komik setempat dikenal baik oleh publik dan pembacanya dari beragam usia sehingga kita bisa menemukan pembaca dengan usia enam sampai enam puluh tahun.[7]

Tradisi komik di Italia sendiri sebenarnya sudah dimulai lama sebelum Perang Dunia II.[8] Sebelum perang, komik di Italia sendiri lebih merupakan suatu produk cetakan yang dikhususkan sebagai suvenir (oleh-oleh) di toko khusus oleh-oleh. Meskipun demikian, salah satu produk komik pertama di Italia adalah "Le burle di Furbicchio ai maghi (1924)" (menurut Gianni Bono) meskipun sejarawan Fabio Gadducci menganggap hal tersebut sudah ada sejak 1870 ketika novel grafis "Pasquino all’Istmo di Suez" oleh Casimiro Teja terbit.[8]

Komik di Italia pada dasarnya sangat tergantung oleh konten produksi luar negeri terutama Amerika Serikat. Bahkan, serial komik populer di Italia seperti S.K.1 (1935) dan Ciclo della Malesia (1936) oleh Guido Moroni Celsi, Saturno contro la Terra (1936) oleh Federico Pedrocchi dan Giovanni Scolari serta serial lain yang dianggap terhubung langsung dengan pemerintahan fasis Mussolini (seperti Romano il Legionario oleh Kurt Caesar, 1938) memijam gaya dan narasi komik Amerika.[8]

Skena ini tidak berubah dalam sekejap setalah Perang Dunia Kedua usai. Asso di Picche, suatu karakter yang diciptakan tahun 1945 oleh Mauro Faustinelli, Alberto Ongaro dan Hugo Pratt, dapat disebut sebagai superhero pertama di Italia. Superhero tersebut memiliki tampilan jubah kuning ketat yang menyembunyikan identitas pribadinya sebagai jurnalis pemalas Gary Peters -seperti Batman dan Superman- avenger Asso di Picche (“Ace of Spades”) juga ikut melawan kejahatan internasional. Akan tetapi, pengaruh Milton Caniff dan karyanya, Terry and the Pirates, sangat mudah terlihat dalam gaya Pratt yang belum matang, kreator Corto Maltese di masa depan.

Antologi di mana karakter tersebut pertama kali muncul-Albi Uragano- yang mengambil namanya dari karakter utama tersebut, pada akhirnya berhenti terbit setelah dua puluh edisi. Ketika editor Italia Cesare Civita pindah ke Argentina sebagai akibat dari undang-undang rasial di Italia dan membawa hak cipta pada karakter utama untuk karya editorialnya sendiri, Arbil, dan dia juga menyarankan kreator untuk juga ikut pindah ke Buenos Aires dengannya.[8]

Di Italia sendiri, salah satu komikus yang terkenal adalah Romano Scarpa dan Luciano Bottaro.[9] Romano Scarpa sendiri merupakan salah satu komikus terkenal di Italia yang karya-karyanya sering dipakai oleh Disney, utamanya komik tentang Donal Bebek dan Miki Tikus edisi Italia.

BelgiaSunting

 
Salah satu mural yang ada di kota Brussel dengan mengambil tema Tintin dan Kapten Haddock

Ciri khas komik Belgia, terutama yang terbit setelah Perang Dunia II, baik komik dari kawasan Flanders maupun Walonia, adalah adanya tokoh ilmuan yang digambarkan dalam berbagai karakter.[10] Karakter ini muncul di banyak komik baik Tintin (Profesor Lakmus), Smurf, hingga Spirou dan Fantasio[10].
Salah satu kota yang disebut sebagai pusat atau ibu kota komik di eropa adalah Brussel di Belgia.[11][12] Brussel sendiri dianggap juga sebagai ibu kota komik dunia karena banyaknya instalasi seni terutama mural terkait komik yang menghiasi kota tersebut.[12] Di Brussel sendiri tercatat jumlah komikus yang ada mencapai 700 penulis.[12] Bahkan, Brussel sendiri memiliki predikat kota dengan kepadatan artis komik atau komikus terbanyak untuk setiap kilometer persegi kota tersebut.[13]

Salah satu bukti bahwa Brussel memperlakukan artis komik mereka dengan layak adalah dibangunnya bangunan bergaya Art Nouveau yang berfungsi sebagai pusat komik strip Belgia (fr: Centre Belge de la Bande Dessinée) yang juga berfungsi sebagai museum artis-artis komik di Belgia sekaligus sebagai media untuk merawat dan mengembangkan talenta baru artis komik di sana.[13][14]

PrancisSunting

Dalam budaya Prancis, komik memiliki nilai seni yang setara dengan film.[15] Komik di Prancis sendiri disebut sebagai Bande Dessinee dan sering kali disebut secara bersamaan dengan Komik di Belgia (Franco-Belgium Comics) karena komik di Belgia sendiri paling dominan berbahasa Prancis (terutama yang muncul di kawasan Walonia).[16] Komik di Perancis sendiri mendapat tempat spesial di Kota Angouleme karena di kota tersebut merupakan pusat industri komik di Prancis dengan diadakannya acara yaitu The Comics Salon sejak Januari 1974.[15][17][18] Acara The Comics Salon tidak hanya menjadi semacam acara hajatan tuan rumah bagi komik Perancis sendiri tetapi juga komik yang berasal dari luar Perancis.[15][16] [17] Saking populernya, acara ini selalu dikunjungi oleh pejabat pemerintahan Prancis bahkan Presiden Francois Mitterrand pada tahun 1985.[15]

Perkembangan komik di Perancis sendiri sama seperti di negara-negara Uni Eropa lainnya. Pada awalnya, komik yang ada muncul pada dekade 1910 dan khusus untuk anak-anak.[2] Perkembangannya pun terbagi menjadi dua segmen: paruh awal secara langsung untuk kelas pekerja dan paruh selanjutnya untuk kelas menengah.[2] Komik di Prancis sempat berkembang pada dekade 1930-an yang ditandai dengan popularitas penggunaan balon pada halaman komik dan terjemahan beberapa komik luar negeri seperti komik Miki Tikus (Disney) namun terhenti ketika invasi Jerman pada Perang Dunia II.[2][15]

Komik Prancis mulai dianggap memiliki materi yang benar-benar khusus dewasa adalah pada dekade 1960-an.[2] Dengan memerhatikan usia pembaca komik yang semakin menua, penerbit Square menerbitkan komik dengan judul "Hara-Kiri" yang mengguncang pers Prancis. Komik tersebut pada umumnya berisi materi-materi yang cukup dewasa seperti politik. Kemudian, dari penerbit yang sama, muncul Charlie Monthly pada 1969. Munculnya Charlie Monthly ini menandakan awal mula gerakan Avant-Garde yang ada di Prancis.[2]

Bahkan, sebuah survey yang dilakukan oleh koran Le Monde pada tahun 1982, rakyat Perancis yang menggemari komik sebanyak 7 persen dari jumlah bahan bacaan yang ada di dalam katalog mereka. Jumlah ini semakin banyak ditemui di kalangan ekonomi atas dan kaum intelektual yaitu sebesar 15 persen yang membaca komik secara reguler dan 37 persen terkadang membaca komik. Jumlah ini hanya berkurang bahkan turun hingga 1-12 persen di kalangan petani. Pengaruh kuat komik ini semakin terasa ketika mantan Presiden Charles de Gaulle dan Francois Mitterrand memiliki opini yang kuat terhadap komik Asterix.[15] Saking kuatnya pengaruh komik di pemerintahan lokal, komik pun memiliki semacam divisi (kalau di Indonesia seperti direktorat jenderal) di dalam Departemen Kebudayaan Perancis dan Centres National des Lettres (semacam pusat kebudayaan untuk bidang literatur/sastra).[15]

SpanyolSunting

Di Spanyol, komik dikenal dengan nama tebeos.[19] Komik di Spanyol sendiri muncul di abad ke-19 ketika bentuk media cetak mulai terbuka untuk format seni gambar ini.

JermanSunting

Menurut beberapa pengamat, Wilhelm Busch sering dianggap sebagai "founding father" atau perintis komik terutama di Jerman karena dianggap telah menginisiasi beberapa ilustrator komik modern di New York pada awal karier mereka bahkan Walt Disney sendiri. Karakter yang ia ciptakan sejak 1860 antara lain adegan penyiksaan yang kejam, rohaniawan pemabuk, bigot dan dua orang anak nakal: Max dan Moritz.[20]

Komik di Jerman sendiri pernah mengalami masa kelam ketika berada di bawah pemerintahan nazi. Ketika Partai Nazi mengambil kekuasaan pada tahun 1933, salah satu inisiatif Adolf Hitler adalah memurnikan masyarakat Jerman dari segala macam yang dianggap vulgar dan berkelas rendahan. Bersamaan dengan ras dan agama, usaha ini juga diperluas dengan mencakup bidang seni yang juga menyangkut budaya konsumenisme dan, berkaitan dengan ideologi pemurnian Hitler tersebut, juga termasuk rilisan cetak buku komik. Salah satu buku komik yang menjadi sasaran Partai Nazi selama Perang Dunia II dan menjadi titik awal untuk propaganda komik yang dianggap lucu yang berlangsung selama satu dekade adalah Superman karya Joe Shuster dan Jerry Siegel, yang memang masih memiliki keturunan Yahudi.[21]

Pada akhir dekade 1940-an dan awal dekade 1950-an, komik di Jerman mengalami kemandekan sebagai akibat tidak adanya kelanjutan yang terjadi dari kartunis (kreator) dan penerbit komik. Pada dekade 1950-an dan 1960-an, pernah ada perdebatan mengenai komik, terutama komik strip, yang dianggap sebagai produk budaya impor Amerika Serikat meskipun perdebatan tersebut sebenarnya sudah muncul pada dekade 1930-an. Komik-komik tersebut kebanyakan merupakan karya kreator Jerman sedangkan karya kreator Amerika Serikat sendiri dirilis secara terbatas. Sebagai akibat dari absennya rilisan komik strip yang disebabkan oleh Perang Dunia II, komik strip di Jerman tidak menemui pembacanya selama satu dekade (1940-an). Komik strip di Jerman sendiri muncul kembali pada tahun 1947-1948 sebagai ilustrasi di majalah dan koran untuk memikat pasar pembaca muda.[22]

Pada era modern sendiri, skena komik di Jerman tidak sekuat seperti negara-negara semacam Amerika Serikat maupun Prancis karena karakteristik pembaca di Jerman sendiri yang tidak terlalu terbuka pada satu golongan aliran (genre). Meskipun belakangan ini beberapa artis dari Jerman telah dikenal secara luas di dunia internasional (seperti Reinhard Kleist) begitupun beberapa generasi ilustrator yang lebih muda yang mendapat sinar perhatian yang cukup.[20]

Britania RayaSunting

Komik di Britania Raya sendiri, seperti yang telah disebutkan di atas, berkembang pada dekade 1950-an dan 1960-an.[5] Masa kejayaan itu diawali dengan larisnya komik Eagle dan School Friend terjual mendekati satu juta kopi. Aliran komik kekerasan muncul pada dekade 1970-an termasuk rilisnya komik kontroversial Action dan 2000 AD (dengan salah satu tokohnya Judge Dredd, rilis 1977)[23] yang menjadi semacam kultus sedangkan dekade 1980-an ditandai dengan muncul dan tenggelamnya komik-komik bertema dewasa seperti Warrior, Crisis, Deadline, dan Revolver.[5] Chapman (2011) beranggapan setelah mengamati kreator serta pembacanya, komik Britania Raya dianggap memiliki identitas yang luas dalam pengertiannya sendiri jika dibandingkan komik dari Amerika Serikat, Prancis, dan Jepang.[5] Hal ini disebabkan baik kedua belah pihak memiliki peranan di dalam pergerakan budaya dan ideologi yang terjadi di masyarakat Britania Raya tidak hanya sekadar media pelarian untuk pembacanya tetapi juga sebagai cermin kondisi sosial masyarakat pada saat itu.[5]

Salah satu strip komik yang populer dari Britania Raya adalah Andy Capp, strip komik yang sering muncul di koran Daily Mirror. Strip komik ini kontroversial karena tabiat Andy Capp yang selalu melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya, Flo.[24]

Karena kuatnya budaya komik dan komunitasnya, Dundee University di Dundee, Skotlandia telah membuka program studi yang terkait dengan pembelajaran komik atau pembuatan komik.[25][26]

KarakteristikSunting

 
Gaya komik eropa (dalam kasus ini Franco-Belgium)

Pada umumnya, komik di eropa merupakan komik yang sering disebut novel grafik, yaitu novel yang disertai dengan ilustrasi meskipun sebutan ini jarang digunakan di eropa sendiri karena komik terkait tidak hanya dari suatu album komik yang terdiri dari beberapa cerita terpisah dan sebutan novel grafik yang dianggap lebih cocok untuk komik Amerika (sebutan novel grafik ini konon diinisiasi oleh penulis Will Eisner pada 1977).[27][28]

Di Prancis/Belgia (yang sering dianggap sebagai pusat produksi komik di eropa), komik sering dirilis dalam bentuk album (kertas ukuran 8,4 x 11,6 inch) dengan jumlah 50 halaman per satu jilid. Selain itu, ciri khas dari komik eropa adalah edisinya yang terbit secara tidak reguler karena terkadang untuk menunggu satu edisi komik terbaru butuh waktu hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena alasan personal penulis seperti penerbitan edisi orisinal komik Tintin.[29] Selain itu, gaya komik Prancis/Belgia juga sering disebut sebagai bande dessinee atau yang juga disebut sebagai bande dessinée franco-belge.[30]








Perbedaan dengan Komik Jepang (Manga) dan Komik AmerikaSunting

 
Gaya Komik Amerika. Di sini ditampilkan gaya komik strip yang umum dipakai dalam semua jenis komik yang ada di dunia.


 
Salah satu gaya komik jepang atau yang lebih dikenal sebagai manga

Gaya lain yang membedakan komik eropa dengan komik dari Jepang dan Amerika adalah dari segi idealisme seni dari kreator yang sangat luas (tidak terbatas) sehingga banyak komik eropa yang harus disensor di beberapa negara yang menerapkan sensor ketat.[30] Sensor ketat ini muncul sebagai adanya perbedaan/bias budaya yang timbul dari negara produsen komik dan negara pembaca komik.

Pada beberapa negara dengan pasar komik paling bepengaruh di eropa seperti Britania Raya, Prancis, dan Walonia (bagian Belgia yang berbahasa Prancis), media penyebaran yang paling umum adalah majalah komik dengan format mingguan. Tidak seperti buku komik di Amerika Serikat, banyak edisi awal dari majalah komik di Eropa diterbitkan bersamaan dengan distribusi surat kabar (koran) dan kemudian berkembang menjadi majalah independen (zine) yang terbit seminggu dan dijual di lapak / kios koran selama tiap pekan.[28]

Komik mingguan di Eropa, seperti komik minggu di Amerika dan buku komik yang muncul sebagai produk turunannya, merupakan anthologi (kumpulan cerita) dari cerita bersambung (cerbung). Tidak seperti komik amerika yang memiliki kesamaan dengan format majalah mingguan komik eropa, mingguan komik eropa tidak pernah meniadakan format cerita bersambung ini. [28] Selain itu, beberapa komik eropa memiliki format yang lebih romantis dibandingkan komik amerika.[31] Artinya, tema di dalam komik eropa tersebut tidak harus melulu tentang superhero seperti kebanyakan komik amerika. Selain itu, format komik eropa merupakan format album (kumpulan cerita komik)[1].

Meskipun demikian, di era modern kali ini, komik Jepang beserta turunan produk kreatif lainnya telah berhasil menginvasi atau menyerbu pasar eropa yang pada awalnya merupakan target tujuan pasar komik Jepang.[32] Bahkan, karena tingkat popularitas yang tinggi, telah tercipta suatu aliran gabungan (fusion) baru bernama "Euromanga". Aliran gabungan ini muncul sebagai akibat dari perbaduan budaya Jepang yang dibawa melalui komik (manga) dan animasi (anime) yang dikerjakan oleh orang-orang Eropa.[32]













Contoh Komik EropaSunting

 
Petualangan Quick dan Flupke, salah satu komik eropa populer karangan Herge (penulis Tintin)






ReferensiSunting

  1. ^ a b "Can The European Model of Comics Help the US?". Marvel (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-20. 
  2. ^ a b c d e f g "History of the French and Francophone comics". La France à Malte (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-02-16. 
  3. ^ "The History of Belgian Comics / Part 1". Europe Comics (dalam bahasa Inggris). 2016-06-14. Diakses tanggal 2019-01-24. 
  4. ^ "Kenalan Sama Komik Eropa Yuk! - Teen | Kapanlagi.com". teen.kapanlagi.com. Diakses tanggal 2019-01-03. 
  5. ^ a b c d e 1968-, Chapman, James,. British comics : a cultural history. London. ISBN 9781861898555. OCLC 714726299. 
  6. ^ a b www.tandfonline.com. doi:10.1080/0907676x.2017.1351456 https://www.tandfonline.com/action/captchaChallenge?redirectUri=%2Fdoi%2Ffull%2F10.1080%2F0907676X.2017.1351456&. Diakses tanggal 2019-01-20.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  7. ^ a b bengorman (2017-11-08). "Get "Drawn" into Italian! Learn Italian by Reading Italy's Best Comic Books". FluentU Italian (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-20. 
  8. ^ a b c d "The History of Italian Comics / Part 1". Europe Comics (dalam bahasa Inggris). 2018-01-18. Diakses tanggal 2019-01-20. 
  9. ^ Codrea-Rado, Anna (2018-03-23). "Bringing Disney’s European Adventures to American Readers". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2019-01-18. 
  10. ^ a b www.tandfonline.com. doi:10.1080/21504857.2014.889729 https://www.tandfonline.com/action/captchaChallenge?redirectUrl=https%3A%2F%2Fwww.tandfonline.com%2Fdoi%2Fabs%2F10.1080%2F21504857.2014.889729&. Diakses tanggal 2019-01-26.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  11. ^ Kumalasari, Ade (2016-10-13). Eropa - Ransel Mini Keliling Dunia (Snackbook) (dalam bahasa Inggris). Bentang Bfirst. 
  12. ^ a b c "The comic capital of the world: Brussels' mural tour". Expat Guide to Belgium | Expatica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-03. 
  13. ^ a b www.vulture.com https://www.vulture.com/2011/09/belgium-the-kingdom-of-comics.html. Diakses tanggal 2019-01-24.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  14. ^ "The Belgian Centre for Comic Strip Art". Atlas Obscura (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-24. 
  15. ^ a b c d e f g L., Horn, Pierre (1991). Handbook of French popular culture. New York: Greenwood Press. ISBN 0313261210. OCLC 22766883. 
  16. ^ a b "France takes its comics very seriously" (dalam bahasa Inggris). 2008-02-16. Diakses tanggal 2019-02-16. 
  17. ^ a b Emina, Seb (2019-01-29). "In France, Comic Books Are Serious Business". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2019-02-16. 
  18. ^ "The Comic Strip Capital - OT Angoulême". www.angouleme-tourisme.co.uk. Diakses tanggal 2019-02-16. 
  19. ^ "History of Comics in Spain / Part 1". Europe Comics (dalam bahasa Inggris). 2017-03-20. Diakses tanggal 2019-02-16. 
  20. ^ a b Welle (www.dw.com), Deutsche. "A brief history of comics | DW | 27.06.2016". DW.COM (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-03. 
  21. ^ ""Smut and Trash:" A Brief History of Comics Censorship in Germany | Comic Book Legal Defense Fund" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-26. 
  22. ^ A., Lent, John (1999). Pulp demons : international dimensions of the postwar anti-comics campaign. Madison [N.J.]: Fairleigh Dickinson University Press. ISBN 0838637841. OCLC 39633478. 
  23. ^ Platt, Hugh (2015-12-11). "Punk, Politics, and Paranoia: '2000AD' Is Still Britain's Most Subversive Comic". Vice (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-26. 
  24. ^ Leatherdale, Duncan (2016-03-23). "The mirth and misogyny of Andy Capp" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-26. 
  25. ^ "The British Comic Industry Q&A". downthetubes.net (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-25. 
  26. ^ Dundee, University of. "Comics & Graphic Novels MLitt / MDes (Postgraduate) : Study". University of Dundee (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-25. 
  27. ^ Tabachnick, Stephen E. The Cambridge Companion to the Graphic Novel. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 26–40. ISBN 9781316258316. 
  28. ^ a b c "The Publication and Formats of Comics, Graphic Novels, and Tankobon by Chris Couch". www.imageandnarrative.be. Diakses tanggal 2019-01-03. 
  29. ^ "Moebius and Beyond: An Introduction to European Comics". pastemagazine.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-12-31. 
  30. ^ a b Oddity, Comics (2016-09-20). "Why you should read European comics". Panel & Frame. Diakses tanggal 2018-12-31. 
  31. ^ James, Tito W. (2018-10-04). "NYCC 2018: How American And European Comics Influence Each Other". COMICON (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-20. 
  32. ^ a b Pellitteri, Marco (2018/9). "Kawaii Aesthetics from Japan to Europe: Theory of the Japanese "Cute" and Transcultural Adoption of Its Styles in Italian and French Comics Production and Commodified Culture Goods". Arts (dalam bahasa Inggris). 7 (3): 24. doi:10.3390/arts7030024. 
  33. ^ Juliana,, Tzvetkova,. Pop culture in Europe. Santa Barbara, California. ISBN 9781440844669. OCLC 1003489685. 

BukuSunting

  • 1968-, Chapman, James,. British comics: a cultural history. London. ISBN 9781861898555. OCLC 714726299
  • A., Lent, John (1999). Pulp demons: international dimensions of the postwar anti-comics campaign. Madison [N.J.]: Fairleigh Dickinson University Press. ISBN 0838637841. OCLC 39633478.
  • Tabachnick, Stephen E. The Cambridge Companion to the Graphic Novel. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 26–40. ISBN 9781316258316.
  • Juliana,, Tzvetkova,. Pop culture in Europe. Santa Barbara, California. ISBN 9781440844669. OCLC 1003489685

Link Halaman TerkaitSunting