Kekaisaran Etiopia

(Dialihkan dari Kekaisaran Ethiopia)

Kekaisaran Etiopia, juga disebut Abyssinia, adalah kerajaan yang eksis dari tahun 1270 SM (dimulainya dinasti Solomon) sampai 1974 ketika monarki dijatuhkan dalam coup d'état. Negara ini adalah satu-satunya negara Afrika (Liberia yang lain) yang berhasil melawan Perebutan Afrika oleh kekuatan kolonial selama abad ke-19.

Kekaisaran Etiopia

የኢትዮጵያ ንጉሠ ነገሥት መንግሥተ
Mängəstä Ityop'p'ya
1137–1936

1941–1952

1962–1975
{{{coat_alt}}}
Lambang
Semboyan"Ethiopia Stretches Her Hands unto God"
Lagu kebangsaanItyopp'ya Hoy[1]
ኢትዮጵያ ሆይ
Lokasi Etiopia
Ibu kotaAddis Ababa
Bahasa yang umum digunakanAmharic
Agama
Ortodoks Etiopia
PemerintahanMonarki absolut[2]
Kaisar 
• 1137
Mara Takla Haymanot
• 1930–1974
Haile Selassie I
Era SejarahAbad Pertengahan / Perang Dingin
• Dijatuhkannya raja Zagwe
1137
• Pendudukan Italia
1936
• Pembebasan
1941
• Coup d'état
1974
• Monarki dihilangkan
12 Maret 1974
Kode ISO 3166ET
Didahului oleh
Digantikan oleh
Kerajaan Aksum
Afrika Timur Italia
Federasi Etiopia dan Eritrea
Afrika Timur Italia
Federasi Etiopia dan Eritrea
Derg

SejarahSunting

Hunian manusia pertama kali yang ada di Etiopia diperkirakan telah ada sangat lama sekali dan diperkirakan sama umurnya dengan penemuan spesies manusia pertama yang hidup di bumi ini. Bersama dengan Eritrea dan kawasan Timur Laut Laut Merah—pantai Sudan, dapat disimpulkan wilayah ini adalah lokasi wilayah kaum Mesir kuno yang disebut Punt yang sejarahnya pertama kali tercatat pada 25 SM. Bukti-bukti permulaan pembentukan sebuah negara sangat banyak di daerah ini, yang diperkirakan akhirnya menjadi sebuah kerajaan Abyssinia pada tahun 980, yang juga menjadi bukti awal pembentukan suatu kerajaan di wilayah ini. Akan tetapi untuk beberapa sejarawan, era ini lebih dianggap sebagai permulan dari dinasti Abyssinia dibanding permulaan pendirian dari kerajaan itu sendiri.

Didirikan pada 1270 oleh bangsawan Amhara Yekuno Amlak, yang mengaku keturunan dari raja terakhir Aksum. Kekaisaran berhasil memperluas secara signifikan di bawah Perang Salib dari Amda Seyon I (1314-1344) dan Yeshaq I (1414-1429), menjadi kekuatan yang dominan dari Tanduk Afrika. Kematian Kaisar Iyasu II (1755) dan Iyoas I (1769) Kekaisaran memasuki periode desentralisasi, yang dikenal sebagai "Era Pangeran" dan memerintah wilayah sendiri-sendiri.

Kaisar Tewodros II (memerintah tahun 1855-1868) mengakhiri era itu, menyatukan kembali Kekaisaran dan membawa ke periode modern sebelum Ekspedisi Inggris ke Abyssinia. Penggantinya Yohannes IV terlibat terutama dalam perang dan berhasil melawan orang-orang Mesir dan Mahdi hingga tewas dalam Pertempuran Gallabat pada tahun 1889. Kaisar Menelik II, tinggal di kota Addis Abeba yang baru didirikan melanjutkan perluasan pendahulunya, menaklukkan banyak kerajaan di tempat yang sekarang menjadi Etiopia barat, selatan dan timur, seperti Kaffa ,Wolaytta atau Aussa. Karena itu, ia memberi Etiopia jangkauan geografis yang dimilikinya saat ini. Di utara ia dihadapkan dengan Italia. Dengan mengalahkannya di Pertempuran Adwa pada tahun 1896 dengan bantuan Rusia dan Prancis, Menelik melindungi kemerdekaan Etiopia dan menghalau Italia ke Eritrea .

Kemudian, setelah Perang Italia-Etiopia Kedua, Kerajaan Italia menduduki Etiopia dan mendirikan koloni Afrika Timur Italia di wilayah tersebut. Setelah Perang Dunia II, orang-orang Italia diusir dengan bantuan tentara Inggris. Etiopia adalah salah satu anggota pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pada 1962 mencaplok Eritrea. Namun, Perang Sipil Etiopia menyebabkan kemerdekaan Eritrea dan jatuhnya Kekaisaran pada tahun 1974.

Pada 1974, Etiopia adalah satu dari tiga negara di dunia yang memiliki gelar Kaisar untuk kepala negaranya, bersama dengan Jepang dan Iran di bawah dinasti Pahlavi. Itu adalah negara kedua ke terakhir di Afrika yang menggunakan gelar Kaisar; satu-satunya yang kemudian memakai gelar Kaisar Bokassa I dari Kekaisaran Afrika Tengah antara tahun 1976 dan 1979.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ www.nationalanthems.info
  2. ^ Nathaniel T. Kenney, "Etiopian Adventure", National Geographic, 127 (1965), p. 555.