Kerajaan Huamual

Kerajaan Islam Di Maluku

Sejumlah kerajaan-kerajaan besar di utara telah membangun hubungan politik, hubungan dagang maupun hubungan kekerabatan melalui perkawinan dengan masyarakat di Huamual, sebuah kawasan histori dicita-citakan di bawah panji Goheba dan sabit Merah cikal bakal dan lambang dan bendera Huamual. Huamual dicita-citakan sebagai sebuah imperium baru satelit utama dan bandar internasional. Huamual kemudian diubah menjadi bandar perdagangan dan lumbung ekonomi terbesar di selatan selain Banda dan Hitu.

Hubungan empat kerajaan besar di Utara (Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan) turut mempengaruhi kehidupan sosial, budaya dan politik di selatan, khususnya Huamual. Sejarawan asing menyebut tradisional rival politic Ternate dan Tidore sangat kuat dari masa ke masa. Tradisi rivaliatas itu juga sampai ke Huamual. Mahadom sebagai orang yang pertama kali membawa islam ke Huamual berpihak kepada Tidore dan Kipati yang berdarah Banda-Ternate memiliki haluan politik mendukung Ternate. Ini merupakan bukti kuat bahwa Huamual adalah kawasan penting di abad pertengahan.

Beberapa Kimalaha/Gubernur yang terdokumentasi memimpin masyarakat di Huamual. Gubernur Huamual Kimalaha Laulata (1558-1585), Gubernur Huamual Kimalaha Rubohongi (1585-1599), Gubernur Huamual Kimalaha Besi Frangi (1599-1611), Gubernur/Kimalaha Huamual Sabadin (1611-1619), Gubernur/Kimalah Huamual Leliato memerintah (1623-1638), Kimalaha Huamual Hidayat (1650-1658) dan Kimalah terahir yang memimpin pemberontakan melawan Belanda adalah Kimalaha Madjira (1658).

Selain itu ada tokoh penting Huamual yang memimpin perlawanan terhadap Portugis dan Belanda diantaranya, Kaitjili Ali alias Kapitan Laut Ali, Kimalaha Luhu yang dieksekusi di Ambon pada 1632. Juga ada Tehelia dan Kapitan Seke yang dieksekusi oleh Belanda, Desember 1643.

Masa Kekuasaan Portugis (1512-1609)Sunting

Ternate berpihak pada Portugis. Setelah 1511 Alfonso de Albuquerque menaklukan Malaka, ia mengirim laporan kepada Raja Portugis, bahwa pulau rempah telah ditemukan. Selanjutnya de Albuquerque mengirim Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao, 11 November 1511 menuju Maluku. Mendengar kedatangan bangsa asing itu di Hitu, Sultan Bolief memerintahkan pangeran Juliba menjemput Fransisco Serrao di Hitu untuk dibawa ke Ternate mengendarai sembilan Kora-kora. Orang asing mengenakan baju besi yang jauh hari telah dimimpikan sang sultan, terbukti. Sampai di Ternate Serrao tinggal di Ternate, kemudian menjadi penasehat sultan. Ternate mengikat Portugis dengan prosfek dan keuntungan perdagangan cengkih, lain pihak Ternate membutuhkan kekuatan koalisi guna memperkuat kekuasaannya melebihi Tidore, Jailolo dan Bacan. Koalisi Ternate-Portugis ternyata memberi perubahan besar di Timur. Koalisi itupun turut mempengaruhi peta kekuasaan di Luhu dan Huamual.

Di Huamual, 100 tahun setelah konsolidasi untuk membentuk sistem pemerintahan para pemimpin di Timur sering mengirim kerabat dekatnya untuk menjadi Kimalaha/qimalaha. Pengaruh Huamual tersebut dapat terjadi atas beberapa sebab, dari kepentingan ekonomi orang-orang Huamual adalah pencetus Revolusi Pertanian di dunia, khususnya soal budidaya cengkih, pembukaan lahan tanaman umur panjang. Panen cengkih serta perdagangan cengkih.

Dengan pengetahuan dari pengalaman panjang tersebut tidak mengherankan bila tanah di pulau Ambon juga dikuasai oleh orang-orang berdarah Huamual seperti, Lisaholeth, Waliulu, Lebeharia, Masawoy dan sejumlah Dati lainnya di Negeri Soya yang telah mengalami asimilasi dengan penduduk pulau Ambon. Orang-orang yang berdarah Huamual itulah yang pertama kali mengajarkan proses awal penanaman cengkih hingga panen cengkih. Mereka mengatur dan mengajarkan, maka hak kepemilikan tanah berada dibawah penguasaan mereka.

 
Gambar benteng Lesidi di masa VOC

Atas kepentingan ekonomi tersebut, Huamual menjadi kawasan penting terlindungi, dan dikuasai sepenuhnya. Sangat menarik, pertengahan kekuasaan Portugis, menjelang kematian Sultan Hairun (1535-1570) Luhu, Kambelo dan Lesidi secara khusus dan Huamual umumnya menjadi daerah rebutan Portugis dan Ternate. Faktor penyebab kematian Sultan Hairun salah satunya adalah soal Huamual. Sultan Hairun menolak doacao/landgrat Sultan Tabarija (Dom Manuel) dengan de Freitas pada 1537 kemudian dikukuhkan lagi dengan dokumen baru pemerintah Portugis dalam Tahun 1543 dan 1564.

Dokumen tertanggal Goa, 8 Oktober 1537 itu berisi: “Karena telah menerima banyak bantuan dari de Freites, dan dan telah menjadi Kristen karena pertolongan itu, ia (Sultan Tabarija-Dom Manuel) dengan persetujuan Ibunya (Nachile Boki Raja) dan Patinya (Serang) menghadiahkan tanah-tanahnya yang terletak di antara Buru, Ambon, Seram sampai Papua kepada Jurdao de Feritas, untuk digarap, didiami dan di gunakan”, Berlatar perang yang dikobarkan putra mahkota Baab atas perintah Sultan Hairun untuk menaklukan Ambon dari Portugis. Tentara Portugis di pimpin Concalo Pareira Marramaque. Hairun meminta haknya atas Huamual, tetapi Pareira menolak.

Kemarahan Hairun dapat diminimalisir dengan kesepakatan damai berkat bantuan fasilitator. Capitao Mesquita bersumpah dengan Injil di kepala begitupun Hairun dengan Al-Quran, bahwa tidak akan ada lagi perselisihan diantara mereka. Tetapi, pagi hari 28 Pebruari 1970 Musquita menyuruh keponakannya Antonio Pimantel membunuh Sultan Hairun. Sultan Hairun terbunuh dan meninggal dunia saat itu juga. Selama lima tahun benteng Potugis dikepung oleh semua sultan dan akhirnya 1575 Portugis menyerah. Sisa-sisa potugis diusir dari Ternate menuju Ambon.

Masa Kekuasaan Belanda (1605-1945)

Karena memilki hubungan erat, kematian Hairun juga menyisahkan duka mendalam bagi Hitu dan Huamual, selain duka bagi raja-raja lainnya di Timur. Atas kebencian terhadap Portugis yang membunuh ayahnya, Sultan Baabullah terus mengkonsolidasikan kekuatan untuk mengusir Portugis bukan hanya dari Utara, tetapi juga dari wilayah di bawah pengaruh Ternate.

Perubahan besar di Huamual terjadi di masa kekuasaan Belanda. Kekuasaan Belanda atas Maluku dimulai juga dari Hitu. Bila Potugis datang mencari pulau rempah dan singgah di Hitu setelah terdampar di Banda dan Lucipara, sebaliknya kedatangan Belanda, direncanakan oleh penguasa di Negeri Hitu. Pada 1598 eskader Belanda dipimpin Jacob van Neck, Wijbrand van Warwijck dan Jacob van Heemskerck ditugaskan untuk mencari jalur pelayaran menuju pulau rempah. Jacob van Heemskerck tiba di Hitu dan diterima oleh Kapitan Hitu. Wijbrand van Warwijck meneruskan pelayaran ke Ternate untuk bertemu Sultan Said.

Selanjutnya pada Tahun 1599 Steven van der Haghen juga tiba di Hitu, ia mendapat ijin mendirikan kasteel van Verre (Benteng Jauh) di Hila Kaitetu. Pada 1600 Jacob van Neck tiba di Hitu. Kesepakatanpun di bangun. Belanda bebas dari pajak dan biaya bandar dagang, Hitu mendapat bantuan penuh mengusir portugis dari wilayahnya.

Empat tahun setelah kedatanga Jacob van Neck, hubungan pelayaran dari dan munuju Huamual dan Hitu mulai lancar. Para pemimpin Hitu, 1604 mengirim Putra dari Kapitan Hitu Tepil, Hukum Ariguna/Mihirdjiguna ke Batavia. Ipar dari Kimalaha Luhu dan Pati Kambelo yang digelar Patihalia itu dikirim ke Batavia untuk meminta bantuan Belanda mengusir Portugis yang baru saja mendirikan benteng di Hitu kemudian baru pindah ke Leitimur (Laha, Negeri Lama-Marthafons kemudian menetap di Victoria) tepat pada 23 Pebruari 1605 Steven van der Haghen tiba untuk kedua kali di Hitu. Dua hari kemudian, 25 Pebruari 1905, Capitao benteng Gaspar de Mello menyerah kepada Belanda. Maka berakhirlah kekuasaan Potugis di Maluku. Tamatlah riwayat Portugis di selatan.

Hitu dan Huamual terlibat penuh dalam proses pengusiran Portugis. Salah satu perdana dari empat perdana Hitu, Perdana Jamilu berasal dari Kerajaan Jailolo, Jamilu selain bisa berbahasa Portugis, juga cerdik berdiplomasi dan memilki kemampuan politik yang tinggi. Sifat Rijali. Penulis Hikayat Tanah Hitu bermukim untuk beberapa waktu di Ternate, Rijali dilahirkan dari rahim seorang Ibu asal Ternate. Bahkan keluarga Imam Rijali di pasantren Giri adalah Zainal Abidin, yang sekembalinya dari Giri dinobatkan sebagai Sultan Jainal Abidin, Sultan Ternate yang mendedikasikan kekuasaannya untuk perkembangan agama islam di negeri pulau rempah.

Begitupun dengan Huamual, Maulana Mughdum (Mohudume) juga adalah salah satu murid di Pasantren Giri, dimana saat itu ilmu agama dan ilmu pemerintahan berperan penting dalam perubahan sosial masyarakat, tidak mengherankan bila Mohudume merupakan figur penting di Selatan dalam memperkuat islamisasi di saat Potugis dan Belanda memfokuskan Kristenisasi bersama perdagangan dan penguasaan wilayah.

Perang Huamual (1602-1656)

 
Gambar tahun 1724 yang memperlihatkan pertempuran antara Belanda dan pasukan di bawah pimpinan Majira yang dikalahkan tahun 1652

Perang Huamual merupakan salah satu perang terbesar di Maluku antara masyarakat Huamual melawan Portugis dan melawan VOC/Belanda. Perang Huamual memiliki dokumentasi yang hingga kini belum diketahui Pemerintah Republik Indonesia. Perang Huamual berlangsung selama 50 tahun dan perang Huamual terakhir terjadi pada 1651-1656.

Perang huamual dipicu oleh pembunuhan terhadap saudara perempuan Capitein Ferheijden yang terjadi di Benteng Wanthrouw, Manipa pada 1651 akibat pembunuhan tersebut, seluruh negeri-negeri di Huamual diserang kemudian di bakar. Tetapi secara garis besar, perang Huamual dilatar belakangi oleh ketamakan VOC/Belanda mengendalikan harga cengkih sehingga terjadi monopoli perdagangan cengkih. Hal tersebut memicu kemarahan rakyat Huamual sehingga sejumlah gejolak yang digerakan akibat ketidakadilan terhadap rakyat Huamual sehingga semua gejolak yang digerakan akibat ketidakadilan terhadap rakyat Huamual meletus menjadi perlawanan rakyat Huamual.

Gubernur Van Diemen serta Gubernur Jan Pietersz Coen dan terakhir Gubernur Arnold de Vlamingh van Oudshoorn pada periodisasi (1955-1660) merupakan Gubernur VOC/Belanda yang mengakibatkan 50 ribu orang tewas, hancurnya kehidupan masyarakat di Maluku khususnya di Huamual para Gubernur itu menggunakan kekerasan untuk mengamankan monopoli perdagangan rempah-rempah dimaluku sekaligus menyingkirkan kompetitor Inggris.

Penduduk pulau Banda dan Huamual (dua daerah yang hancur lebur) di maluku penduduknya dilakuakan secara kejam, banyak penduduk diperbudak dan bahkan dideportasi, desa-desa mereka dibumi hanguskan, penduduk kehilangan mata pencaharian mereka dan banyak dibiarkan memilih anatara pinda dari tanah airnya atau dibunuh dan akhirnya mati kelaparan. tahun 1651, setelah periode pembumihangusan, pemberontakan baru terhadap belanda pecah dimaluku. Untuk melindungi monopoli perdagangan cengkih, VOC memberlakukan pembatasan penanaman pohon cengkih.

Pemimpin Huamual Madjira (1651-1656), Kimalaha Huamual yang diangkat menjadi kimlaha yang berpusat di Huamual, menolak menghancurkan bagian dari perkebunan cengkih yang masih muda milik rakyat Huamual. Majidra juga senang menjual cengkih pedagang Asia, Sulawesi dan Jawa ketimbang menjual cengkih dengan harga murah ke VOC, karena dipaksa oleh Belanda, Madjira kemudian menggerakan perlawanan rakyat pada periode 1651 dan 1656. Gubernur Maluku, Arnold de Vlamingh van Oudshoom, berhasil menekan pemberontakan dengan bantuan kepala Maluku yang menempatkan Cora-Cora (perang perahu) sebagai pembuangan ini kemudian disebut perang besar Huamual yang kemudian diplesetkan menjadi perang Ambon.

Penulis sejarah Levinus Bor, yang mendampingi De Vlamingh van Oudshoorm mendokumendasikan laporan pandangan mata proses penghancuran negeri-negeri di Huamual, Dokumentasi Levinus Bor dibuat dalam bentuk Lukisan dan dijelaskan secara runtun sehingga merupakan laporan terlengkap dan sangat detail bagaimanan pasukan VOC Belanda menghancurkan wilayah Huamual, ia melaporkan pada bukunya bahwa Perang Huamual diselesaikan oleh Arnold de Vlamingh van Oudshoorn.

Setelah perang Huamual, cengkih kemudian ditebang semuanya di Huamual kemudian untuk mengontrol, cengkih kemudian ditanam kembali di pulau Ambon, Haruku, Saparua, dan Nusa Laut dengan pengawalan benteng Belanda yang kuat.

Pemerintah Belanda yang lebih khusus Pemerintah Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945 seharusnya membuka mata atas penghancuran ratusan ribu pohon cengkih, pembantaian masyarakat Huamual serta pendeportasian rakyat dari tanah airnya hingga mengakibatkan kesengsaraan masyarakat Huamual selama 300 Tahun. Maka sebagai penghargaan masyarakat sekadar mengingatkan kepada pemerintah Indonesia, bahwa perjuangan heroisme masyarakat Huamual adalah bukti nyata perlawanan rakyat dalam melawan imprealisme patut dan wajib untuk dihargai sebagaimana pemerintah menghargai pahlawan-pahlawan kusuma bangsa yang telah berjuang untuk melawan imprialisme dari muka bumi.