Kereta api lokal Jawa Timur

(Dialihkan dari Kereta api Pandanwangi)

Kereta api lokal yang dioperasikan oleh Kereta Api Indonesia (KAI) di Jawa Timur melayani tujuan ke berbagai kota penting di provinsi tersebut, antara lain Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Malang, Blitar, Kertosono, dan Bojonegoro. Selain itu, terdapat kereta api lokal yang melayani dari Stasiun Surabaya Pasarturi menuju Stasiun Cepu yang terletak di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Hampir semua kereta api lokal ini dioperasikan oleh Daerah Operasi VIII Surabaya. Namun, terdapat satu kereta lokal yang dioperasikan oleh Daerah Operasi IX Jember, yaitu kereta api Pandanwangi dengan rute JemberKetapang. Per 10 Februari 2021, jumlah kereta api lokal di Daerah Operasi VIII Surabaya terhitung sebanyak 54 perjalanan kereta api dan di Daerah Operasi IX Jember terhitung sebanyak 4 perjalanan.[1]

Kereta api lokal Jawa Timur
Kereta Api Jenggala.jpg
Kereta api KRD Jenggala melintas di Tarik, Sidoarjo
Informasi umum
Daerah operasiSemuanya dioperasikan oleh Daerah Operasi VIII Surabaya, kecuali KA Pandanwangi yang dioperasikan oleh Daerah Operasi IX Jember
Operator saat iniPT Kereta Api Indonesia
Lintas pelayanan
Jenis relRel berat
Pelayanan
Pengaturan tempat duduk
  • Kereta api 106 tempat duduk disusun 3-2 (Ekonomi Lokal)
    kursi saling berhadapan dan tidak bisa direbahkan
  • Kursi saling berhadapan dan disusun melintang di setiap kereta (KRD)
  • Kursi disusun membujur dan sejajar dengan jendela (KRD Komuter Sulam dan Komuter Indro)
Teknis sarana dan prasarana
Bakal pelanting
Lebar sepur1.067 mm
Pemilik jalurDitjen KA, Kemenhub RI

Kereta api lokal Jawa Timur dalam pengoperasiannya terbagi dua, yaitu kereta api ekonomi lokal dengan bakal pelanting berupa kereta kelas ekonomi beserta lokomotif dan kereta api KRD (Kereta Rel Diesel).

Kereta api ekonomi lokalSunting

Dengan jumlah perjalanan kereta api lokal di Jawa Timur keseluruhan mencapai 58 perjalanan, 34 perjalanan di antaranya merupakan kereta api ekonomi lokal. Beberapa kereta api ekonomi lokal yang beroperasi di Jawa Timur, antara lain Dhoho dengan rute Surabaya Kota–Kertosono–Blitar, Penataran dengan rute Surabaya Kota–Malang–Blitar, Tumapel dengan rute Malang–Surabaya Kota, dan Pandanwangi dengan rute Ketapang–Jember. Selain itu, terdapat beberapa rute lainnya yang juga dilayani kereta api ekonomi lokal, yaitu rute Kertosono–Surabaya Kota, Surabaya Kota–Sidoarjo, dan Sidoarjo–Bojonegoro, dan Cepu–Surabaya Pasarturi. Kereta api ekonomi lokal rute Cepu–Surabaya Pasarturi diluncurkan oleh PT KAI pada 10 Februari 2021.

Dhoho dan PenataranSunting

 
Kereta api Penataran berhenti di Stasiun Malang, 2011


Kereta api Dhoho dan Penataran merupakan dua layanan kereta api ekonomi lokal yang melayani jalur kantong Jawa Timur, yaitu memiliki rute yang memutar, mulai Surabaya, Malang, Blitar, Kediri, Kertosono, hingga kembali ke Surabaya, dan sebaliknya. Setiba di Stasiun Blitar, kereta api ini berganti nama menjadi Penataran untuk kembali ke Surabaya Kota melalui Malang, sedangkan kereta api yang melewati Kertosono berganti nama menjadi Dhoho. Dalam pengoperasiannya, kereta api ini berhenti lebih lama di Stasiun Kertosono untuk memutar arah lokomotif sebelum melanjutkan perjalanan menuju Blitar maupun Surabaya, serta nama kereta api mengalami perubahan setelah tiba di Stasiun Blitar. Sebagai kereta api lokal, kereta api ini berhenti melayani penumpang di semua stasiun di lintas Surabaya–Blitar, kecuali Boharan, Kedinding, Purwoasri, Minggiran, Susuhan, Ngujang, Pakisaji, Sengon, Sukorejo, dan Wonokerto.

Kereta api Dhoho—sebelumnya Rapih Dhoho—diluncurkan pada tahun 1971, sedangkan kereta api Penataran pertama kali beroperasi pada tahun 1985 yang merupakan layanan penerus dari kereta api Tumapel Blitar.[2]

Tarif kereta api ini ditetapkan sebesar Rp10.000,00–Rp30.000,00 untuk sekali perjalanan, tergantung jarak yang ditempuh penumpang.

TumapelSunting

 
Kereta api Tumapel meninggalkan Stasiun Wonokromo, 2020

Kereta api Tumapel merupakan salah satu layanan kereta api ekonomi lokal yang menghubungkan Malang dan Surabaya. Perjalanan dari Malang menuju Surabaya sepanjang 96 kilometer ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Kereta api ini sering dimanfaatkan oleh kaum penglaju dari Malang dan Sidoarjo yang bekerja di Surabaya. Nama Tumapel diambil dari nama sebuah wilayah yang pernah dikuasai oleh Kerajaan Singasari.

Kereta api Tumapel pertama kali beroperasi pada 14 Januari 1971 untuk melayani lintas Surabaya–Malang. Pada awal peluncurannya, kereta api ini membawa tiga kereta kelas III (CW) [plus]. Walaupun hanya layanan kelas III, penumpang diberi fasilitas berupa kudapan dan air minum, serta dilengkapi dengan pramugari. Waktu perjalanan tercepat yang ditempuh saat itu selama 80 menit dengan tiga kali perjalanan pulang-pergi.[2]

Pada April 1973, rute pada kereta api tersebut sempat diperpanjang hingga Stasiun Blitar. Namun, layanan kereta api tersebut baik dari Malang maupun Blitar diubah menjadi kereta api lokal pada tahun 1976 karena ia berhenti di setiap stasiun yang dilaluinya.[2]

Pada tahun 1980-an awal, PJKA meluncurkan kereta api patas Tumapel Utama melayani lintas Surabaya–Malang hingga rutenya diperpanjang hingga Stasiun Blitar pada tahun 1985. Namun, pengoperasian kereta api tersebut dihentikan pada tahun 2002.[2]

Sejak 1 Juni 2014, PT Kereta Api Indonesia (Persero) kembali mengoperasikan kereta api Tumapel sebagai kereta api lokal. Sebelumnya, nama "Tumapel" sempat hilang dan hanya disebut sebagai Penataran. kereta api ini berhenti melayani penumpang di semua stasiun di lintas Malang–Surabaya, kecuali Sengon, Sukorejo, dan Wonokerto.

Tarif kereta api ini ditetapkan sebesar Rp10.000,00 untuk sekali perjalanan.

PandanwangiSunting

 
Kereta api Pandanwangi menunggu keberangkatan di Stasiun Jember

Kereta api Pandanwangi adalah layanan kereta api ekonomi lokal yang menghubungkan Stasiun Ketapang yang terletak di Banyuwangi dengan Stasiun Jember, dan dioperasikan oleh Daerah Operasi IX Jember. Kereta api yang sering membawa enam kereta penumpang kelas ekonomi ini menempuh jarak sejauh 112 km dalam waktu sekitar 2,5 jam. Mulai 1 Juni 2014, jumlah perjalanan kereta api ini ditambah menjadi dua kali dalam sehari.[3]

Tarif kereta api ini ditetapkan sebesar Rp8.000,00 untuk sekali perjalanan.

Kertosono–Surabaya KotaSunting

 
Kereta api lokal Kertosono setelah meninggalkan Stasiun Surabaya Gubeng

Kereta api ekonomi lokal dengan rute KertosonoSurabaya Kota menempuh jarak sepanjang 96 kilometer dalam waktu sekitar 2,5 jam hingga 2 jam 45 menit. Kereta api ini merupakan salah satu pilihan untuk penumpang kereta api dari dan ke Surabaya sehingga ia membantu pengoperasian kereta api Dhoho. Dengan berlakunya Grafik Perjalanan Kereta Api tahun 2021 per 10 Februari 2021, pola pengoperasian kereta api ini mengalami perubahan karena rangkaiannya juga digunakan untuk pengoperasian kereta api ekonomi lokal rute Surabaya Kota–Sidoarjo dan Sidoarjo–Bojonegoro. Oleh karena itu, perjalanan kereta api ini hanya dilakukan sebanyak satu kali pulang-pergi.[1]

Tarif kereta api ini ditetapkan sebesar Rp10.000,00 untuk sekali perjalanan.

Surabaya Kota–Sidoarjo dan Sidoarjo–BojonegoroSunting

 
Kereta api lokal rute Surabaya–Bojonegoro berhenti di Stasiun Babat, sekitar tahun 2010

Kereta api ekonomi lokal yang melayani rute SidoarjoSurabaya PasarturiBojonegoro ini memiliki jarak tempuh sepanjang 133 kilometer yang ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam 45 menit, sedangkan rute Surabaya Kota–Sidoarjo memiliki jarak ditempuh sekitar 29 km dalam waktu tempuh sekitar 1 jam. Kereta api ini berhenti melayani penumpang di semua stasiun di lintas Sidoarjo–Bojonegoro, kecuali Stasiun Surabayan dan Gembong. Kereta api lokal ini dioperasikan supaya penumpang yang berada di sekitar stasiun-stasiun kecil di lintas Sidoarjo–Bojonegoro dapat dijangkau dengan kereta api ini menuju stasiun-stasiun besar dengan tarif yang murah. Rute pada awal peluncurannya adalah Surabaya Pasarturi–Bojonegoro yang kemudian diperpanjang hingga Stasiun Sidoarjo mulai tanggal 1 April 2015.[4]

Tarif kereta api ini ditetapkan sebesar Rp6.000,00–Rp12.000,00 untuk sekali perjalanan, tergantung jarak yang ditempuh penumpang.

Cepu–Surabaya PasarturiSunting

Kereta api ekonomi lokal rute CepuSurabaya Pasarturi mulai dioperasikan sejak berlakunya Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) tahun 2021 per 10 Februari 2021, dengan susunan rangkaian kereta yang terdiri dari 6 kereta kelas ekonomi dan 1 kereta makan-pembangkit, dan memiliki jumlah perjalanan sebanyak dua kali perjalanan pulang-pergi. Rangkaian kereta api yang digunakan merupakan bekas rangkaian kereta api Ekonomi Lokal Bojonegoro yang pernah digunakan pada saat berlakunya Gapeka tahun 2019. Perjalanan dari Surabaya menuju Cepu dan sebaliknya dengan jarak tempuh sepanjang 141 kilometer ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam 45 menit hingga 3,5 jam. Kereta api ini berhenti melayani penumpang di semua stasiun di lintas Surabaya–Cepu, kecuali Tobo, Kalitidu, Gembong, dan Stasiun Surabayan.

Sebelumnya, terdapat layanan kereta api komersial dengan relasi yang sama, yaitu kereta api Cepu Ekspres, yang beroperasi menggunakan KRDI yang dilengkapi pendingin udara. Namun, pengoperasian kereta api tersebut dihentikan mulai tahun 2016.

Tarif kereta api ini ditetapkan sebesar Rp13.000,00 untuk sekali perjalanan.

Kereta api KRDSunting

Kereta api KRD—kependekan dari Kereta Rel Diesel—pada umumnya melayani berbagai tujuan di kawasan metropolitan Gerbangkertosusila, seperti Sidoarjo, Mojokerto, Lamongan, dan Stasiun Indro yang terletak di perkotaan Gresik. Selain itu, ia juga melayani dengan tujuan Bangil hingga Pasuruan. Kereta api KRD berdasarkan Gapeka tahun 2021 terbagi menjadi dua, yaitu kereta api Komuter dengan berbagai rute dan kereta api Jenggala yang memiliki rute Surabaya–Mojokerto–Sidoarjo. Semua kereta api KRD beroperasi menggunakan rangkaian Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) yang dibuat oleh PT INKA tanpa ditarik oleh lokomotif.

Beberapa rute baru pada layanan kereta api Komuter yang mulai dioperasikan pada 10 Februari 2021, yaitu Sidoarjo–Indro, Surabaya Kota–Sidoarjo, dan Surabaya–Pasuruan, serta Surabaya Kota–Mojokerto pada kereta api Jenggala. Namun, dalam penyederhanaan perjalanan, semua halte (shelter) yang terletak di jalur Surabaya–Sidoarjo dinonaktifkan sehingga tidak lagi melayani penumpang.[1]

Tarif kereta api KRD berkisar antara Rp4.000,00–Rp6.000,00.

KomuterSunting

Surabaya Kota–BangilSunting

 
Kereta api Delta Ekspres saat beroperasi menggunakan KRD MCW 302 – tiba di Stasiun Surabaya Gubeng dari Sidoarjo/Porong, 2011

Kereta api komuter ini pertama kali diluncurkan pada 9 Februari 2004 dengan nama Delta Ekspres rute SurabayaSidoarjo yang diresmikan oleh Presiden RI saat itu, Megawati Soekarnoputri[5]. Pada awalnya, ia beroperasi menggunakan KRD MCW 302.[6]

Untuk mendukung pengoperasian kereta api ini, maka PT KA membangun halte-halte di sepanjang jalan raya Surabaya–Sidoarjo pada letak yang strategis, yaitu berdekatan dengan kawasan industri, penghubung antarmoda, dan lain-lain.

Dengan berlakunya Gapeka tahun 2017, kereta api ini berganti nama menjadi Komuter Surabaya–Porong (SuPor).[7] Untuk mendukung ketersediaan armada KRD, kereta api Komuter Surabaya–Porong beroperasi menggunakan Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) dan terkadang dapat beroperasi menggunakan rangkaian kereta yang tidak terpakai—ditarik menggunakan lokomotif—apabila rangkaian KRDI mengalami gangguan teknis.[8]

Per 1 Desember 2019, rute kereta api ini diperpanjang hingga Stasiun Bangil.[9]

Stasiun Surabaya KotaStasiun Surabaya GubengStasiun WonokromoStasiun WaruStasiun GedanganStasiun SidoarjoStasiun TanggulanginStasiun PorongStasiun Bangil

Surabaya Pasarturi–LamonganSunting

 
Kereta api Komuter Sulam menunggu keberangkatan di Stasiun Surabaya Pasarturi, 2020

Pada awalnya, kereta api komuter yang pertama kali beroperasi pada tahun 2004 ini menggunakan rangkaian kereta rel diesel (KRD) MCW 302 sebagai bakal pelanting.[10] Pada akhir tahun 2016, KRD MCW 302 sempat digantikan dengan rangkaian KRDI AC yang pernah digunakan untuk pengoperasian Kereta api Madiun Jaya karena KRD tersebut telah dianggap uzur sehingga tidak layak pakai.[11][12]

Per tahun 2018, kereta api ini mulai beroperasi menggunakan KRDI buatan PT INKA yang sebelumnya digunakan untuk pengoperasian kereta api Banyubiru yang juga digunakan untuk pengoperasian kereta api komuter rute Sidoarjo–Indro. Ciri khas rangkaian kereta api ini adalah memiliki kursi yang disusun membujur dan tidak dilengkapi penyejuk udara.[butuh rujukan]

Stasiun Surabaya PasarturiStasiun TandesStasiun KandanganStasiun BenowoStasiun CermeStasiun DudukStasiun Lamongan

Surabaya Pasarturi–Sidoarjo dan Sidoarjo–IndroSunting

Kereta api komuter ini menghubungkan Stasiun Surabaya Pasarturi dengan Sidoarjo dan Stasiun Indro yang terletak di kawasan perkotaan Gresik. Kereta api ini diluncurkan pada 10 Februari 2021, bersamaan dengan berlakunya Grafik Perjalanan Kereta Api tahun 2021.[13] Ia memiliki jumlah perjalanan sebanyak sekali pulang-pergi dengan waktu kedatangan maupun keberangkatan dari Stasiun Indro pada siang hari. Dengan jarak tempuh dari Sidoarjo menuju Indro sekitar 45 km, ia menempuh waktu sekitar 2 jam. Kereta api ini beroperasi melalui jalur Kandangan–Indro yang sebelumnya hanya digunakan untuk layanan kereta angkutan barang. Pengoperasian kereta api tersebut dihentikan pada tahun 2016–2017.[14][15]

Per 24 Februari 2021, kereta api komuter ini memiliki tingkat keterisian penumpang sebesar 50–90 persen sejak awal peluruncurannya.[16][17] Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Gresik memberi usulan kepada PT KAI supaya menambah jadwal keberangkatan dari Stasiun Indro pada pagi dan sore hari supaya dapat menyesuaikan jam kerja.[17]

Stasiun Surabaya PasarturiStasiun Surabaya GubengStasiun WonokromoStasiun WaruStasiun GedanganStasiun Sidoarjo
Stasiun Sidoarjo → Stasiun Gedangan → Stasiun Waru → Stasiun Wonokromo → Stasiun Surabaya Gubeng → Stasiun Surabaya Pasarturi → Stasiun TandesStasiun KandanganStasiun Indro

Surabaya Kota–SidoarjoSunting

Kereta api komuter ini dioperasikan untuk menyambungkan Stasiun Surabaya Kota dengan Stasiun Sidoarjo yang diluncurkan pada 10 Februari 2021, bersamaan dengan berlakunya Grafik Perjalanan Kereta Api tahun 2021.[1] Berbeda dengan kereta api komuter rute Surabaya Pasarturi–Sidoarjo, rangkaian kereta api komuter ini dilengkapi dengan penyejuk udara. Dengan jarak tempuh sekitar 29 km, ia menempuh waktu sekitar 1 jam.

Stasiun Surabaya KotaStasiun Surabaya GubengStasiun WonokromoStasiun WaruStasiun GedanganStasiun Sidoarjo

Surabaya Kota–PasuruanSunting

Kereta api komuter ini dioperasikan untuk menyambungkan Surabaya dengan Pasuruan. Bersama dengan komuter rute Surabaya Pasarturi–Sidoarjo–Indro, kereta api ini diluncurkan pada 10 Februari 2021, bersamaan dengan berlakunya Grafik Perjalanan Kereta Api tahun 2021.[1] Dengan jarak tempuh sekitar 63 km, ia menempuh waktu sekitar 1,5 jam hingga 2 jam 15 menit.

Stasiun Surabaya KotaStasiun Surabaya GubengStasiun WonokromoStasiun WaruStasiun GedanganStasiun SidoarjoStasiun TanggulanginStasiun PorongStasiun BangilStasiun Pasuruan

JenggalaSunting

 
Kereta api Jenggala di Stasiun Mojokerto

Kereta api Jenggala merupakan layanan kereta api KRD yang dioperasikan untuk melayani rute Surabaya KotaMojokertoSidoarjo.[1] Kereta api yang dioperasikan pada 12 November 2014 ini beroperasi menggunakan Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) buatan PT Industri Kereta Api. Kereta api ini merupakan kereta api pertama yang beroperasi melalui jalur kereta api Tarik–Sidoarjo setelah jalur tersebut diaktifkan kembali.[18]

Per 10 Februari 2021, kereta api Jenggala mengalami perubahan pola rute menjadi Surabaya–Mojokerto–Sidoarjo–Mojokerto–Surabaya, berbeda dengan rute per 1 Desember 2019 yang hanya memiliki rute Mojokerto–Sidoarjo. Dengan demikian, kereta api Jenggala hanya beroperasi sebanyak satu perjalanan pulang-pergi di lintas Sidoarjo–Tulangan–Mojokerto.[1]

Stasiun Surabaya KotaStasiun Surabaya GubengStasiun WonokromoStasiun SepanjangStasiun KrianStasiun TarikStasiun Mojokerto
Stasiun MojokertoStasiun TulanganStasiun Sidoarjo

Bakal pelantingSunting

 
Tampak dalam sebuah kereta api ekonomi lokal, terlihat kursi yang disusun 3–2

Semua kereta api ekonomi lokal beroperasi membawa kereta penumpang kelas ekonomi dengan jumlah tempat duduk sebanyak 106 kursi sebanyak 6–7 kereta dalam satu rangkaian serta kereta makan-pembangkit (KMP3) atau kereta pembangkit (KP3). Pada umumnya, sebagian besar rangkaian tersebut dimiliki oleh Depo Kereta Sidotopo (SDT). Walaupun demikian, terdapat rangkaian kereta api yang dimiliki oleh depo kereta lain, seperti kereta api ekonomi lokal rute Cepu–Surabaya Pasarturi yang menggunakan kereta milik Depo Kereta Surabaya Pasarturi dan kereta api Pandanwangi yang menggunakan kereta milik Depo Kereta Ketapang (KTG). Selain itu, terdapat pula lima perjalanan kereta api ekonomi lokal (Tumapel–Dhoho–Penataran) yang menggunakan kereta milik Depo Kereta Malang (ML).

Lokomotif utama yang digunakan untuk pengoperasian kereta api ini adalah lokomotif CC201, tetapi lokomotif lainnya dapat digunakan pula.[1]

Nomor kereta Lokomotif 1 2 3 Kereta makan-pembangkit atau kereta pembangkit (KMP3/KP3) 4 5 6
Keterangan Kereta penumpang kelas ekonomi (K3) Kereta penumpang kelas ekonomi (K3)
Nomor kereta 1 2 3 4 5 6 7
Keterangan Kereta penumpang kelas ekonomi (K3) Kereta penumpang kelas ekonomi (K3)
Catatan : Susunan rangkaian kereta api dapat berubah sewaktu-waktu.

Sementara itu, sebagian besar kereta api KRD beroperasi menggunakan KRDI buatan PT INKA yang dilengkapi kursi yang disusun melintang dan dilengkapi penyejuk udara. KRDI yang beroperasi di Jawa Timur sebagian besar dimiliki oleh Depo Kereta Sidotopo (SDT). Dalam satu rangkaian kereta KRDI terdiri dari empat kereta. Namun, terdapat kereta api KRD dengan kursi yang disusun membujur dan tidak dilengkapi penyejuk udara, seperti kereta api Komuter rute Surabaya Pasarturi–Lamongan dan Surabaya Pasarturi–Sidoarjo–Indro dengan kepemilikan Depo Lokomotif Surabaya Pasar Turi (SBI). Hal ini terjadi karena rangkaian yang ia gunakan adalah KRDI generasi pertama yang dibuat oleh PT INKA keluaran 2008 dan merupakan bekas rangkaian kereta api Banyubiru yang pernah beroperasi di lintas SemarangYogyakarta.[19]

Kereta api yang berhenti beroperasiSunting

 
Kereta api KRD Babat berhenti di Stasiun Benowo pada sore hari, 2011

Gerbang KertasusilaSunting

Kereta api Gerbang Kertasusila merupakan layanan kereta api komuter yang pernah dioperasikan pada tahun 1970-an. Kereta api ini memiliki rute Surabaya–Blitar melalui Kertosono, tetapi pola rute yang ditetapkan cukup berbeda, yaitu dari Surabaya menuju Blitar, kemudian dilanjutkan denga rute pulang-pergi Blitar–Kertosono, hingga dilanjutkan kembali ke Surabaya. Pada saat masih beroperasi, bekal pelanting yang digunakan berupa KRD MCW-301 yang hanya terdiri dari dua kereta per satu rangkaian.

Pengoperasian kereta api ini dihentikan pada akhir 1970-an atau awal 1980-an, kemungkinan karena sering terjadi kendala teknis.[2]

KRD BlitarSunting

Sama seperti kereta api Gerbang Kertasusila, kereta api KRD Blitar pernah dioperasikan di lintas Surabaya–Blitar melalui Kertosono. Kereta yang diluncurkan pada tahun 1982 ini beroperasi menggunakan KRD MCW-302 keluaran terbaru sebanyak tiga rangkaian. Tingkat kererisian kereta api ini terbilang cukup tinggi, yang dibuktikan dengan banyaknya penumpang yang berdiri. KRD ini pada kemudian hari disebut KRD Rapih Dhoho. Pada tahun 1986, dari enam perjalanan kereta api, hanya dua di antaranya yang masih menggunakan KRD. sedangkan sisanya beroperasi menggunakan kereta yang ditarik oleh lokomotif.

Pengoperasian kereta api ini dihentikan pada sekitar tahun 1992.[2]

Arek SurokertoSunting

 
Kereta api Arek Surokerto berada di Stasiun Mojokerto

Kereta api Arek Surokerto atau "Angkutan Rakyat Ekonomi Kecil Surabaya–Mojokerto" adalah layanan kereta api komuter yang pernah dioperasikan untuk menghubungkan Stasiun Surabaya Gubeng dengan Stasiun Mojokerto dengan menggunakan Kereta Rel Diesel Elektrik hasil modifikasi oleh PT Industri Kereta Api. Kereta api ini diresmikan oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal pada 29 Agustus 2009.[20] Kereta api ini tidak beroperasi karena terdapat kerusakan mesin pada armada yang digunakan. [21]

Kereta api lokal Surabaya–BabatSunting

Kereta api Surabaya–Babat, lebih dikenal dengan nama KRD Babat, adalah layanan kereta api lokal kelas ekonomi yang pernah dioperasikan untuk melayani rute Surabaya PasarturiBabat dan sebaliknya. Kereta api ini pernah beroperasi secara bersamaan dengan kereta api KRD Bojonegoro (Ekonomi Lokal Bojonegoro) pada rute yang sama dan menggunakan rangkaian kereta yang sama. Kereta api yang menempuh jarak sekitar 70 km ini berhenti di setiap stasiun yang dilaluinya. Namun, pengoperasiannya dihentikan mulai tahun 2013 untuk menyederhanakan perjalanan kereta api.

Per tahun 2012–2013, tarif kereta api ini pernah ditetapkan sebesar Rp2.000,00.[22]

GaleriSunting

Kereta api ekonomi lokalSunting

Kereta api komuterSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h "Expose Gapeka 2021 Daop 8 Surabaya" (2021) PT Kereta Api Indonesia (Persero)
  2. ^ a b c d e f "Sejarah KA Lokal Jalur Kantong". Roda Sayap. Diakses tanggal 2020-02-10. 
  3. ^ "PT KAI Tambah Jadwal Perjalanan KA Pandanwangi". Tribun. 2014-06-02. 
  4. ^ "Jalur Kereta Bojonegoro-Sidoardjo Dibuka Hari Ini". INKA. Diakses tanggal 8 Februari 2021
  5. ^ "Mega Resmikan KA Komuter". Suara Merdeka. Semarang. 2004-02-10. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2005-05-06. Diakses tanggal 2019-12-04. 
  6. ^ Rahardhi, Ignatius (2017-07-04). "Opini: Nasib Mengenaskan Kereta Api Komuter Daop 8". KAORI Nusantara. Diakses tanggal 2019-12-04. 
  7. ^ Bintang, Amri (2017-01-05). "Banyak Perubahan Jadwal KA, Inilah Bocoran Gapeka 2017". KAORI Nusantara. Diakses tanggal 2019-12-04. 
  8. ^ "Rangkaian KA Komuter Supor dan Susi Ganti Armada". Informasi Aktual. 2018-08-21. Diakses tanggal 2019-12-04. 
  9. ^ Arifin, Jawanto (2019-11-19). "Hore… Desember, Jalur KA Komuter Ditarget hingga Stasiun Bangil". Radar Bromo. Diakses tanggal 2019-12-04. 
  10. ^ Sugeng Dwi Hartantyo, Hammam Rofiqi Agustapraja (2018). Analisis Kinerja KA Komuter Surabaya–Lamongan. Universitas Islam Lamongan. hlm. 35. 
  11. ^ Ignatius Rahardhi (4 Juli 2017). "Opini: Nasib Mengenaskan Kereta Api Komuter Daop 8". KAORI Nusantara. 
  12. ^ Wiratama Adi Nugraha (2017). Arahan Peningkatan Pelayanan Kereta Komuter Surabaya–Lamongan Berdasarkan Preferensi Masyarakat (PDF). Institut Teknologi Sepuluh Nopember. hlm. 89. 
  13. ^ Kabar Gembira, Kereta Komuter Sidoarjo-Gresik Bakal Beroperasi Lagi, Liputan 6, Diakses tanggal 9 Februari 2021
  14. ^ Widayati, Rully (2016-09-09). "KAI Daop 8 Surabaya Hidupkan Lagi Stasiun Indro Gresik". Tempo. Diakses tanggal 2019-09-07. 
  15. ^ "Banyak Tunggakan, Stasiun Stop Operasi". Jawa Pos. 2017-08-02. 
  16. ^ "Komuter Sidoarjo-Gresik, Tiap Hari Lebih 50 Persen Tempat Duduk Terisi". Suara Surabaya. Diakses tanggal 24 Februari 2021
  17. ^ a b "Pemkab Gresik Minta Jam Operasional Kereta Api Ditambah". Radar Gresik. Diakses tanggal 24 Februari 2021
  18. ^ "PT KAI Operasikan KA Jenggala Mojokerto-Sidoarjo | Investor Daily". id.beritasatu.com. Diakses tanggal 2018-03-26. 
  19. ^ Media, Kompas Cyber. "PT KA Luncurkan KA Banyubiru Semarang-Solo". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-01-04. 
  20. ^ "Tarif Rp 3 Ribu, Arek Surokerto Mampu Angkut 1.000 Penumpang". Diakses tanggal 9 Februari 2021. 
  21. ^ "Baru Satu Bulan Diresmikan Kereta Arek Surokerto Tak Beroperasi". Diakses tanggal 9 Februari 2021. 
  22. ^ Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor: PM. 59 TAHUN 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perubahan Nomor PM. 43 Tahun 2012 Tentang Tarif Angkutan Orang Dengan Keretaapi Kelas Ekonomi