R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo

Raden Mas Adipati Ario Koesoemo Oetoyo (EYD : Kusumo Utoyo) adalah Bupati Ngawi (th. 1902 s.d. 1905) dan Bupati Jepara (th. 1905 s.d. 1927).

R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo juga pernah aktif dan menjabat pada sejumlah organisasi dan lembaga antara lain sebagai Ketua Organisasi Pergerakan Politik Boedi Oetomo (th. 1926 s.d. 1936), anggota Dewan Pimpinan Harian Volksraad (parlemen Hindia Belanda) yang pertama yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1918, serta Wakil Ketua Chuo Sangi In (Dewan Pertimbangan Pusat) yaitu badan yang dibentuk pada tahun 1943, diketuai Ir. Soekarno, dan bertugas mengajukan usul kepada pemerintah, menjawab pertanyaan mengenai politik, dan menyarankan tindakan yang perlu dilakukan oleh pemerintahan militer Jepang.

Riwayat HidupSunting

KehidupanSunting

R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo lahir pada tanggal 13 Januari 1871 dengan nama Raden Mas Oetoyo. Ayahanda R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo, yaitu R.M. Soejoedi Soetodikoesoemo, ialah seorang pamong praja yang kemudian menjadi Patih di Pekalongan, yang merupakan putra Bupati Kutoarjo, R.M. Soerokoesoemo. R.M. Soerokoesoemo merupakan cucu Sultan Hamengku Buwono I. Ibunda R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo, yaitu R.A. Soeratinem, ialah putri dari Raden Adipati Aroeng Binang, Bupati Kebumen.

Salah satu putra Koesoemo Oetoyo, yaitu R.A.A. Soemitro Koesoemo Oetoyo, juga pernah menjabat sebagai Bupati Jepara (th. 1942 s.d. 1950) pada masa pendudukan Jepang sampai dengan awal masa kemerdekaan Indonesia.

KarierSunting

R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo dalam kiprahnya sebagai anggota Volksraad antara lain dikenal dengan “Mosi Koesoemo Oetoyo” yang dibacakan di hadapan persidangan College van Gedelegeerden Volksraad. Dalam mosi yang berjudul “Tidak Aman Hati di Antara Penduduk Negeri” itu, Koesoemo Oetoyo meminta penjelasan tentang tindakan Pemerintah Hindia Belanda menangkap sejumlah pimpinan pergerakan bangsa Indonesia. Banyak kalangan kemudian menyebut mosi ini sebagai “Mosi Keresahan” karena dalam pidatonya Koesoemo Oetoyo beberapa kali menggunakan ungkapan ‘perasaan hati yang tidak aman’. Keresahan Koesoemo Oetoyo itu kemudian diteruskan oleh MH Thamrin melalui persidangan-persidangan di Volksraad, khususnya tentang proses pemahaman dan cara-cara penggeledahan yang tidak tertib. Hal ini mendapat perhatian dari seluruh golongan masyarakat agar HAM dan harkat kemerdekaan warga negara lebih dihormati.

R.M.A.A Koesoemo Oetoyo memang diketahui berteman baik dengan MH Thamrin. Pertemanan mereka tidak hanya sebatas ketika berada dalam Volksraad, namun mereka juga bersama-sama mengelola Fonds Nasional, sebuah badan yang menerbitkan buku-buku yang berisikan cerita-cerita perjalanan mengejar cita-cita suci, mengejar Indonesia merdeka. Hasil penjualan buku-buku tersebut digunakan untuk membantu kegiatan-kegiatan pergerakan nasional.

Bersama MH Thamrin pula Koesoemo Oetoyo mengadakan peninjauan ke Sumatera Timur dalam rangka melakukan penyelidikan terhadap nasib buruh perkebunan yang sangat menderita akibat adanya poenale sanctie. Poenale sanctie adalah peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi kemudian dikembalikan kepada mandor/pengawasnya. Penyelidikan mereka tersebut pada akhirnya membawa hasil dengan dihapuskannya lembaga poenale sanctie.

Pada usia senjanya, di awal tahun 1950-an, Koesoemo Oetoyo masih aktif sebagai anggota Badan Sensor Film. Pada masa itu ia bekerja sama dengan Maria Ulfah Santoso, seorang aktivis pergerakan nasional dari generasi sesudahnya. Kepercayaan untuk menjadi anggota Badan Sensor Film tersebut antara lain berhubungan dengan kesukaan Koesoemo Oetoyo menonton film, di samping bahwa ia juga dikenal sebagai seorang budayawan dan memegang teguh etiket dan etika sosial.

MemoarSunting

R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo wafat pada tanggal 26 Mei 1953. Beberapa bulan sebelum wafat ia masih sempat memperingati ulang tahunnya yang ke-82 pada tanggal 13 Januari 1953 bersama para sahabat, di antaranya Ki Hajar Dewantara.

Koesoemo Oetoyo dimakamkan di Taman Makam Pekuncen, Yogyakarta. Biografinya tertuang dalam buku "Perjalanan Panjang Anak Bumi" yang diprakarsai oleh Ramadhan KH.

Saat ini nama R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo diabadikan sebagai nama sebuah jalan (Jln. Kusumo Utoyo) di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Galeri FotoSunting

Pranala luarSunting

  • Bupati Ngawi [1]
  • Mosi Koesoemo Oetoyo [2] [3]
  • Poenale sanctie [4]
  • Buku biografi "Perjalanan Panjang Anak Bumi" [5]
  • Jalan Kusumo Utoyo [6]