Kebaya

pakaian tradisional Indonesia

Kebaya adalah pakaian blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni.

Kebaya
GKR Hayu 2.jpg
Kebaya Jawa klasik mempunyai blus tipis yang halus dan dikenakan setelah kemben, pembungkus tubuh wanita berkain batik. Seperti yang diperlihatkan di sini, sebuah kebaya dikenakan oleh Gusti Kanjeng Ratu Hayu, Putri Yogyakarta.
JenisPakaian blus tradisional
Tempat asalIndonesia

EtimologiSunting

Istilah "kebaya" diyakini berasal dari kata serapan Arab kaba atau qaba yang berarti "pakaian",[1][2] istilah ini mungkin berhubungan dengan kata Arab abaya (bahasa Arab: عباءة‎) yang berarti jubah atau garmen longgar. Istilah tersebut kemudian diperkenalkan ke Nusantara melalui kata serapan dari bahasa Portugis, cabaya.[1][3]

SejarahSunting

 
Kartini muda bersama keluarganya. Di sini kebaya dikenakan oleh perempuan bangsawan Jawa pada abad ke-19.

Bentuk paling awal kebaya berasal dari istana Kerajaan Majapahit yang dikenakan para permaisuri atau selir raja, sebagai sarana untuk memadukan pakaian kemben perempuan yang sudah ada–yaitu kain pembebat dan penutup dada perempuan bangsawan–menjadi lebih sopan dan dapat diterima.[1] Sebelum adanya pengaruh Islam, masyarakat Jawa pada abad ke-9 telah mengenal beberapa istilah untuk mendeskripsikan jenis pakaian, seperti kulambi (bahasa Jawa: klambi, baju), sarwul (bahasa Jawa: sruwal, celana), dan ken (kain atau kain panjang yang dililit di pinggang).[1] Selama periode terakhir Kerajaan Majapahit, pengaruh Islam mulai berkembang di kota-kota pesisir utara Jawa sehingga perlu penyesuaian busana Jawa dengan agama Islam yang baru dipeluknya. Blus yang dirancang khusus, sering dibuat dari kain tipis yang halus, dikenakan setelah kemben untuk menutupi bagian belakang, bahu dan lengan, agar wanita istana terlihat lebih sopan. Adopsi busana yang lebih sopan dikaitkan dengan pengaruh Islam di Nusantara.[1]Aceh, Riau, Johor, dan Sumatra Utara mengadopsi gaya kebaya Jawa sebagai sarana ekspresi status sosial dengan penguasa Jawa yang lebih alus atau halus.[4]

Nama kebaya sebagai pakaian tertentu telah dicatat oleh Portugis saat mendarat di Indonesia. Kebaya dikaitkan dengan jenis blus yang dikenakan oleh wanita Indonesia di abad ke-15 atau 16. Sebelum tahun 1600, kebaya di pulau Jawa dianggap sebagai pakaian khusus yang hanya untuk dikenakan oleh keluarga kerajaan, bangsawan, dan priyayi pada era ketika petani pria dan banyak wanita berjalan bertelanjang dada di depan umum.[butuh rujukan]

Kemudian, kebaya juga diadopsi oleh masyarakat umum, khususnya para petani wanita di Jawa. Hingga hari ini di desa-desa pertanian di Jawa, para petani wanita masih menggunakan kebaya sederhana, khususnya di kalangan wanita tua. Kebaya sehari-hari yang dikenakan oleh petani terbuat dari bahan sederhana dan dikancingkan dengan jarum sederhana atau peniti.[butuh rujukan]

Kebaya perlahan-lahan menyebar ke daerah-daerah tetangga melalui perdagangan, diplomasi, dan interaksi sosial ke Malaka, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kesultanan Sulu, dan Mindanao.[5][6][7] Kebaya Jawa seperti yang ada sekarang telah dicatat oleh Thomas Stamford Bingley Raffles pada tahun 1817, sebagai sutra, brokat dan beludru, dengan pembukaan pusat dari blus diikat oleh bros, bukan tombol dan tombol-lubang di atas batang tubuh bungkus kemben, kainnya — pembungkus tanpa jahitan yang panjangnya beberapa meter, keliru diberi istilah sarong di Inggris (sarung, aksen Malaysia: sarong) yang dijahit untuk membentuk tabung, seperti pakaian Barat.[8][9]

Bukti fotografi paling awal tentang kebaya yang dikenal saat ini berasal dari tahun 1857 yang bergaya Jawa, Peranakan, dan Oriental.[4] Pada kuartal terakhir abad ke-19, kebaya telah diadopsi sebagai busana yang disukai wanita di Hindia Belanda yang beriklim tropis, baik dikenakan oleh pribumi Jawa, kolonial Europa dan orang Indo, serta Tionghoa Peranakan.[10]

Variasi kebayaSunting

 
Seorang nyonya Belanda berkebaya di Bogor pada tahun 1904.

Sekitar tahun 1500-1600, di Pulau Jawa, kebaya adalah pakaian yang dikenakan keluarga kerajaan Jawa saja. Kebaya juga menjadi pakaian yang dikenakan keluarga Kesultanan Cirebon, Kesultanan Mataram dan penerusnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Selama masa kendali Belanda di pulau itu, wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Selama masa ini, kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni.

Ada sebuah pakaian mirip kebaya, ini disebut "nyonya kebaya" dan awalnya pakaian ini diciptakan oleh orang-orang Peranakan dari Melaka. Mereka mengenakannya dengan sarung dan sepatu cantik bermanik-manik yang disebut "kasut manek". Kini, nyonya kebaya sedang mengalami pembaharuan, dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Variasi kebaya yang lain juga digunakan keturunan Tionghoa Indonesia di Cirebon, Pekalongan, Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya.

Kebaya dan politikSunting

Penggunaan kebaya juga memainkan peran politik yang cukup penting. Kebaya telah dinyatakan sebagai busana nasional Indonesia[11] meskipun ada kritik bahwa kebaya hanya digunakan secara luas di Jawa dan Bali. Kebaya sebenarnya juga ditemukan di Sumatra, Sulawesi dan NTT dengan corak daerah. Tokoh politik seperti Kartini memakai kebaya. Dan peringatan hari Kartini dilakukan dengan menggunakan kebaya. Para istri Presiden RI mulai dari Soekarno dan Soeharto menggunakan kebaya di berbagai kesempatan.

Penggunaan kebaya masa kiniSunting

Kebaya pada masa sekarang telah mengalami berbagai perubahan desain. Pada umumnya Kebaya sering digunakan pada pesta perayaan tertentu. Dari mulai pesta formal dengan rekan bisnis,pernikahan, perayaan acara tradisional, hingga perayaan kelulusan sekolah seperti wisuda. Kebaya digunakan sebagai seragam resmi pramugari Singapore Airlines, Malaysia Airlines dan Garuda Indonesia.[12] Sejumlah perancang yang turut menciptakan desain baru kebaya diantaranya adalah Anne Avantie dan Adjie Notonegoro.

Catatan kakiSunting

  1. ^ a b c d e Triyanto (29 December 2010). "Kebaya Sebagai Trend Busana Wanita Indonesia dari Masa ke Masa" (PDF). 
  2. ^ Denys Lombard (1990). Le carrefour javanais: essai d'histoire globale. Civilisations et sociétés (dalam bahasa French). École des hautes études en sciences sociales. ISBN 2-7132-0949-8. 
  3. ^ Times, I. D. N.; Khalika, Nindias. "Sejarah Kebaya, Pakaian Perempuan Sejak Abad ke-16". IDN Times. Diakses tanggal 2019-10-10. 
  4. ^ a b Maenmas Chavalit, Maneepin Phromsuthirak: Costumes in ASEAN: ASEAN Committee on Culture and Information: 2000: ISBN 974-7102-83-8, 293 pages
  5. ^ S. A. Niessen, Ann Marie Leshkowich, Carla Jones: Re-orienting Fashion: the globalization of Asian dress Berg Publishers: 2003: ISBN 978-1-85973-539-8, pp. 206-207
  6. ^ Cattoni Reading The Kebaya; paper was presented to the 15th Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia in Canberra 29 June-2 July 2004.
  7. ^ Michael Hitchcock Indonesian Textiles: HarperCollins, 1991
  8. ^ http://wolipop.detik.com/read/2012/08/14/131633/1990929/233/modernisasi-kebaya-dari-dulu-hingga-kini//
  9. ^ http://www.tempo.co/read/news/2013/04/25/110475801/Kebaya-Sebuah-Catatan-Perjalanan//
  10. ^ "Sejarah Kebaya di Masa Kolonial: Busana Perempuan Tiga Etnis". tirto.id. Diakses tanggal 2019-10-10. 
  11. ^ http://rrijogja.co.id/nasional/seni-dan-budaya/3515-busana-wanita-nasional-indonesia-hilang-gaungnya//
  12. ^ http://female.kompas.com/read/2010/09/26/11502730/Terbang.Bersama.Kebaya//

Pranala luarSunting