Kerajaan Panjalu

kerajaan di Asia Tenggara

Kerajaan Paŋjalu (Aksara Jawa :ꦥꦚ꧀ꦗꦭꦸ ) adalah sebuah kerajaan Hindu Buddha yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222 M. Kerajaan ini berpusat di Dahanapura, disingkat Daha adalah nama kota kuno di masa lalu yang menjadi bagian dari wilayah Kediri saat ini.

Karājāan Paŋjalu
(ꦏꦼꦫꦗꦄꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦭꦸ)

1019–1222
Wilayah Kekuasaan Kerajaan Panjalu
Wilayah Kekuasaan Kerajaan Panjalu
Ibu kota
Bahasa yang umum digunakanJawa Kuno
Agama
Hinduisme, Buddhisme, Animisme
PemerintahanMonarki
Raja 
• 1042-1051
Sri Samarawijaya
• 1051-1112
Sri Jitendrakara
• 1112-1135
Sri Bameswara
• 1135-1159
Jayabaya
• 1159-1171
Sri Sarweswara
• 1171-1181
Sri Aryeswara
• 1181-1182
Sri Gandra
• 1182-1194
Kamesywara
• 1194-1222
Kertajaya
Sejarah 
• Didirikan
1019
• Pembelahan Kerajaan
1042
• Jayabaya menaklukkan Janggala
1135
• Kakawin Bhāratayuddha selesai ditulis
1157
1222
Mata uangKoin emas dan perak
Didahului oleh
Digantikan oleh
Medang
Tumapel
Sekarang bagian dari Indonesia

Nama KerajaanSunting

Nama PanjaluSunting

 
Arca Wisnu, berasal dari Kediri, abad ke-12 dan ke-13.

Pada mulanya, nama Paŋjalu pembacaan yang tepat sesuai aksara Pangjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Panjalu. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Tiongkok berjudul Ling wai tai ta (1178).

Terdapat tiga jenis tanah yang akan digunakan oleh masyarakat di masa lalu saat membangun sebuah tempat atau pemukiman, pertama adalah tanah anupa sebagai tanah subur serta dekat dengan sumber mata air berbagai macam biji bijian jika ditanam akan tumbuh. Kedua adalah tanah sadarana tanah yang di sebagian wilayahnya subur dan sebagian yang lainnya kurang subur selanjutnya yang ketiga adalah janggala yang merupakan tanah yang kurang subur atau hutan belantara.

Pangjalu berasal dari kata Jalu yang memiliki arti Jantan atau Pria selanjutnya diberi unsur kata Pang yang adalah Pe merupakan tambahan sehingga menjadi kalimat Pe-jantan dalam konteks kewilayahan istilah pejantan tersebut bermakna wilayah yang subur serta berdikari atau mandiri

Istilah Kadiri merupakan sinonim kata atau persamaan dari Pangjalu yang bermakna kemandirian

kasus tersebut mirip dengan nama Majapahit dengan Wilwatikta dimana wilwa adalah buat maja dan tikta adalah pahit

Nama KadiriSunting

Nama "Kadiri" atau "Kediri" juga berasal dari kata bahasa Sansekerta, khadri, yang berarti pacé atau mengkudu (Morinda citrifolia). Batang kulit kayu pohon ini menghasilkan zat perwarna ungu kecokelatan yang digunakan dalam pembuatan batik, sementara buahnya dipercaya memiliki khasiat pengobatan.

Asal-usul kata yang dipandang lebih tepat adalah berasal dari kata "kadiri" dalam Bahasa Jawa Kuno yang berarti bisa berdiri sendiri, mandiri, berdiri tegak, berkepribadian, atau berswasembada.

Latar belakangSunting

Runtuhnya Kerajaan MedangSunting

Raja Kerajaan Medang yang terakhir bernama Dharmawangsa Teguh, saingan berat Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1016 Raja Wurawari dari Lwaram sekitar Cepu, Blora (sekutu Sriwijaya) menyerang Istana Wwatan, ibu kota Kerajaan Medang, yang tengah mengadakan pesta pernikahan Airlangga dengan putri dari raja Dharmawangsa Teguh, Dharmawangsa Teguh sendiri tewas dalam serangan tersebut sedangkan keponakannya yang bernama Airlangga beserta dengan putri Dharmawangsa berhasil lolos.

Airlangga adalah putra pasangan Mahendradatta (saudari Dharmawangsa Teguh) dan Udayana raja dari Kerajaan Bedahulu, Bali. ia lolos bersama putri Dharmawangsa ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Sejak saat itu Airlangga menjalani kehidupan sebagai pertapa di hutan pegunungan (Vana giri) sekarang Wonogiri, kemudian menuju Sendang Made, Kudu, Jombang

Menurut Negarakretagama Kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu[1]Sunting

Pada saat pelarian dan dalam pertapaannya, pada tahun 1019, Airlangga didatangi para utusan rakyat serta senopati yang masih setia meminta agar dirinya mendirikan dan membangkitkan kembali sisa-sisa kejayaan kedaton Medang. Atas dukungan dari para pendeta ia kemudian membangun sebuah Ibukota baru yang bernama Watan Mas.

Ibu kota baru bernama Watan Mas terletak di dekat sekitar Gunung Penanggungan. Pada mulanya wilayah kerajaan yang diperintah Airlangga hanya meliputi daerah Gunung Penanggungan dan sekitarnya, karena banyak daerah-daerah bawahan Kerajaan Medang yang membebaskan diri setelah keruntuhannya. Baru setelah Kerajaan Sriwijaya dikalahkan Rajendra Coladewa, raja Colamandala dari Kerajaan Chola India tahun 1023, Airlangga bisa dengan leluasa membangun kembali kejayaan wangsa Isyana.

Sejak tahun 1025, peperangan demi peperangan dijalani Airlangga. Satu demi satu kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dapat ditaklukkannya. Namun pada tahun 1031 Airlangga kehilangan kota Watan Mas karena diserang oleh raja wanita yang kuat bagai raksasa. Raja wanita itu adalah Ratu Dyah Tulodong, yang merupakan salah satu raja Kerajaan Lodoyong (sekarang wilayah Tulungagung, Jawa Timur). Dyah Tulodong digambarkan sebagai ratu yang memiliki kekuatan luar biasa. Salah satu peristiwa sejarah penting adalah pertempuran antara bala tentara Raja Airlangga yang berhasil dikalahkan oleh Dyah Tulodong. Pertempuran tersebut terjadi lantaran Dyah Tulodong berusaha membendung ekspansi Airlangga yang waktu itu sudah menguasai wilayah-wilayah di sekitar kerajaan Lodoyong. Bahkan di beberapa riwayat, diceritakan pasukan khusus yang dibawa Ratu Dyah Tulodong merupakan prajurit-prajurit wanita pilihan, pasukan ini bahkan berhasil memukul mundur pasukan Airlangga dari pusat kota kerajaannya "Watan Mas" di dekat Gunung Penanggungan hingga ke Patakan (Sambeng, Lamongan, Jawa Timur).

Tetapi satu tahun kemudian di penghujung tahun 1032, dari arah utara, pasukan Airlangga bergerak ke selatan menuju Lodoyong. Dyah Tulodong berhasil dikalahkan oleh Airlangga lewat pertempuran sengit. Tidak lama kemudian Raja Wurawari pun dapat dihancurkannya, sekaligus membalaskan dendam keluarga Airlangga dan wangsa Isyana. Sejak saat itu wilayah kerajaan Airlangga mencakup hampir seluruh Jawa Timur.

Tahun 1032, Airlangga kemudian membangun ibu kota baru bernama Kahuripan yang berpusat di daerah Kabupaten Sidoarjo sekarang.

Pada tahun 1042, berdasarkan prasasti Pamwatan dan Serat Calon Arang, di akhir masa pemerintahannya, Airlangga kemudian memindahkan ibukotanya ke Daha.

Peristiwa PembelahanSunting

Pada akhir pemerintahannya tahun 1042, Airlangga berhadapan dengan masalah persaingan perebutan takhta antara kedua putranya. Raja yang sebenarnya, adalah putri Airlangga, yaitu Sanggramawijaya Tunggadewi, yang menjadi putri mahkota sekaligus pewaris takhta istana Kahuripan, namun ia memilih mengundurkan diri untuk menjalani hidup suci sebagai pertapa bergelar Dewi Kili Suci Sanggramawijaya.

Sebelum turun tahta, pada akhir November 1042, atas saran penasehat kerajaan Mpu Barada, Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua, bagian barat yaitu wilayah Panjalu beribu kota di Daha diserahkan kepada Sri Samarawijaya, kemudian bagian timur yaitu wilayah Janggala beribu kota di Kahuripan diserahkan kepada Mapanji Garasakan.

Setelah turun takhta, Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun 1049. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Perkembangan KerajaanSunting

 
Ganesha dan pecahan candi di Karesidenan Kediri tahun 1866-1867

Masa-masa awal Kerajaan Panjalu tidak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga.

Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya Prasasti Banjaran dan Prasasti Mataji. Setelah Raja Sri Jitendrakara diketahui terdapat raja bernama Sri Bameswara berdasarkan Prasasti Karanggayam. Selanjutnya dalam Prasasti Hantang raja yang memerintah sudah berganti Sri Jayabhaya. Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu Panjalu Jayati, yang berarti "Panjalu Menang".

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Hal ini diperkuat kronik Tiongkok berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Tiongkok secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Panjalu, sedangkan Sumatra dikuasai Sriwijaya.

Menurut sumber berita Tiongkok, pekerjaan utama orang Panjalu berkisar pada pertanian (bercocok tanam padi), peternakan (sapi, babi hutan, unggas), dan perdagangan rempah-rempah. Daha, ibu kota Kerajaan Panjalu, terletak di pedalaman, dekat lembah sungai Brantas yang subur. Dari kerajaan pendahulunya yaitu Kahuripan, Panjalu mewarisi sistem irigasi, termasuk bendungan Waringin Sapta. Perekonomian Panjalu sebagian dimonetisasi, dengan koin perak yang dikeluarkan oleh istana.

Pada periode-periode selanjutnya, perekonomian Panjalu tumbuh dengan lebih bertumpu pada perdagangan, khususnya perdagangan rempah-rempah. Hal ini dihasilkan dari pengembangan angkatan laut Panjalu, memberi mereka kesempatan untuk mengontrol jalur perdagangan rempah-rempah ke pulau-pulau timur. Panjalu mengumpulkan rempah-rempah dari anak sungai di Kalimantan bagian selatan dan Kepulauan Maluku. Orang India dan Asia Tenggara kemudian mengangkut rempah-rempah ke pasar Mediterania dan Tiongkok melalui Rute Rempah-rempah yang menghubungkan rantai pelabuhan dari Samudra Hindia ke Cina selatan.

Pertanian, peternakan, dan perdagangan berkembang pesat dan mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Dia melaporkan bahwa peternakan ulat sutera untuk memproduksi pakaian sutra dan katun telah diadopsi oleh orang Jawa pada waktu itu. Tidak ada hukuman fisik (penjara atau penyiksaan) bagi para penjahat. Sebaliknya, orang yang melakukan perbuatan melawan hukum terpaksa membayar denda berupa emas, kecuali pencuri dan perampok yang dieksekusi mati.

Dalam adat perkawinan, keluarga mempelai wanita menerima mas kawin berupa emas dari mempelai pria. Alih-alih mengembangkan pengobatan medis, masyarakat Panjalu mengandalkan doa kepada Buddha. Pada bulan ke-5 tahun ini, festival air dirayakan dengan orang-orang yang bepergian dengan perahu di sepanjang sungai untuk merayakannya. Pada bulan ke-10, festival lain diadakan di pegunungan. Orang-orang akan berkumpul di sana untuk bersenang-senang dan memainkan musik dengan instrumen seperti seruling, gendang, dan gambang kayu (bentuk gamelan kuno).

Penemuan Situs Tondowongso awal tahun 2007 diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Panjalu juga dengan Situs Adan-Adan yang berupa temuan benda-benda bersejarah seperti batuan fondasi candi, makara, sistem pertirtaan (pengairan) diduga embung, pecahan keramik dan beberapa arca peninggalan era Kerajaan Panjalu dan Tumapel yang terletak di Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut.

Hubungan dengan kekuatan regionalSunting

 
Sriwijaya dan Panjalu sekitar abad ke-12 hingga awal abad ke-13

Kerajaan Panjalu yang berkuasa di Jawa bersama dengan Kerajaan Sriwijaya yang berbasis di Sumatera sepanjang abad ke-11 hingga ke-12, tampaknya telah mempertahankan hubungan perdagangan dengan Tiongkok dan sampai batas tertentu dengan India. Catatan Cina mengidentifikasi kerajaan ini sebagai Tsao-wa atau Chao-wa (Jawa), sejumlah catatan Tiongkok menandakan bahwa penjelajah dan pedagang Cina sering mengunjungi kerajaan ini. Hubungan dengan India adalah hubungan budaya, karena sejumlah Rakawi (penyair atau sarjana) Jawa menulis literatur yang diilhami oleh mitologi, kepercayaan, dan epos Hindu seperti Mahabharata dan Ramayana.

Pada abad ke-11, hegemoni Sriwijaya di kepulauan Indonesia mulai menurun, ditandai dengan invasi Rajendra Chola dari Kerajaan Chola ke Semenanjung Malaya dan Sumatera. Melemahnya hegemoni Sriwijaya telah memungkinkan terbentuknya kerajaan-kerajaan regional, seperti Panjalu, yang berbasis pertanian daripada perdagangan. Belakangan Kerajaan Kadiri berhasil menguasai jalur perdagangan rempah-rempah ke Maluku.

Menurut berita Cina, dan kitab Ling-wai-tai-ta diterangkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari orang-orang memakai kain sampai di bawah lutut. Rambutnya diurai. Rumah-rumah mereka bersih dan teratur, lantainya ubin yang berwarna kuning dan hijau. Raja mengenakan pakaian sutra, sepatu kulit dan perhiasan emas berukir. Rambutnya disanggul tinggi-tinggi di atas kepala. Setiap hari, dia akan menerima pejabat negara, dan menjalankan kerajaannya, di atas takhta persegi. Setelah pertemuan, pejabat negara akan membungkuk tiga kali kepada raja. Jika raja bepergian ke luar istana, raja naik gajah atau kereta yang diiringi oleh 500 sampai 700 tentara dan pejabat, sementara rakyatnya, orang-orang Panjalu, bersujud saat raja lewat. masih menurut Chou Ku-fei bahwa Kerajaan Panjalu kekuasaannya sangat luas dan kaya raya, menurutnya di dunia saat itu ada 3 kerajaan kaya; Kekhalifahan Abbasiyah yang berkuasa di Arab, Kerajaan Panjalu yang menguasai Bagian Timur Nusantara dan Kerajaan Sriwijaya yang menguasai bagian barat Nusantara.

Chou Ju-Kua, seorang pegawai resmi Dinasti Song menuliskan dalam bukunya Chu-fan-chi, menggambarkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara ada dua kerajaan yang kuat dan kaya: Sriwijaya dan Jawa (Panjalu). Di Jawa ia menemukan bahwa orang-orang menganut dua agama: Buddha dan agama Brahmana (Hindu). Orang Jawa adalah pemberani dan pemarah, mereka berani untuk melawan. Waktu luangnya dipergunakan untuk mengadu binatang, hiburan favoritnya adalah sabung ayam dan adu babi. Mata uangnya dibuat dari campuran tembaga, perak, dan timah.

Buku Chu-fan-chi menyebut bahwa maharaja jawa mempunyai wilayah jajahan: Pai-hua-yuan (Pacitan), Ma-tung (Medang), Ta-pen (Tumapel, Malang), Hi-ning (Dieng), Jung-ya-lu (Hujung Galuh, sekarang Surabaya), Tung-ki (Jenggi, Papua Barat), Ta-kang (Sumba), Huang-ma-chu (Papua), Ma-li (Bali), Kulun (Gurun, mungkin Gorong atau Sorong di Papua Barat atau Nusa Tenggara), Tan-jung-wu-lo (Tanjungpura di Borneo), Ti-wu (Timor), Pingya-i (Banggai di Sulawesi), dan Wu-nu-ku (Maluku)

Mengenai Sriwijaya, Chou-Ju-Kua melaporkan bahwa Kien-pi (Kampe, di Sumatera bagian utara) dengan pemberontakan bersenjatanya telah membebaskan diri dari pengaruh Sriwijaya, dan menobatkan raja mereka sendiri. Nasib yang sama menimpa beberapa koloni Sriwijaya di Semenanjung Malaya yang membebaskan diri dari dominasi Sriwijaya. Namun Sriwijaya masih negara terkuat dan terkaya di bagian barat Nusantara. Koloni Sriwijaya adalah: Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Trengganu), Ling-ya-ssi-kia (Langkasuka), Kilan-tan (Kelantan), Fo-lo-an, Ji-lo-t' ing (Jelutong), Ts'ien-mai (?), Pa-t'a (Paka), Tan-ma-ling (Tambralinga, Ligor atau Nakhon Si Thammarat), Kia-lo-hi (Grahi, bahasa Melayu bagian utara semenanjung), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-t'o (Sunda), Lan-wu-li (Lamuri di Aceh), dan Si-lan. Menurut sumber ini, pada awal abad ke-13 Sriwijaya masih menguasai Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Jawa bagian barat (Sunda).

Mengenai Sunda, buku itu merinci bahwa pelabuhan Sunda (Sunda Kelapa) sangat bagus dan letaknya strategis, dan lada dari Sunda termasuk yang kualitas terbaik. Orang-orang bekerja di pertanian; rumah mereka dibangun di atas tiang kayu (rumah panggung). Namun negara itu penuh dengan perampok dan pencuri.

KeruntuhanSunting

 
Arca Buddha Vajrasattva zaman Kadiri, abad X/XI, koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.

Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama.

Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana. Kemudian para Brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Panjalu.

Puncak peperangan antara Panjalu dan Tumapel terjadi dekat Desa Ganter (Genter), di wilayah timur kediri. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian, berakhirlah masa Kerajaan Panjalu, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari.

Setelah Ken Arok mengalahkan Kertajaya, Panjalu menjadi suatu wilayah di bawah kekuasaan Singhasari. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai bupati Panjalu. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

Pada tahun 1292, Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang dipimpin oleh Kertanegara, karena dendam masa lalu dimana leluhurnya Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Panjalu, namun hanya bertahan satu tahun dikarenakan serangan gabungan yang dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.

Warisan BudayaSunting

Karya sastraSunting

Seni sastra mendapat banyak perhatian pada masa kerajaan Kadiri. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa, sebagai kiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala. Selain itu Kakawin Lubdhaka dan Kakawin Wrettasañcaya adalah karya Mpu Tanakung, juga Mpu Panuluh yang menulis Kakawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Terdapat pula pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu Dharmaja menulis Kakawin Smaradahana. Kemudian pada zaman pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana. Selain karya-karya sastra yang telah disebutkan, zaman Kadiri dirayakan sebagai era sastra yang berkembang, Kadiri menghasilkan kontribusi yang signifikan di bidang sastra klasik Jawa.

Situs PeninggalanSunting

Daftar raja-rajaSunting

  1. Maharaja Sri Samarawijaya
  2. Sri Jitendrakara Parakrama Bakta (Prasasti Mataji 973 Saka),
  3. Maharaja Sri Bameswara (Prasasti Pandlegan I, Prasasti Panumbangan, Prasasti Tangkilan, Prasasti Besole, Prasasti Bameswara, Prasasti Karanggayam, Prasasti Geneng, Prasasti Pagiliran)
  4. Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya (Prasasti Hantang, Prasasti Jepun, dan Prasasti Talan)
  5. Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara (Prasasti Pandlegan II dan Prasasti Kahyunan)
  6. Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryeswara (Prasasti Waleri & Prasasti Angin)
  7. Sri Maharaja Kroncaryyadipa Sri Gandra (Prasasti Jaring)
  8. Sri Maharaja Mapanji Kamesywara (Prasasti Semanding dan Prasasti Ceker)
  9. Sri Maharaja Crengga/Kertajaya (gugur tahun 1144 Saka).

Daftar pustakaSunting

  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
Didahului oleh:
Kahuripan
Kerajaan Hindu-Budha
1042-1222
Diteruskan oleh:
Singasari
  1. ^ "Terjemahan Lengkap Naskah Manuskrip Nagarakretagama". historynote.wordpress.com. hlm. Pupuh 68. Diakses tanggal 19 Desember 2021.