Buka menu utama

Kekristenan di Poso (bahasa Inggris: Christianity in Poso) adalah suatu studi yang membahas bagaimana agama Kristen masuk ke Kabupaten Poso. Poso sendiri merupakan wilayah pertama di provinsi Sulawesi Tengah yang bersentuhan langsung dengan agama Kristen. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penginjil dan teolog yang menyebarkan agama Kristen di Poso, terutama dari Belanda. Penginjil Belanda yang terkenal dalam penyebaran agama Kristen di Poso adalah Albertus Christiaan Kruyt bersama rekannya Nicolaus Adriani pada akhir abad ke-19.

Saat ini, agama Kristen dianut oleh 122.389 jiwa di Poso, membuat Kristen sebagai agama terbesar di Poso, diikuti oleh agama Islam, Hindu, Katolik, dan Buddha.[1]

SejarahSunting

Tim ekspedisi Belanda masuk ke wilayah pedalaman Poso pada tahun 1892. Sebagai seorang berkewarganegaraan Belanda, Kruyt tunduk pada perintah Kerajaan Belanda. Dalam rangka meluaskan ekspansi mereka dan menundukkan wilayah Poso, Kerajaan Belanda memerintahkan Kruyt mewakili Kerajaan Belanda untuk pergi ke Wotu, dan meminta agar Poso dilepaskan. Namun kedatangan Kruyt tidak disambut oleh penguasa Wotu. Hal ini pertama-tama karena hubungan antara Wotu dan Poso adalah hubungan yang sederajat, tidak saling menguasai atau menundukkan. Wotu memiliki wilayah kedaulatan tersendiri, demikian pula Poso dan demikian pula dengan Kerajaan Luwu.

Namun demikian, setelah tujuh belas tahun, pembaptisan pertama berlangsung. Bahkan, sejak 1898, salah satu pemimpin adat yang paling berpengaruh, Papa I Wunte, menyatakan kesiapannya untuk menjadi seorang Kristen. Namun, dari rasa tanggung jawab untuk kesatuan dan kesejahteraan rakyatnya, ia merasa ia tidak bisa mengambil langkah ini saja. Tidak seperti misionaris abad ke-19 pada umumnya, Kruyt menghormati sikap ini dan tidak mendesaknya untuk maju secara individual. Orang lain juga merasakan hal serupa, merasa tertarik dengan agama baru, tapi mereka terlalu banyak melekat pada masyarakat tradisional. Selain itu, orang-orang di daerah Poso khawatir dengan Penguasa Muslim mereka di Palopo, yang secara resmi melarang mereka untuk mengubah agama mereka. Ikatan dengan Luwu adalah lebih dari sekadar politik: Luwu adalah contoh dari cara hidup lama; jika mengabaikan peraturan ini, akan mendapatkan sanksi supranatural dari roh (kepercayaan).

OrganisasiSunting

Gereja Kristen Sulawesi TengahSunting

Pada akhir Perang Dunia II, semua hubungan penginjilan terputus dan zending mengalami banyak tekanan. Dalam keadaan tersebut, penatua-penatua dan para guru-guru jemaat mau tidak mau harus mandiri mengurusi jemaat masing-masing. Sesudah perang berakhir, maka kemandirian jemaat sudah teruji dan mulai berdirilah persekutuan gereja-gereja baru. Pada tanggal 18 Oktober 1947, Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) berdiri dan menyatakan diri sebagai salah satu anggota persekutuan gereja di Indonesia. Berita ini menjadi kesukaan bagi Kruyt dalam masa akhir hidupnya, dengan menyaksikan hasil karya penginjilannya berdiri menjadi satu organisasi gerejawi.[2]

TokohSunting

PenginjilSunting

Albert Christian KruytSunting

Kruyt menginjakkan kakinya di pantai selatan Teluk Tomini, dekat muara Sungai Poso.[3] Pada saat itu, wilayah pedalaman belum ditempati oleh pemerintah kolonial. Penduduk setempat saat itu tunduk pada Kerajaan Islam Luwu di selatan, dan dua kerajaan yang lebih kecil, Sigi dan Tojo, tapi hubungan mereka dengan kerajaan ini terutama dari karakter mitos dan ritual. Beberapa tahun kemudian, Nederlands Bijbelgenootschap (Bible Society) Belanda mengirim ahli bahasa Nicolaus Adriani, untuk membantu Kruyt dengan menerjemahkan Alkitab. Mereka meninggalkan jejak mereka pada pekerjaan misionaris Belanda di Indonesia selama dekade pertama abad ke-20. Dalam banyak aspek, pendekatan Kruyt itu masih menggunakan sistem dari abad ke-19. Dia mencoba menemukan sekolah, belajar bahasa lokal, memberikan hadiah kecil untuk mereka yang hadir pada ibadah hari Minggu, dan memberikan bantuan medis untuk orang sakit dan terluka. Namun, dalam beberapa hal ia mengambil sikap yang berbeda.[4]

Pada awalnya, Kruyt, seperti para pendahulunya di bidang misi lainnya, mencoba untuk "membuktikan" bahwa roh-roh dan kekuatan yang ditakuti dan disembah oleh orang Toraja itu tidak nyata, dan tidak ada. Tetapi orang-orang tidak menerima pendapat "ilmiah"-nya. Kruyt memutuskan untuk memahami sikap mereka dan berhenti menyerang agama mereka secara langsung. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa Tuhan dengan pesan yang dia bawa bersamanya adalah lebih kuat daripada dewa lokal dan roh. Ini adalah tingkat berdebat yang bisa dimengerti orang.[5][6]

 
A.C. Kruyt, penginjil pertama yang memasuki Poso

Namun, Kruyt berpendapat bahwa "serangan" langsung pada agama tradisional tidak cukup. Seperti pendahulunya dari abad ke-19, dia ingin pesan Injil untuk menembus ke dalam hati orang-orang dan membawa mereka ke pertobatan pribadi.[7] Tapi lebih baik daripada mereka, dia mengerti bahwa untuk menyentuh bagian terdalam dari para pendengarnya, dia harus mengetahui pola yang berlaku dalam pikiran mereka. Jadi dia mulai mempelajari agama dan budaya setempat di beberapa daerah lain di Hindia Belanda dengan intensitas tanpa preseden dalam misi penginjilan, yang membuatnya salah satu ahli etnografi terkemuka pada masanya, dikutip juga oleh para sarjana asing, dan membuatnya mendapatkan gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Utrecht pada tahun 1993.[8] Mungkin apa yang membuatnya terobosan baru dalam aspek ini adalah fakta bahwa, sebagai rekannya yang berpikiran di Papua Barat, F.J.F. van Hasselt, adalah putra seorang misionaris, untuk siapa masyarakat adat dan cara mereka ada sesuatu yang ia lihat dari masa mudanya paling awal. Magnum opus-nya adalah De Bare'e sprekende Toradja van Midden Celebes (The Bare'e Speaking Toraja from Central Sulawesi), berjumlah tiga volume, yang diterbitkan bersama-sama dengan Adriani.[9]

P. Ten KateSunting

P. Ten Kate adalah misionaris pertama dari Belanda yang masuk ke wilayah Lore. Pada awal tahun 1909, lokasi misi penyebaran agama Kristen di Poso mulai di bagi dan ditentukan. Kruyt memilih di Pendolo, Adriani di Kuku (kemudian Tentena) dan P. Ten Kate di Napu.

Setelah sekian tahun di Napu, Ten Kate kembali ke Poso dan meninggal di Poso. Hingga saat ini makammnya di Poso masih belum diketahui, meskipun ada indikasi di belakang lokasi GKST II saat ini.

TeologSunting

Nicolaus AdrianiSunting

Nicolaus Adriani bekerja di Poso dari tahun 1895 hingga 1923.[10] Adriani bersama dengan J.W. Gunning berhasil mempengaruhi pandangan Nederlands Bijbelgenootschap (NBG) atau Lembaga Alkitab Belanda dan pimpinan zending di negeri Belanda mengenai pekerjaan para zendeling di Hindia Belanda serta membangkitkan semangat NBG untuk semakin mendukung pekerjaan mereka di Poso.[10] Dalam surat-suratnya, Adriani selalu menyebut daerah yang ditempatinya sebagai Toraja, tetapi sebenarnya maksud Adriani adalah Toraja-Poso, mengingat saat itu ia memetakan hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah sebagai daerah Toraja.[5]

Adriani juga menjadi salah satu sumber informasi bagi Perhimpunan Pekabaran Injil Gereformeerd dalam menentukan tempat-tempat yang akan dijadikan sebagai medan pekabaran Injil.[11] Mengenai metode pekabaran Injil, Adriani lebih memilih untuk melakukan penginjilan kepada orang-orang yang masih menganut agama suku, sebab menurut Adriani, melakukan penginjilan kepada orang-orang yang sudah menganut agama Islam akan menghadapi kendala yang lebih besar.[10] Pada saat itu, N. Adriani bekerja sama dengan A.C. Kruyt memetakan rumpun suku Toraja yang meliputi Rantepao, Makale, Palopo, Mamasa, Palu dan Poso, dengan kata lain hampir meliputi seluruh daerah Sulawesi Tengah.[12]

W.J. MichielsenSunting

W.J.M. Michielsen dalam sejarah Poso adalah orang Eropa kedua yang melakukan perjalanan ke Poso setelah J.C.W.D.A. v.d. Wijk, Residen Manado yang melakukannya pada tahun 1865. Perbedaannya hanyalah W.J.M. Michielsen melakukannya sampai ke tepi Danau Poso atau Tentena pada masa modern ini. Hasil perjalanan ke Danau Poso ini ditulis khusus oleh Michielsen dalam bukunya yang terkenal berjudul De Reis den heer W.J.M. Michielsen naar Het Posso-Meer, 12 - 17 Juli 1869 jika diterjemahkan menjadi "Perjalanan W.J.M. Michielsen ke Danau Posso, 12 - 17 Juli 1869". Ini adalah buku orang Eropa di luar buku-buku yang ditulis oleh Kruyt sejak 1892.

Dari catatan buku ini, Michielsen banyak menyebut nama nama orang yang ditemui sepanjang jalannya termasuk nama Raja-raja yang ada, sangat eksotis dalam dalam gaya bertutur Robinson Crusoe. Dalam pelacakan lebih jauh, beberapa catatan Michielsen tidak sama dengan apa yang ditulis Kruyt.

Hubungan dengan agama lainSunting

IslamSunting

Interaksi pertama dari agama Islam dan Kristen bahkan sudah di mulai saat Kruyt diterima dan diberikan petunjuk bahkan diantarkan oleh Baso Ali (tokoh Islam Poso, sekarang keturunan keluarga Odjobolo), ke wilayah pedalaman untuk menyebarkan agama Kristen.[13]

Hubungan antar kedua agama sempat memburuk dengan sangat parah karena meletusnya Kerusuhan Poso, sebelum akhirnya para pemuka agama dari kedua belah pihak memutuskan untuk saling menghentikan pertikaian. Sejak tahun 2009, hubungan kedua agama telah kembali harmonis.

Lihat jugaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Kabupaten Poso dalam Angka 2016" (PDF). BPS Kabupaten Poso. Diakses tanggal 16 Agustus 2016. 
  2. ^ "Pengaruh Agama Kristen Terhadap Suku". Kristian Pabeta. Diakses tanggal 2016-08-11. 
  3. ^ "Refleksi Peradaban: Menyambut Pemimpin Baru Tana Poso". Poso Raya. Diakses tanggal 2016-08-11. 
  4. ^ Kraan, Nol (2000). Twee blijde boodschappers. Brieven uit Bada van Jacob en Elisabeth Woensdregt 1916–1928 (dalam bahasa Bahasa Belanda) (edisi ke-ke-1). Belanda: Zoetermeer: Boekencentrum. 
  5. ^ a b Kobong, Th (1989). Evangelium und Tongkonan: eine Untersuchung über die Begegnung zwischen christlicher Botschaft und der Kultur der Toraja (dalam bahasa Bahasa Indonesia) (edisi ke-ke-1). Belanda: Ammersbek b. Hamburg: Verlag an der Lottbek. 
  6. ^ "De weg van magie tot geloof - Utrecht University Repository" (PDF). Universitas Utrecht. Diakses tanggal 2016-08-11. 
  7. ^ "Levensbeschrijvingen van Zendelingen". Protestant Zending. Diakses tanggal 2016-08-11. 
  8. ^ Kruyt, Jan (1970). Het zendingsveld Poso: geschiedenis van een konfrontatie (dalam bahasa Bahasa Belanda) (edisi ke-ke-1). Belanda: Kampen: Kok. 
  9. ^ Gerrit, Noort (2006). De weg van magie tot geloof: Albert C. Kruyt (1869–1949), zendeling-leraar in Midden-Celebes, Indonesië (dalam bahasa Bahasa Belanda) (edisi ke-ke-1). Amsterdam, Belanda: Zoetermeer: Boekencentrum. 
  10. ^ a b c S. C. Graaf van Randwijk. 1989. OEGSTGEEST. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hal. 14, 451-453, 529-531, 568-570, 658.
  11. ^ A. Sanda Rumpa'.1992. Injil yang Dinamis. Jakarta: Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, hal. 47-57
  12. ^ Andarias Kabanga'. 2002. Manusia Mati Seutuhnya. Yogyakarta: Media Pressindo. hal.1
  13. ^ "Pejuang-pejuang Tana Poso". Perempuan Poso. Diakses tanggal 21 September 2016.