Ken Zuraida

Ken Zuraida (15 Mei 1954 – 9 Agustus 2021)[1] adalah aktris, sutradara dan produser teater berkebangsaan Indonesia.[2] Ia juga dikenal sebagai istri sastrawan Angkatan 66 sekaligus aktor legendaris Indonesia, W.S. Rendra. Sepeninggal Rendra, Ken Zuraida melanjutkan pertunjukan-pertunjukan Bengkel Teater milik Rendra baik selaku produser dan sutradara.[3][4]

Ken Zuraida
Lahir(1954-05-15)15 Mei 1954
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
Meninggal9 Agustus 2021(2021-08-09) (umur 67)
Jakarta, Indonesia
PekerjaanAktris, sutradara
Suami/istriW.S. Rendra

Masa kecilSunting

Sejak kecil Ken Zuraida sudah akrab dengan lingkungan alamiah sekaligus dididik oleh keluarga yang sangat memegang teguh pendidikan dan kebudayaan. Ia tumbuh dengan kepekaan naluriah amat kuat dan kecerdasan kebudayaan lingkungan yang berlapis-lapis. Hal ini disebabkan karena dirinya selalu bergerak di antara lingkungan elitis dan lapisan dibawahnya, antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, di mana ia menghayati masa remajanya di Kota Bandung.

PendidikanSunting

KarierSunting

Ia terlibat di Bengkel Teater Rendra sejak 1974 hingga sekarang. Kegiatannya dari daerah ke daerah lain selama lebih 30 tahun itu sampai ke hampir sebagian besar kota di dunia. Selain mengorganisir keseharian Bengkel Teater Rendra, ia juga mempraktikan metode-metode latihan yang selama ini digali Rendra bersama bengkelnya.

Kiprah kesenianSunting

  • Tahun 1960-an teater kanak-kanak di lingkungan terbatas
  • Sejak 1975 berpentas sebagai Setyawati dalam Kisah Perjuangan Suku Naga produksi Bengkel Teater di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Selanjutnya dalam drama “Egmont” di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki pada tahun yang sama.
  • Tahun 1985 menangani artistik panggung di pentas baca sajak Rendra di gedung besar beberapa kota.
  • Tahun 1986 artistik direktor pentas Panembahan Reso.
  • Costume dan Set Designer's Rendra's adaptasi Hamlet 1990, TIM Jakarta
  • Tahun 1987 mengubah suasana Gereja St. Ann di New York untuk pentas “Selamatan Anak Cucu Sulaeman” kemudian di Tokyo dan Hiroshima, untuk pentas berikutnya di kota besar di Indonesia dan tahun 1998 di Kwachon, Korea Selatan.
  • Koreografer dan penari "Nocturno", di Malang dan Bandung 1994
  • Produser bersama Rendra, dan Agus.S.Sarjono, Internasional Puisi Indonesia tur ke Belanda, Jerman, Austria, Palestina, Maroko, Malaysia, Makasar, Bandung dan Solo, 2002
  • Menulis Wayang Plastik Drama Akarawa, penampilan di sekolah umum di Sumatra dan Jawa
  • Membaca puisi Brigitte Oleschinski TIM Jakarta, 2003
  • Sejak itu menangani pentas “Oidipus Sang Raja” serta pentas-pentas di luar negeri hingga “Sobrat”, 2005, di Graha Bhakti Budaya, Jakarta.
  • Tenaga ahli artistik di beberapa pentas di Eropa, juga Asia.
  • Sebagai pemain Nenek berusia 678 tahun dalam pentas berdua dengan Rendra “Kereta Kencana” memperoleh pujian di kota-kota besar Indonesia hingga Kuala Lumpur, Malaysia.
  • Menerjemahkan drama dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia untuk beberapa pentas grup drama di Indonesia.
  • Menulis Monolog dan memainkannya sendiri pada festival Monolong di Taman Ismail Marzuki, 2005.
  • Beberapa bulan menyutradarai Pementasan Teater Nyai Ontosoroh pada tahun 2006, tapi tidak jadi tayang karena penyutradaraan kemudian digantikan oleh Wawan Sofwan pada tahun 2007.
  • Menyutradarai pertunjukan naskah Mastodon dan Burung Kondor karya W.S Rendra dan berpentas di tiga Kota, Jakarta (2011), Surabaya (2011), dan Bandung (2012).
  • Menyutradarai pertunjukan keliling naskah Kalung Mutiara Barzanji, didukung oleh 98 santri dari  9 pesantren se-Babakan, Ciwaringin, Cirebon (2014)

FilmografiSunting

FilmSunting

Tahun Judul Peran Produksi
2018 Lima Tante Ita Lola Amaria Production
2020 Riuh (film pendek) Mbah Lola Amaria Production
Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional
Produksi Film Negara
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia

ReferensiSunting

Pranala luarSunting